ISTRI MUDAKU MAFIA

ISTRI MUDAKU MAFIA
BAB 37


__ADS_3

pintu di ketuk kembali oleh Bapak.


"Vis, kamu sudah tidur belum?"


merasa tidak ada sahutan, Bapak kembali kedalam kamarnya. Rasa Sakaw ku semakin menjadi-jadi. Aku harus kuat, aku tidak ingin ketergantungan sama obat Jahanam ini. Keringatku semakin deras bercucuran. Ini sangat sakit, sangat membuatku tersiksa. Ingin rasanya aku mengakhiri hidupku. nafasku memburu, detak jantungku berdegup kencang. Aku meronta-ronta, untungnya ikatanku kuat. Kalau saja ikatanku ini lepas, aku tak tahu apa yang akan terjadi.


Adzan Subuh berkumandang, tubuhku meringkuk di sudut kasur, tangan dan kakiku masih terikat kencang. Rasa lemas menjalar di sekujur badanku. Aku berusaha membuka ikatan tanganku dengan mulut, dengan tenaga yang tersisa, sedikit demi sedikit aku buka ikatan tanganku. Cukup lama, hingga aku berhasil melepaskan ikatan di tangan.


"Sykurlah" gumamku bernafas lega. Ada rasa ngilu di pergelangan tangan. Aku angkat kakiku, lalu aku sandarkan di tembok, sedikit menghilangkan penat di kaki. Setelah agak rendah penat yang kurasakan, aku kembali berusaha membuka ikatan yang di kaki. Terlepas sudah semua ikatan, aku menghela nafas lega. Dengan tumpuan tangan, aku mencoba duduk. Tertatih aku berjalan menuju kamar mandi, Aku tidak mau menyerah sama keadaan.


"Allohu Akbar" takbir aku kumandangkan, seraya mengangkat kedua tanganku, lalu bersedekap. Bergetar seluruh jiwa ragaku, saat aku mengucap Takbir. Iya, aku melaksanakan Sholat Subuh, yang sudah lama aku tinggalkan. Aku ingin curhat sama Tuhanku, aku ingin berkeluh kesah kepada Tuhanku. aku ingin menangis bersimpuh di pangkuan Tuhanku. memang di saat kita di titik terendah, disitulah seseorang baru mengingat Tuhannya. Aku harap ini adalah sebuah teguran untuk ku. Air mataku tak berhenti mengalir di kedua mataku, saat aku lantunkan kalimat-kalimat thoyiba, memuji kebesaran Tuhanku. Ada rasa sejuk dan bahagia menyelimuti badanku, lambat laun membawaku terlelap dalam buaian mimpi.


"Subhanallah... sudah masuk Islam lagi Vis?" celutuk Bapak, saat melihatku tertidur setelah sholat Subuh. Aku tersenyum malu, kemudian bangun dari tidurku. Aku lepaskan mukenaku lalu kugantungkan kembali di tempatnya semula.


"Sudah jam berapa sekarang pak?" tanyaku mengalihkan pertanyaan Bapak.


"Baru jam enam pagi"


"Oh, syukurlah"


"Emang kenapa Vis?"


"mau siap-siap kerja Pak, cari cuan"


"weeeh lhadalah, bagus itu. Lanjutkan" seloroh Bapak terkekeh. Sambil mengacungkan ibu jarinya.


Hari ini aku berangkat kerja sendirian, Ida juga berangkat sendiri, sekarang dia sudah tidak nebeng aku lagi, karna sudah beli motor seken untuk kerja. Malu katanya nebeng terus. Syukur deh kalau masih punya rasa malu, biasanya juga malu-maluin.


Di tempat kerja.


"Vis, kak Prasetyo nanyain kamu terus, dia minta nomor hp kamu, katanya nomor hape kamu yang dulu nggak aktif ya?" seperti biasa, Ida kalau nerocos tidak ada berhentinya.


"emang aku sudah ganti nomor kok, ngapain juga ngurusin cowok buaya model prasetyo" jawabku ketus.


"kasihan Vis, dia juga katanya mau ngajak jalan. Tapi harus sama kamu Vis" lanjutnya.


"Hah, males! udah punya anak bini masih banyak tingkah" ujarku geram. Padahal nanti kalau pulang, aku mau mampir sebentar ke outletnya Prasetyo.

__ADS_1


Suara sirine pabrik menyala meraung-raung, tanda semua aktifitas karyawan pabrik di hentikan, persiapan untuk pulang. Ratusan karyawan berseragam keluar berhamburan dari dalam pabrik, salah satunya ada aku. Yang ingin segera beranjak dari pabrik Garmen yang penuh sesak oleh manusia. Tak lama aku sudah di jalan meluncur pulang.


"Hoi, isiin gue film lagi" kataku mengagetkan Prasetyo, kulihat dia sedang sibuk menata aksesoris hape.


"Eh kamu cayang, tumben mampir, kangen aku ya?" jawabnya tersenyum senang, saat aku datang menghampirinya.


"Hadeh, Pede amat lu! najis gue kangen ma lu" jawabku cuek.


"Hehehe, kalo kangen bilang ja Bell, nggak usah malu lah. Oya nama kamu Viska to?" selorohnya sok cakep.


"Wah, pasti Ida nih yang kasih tau nama asliku. Emang dasar ember tu bocah" pikirku dalam hati.


"Yaelah, banyak bacot lu ya, udah buruan isiin gue film. film yang kemarin sudah gue hapus, isinya jelek semua"


"Udah lu praktekin sama siapa?"


"wah... makin ngaco lu kalo ngomong, gue tampol muka lu baru nyahok!" ucapku jengkel mendengar pertanyaan yang tak senonoh.


"Hehehe, kirain dah di praktekin, ya udah mana kartu memorinya"


"Isi yang bagus lho ya! awas kalo jelek gue balikin lagi" kataku ketus.


"Iya ya bawel, tak kasih yang bikin ******-****** sesuai reques kamu" jawabnya serius sambil memilih film yang bagus, kayaknya dia tak ingin membuatku kecewa. Aku jadi tersenyum geli sendiri, padahal film-film yang kemarin tak jual ke teman-teman di kampungku. Lumayanlah, satu film seribu rupiah, kalau ada seratus film kan dapat seratus ribu. Padahal bayarku kemarin cuma lima belas ribu, dapat bonus dua perdana juga.


"Nih, sudah dijamin bikin syahwat syurrr!!" kelakarnya sambil melirik ku.


"Ini gratiskan?? kan gantinya film kemarin"


"Lho kok gratis, waduh bandar tekor dong" ujar Pras bingung.


"kan gue udah bilang, kalo jelek gue balikin, ih ngotot amat sih,dapat film nggak modal juga" ketusku sewot.


"Yee, nggak modal gimana, ya modal dong. downloadnya juga pake kuota kan?" jawabnya masih ngeyel.


"Pokoknya gue nggak mau bayar titik" aku masih ngotot.


"Ya udah nggak apa-apa, tapi aku minta nomermu lagi, yang kemarin nggak aktif. Kamu sudah ganti nomor lagi ya"

__ADS_1


"nomer terus, buat apa sih? seneng banget nyimpen nomer gue, buat lu racik, terus lu tombokin togel ya?" gurauku.


"lha apaan? aku nggak suka nombok togel, daripada buat nombok togel, mending buat kencan ma kamu, ya kan Vis?" celutuknya cengengesan.


"Iih ogah kencan ma cowok buduk kayak lu, udah jelek, punya anak bini, petingkah pula. Hadeeeh" omelku padanya.


"Mau kasih nomernya nggak nih? atau tak hapus filmnya" ancamnya padaku.


"Ya udah ya udah, nih gue kasih. Dasar licik" terpaksa aku kasih nomor hapeku ke Prasetyo. Cuma nomer hape doang, apa salahnya. Ku lirik kayaknya dia seneng banget, dengan cepat menyalin nomerku ke hapenya.


Ada seorang wanita datang menggendong anak kecil, dan membawa segelas kopi.


" Ini mas kopinya" katanya seraya menaruh kopi di depan Prasetyo, dia meliriku dengan sinis, aku cuek saja toh tidak kenal juga.


"Oya dik, tuker uang sepuluh ribuan ke emak ya?buat kembalian ke mbak ini. Soalnya dia lagi ngisi lagu" di sodorkan selembar uang dua puluh ribuan.


"Itu istri lu ya? kok tampangnya jutek gitu. Pantesan lu berburu cewek melulu" kataku setelah istri Prasetyo pergi keluar dari outletnya, untuk menukarkan uang.


"Iya, dan itu anak ku yang kedua" jawabnya. Kulihat ada perubahan di wajahnya, yang tadinya ceria, sekarang wajahnya masam. Kayak ada sesuatu yang di sembunyikan. Ah, bodoh amat, bukan urusanku juga.


"Ini mas duitnya, yang sepuluh ribu ini tak buat jajan ya" kata istrinya saat datang, memberikan uang yang di tukarnya tadi.


"Ya dik" jawab Pras singkat.


"Ini kembaliannya mbak" kata Prasetyo menyodorkan uang sepuluh ribu kepadaku. Aku malah jadi bingung, tanpa pikir panjang, aku ambil saja uang yang di tangan Prasetyo. Istri Prasetyo memandangku curiga. Setelah mengambil kartu memoriku, aku langsung pergi pulang.


"Lumayanlah, sudah dapat film gratis dapat uang bensin pula. Asyiiik, sering-sering aja kayak gini" desisku tersenyum campur bingung dengan ulah Prasetyo. Dasar cowok sinting plus.


-Len, nanti malam anter gue ke Jakarta ya? jenguk Andreano-


pesan singkat aku kirimkan ke Lena.


-Ok sayang, jam 10.00 malam gue jemput lu-


balasan dari Lena. Dengan semangat, aku mempersiapkan segala sesuatunya untuk perjalanan ke Jakarta. aduh kayaknya sudah lama aku tidak ke Jakarta, padahal baru satu bulanan.


Aku dan Lena berangkat dari rumah jam sebelas malam. Menurut perkiraan ku, besok pagi kami sudah sampai. Di perjalanan Lena begitu gembira, dia cerita panjang lebar, dengan diselingi gelak tawa yang keras. Aku kangen dengan suasana ini, aku kangen dengan celotehnya teman-temanku saat kami pergi bersama melakukan hal-hal gila. Tapi aku juga ingin berubah untuk masa depanku, aku tidak mau seperti ini terus, terperosok dalam lembah hitam.

__ADS_1


__ADS_2