
Setelah melewati prosedur yang berlaku, Aku dan Lena di bawah seorang sipir ke Sell, dimana Andreano di penjara.
"Silahkan duduk mbak, tunggu sebentar, saya panggilkan Bapak Andreano" kata seorang sipir ke kami.
"Wow!! emejing, ini benar-benar gila" gumam Lena terpanah dengan apa yang dilihatnya.
Aku sendiri juga takjub. Kami duduk di sofa yang empuk, mirip di ruang tamu. Ada televisi, majalah, novel dll berjajar di rak kecil atas, sedangkan di bawah televisi ada DVD player komplit dengan speaker aktif, belum lagi ada sebuah kulkas yang penuh dengan aneka minuman dan makanan. Di dinding atas sebelah kananku tertempel AC.
"Ini penjara atau Hotel sih!" batinku. Ya betul, sekarang aku ada di dalam penjara milik Andreano. Penjara seorang yang berduit.
Maha benar celoteh para netijen, Hukum di negara ini seperti pisau. Tajam ke bawah tumpul ke atas. tahu kan artinya?
Rasa heran dan takjub kami belum berakhir. Selain di suguhi pemandangan di dalam sell penjara yang menurut kami tak lazim, masih ada satu ruangan lagi, yaitu kamar tidur pribadi Andreano. menurutku ini bukan penjara tapi Hotel, Hotel prodeo yang mewah.
Aku mendengar suara dering telpon dari balik dinding tembok, atau kamar Andreano. Selang beberapa saat.
Ceklek... Ceklek.
Seorang wanita muda,cantik dan sexy, keluar dari balik kamar. Dia memandangku dengan tatapan sinis dan jengkel.
"Siapa dia Vis?" tanya Lena heran.
"Mana gue tau, kan kita kesini bareng" sungutku dongkol, ada rasa benci sama Andreano.
"Kayaknya dia benci banget ma lu"
"ya mungkin, mungkin kedatangan kita mengganggu ke asyikan mereka" ujarku sedikit kecewa.
"Lu yang sabar ya Vis? pingin banget gue bejek-bejek tu si Andreano, tapi gue nggak berani ma dia hehehehe" kata Lena tak kalah sewot dan cengengesan.
"Udahlah biarin aja, kalo dah watak mo gimana lagi" ucapku pasrah.
"Hai sayang! maaf sudah menunggu lama" Kata Andreano yang baru keluar dari kamar. Kulihat kancing kemeja Andreano terbuka, ada bekas kecupan nakal wanita ******. Sadar dengan apa yang aku lihat, Andreano segera membenahi kancingnya. Aku berdiri menyambutnya, aku sambut pelukannya dan kecupan sayangnya di keningku. Bukan rasa hangat yang kuterima, tapi kecupan Andreano rasanya hambar dan tawar. Ku paksakan diriku tersenyum manis didepannya, tapi hatiku sakit bagai tersayat sembilu.
"Gimana kabar kamu sayang" pertanyaan yang aku lontarkan terasa getir dan keluh di lidah. Karna aku tahu, Andreano bahagia, ada ataupun tidak ada aku.
"Ya seperti yang lu lihat sayang" jawabnya tersenyum mengembang, seraya melebarkan tangan, memamerkan dadda bidangnya.
__ADS_1
"Tapi gue juga kangen banget ma lu sayang" ujarnya, seraya menarik ku dalam dekapan dadanya. Aku membiarkan diriku di peluknya mesra, aku butuh sandaran.
"Oh ya, sampe lupa gue! mau minum apa?" katanya melepaskan pelukannya, dan berjalan menuju kulkas.
"gue yang itu Ndre" tunjuk Lena ke arah minuman kaleng kesukaannya.
"Dan lu sayang, mau minum apa?" tawarnya padaku.
"Terserah lu deh sayang, walaupun racun sekalian juga bakal gue minum, kalo lu yang kasih" jawabku datar.
"Hehehe, tu yang gue suka dari lu sayang, lu emang cewek yang menarik sayang" ujarnya, membawakan dua minuman kaleng di tangannya. Kemudian di taruh di meja yang ada di depan kami
"Lha buat gue mana!" seru Lena.
"Lu ambil sendiri, sekalian bawain makanan yang ada di dalam" perintah Andreano. Lena berdiri dengan sebal, kemudian mengambil minuman kesukaannya serta beberapa Snack cemilan yang sudah tersedia di dalam kulkas. Andreano tetap tampan dan menawan meski dia seorang Napi, tapi tidak kelihatan seperti Napi lainnya. Dia tidak memakai pakaian Napi yang berwarna orannye ataupun warna belang hitam putih, layaknya napi pada umumnya.
"Kabar lu gimana sayang" tanya Andreano padaku, lalu membukakan minuman kaleng padaku.
"gue baik" jawabku, menatap pandangan matanya yang tajam penuh pesona.
"Tau darimana lu?" tukasku heran.
"Kalau hanya sekedar cari informasi kecil kayak gitu mah, gampang buat gue. Lu selalu gue pantau sayang" ujarnya tersenyum licik.
"Jadi jangan coba-coba lu lari dari gue, dan ngapain juga lu kerja, lu tinggal minta ma gue aja, pasti gue kasih kok. Berapapun lu minta" lanjutnya dengan tatapan mata yang tajam. Aku hanya menghela nafas panjang.
"Tapi lu kan sudah bahagia hidup tanpa gue, sudah banyak kan yang nemenin lu, buat muasin lu" ujarku bermaksut menyinggung cewek yang barusan keluar dari kamar.
"Hwahahahaha, lu cemburu kan sayang? asal lu tau ya, gue begitu juga karna gue nggak ingin nyakitin lu, atau ngerusak kehormatan lu" matanya mendelik, meski marah Andreano masih kelihatan gantengnya.
"Iya terserah lu aja, emang gue nggak bisa lu harapin seperti keinginan yang lu mau" jawabku menundukan pandangan ke lantai.
"Tapi gue sayang banget ma lu Vis, buktinya gue rela di penjara, ini demi siapa?demi lu!" ucapnya meyakinkan rasa sayangnya padaku.
aku hanya menganggukan kepala mendengarkan semua omongannya. Emang benar, Andreano sudah banyak berkorban demi aku. Sudah tak terhitung jumlah materi yang di keluarkan untuk ku. Dan aku juga membutuhkannya.
"Sayang, gaji lu di pabrik nggak seberapa, lu kalo butuh apa-apa telpon gue ya" ucap Andreano merapatkan badannya, dan memeluku. Aku hanya terdiam, Aku bingung harus jawab apa. Aku sadari kebutuhanku memang banyak, gaji yang kuterima dari pabrik hanya cukup untuk memenuhi kebutuhan keluarga. Sedangkan aku, harus berobat setiap bulan demi kelangsungan hidupku. Otaku berpikir keras, kalau aku terima pemberian Andreano, maka aku akan semakin terjerat dengan Andreano. Aku tidak mau itu terjadi, karna hanya aku yang tahu watak Andreano dan Keluarga besarnya. Kalau aku tolak pemberian Andreano, Aku akan semakin tersiksa dengan penyakitku. Yang membutuhkan banyak uang untuk berobat.
__ADS_1
"Iya sayang, kalau gue butuh sesuatu pasti gue akan telpon lu" jawabku tersenyum memandangi wajah ganteng Andreano yang maskulin.
"Tunggu gue keluar dari sini ya sayang, dan jangan membuat gue kecewa" bisik Andreano kepadaku. Aku menganggukan kepala. Di rengkuhnya bahuku dan di sandarkannya tubuhku di dadanya. Kurasakan kehangatan dan ketulusan Andreano padaku. Aku harap, sifat dan sikap Andreano, sehangat pelukannya yang kurasakan saat ini.
Aku melepasakan pelukan Andreano dengan lembut, lalu menggenggam tangannya erat.
"Sayang, kami balik dulu ya, jaga diri lu baik-baik" kataku, Andreano hanya mengangkat kedua alisnya.
"Baiklah, tapi ingat ya, jaga kesehatan lu, dan jangan terlalu di forsir tenaga lu" jawabnya, kuraih pinggangnya, lalu berpelukan kayak Teletubbies.
"obat buat lu, akan gue kirim setiap minggunya, jadi lu nggak usah kwatir" sambungnya lagi. Aku sedikit bernafas lega. Karna aku tahu, berapa harga obat yang harus aku minum setiap minggunya. Dua juta rupiah lebih, bayangkan! duit segitu hanya untuk obatku saja selama satu Minggu. Sedangkan gajiku sebulan tak lebih dari dua juta. Bisa nangis darah kan.
Hari berganti, Minggu berlalu, bulan demi bulan terlewatkan. Setiap bulan sekali aku berusaha untuk menjenguk kekasih hati yang sedang dalam nestapa, Andreano. Setiap aku datang kesana, akan ada wanita seksi lain yang akan keluar dari kamar Andreano. Menginjak bulan ke empat, aku tidak datang mengunjunginya.
"Kalau begini terus, kapan gue akan bisa lepas dari jeratan Andreano" pikirku. Selain itu juga, kesulitan wajib yang datang kepadaku tak terelakan lagi. Apalagi kalau bukan masalah duit bin uang Ibnu fullus.
"Vis, semua sudah terjual tapi hutang mamakmu belum lunas" kata bapak suatu hari padaku.
"Terus aku harus bagaimana pak?"
"tolonglah sekali lagi Vis, cuma kamu harapan kami, tolong cariin uang buat bayar hutang besok" ucap Bapak memohon, aku tak tega melihatnya. Sekarang badan Bapak lebih kurusan, dan penampilannya juga tidak terurus dengan baik.
"Aku harus ngapain pak? semua sudah pernah tak pinjamin uangnya pak, dan sekarang aku juga nanggung utang. Aku sendiri sudah bingung pak" jawabku lirih.
Aku tertunduk lesu, tunanganku saja sekarang sudah tidak bisa aku andalkan. Modal yang aku kasih kini habis tak tersisa karna perbuatannya sendiri. Tatapanku kosong, aku menghela nafas panjang, terasa sesak dadaku. Lena sudah balik ke kampung halamannya, Padang Sumatera. Siapa lagi sekarang yang aku toleh.
"Terserah caramu gimana Vis, apa kamu tega lihat Mamakmu setiap hari menangis, dan selalu mengurung diri dalam kamar. Mamakmu takut keluar rumah, karna pasti banyak orang akan menagih hutangnya"
"iya Pak, aku akan mengusahakannya" aku beranjak dari ruang tamu dan menuju kamar mamak, Mamak memandangku dengan tatapan nanar, matanya sembab habis menangis, masih ada sisa buliran air mata yang meleleh di pelupuk bola matanya. Mamak memandangku penuh harap, seakan memohon padaku untuk membantunya.
"Vis!! tolongin Mamak nak, Mamak mohon, mamak rela berbuat apa saja untukmu. Bahkan kalau kamu suruh cium kakimu, mamak akan melakukannya nak" ucap Mamak dengan suara bergetar. Hatiku terenyuh mendengar ucapan Mamak, kalau tidak sangat terjepit tidak mungkin mamak akan ngomong seperti itu. Aku terdiam termenung sesaat.
"Baik Mak, aku akan berusaha. Semoga ini berhasil. Sebagai anak, aku harus berbakti demi orang tua. Apapun yang akan aku lakukan nanti, Mamak akan mengijinkan aku kan?"
"iya Vis, asal bisa mendapatkan uang, Mamak juga siap menerima resikonya" jawab Mamak pasrah.
Aku berlalu dari hadapan mamak, dan berjalan menuju kamarku. aku mencari sesuatu di hapeku, hingga akhirnya aku temukan. Sebuah nomor tanpa nama di kontak hapeku, aku ragu, berulang kali aku tarik nafas panjang. Jariku gemetar saat menulis sebuah kalimat, ku gigit bibir bawahku. Aku malu, sangat malu, tapi demi Mamak, akan aku lakukan.
__ADS_1