
Mendengar kabar tunangannya mau mati, bukannya kuatir atau panik malah di jawab dengan senyuman oleh Viska.
"Maksudmu sakaratul maut gitu dik?" ujar Viska santai.
"Iya mbak, aku cuma di suruh Bapak untuk ngabari kamu" jawab Ubay.
"Nanti kalo sudah mati aja ya dik, mbak kabarin lagi"
"lho! malahan" jawab Ubay di balik telpon, kayaknya lagi kebingungan dengan ucapan kakaknya barusan. Kemudian ponsel Viska di matikan, biar tidak ada yang mengganggu kegiatan kami yang tertunda. Viska menatapku dengan senyum manisnya, aku hanya mengernyitkan kening keheranan.
"Tunanganmu kenapa sayang?"
" tenang beby, dia belum mati kok" kelakarnya santai.
"Oh, kamu nggak kuatir sama dia sayang?" aku heran dengan sikap cuek Viska ke tunangannya, padahal dia yang membuat celaka tunangannya.
"Sudahlah sayang, lupakan aja, kita nikmati aja momen kebersamaan ini, dan aku nggak mau terusik saat sedang asyik" dengan santainya merambat ke tubuhku dengan mesra. Aku merasakan perasaannya lagi senang, dan aku tak akan menyia-nyiakan kesempatan ini. Viska mulai mencumbuiku dari awal lagi, setiap sentuhannya aku menikmatinya. Sekarang dia sudah pintar untuk menyenangkanku, bahkan mengendalikan semua permainan ini.
"Kamu nikmati aja, biar aku yang memanjakanmu, seperti halnya dulu kamu memanjakanku" aku hanya tersenyum, serta membelai lembut rambut indahnya. permainan bibirnya sungguh membuat bergetar dan bergairah, dia menelusuri dadda bidangku, tak lupa bagian-bagian sensitiv di tubuhku. Aku hanya mendesah nikmat, setiap mendapatkan sentuhan lembut dari bibirnya. Bagai sengatan listrik bertegangan tinggi, sehingga membuat tubuhku bergetar nikmat.
"Oh sayang, aku sudah tidak tahan. Segeralah tuntaskan" pintaku, sambil meremas gemas daging kenyal miliknya.
"Kenapa buru-buru beby, aku baru saja memulainya" senyum manis mengembang, memperlihatkan barisan gigi putih yang menawan. Dengan gemasnya aku mencolek hidung mancungnya. Tak cuma bagian depan saja yang menjadi sasaran serangan liar Viska, dengan berbalik telungkup, tengkukku di lumatnya penuh emosi, yang membuat ku bergidik ngeri namun nikmat. Selanjutnya, punggungku di sesapnya penuh nikmat, dan lidahnya menari-nari dia atasnya. Untungny tidak ada panu yang hinggap di punggungku. Aku hanya bisa merem melek setiap mendapat sentuhan nakalnya.
Sedikit tersentak kaget aku, saat tangan lembut Viska merogoh selang kanganku, tak lama aku menikmatinya kembali. Tangan lembutnya meremas, maju mundur pelan Rudalku.
"Yang ini gimana sayang? nikmat bukan? ini yang dinamakan handjob memetik mangga"
"ouhh, luar biasa sayang" aku sangat menikmatinya, tak tahu kenapa dia bisa menamakannya demikian. Sambil mengurut pelan, dengan istilah memetik mangga dia menggigit kecil paha belakangku, yang membuat aku menjingkat kaget tapi enak.
"Uuwwwuuuuhhh, sedap sekali sayang" sentakku reflek.
Lirikan nakalnya membuatku semakin emosi untuk ******* bibirnya. Namun di tahannya, dan tetap fokus pada paha mulus dan kekar yang di depannya.
"Buat dirimu nyaman beby, mau yang kayak gini?"
__ADS_1
"Uwiiiiihhh! apaan lagi ini sayang? owwuuhho nikmat banget" seruku tak tahan akan kegelian bercampur padu dengan sedikit ngilu dan kenikmatan. Hanya dengan permainan tangannya, aku sudah blingsatan tak karuan.
"Kalau yang ini namanya memetik anggur" Katanya pelan dan lembut, sambil terus menjilati paha belakangku.
"Hah? apan lagi itu? ah, bodoh amat penting enak dan nikmat" pikirku sambil terus memonyongkan bibir, mendesah, melenguuh keenakan. Aneh, istilah bercinta kok banyak banget. Ada memetik mangga lah, yang seperti di lakukan Viska dengan mengurut batang rudalku maju mundur cantik, dari belakang atau posisi badanku telungkup. Dan ini lagi ada istilah memetik anggur, dengan cara mencomot seperti sedang memetik buah kecil mirip anggur. Sasaran utamanya adalah mencomot kepala batang rudal dengan pelan dan lembut, atau bisa juga telur puyuhnya yang di comot. Tapi ingat harus pelan dan lembut, biar pasangan kita menikmati. Kalau dengan kasar dan kencang, pasangan kita bisa mati.
"Ayo dong sayang naek, nanti lemes duluan lho" seruku seraya membalikan badan kembali telentang. Ku lirik batang milikku yang kokoh dan siap bertempur.
"iya sayang, aku juga menginginkannya" jawab Viska, sambil melepaskan pakaian dalamnya dengan cepat. Tak butuh waktu lama, Viska sudah menari meliuk-liuk indah di atas tubuhku.
"Uhh mantapnyooo!!" desisku.
Selanjutnya kami saling bersahut-sahutan mendesah, dan saling mengecap rasa yang membakar jiwa. Bag mendayung sampan ke tengah samudra, nafas ngos-ngosan, bulir keringat berjatuhan kami tak memperdulikannya. Kalau sedang bergumul begini, semua akan terasa indah. Semakin lama gerakan Viska semakin liar, semakin kencang pula suara menggema dalam kamar. Dua puluh menit berlalu, belum ada tanda-tanda permainan ini akan berakhir. Malah semakin beringas, celotehan Viska terdengar merdu di telingaku, bag nyanyian Malaysia yang sendu dan mendayu-dayu.
"Uhh bebyku, ingin rasanya aku tumpah"
"tumpahkanlah sayang, sesuka hatimu" jawabku dengan nafas memburu.
"Aku tak ingin permainan yang mengasyikan ini berakhir, uhh! rasakan jepitanku beby" Viska meracau, sesekali meremas kencang daddaku. Kedua kakinya di tumpangkan ke atas pahaku, mendapat tekanan yang sedemikian. Aku semakin blingsatan. Dia terus mengayuh, ingin secepatnya meraih puncak.
"i-iya sayangku, a-aku mau dapat nihh"
"aku juga be-beby, tekan terus sayang" lirihku tak kuasa menahan sesuatu yang mau keluar. Suara kami beradu dengan terbata,hingga akhirnya kami bergetar hebat bersama, terdengar suara lenguhan panjang tanda permainan berakhir.
Tubuh kami masih menempel, rasanya tak rela kenikmatan ini berakhir. Perlahan ku stabilkan nafas yang masih memburu cepat, masih terlihat jelas Viska kelelahan, dia merubuhkan tubuhnya di atasku, tercium aroma bau sedap dari mulutnya. Ku kecup keningnya, yang tepat di depanku dengan perasaan sayang. Ku peluk erat tubuhnya yang putih mulus, ku menarik selimut yang berantakan. Dan kututupi tubuh kami hingga kami terlelap dalam kepuasan.
Di klinik.
Mujab mengerang kesakitan di sekujur tubuhnya.
"Auuukh sakit banget pak, perih. Kipasin dong" dengan buru-buru Bapak Mujab menyelingkap selimut yang menutupi burung Mujab, terlihat memerah bengkak. Dengan kipas dari anyaman bambu, Bapak Mujab mengipasinya. Mirip sate yang lagi di bakar. Tak tahan dengan sakit yang di deritanya, Mujab cuma bisa mengerang dan tubuhnya selalu bergerak ke kiri dan ke kanan.
Ubay dan Bapak Viska yang baru datang hanya terdiam melihat keadaan Mujab yang menyedihkan, tapi tak bisa berbuat banyak. Dengan santainya langsung duduk melantai di samping Bapaknya Mujab.
"Kenapa bisa terjadi seperti ini nak?" Bapak Viska yang bernama Abdullah dan biasa di panggil Pak Dullah, membuka suara. Tetapi hanya erangan yang beliau dapati dari jawaban Mujab. Bapak Mujab melirik Pak Dullah dengan perasaan kuatir dengan keadaan anaknya.
__ADS_1
"Ini gimana ya pak, atau bawa saja ke rumah sakit?" Tanya Bapak Mujab dengan bingung, yang bernama Pak Lamin dan nama panjangnya Hirobbil Alamin.
"Kita tunggu saja perkembangannya pak, dan kata mantri suntiknya tadi gimana pak?"
"cuma di suruh nugguin saja Pak Dullah, mungkin ini juga reaksi dari obat yang di minumnya tadi" Jawab Pak Lamin, sambil terus mengipasi burung Mujab yang lagi meriang. Pak Dullah keheranan, dia menoleh ke kanan dan ke kiri kayak mencari sesuatu.
"Ada apa Pak Dullah? kayak sedang bingung" tanya Pak Lamin melirik Pak Dullah bingung.
"Viska kemana pak? kok dari tadi aku tidak melihatnya"
"iya tadi pagi kesini, jengukin Mujab sambil minta maaf, kemudian pergi lagi" ujar pak Lamin apa adanya.
"Bocah semprul! di suruh nungguin kok malah pergi keluyuran, kirain pergi beli apa gitu" gumam Pak Dullah geram.
"Katanya pergi kerja pak" sela pak Lamin, Bapak Viska hanya mendengus kesal dengan kelakuan anaknya.
"Ubay!"
"iya pak" jawab Ubay mendekat ke Bapaknya.
"kamu beli esteh ya, Bapak mau ngompres burungnya Mujab" ujar Pak Dullah sambil mengambilkan uang yang terselip di balik peci dekilnya. Kemudian memberikan uang lima ribuan ke Ubay. Pak Lamin dan Ubay malah melongo penuh tanda tanya.
"Di kompres pak? Pak Dullah punya ide itu darimana?" tanya Pak Lamin cemas.
"Hehehe, inisiatif sendiri Pak, ingat nggak dulu, waktu kita kecil maen bola di sawah. Saat kaki kita bengkak karna saling beradu, lalu kita patungan untuk beli esteh. Air tehnya kita habiskan, lalu es batunya kita buat kompres kaki kita. Tantu kamu masih ingat kan?" seloroh Bapak sok pintar dan bangga karna mendapat ide cemerlang. Pak Lamin percaya dan manggut-mangut.
"Betul juga ya pak, boleh deh nanti kita Coba" Tukas pak Lamin tersenyum senang.
"Ubay, telpon juga Mbakyumu untuk segera pulang, Bilang aja Mujab mau mati gitu" perintah Bapak Viska ke Ubay, dan Ubay hanya bisa mengiyakan saja tanpa membantah.
"Waduh, kok mati pak? bukannya itu keterlaluan pak" seru Pak Lamin kebingungan dengan ulah Pak Dullah.
"Kalau tidak begitu, mana mungkin Viska mau pulang pak, Pak Lamin kan tau sendiri, Viska itu orangnya gimana" kata Pak Dullah menjelaskan, dan pak Lamin hanya diam manggut-manggut lagi.
"Waduh! kalau mati beneran gimana dong anaku ini" batin pak Lamin pilu.
__ADS_1