ISTRI MUDAKU MAFIA

ISTRI MUDAKU MAFIA
BAB 64


__ADS_3

Jam menunjukan pukul 02.00 dini hari, tapi mata ini rasanya tak ingin terpejam. Padahal dari tadi kepala ini rasanya berat, dan sedikit agak pusing.


"Seperti apa sih cowok yang membuatmu sampai bisa melupakan Andreano, gue malah jadi penasaran" tukas Lena sambil memandang langit-langit kamar. Senyum kecil terlihat jelas di sudut bibirnya, ini yang membuatku takut.


"Len?"


"Hm, ada apa Vis"


"gue minta tolong, jangan ganggu dia, gue sangat menyayanginya"


"oya, namanya siapa?" tanya Lena membalikan tubuhnya ke arahku.


"Namanya Prasetyo" jawabku singkat.


"Hahaha, anjiirr! namanya cupu banget" ujar Lena cengengesan.


"Uuh, keren tau" balasku sambil merengut.


"Gimana ceritanya kok lu bisa terkintil-****** sama si kuyak itu Vis"


"Hus! jangan panggil kuyak dong, namanya Prasetyo" aku mendelik ke arah Lena, dia hanya mengangkat tangan dan tersenyum pahit.


"Okey, gue ceritain. Tapi janji jangan menyela apalagi merendahkannya"


"iya gue janji" jawab Lena sambil mengacungkan dua jarinya. Aku mulai menceritakan dari awal aku ketemu sampai melakukan hubungan dengan Prasetyo secara mendetail dan sejelas-jelasnya ke Lena. Dan Lena dengan diam menyimak ceritaku, sesekali ingin bertanya tapi aku mencegahnya dulu.


"Nah sampai sini dulu ceritanya, meski kemarin sore gue di kasih tau kalau istrinya sekarang tengah hamil. Itu yang membuat gue sakit hati" Aku mengakhiri ceritaku, dan Lena malah memandangku bengong.


"Vis, Vis... gue nggak habis pikir, murah amat keperawanan lu, ck ck ck" Lena bergumam dan menggelengkan kepala.


"Semua karna keadaan Len, untungnya gue kenal Prasetyo, jadi selama ini juga gue manfaatin dia. Manfaatin dari kejaran polisi" ujarku lirih, tapi aku tak menyesal telah mengenal Prasetyo.


"Herannya gue itu ya, lu yang di sodorin duit sekoper oleh om gue lu tolak, di ajak Andreano bercinta, di kasih yang lu mau dan yang lu pinta juga lu tolak. Lha ini malah dapat recehan. Hadeeehhh" Lena menghela nafas dengan berat mengetahui tentang diriku yang sebenarnya. dan aku hanya tersenyum kecil mendengar ocehannya.


Cekrek krek, pintu Villa terdengar terbuka, tak lama suara berisik terdengar.


"Haduh gue capek banget" kata Serly terus tidur di sampingku.


"Ah gue juga, mana tadi tambah minuman pula. Sumpah gue udah nggak kuat" tambah Katrine yang langsung ambruk di atas Serly. Merasa tubuhnya di tindih, Serly menggeliat kecil dan di dorongnya tubuh Katrine dari atas tubuhnya.


"Eits, kenapa nggak ke kamar atas sih lu pada" tanya Lena pada mereka semua, hanya Elvi yang langsung ambruk di lantai karna kasurnya sudah tidak muat.


"males ah jalan ke atas"

__ADS_1


"Ya udah lu tidur sini biar gue pindah ke atas" kataku sambil beranjak dari ranjang dan menuju kamar atas, di susul Lena di belakangku.


"Oya! besok pagi mampir ke basecamp ya, dah lama kita nggak kesana" seruku saat menaiki tangga.


"Hmm" jawab Katrine malas.


"Gue nggak bisa, besok ngajar" sahut Serly lemas dan pelan, mungkin kebanyakan minum. Ku lihat Elvi sudah mendengkur dengan posisi mulutku melongo lebar, aku hanya tersenyum dan menggelengkan kepala. Badak pindah tempat tidur.


Keesokan harinya.


"Anjiirr!! bau apaan nih" teriak Katrine sambil menutup hidungnya.


"Woii, berisik!" sentak Serly sambil mengerjap-ngerjapkan matanya, lalu melihat Katrine yang kebingungan sambil memencet hidungnya. Tak lama tercium bau pesing.


"Gila!! siapa nih yang ngompol" Serly mengamati sekitar, melihat sekitar kasur tapi tak di temukan sesuatu. Kemudian melihat ke bawah, dilihatnya rembesan air di bawah bokong Elvi.


"Dasar kebo! bangun nggak lu" hardik Serly keras ke Elvi, sambil menggoyang-goyangkan badannya.


"Ishhh, apaan sih! gue masih ngantuk" lirihnya sambil memiringkan badannya. Tak lama terdengar dengkuran keras dari mulut Elvi.


"Vi...Vi! lu sadar nggak sih? lu tu ngompol, dasar kebo!" maki Serly kesal, karna panggilannya di abaikan begitu saja oleh Elvi.


"Ada apaan sih? eh, ini apaan?!" Elvi tersentak kaget, saat tangannya meraba lantai dan terlihat basah saat menyentuh air seninya sendiri.


"Ada apaan sih ribut-ribut" seruku dari kamar atas, dan berjalan menuruni tangga.


"Itu tu! Elvi ngompol" tunjuk Serly ke lantai, ku lihat ada rembesan air yang cukup banyak. Di tambah baunya yang menyengat hidung, segera ku pencet hidungku karna tak tahan dengan baunya.


"Hiii jorok lu Vi, baunya kayak comberan" umpatku pada Elvi. Ku tengok kanan kiri mencari Elvi, tapi aku tak menemukannya.


"Dimana orang Ser?"


"tu sedang berkubang di kamar mandi"


"berkubang, emangnya Elvi kebo" ujarku sambil cengengesan.


"Emang kebo tu orang, udah ah! gue udah nggak tahan baunya. Gue mau keluar dulu" tukas Serly kemudian berlari kecil keluar Villa mencari udara segar, akupun mengekorinya dari belakang. Saat di luar kami menghirup udara bersih sebanyak-banyaknya, dan menghirupnya kuat-kuat kedalam paru-paru kami.


"Eh ini apaan sih! air apa ini?" terdengar teriakan Lena, dia keluar sambil berjingkat-jingkat jijik.


"Hwahahahaha, rasain tu air saktinya Elvi" seru Serly terkekeh melihat ulah Lena yang kegelian saat menginjak air kencingnya Elvi.


"Yaelah, cuma air kencing doang lu pada ribut dan bikin gaduh" celutuk katrine sambil meregangkan tubuhnya.

__ADS_1


"Hah! berarti ini air kencing? uh sial!" sontak Lena mengosokan kakinya di rumput depan Villa kemudian pergi membersihkannya di kran samping Villa.


"Emang lu nggak ngerasa atau mencium bau ya Kat?" tanyaku heran pada Katrine yang biasa saja.


"Hehehe, nggak! hidung gue mampet karna pilek" kelakarnya santai sambil tertawa kecil, dia merapikan rambutnya dengan tangan.


"Elvi mana? mau gue tampol mukanya" seru Lena dari samping Villa, terlihat dia sangat geram dengan Elvi.


"Kata Serly dia sedang berkubang di kamar mandi" jawabku, lalu aku berjalan pergi ke arah staf Hotel untuk meminta membersihkan kamar kami.


"Mau kemana lu Vis" tanya Lena.


"cari Ob untuk membersihkan air wasiat Elvi" jawabku singkat.


"Huh! Elvi benar-benar keterlaluan" sungut Lena masih geram dengan Elvi.


"Hai semua! tumben pada ngumpul di depan, Nungguin gue ya?" suara Elvi memecah kesunyian, dengan wajah ceria dan tanpa dosa dia menyapa kami di depan pintu Villa.


"Astagfirullah!" seru Serly melongo.


"Astaga!!" ucap Lena dan Katrine melotot tak percaya, saat melihat Elvi keluar dengan senyum sumringah.


"Apa ada yang salah ma gue, gimana? gue seksi kan?" kata Elvi memutar tubuhnya dengan senyum yang ceria.


Hwahahahaha! kami serempak tertawa terpingkal-pingkal melihat Elvi yang baru keluar dari kamar mandi, dia terlihat bengong melihat teman-temannya menertawakannya.


"Ada apa sih"


"Aduh sayang, tadinya gue mau nampol muka lu, berhubung lu udah bikin gue tertawa gue urungkan niat gue untuk nampol lu" celutuk Lena sambil memegang perutnya menahan tawa.


"Lu bukannya seksi malah terlihat kayak ondel-ondel, ganti nggak pakaian lu" seru Serly sambil menahan tawanya, hingga terlihat wajahnya yang memerah dan hidungnya kembang kempis.


Tubuh Elvi yang gempal dan bongsor, terlihat lucu saat memakai kaos yang tadi malam kami ambil di pinggir jalan. Kaosnya kekecilan hingga terlihat lekukan dan lemak Elvi, pusernya dan pinggangnya juga terlihat karna kaosnya yang nggak sampai menutupinya. Belum lagi hotpants yang di pakainya hanya sebatas pangkal paha, jadi hanya seperti memakai ****** *****. Terlalu ketat buat Elvi. Elvi yang mengetahui itu segera berubah mukanya menjadi masam, dia cemberut lalu kembali kedalam kamar.


"tu kan dia ngambek, kita sih keterlaluan" ucap Katrine menyusul Elvi kedalam kemudian memakaikan handuk untuk membalut pinggang Elvi. Aku datang bersama seorang pemuda office boy villa ini, dia membawa pel dan seember air untuk membersihkan ompolannya Elvi.


"Pakai jaket Lena aja Vi, kayaknya Lena juga bawa celana ganti dalam mobilnya. Kayaknya pas kalau lu pakai" kataku melihat Elvi yang merengut dan duduk di tepi ranjang.


"Yuk, kita berkemas sekarang, udah kangen gue maen ke pasar. Dan udah lama juga kan kita nggak buat ulah di sana" kataku sambil melirik teman-temanku. Serentak teman-temanku berhamburan ke arahku.


"Hah pasar? yess! kangen gue sama mang Komeng penjual bakso yang pernah gue kerjain hingga menangis" celutuk Elvi yang tiba-tiba terkekeh senang.


"Asyiikkk yuk kita maen-maen lagi di sana" seru yang lainnya semangat. Tiba-tiba Lena membuka masker Ob yang sedang mengepel lantai, kemudian ******* bibirnya. Karna kaget dan kurang persiapan OB tersebut sampai tergagap tak percaya.

__ADS_1


terus dukung karyaku dan jangan lupa follow ya kak, trims.


__ADS_2