
Jam 05.00 sore adalah waktu untuk ketemu dengan Bapak Kepala Polisi, aku harus cari cara supaya bisa mendapatkan surat kebebasan bersyarat yang dibuat tadi,
"kalau disuruh nemenin tidur polisi mesum itu, ih ogah dech, amit- amit" aku ketuk jidatku tiga kali.
Teman- temanku datang ada Andreano bersamanya,
"gimana keadaanmu sayang?" tanya Andreano sambil mengecup keningku.
"Baik, lha ini lagi makan, tadi dibeliin pak pol itu" jawabku seraya mengarahkan pandanganku pada seorang polisi yang sedang mencatat sesuatu di buku besar.
"Makan apaan tu lu Bell?, lha cuma telur bulat ma tahu doang!!, ini tadi gue bawain makanan yang lezat lho" tanya Lena mengamati apa yang aku makan,
"ya namanya juga laper Len, apa aja okelah"jawabku sambil mengunyah makananku.
"Terus, makanan yang gue bawa ini gimana?, siapa yang mo makan,ini cukup banyak lho!" kata Lena sambil mengangkat tentengan plastik yang dibawanya.
"Lu makan sendiri aja kurang kok" celutuk Anita sambil nyengir,
"ah, monyet lu" sahut Lena cepat, dan kami semua hanya tertawa kecil.
"Udah ah, yuk pindah di bawah pohon sana, kita ngobrol- ngobrol disana" kutunjuk sebuah pohon yang cukup rindang yang ada di samping kantor polisi.
Kami berempat pindah di bawah pohon yang rindang, selimut sell yang kupakai alas untuk tempat duduk kami, banyak polisi yang heran dengan ulah kami, tapi kami cuek saja.
"Ye serasa piknik ya kita" kata Anita setelah duduk dan membuka bungkusan cemilan,
"iya betul juga ya An, lebih seru malah, dengan pemandangan polisi- polisi yang gagah dan ganteng"jawab Lena sambil tersenyum genit.
"Nanti rencana gue, mau kerumah duka untuk memberi santunan dan tak suruh mencabut laporannya" kata Andreano membuka percakapan,
"apa lu punya rencana lain sayang" katanya lanjut kepadaku,
"ada dong, nanti sore gue diajak ngamar Bapak Kepala Polisi"
"wah seru dong, gue ikut ya" sela Lena semangat,
"iya rencana gue mo ngajak kalian berdua"
"wah pasti seneng banget ya Bapak Kepala Polisinya, dilayani tiga cewek cantik dan sexy" timpal Anita, matanya menyipit menambah keimutan wajahnya.
"Okey sayang, gue pergi dulu ya, anak buah gue sudah menjemput didepan"kata Andreano bangkit dari duduknya, kemudian berjalan menuju mobil jemputannya, Andreano melambaikan tangannya padaku dan aku membalasnya.
"Eh cecunguk itu kok gak cemburu Vis, waktu lu bilang mau ngamar sama Bapak Kepala Polisi" tanya Lena,
"maksut lu Andreano?"
"iya"
"kalau dia sih percaya ma gue, kalau gue gak bakalan nglakuin *** dengan Polisi mesum itu" jawabku santai,
"lha kok bisa gitu gimana critanya!"
"lu kan tau sendiri, kalau gue jijik dengan yang namanya ***, dulu dia juga pernah mancing- mancing gitu kegue, saat mencium bibir dan ********** lembut, tiba- tiba tangannya *****-***** gitu mau meremas dadaa gue,
__ADS_1
"ih terus, terus lu apain Vis" potong Anita tidak sabar,
"terus gue mendesah nikmat dong, habis gitu gue gigit bibirnya sampai dia merasa kesakitan, lalu gue tampar pipinya cetarrr!!"
"ishh, pasti sakit tu" kata Anita meringis sambil memegangi pipinya.
"Terus gue kasih ultimatum ke dia, kalau keperawanan gue akan gue serahkan ke suami gue nantinya, kalau dia masih macem- macem juga, gue minta putus aja, toh kalau dia pingin bercinta kan bisa dengan cewek lain" kataku mengakhiri cerita.
"Apa gak sayang tu Vis, selain keren Andreano itu tajir melintir lho, perusahaannya aja dimana-mana" sahut Lena.
"Sebenarnya sayang sih, tapi mo gimana lagi, sudah jadi prinsip gue tuh, lagian gue juga sudah punya tunangan, kalau sampai hamil sama Andreano, kan orang tua gue bisa malu" jawabku membuang pandangan kosong kedepan.
"Yaelah, tunangan bangsat begitu masih lu pikirin Vis" kata Lena geram,
"karna gue menghormati pilihan orang tua gue Len,gue mau jadi anak yang berbakti pada ortu gue"
"lu emang menarik ya Vis, pantesan banyak cowok yang cinta mati ke elu, gak seperti gue, habis dapat tubuh gue, terus gue di tinggalin" sahut Anita sedih dan cemberut.
"Tapi ada untungnya juga kan An, lu jadi tau semua rasanya tonggak, dari yang kecil sampai yang besar, dari bentuknya yang unyuk- unyuk sampai yang sangar dan kekar" kataku menggoda Anita, Anita jadi merah padam mukanya.
Hari menjelang sore, waktu menunjukan pukul lima lebih sedikit, aku sudah mendapat pesan singkat dari Bapak Kepala Polisi mengenai tempat dan nomor kamar.
Tak perlu waktu lama kami sudah tiba ditempat yang dituju, aku turun dan masuk duluan kedalam hotel, sedangkan Lena dan Anita aku suruh menunggu didalam mobil atau di lobi hotel.
Ku ketuk pintu kamar hotel yang sudah dipesan, terdengar pintu sedang di buka dari dalam,
"oh mbak Viska sayang, aku sudah tidak sabar menunggumu" seru Pak Kepala Polisi tersenyum senang, langsung meraih pinggangku dan membopongku ketempat tidur, direbahkannya tubuhku pelan keatas ranjang yang luas dan empuk.
"Hahahaha, iya sudah aku siapkan, kamu memang cerdas mbak Viska" jawabnya berjalan menuju Jas abu- abunya yang di gantung didalam almari, kemudian mengambil kertas yang terlipat dari balik kantong jasnya, dan sekalian menutup pintu kamar yang disamping almari.
Aku bangkit dari rebahanku kemudian meraih kertas yang ada di tangannya lalu kubaca isinya,
"boleh bicara sebentar pak?"
"oh boleh dong sayang, bicaralah"
"jadi gini ya Bapak, sebelum kita melanjutkan, aku ingin memberi tahu dulu supaya Bapak tidak menyesal nanti saat bercinta denganku" kataku sambil menarik kursi untuk tempat duduk, dan Bapak Kepala Polisi duduk ditepi ranjang menghadapku.
"Menyesal bagaimana mbak?!" tanyanya bingung,
"sebenarnya aku," aku sengaja tidak meneruskan kalimatku.
"Kamu kenapa mbak" tanyanya mulai penasaran,
"maaf ya Pak, sebenarnya aku mengidap penyakit HIV" kataku menunduk pura- pura sedih sambil melirik reaksinya.
"Hah, kamu kena Aids?!!" serunya kaget tidak percaya,
"iya benar Pak, kalau Bapak tidak percaya, aku bisa menunjukan surat dari dokter tentang penyakitku itu" kataku meyakinkan Bapak Polisi itu.
Aku berjalan mendekatinya dan duduk disampingnya,
"apa ini hanya akal- akalanmu saja mbak" tanyanya masih tidak percaya sambil memandangiku serius.
__ADS_1
"Baiklah, kalau Bapak masih gak percaya padaku, mulailah sekarang pak, aku sudah siap" kataku seraya membuka kancing kemeja yang kukenakan, kulihat Dia mulai ragu,
"sebenarnya ini aib buatku Pak, terpaksa aku katakan pada Bapak supaya Bapak tidak menyesal nantinya bercinta denganku" tambahku lebih meyakinkan.
"Ayo Pak silahkan aku sudah siap memuaskanmu sayang" kataku pelan ditelinganya,
"tapi, tapi gimana mbak" pikirannya sudah mulai goyah dan ragu.
"Atau gini saja, agar Bapak tidak kecewa aku punya tawaran menarik buat Bapak"
"tawaran apa itu mbak"
" tunggu sebentar ya pak"
Aku menelpon Lena dan Anita agar segera masuk kedalam kamar, tak lama pintu kamar diketuk orang, dan aku segera membukakannya.
"Ini teman- temanku Pak, Lena dan Anita, mereka yang akan memberikan kepuasan kepada Bapak, aku jamin Bapak akan terbang melayang dibuatnya" kataku memperkenalkan, kulihat Bapak Kepala Polisi itu kembali tersenyum dan berbinar wajahnya.
"Bagaimana pak? ini Lena kayak orang Rusia cantik, tinggi dan padat berisi, dan ini Anita kayak orang Hongkong, body langsing ramping, dengan wajah imut menggoda" sambungku, Lena berjalan mendekati Bapak polisi dan menunjukan bentuk gunung kembarnya yang besar dan menantang,
"Bapak akan terpuaskan dengan ini" katanya sambil meraih tangan Bapak polisi dan menaruhnya dibelahan gunung kembarnya, kulihat jakun Bapak Kepala Polisi naik turun menahan hasrat.
Di susul Anita, menaikan satu kakinya di atas kursi yang didepan Bapak Kepala Polisi, memperlihatkan paha yang mulus indah hingga pangkal dan terlihat gundukan daging kenyal yang terbungkus Daleman warna hitam,
"gimana dengan ini pak?" tanya Anita menaikan rok mininya sedikit, dan memainkan jarinya yang lembut di tengah garis nunuknya sambil menggigit bibir bawahnya yang tipis lalu mendesah pelan menggoda.
"Hahahaha, baiklah, baiklah saya setuju, kamu benar- benar luar biasa mbak Viska" katanya sangat senang kemudian meraih pinggang ramping Anita, dan ******* bibir Lena dengan rakus.
"Berarti urusan kita sudah beres ya Pak,aku mau pamit pulang dulu, oya Pak, minta uang buat ongkos dong"
"iya tunggu sebentar mbak," diraihnya dompet yang ada disaku belakang celana, kemudian memberikan uang yang cukup banyak kepadaku dengan cepat.
Setelah uang kuterima,
"teman- teman layanin Bapak ini dengan baik dan memuaskan ya"
"siap boss!!, kami juga menginginkannya, karna sudah lama gak dibasahi nih" seloroh Lena sambil tertawa riang, lalu menggumul manja ketubuh tambun Bapak Kepala Polisi, Anita mulai menyingkirkan celana yang masih dipakai dan kemudian mengacak- acak bagian bawah yang sudah mulai mengeras.
Aku tersenyum puas,
"wow lumayan juga nih" ku hitung- hitung ada satu jutaan lebih, aku berlalu dari kamar hotel menuju keluar, masih terdengar lolongan dan ******* kenikmatan dari dalam kamar,
Sudah bebas dapat untung pula hahahaha, buaya di kadalin.
***
Itulah awal aku mengenal sosok pria yang bernama Andreano, yang secara tidak langsung menjeratku dalam cintanya, sekaligus menjerumuskan ku dalam Dunia hitam penuh tipu- tipu ini.
Meski begitu aku juga membutuhkannya, ya membutuhkannya untuk kepentingan pribadiku, soal apa lagi kalau bukan masalah uang, ya karna uang ini aku bertahan.
Tetapi bukan Karna uangnya aku menjual tubuhku pada Andreano, Andreano bukan type lelaki seperti itu, dia tulus mencintaiku, akupun juga sangat menyayanginya. Bagaimana dengan tunanganku? tapi aku merasa terlindungi bersama dengan Andreano, belum lagi aku harus setiap bulan pergi kerumah sakit untuk ceck up??
Aku harus mengurai satu- persatu kehidupanku yang rumit, dengan cara mengikuti alur kehidupan yang sudah digariskan kepadaku.
__ADS_1