ISTRI MUDAKU MAFIA

ISTRI MUDAKU MAFIA
BAB 46


__ADS_3

Seperti biasa, pagi ini aku sudah berada di kantor tempatku bekerja. Memberi pelayanan administrasi kepada warga masyarakat yang membutuhkan. Memang dasar buaya, dimanapun tempat dia berada, kalau ada mangsa empuk serta ada kesempatan pasti di sikatnya. Seperti pagi ini, ada seorang cewek cantik datang ke kantor untuk minta pelayanan Administrasi padaku.


Dengan senyum manis ku sapa dirinya.


"selamat pagi dik, ada yang bisa di bantu?"


"mau bikin KTP baru, bagaimana caranya kak?"


"foto copy Kartu Keluarga, dan pas foto ukuran tiga kali empat sebanyak empat lembar,setelah persyaratan sudah komplit, nanti untuk blangko KTP saya buatkan"


"oya kebetulan sudah semua kak"


"mana, biar saya buatkan blangkonya untuk persyaratan KTPnya. Setelah ini langsung ke Kecamatan"


"Widih, nama kamu bagus sekali dik, cantik banget, secantik orangnya. Tapi sayangnya-" aku mulai beraksi untuk merayunya. Seraya membuat Blangko pengantar untuk membuat KTP.


"Masak sih kak, sayangnya kenapa kak?" ujarnya malu-malu.


"fotomu biasa aja, lebih cantik orangnya asli" kulirik dia tersenyum dan wajahnya merona. Dasar cewek labil, pasti nyampe rumah langsung berkaca deh.


"Ah, kak Pras bisa aja"


"Beneran kok, kamu cantik gak seperti di foto. Cewek secantik kamu pasti sudah punya pacar ya?" pancingku.


"Belum punya kak, kan aku baru lulus sekolah" dasar anak masih bau kencur, di pancing sedikit pasti bicaranya jujur.


"Masak sih? aku mau lho jadi pacarmu" bisiku.


"Apaan sih kak, sudah punya anak istri gitu kok, masih genit aja"


"lho, sekarang kan lagi trendnya. Lebih asyik dan seru lho kalau menjalin hubungan dengan suami orang. Nggak percaya? coba aja"


"takut kak, aku nggak pernah pacaran" jawabnya masih malu-malu.


"Sstt, tenang aja nanti tak ajarin. Kasih nomer hapemu ya" ku berikan hapeku kepadanya. Kemudian dia menulis nomor hapenya di hapeku.


"Tunggu sebentar ya, buat kamu cewek cantik, tak mintain tanda tangan dulu sama pak lurah" ku lirik sambil ku kasih senyum mautku. Dia cuma senyum-senyum malu mengiyakan.


"Makasih ya kak" ucapnya tersenyum manis, setelah kuserahkan persyaratan pembuatan KTP.


"Nanti tak telpon ya dik" ucapku pelan sebelum dia meninggalkan kantor, dia hanya tersenyum malu. Sebuah sinyal bagus untuk melancarkan aksi selanjutnya.


"Siapa itu Pras?"


"Mateng aku!" tiba-tiba Pak Lurah mengagetkanku dari belakang, saat aku melihat galeri foto di hapeku. Dengan gugup segera ku matikan hapeku.


"nggak siapa-siapa bos" jawabku sekenanya.


"Mana coba lihat!" terpaksa ku berikan hapeku, dilihatnya fotoku yang sedang memeluk mesra seorang cewek cantik berjilbab, maklum anak pesantren.

__ADS_1


"Heran aku sama kamu Pras" ucapnya, sambil terus mengamati fotoku yang di hape.


"Heran kenapa bos?" tanyaku cengar-cengir.


"Gantengnya ya ganteng aku, kumisnya ya tebal aku, kalo soal cewek, kok ya, lakunya laku kamu ya" selorohnya bercanda. Kami memang sudah biasa bercanda, sesama rekan-rekan kerja di kantor. Hapeku ku minta kembali, lalu kumasukan kantong.


Siang beranjak sore, kalau tidak ada kegiatan penting aku berjalan keliling taman, sekaliam patroli untuk keamanan wilayahku. Karna untuk tugas utamaku sebagai aparat di Desa, adalah sebagai keamanan.


pletak...pletak...drrrtt, drrrrtt. Hapeku berbunyi, tanda ada pesan masuk.


-beby dimana?-


-ada di taman beb, ada apa?-


-tunggu di situ, aku pingin ketemu. Penting-


Setelah ku baca pesan dari Viska, dan aku balas pesannya. kemudian aku hapus pesannya lalu ku kantongi kembali hapeku.


"Ada apa dengan Viska? apa yang terjadi? tidak seperti biasanya dia seperti ini" aku hanya membatin, masih banyak pertanyaan yang bikin penasaran diriku.


Sepuluh menit aku menunggu, Viska datang dengan mata merah sembab. Kayak habis menangis, dan mengalami hal yang tidak mengenakan. Datang-datang langsung memelukku, sambil nangis sesenggukan.


"Beby... ma'afkan aku, huu huuu" dia memeluk diriku sangat erat, hingga aku sesak nafas dan rokok ku terjatuh ketanah, duh sayang banget, padahal masih separoh.


"Ada apa sayang? ada masalah apa" dia masih sesenggukan di dekapan daddaku. Aku mencoba menenangkannya, agar aku tau, apa yang sedang terjadi.


"Aku, aku, huhuuuhuu"


"Ya sudah, menangislah dulu sepuasmu sayang" ku biarkan saja Viska nangis sepuasnya di dekapanku, toh nanti kalau basah bajuku oleh air matanya, aku bisa memerasnya, kemudian ku jemur di ranting pohon di taman.


"Beby sayang aku kan?" tanyanya kemudian, dia menatapku dengan melas.


"tentu dong sayang, aku akan menyayangimu selalu" balasku lembut.


"Apapun yang terjadi beb? kamu tidak akan meninggalkanku kan?"


"iya apapun yang terjadi, dan aku akan selalu bersamamu, apapun yang terjadi dengan kamu" jawabku yakin dan mantap. Ku usap rambutnya, dia masih dalam pelukanku.


"Aku, aku malu menceritakannya beb, huuuu huuuu" dia malah semakin keras menangisnya, aku tambah bingung.


"Ssssttt, cup cup cup, yuk duduk"


Ku ajak Viska duduk di batang pohon yang tumbang, dia masih terisak. Aku dengan sabar menunggunya untuk membuka suara bercerita. Sambil menunggu Viska meredakan tangisnya, ku ambil rokokku yang tadi terjatuh, kemudian ku Sulut lagi. Masih lumayan kok.


"Beby"


"iya sayang"


"beby janji tidak akan meninggalkanku kan?"

__ADS_1


"iya sayang, aku tidak akan meninggalkanmu" ku genggam erat tangannya. Kulihat dia, kayaknya berat banget untuk bercerita.


"Tapi janji dulu"


"iya, AKU BERJANJI, BAHWA AKU TIDAK AKAN MENINGGALKAN VISKA BEBYKU, DAN SAYANGKU, APAPUN YANG TERJADI" ucapku dengan mengangkat kedua jariku ke atas.


Klilap...clerett, DUARRRR... suara Guntur menggelegar.


"Waduh! mati aku, suara apaan tu" pikirku. Aku jadi takut sendiri.


"Beby tau kan Mujab?" kata Viska setelah reda dari tangisnya.


"Ya, tau, dia tunanganmu, kenapa sayang?" aku mengernyitkan alis, masih tak mengerti.


"Sudah tiga hari ini di rumah"


"iya terus"


"selama tiga hari ini, dia terus datang untuk menemui aku"


"he'em terus"


"tapi nggak pernah ketemu, karna setiap dia mau datang, aku bilang kalau aku pergi"


"iya terus beb"


"dia sudah tau tentang hubungan kita beb"


"iya kalau sudah tau terus gimana beb?"


"tadi siang dia datang lagi"


"iya terus"


"di rumah tidak ada orang, cuma aku sendiri yang di rumah"


"lalu beb"


"waktu itu aku sedang ketiduran, dan aku lupa mengunci pintu kamar"


"iya terus"


" dia masuk kekamar beb, dan-"


"dan apa beb?" pikiranku sudah tidak enak.


"Dan aku, aku di perkosanya beb. Huuuhuhuhuuu"


JEDDEERRRR... bagai di sambar petir diriku. Pengakuan Viska membuatku lemas tidak berdaya, seakan langit runtuh menindihku. Jantungku seakan berhenti berdegup, bumi berhenti berputar. Rokokku sampai terjatuh lagi karna tanganku terasa tak bertulang. Aku bengong kayak hilang ingatan.

__ADS_1


"Beb, bebyyy" aku tersandar saat Viska memanggilku, dan menepuk pipiku. Aku masih tidak menerima kenyataan ini.


__ADS_2