ISTRI MUDAKU MAFIA

ISTRI MUDAKU MAFIA
BAB 22


__ADS_3

"Aku harus gimana nih, kalau itu beneran kawan- kawan Barnadi bisa bonyok dalam penjara nih gue, gak lucu juga kan seorang Viska Aulia leader dari Genk cewek liar mati konyol dalam penjara" batinku berkecamuk.


Aku keluar dari dalam sell, melewati pintu belakang kantor polisi ini, untungnya gak da polisi yang mengetahui saat berjalan lewat pintu samping, mungkin lagi sibuk menenangkan masa yang ada didepan.


Dengan berjalan santai aku kehalaman kantor polisi sambil membawa sapu dan pengki tangan yang ku ambil dari belakang kantor, kemudian aku menuju kamar mandi mushola untuk mencuci muka dan selanjutnya ikut gabung dalam keramaian masa.


Aku mendekati seseorang yang sedari tadi diam saja sedang duduk diteras mushola,


"Pak sedang ada apa ya kok ramai- ramai gini"tanyaku ingin tahu.


"Oh ini mbak, mau balas dendam atas kematian teman kami Barnadi, dia mati digorok di warung kopi"


"sudah tau pelakunya belum pak?"


"belum mbak, katanya seorang perempuan muda kok" katanya menjelaskan, aku hanya tersenyum geli dalam hati.


Kulihat beberapa polisi kewalahan mengahalau mereka, meski sudah dikasih peringatan berkali- kali tetap saja masa mendesak agar pelaku mereka yang menghakimi.


Kelihatannya orang- orang ini sangat marah bisa dilihat dari barang- barang yang dibawanya, ada yang bawa parang, celurit, atau pun kayu balok.


Mereka berteriak- teriak sambil mengacungkan senjata yang mereka bawa.


Wah kalau tidak segera di atasi bisa bahaya nih pikirku, aku segera mengambil tindakan.


Aku berjalan ke belakang menemui seorang polisi yang berjaga dipelayanan umum seperti pembuatan SKCK ataupun yang lainnya, kupinjam topi dan masker penutup wajah.


"Pak boleh pinjam megaphonenya sebentar" kataku pada seorang kepala polisi yang sedang meredamkan amarah masa.


Beliau melihatku sebentar, kukerlingkan mataku.


" percaya deh pak sama aku" tambahku meyakinkan kepala polisi, kemudian aku ambil megaphone dari tangan kepala polisi yang sedang bingung dengan ulahku, tapi gak menghentika perbuatanku.


Aku nyalakan sirine yang ada di megaphone keras- keras dan aku arahkan ke masa yang sedari tadi teriak- teriak bikin rusuh.


Wiuw..wiuw..wiuw..wiuw.


Seketika terdiam semua masa, terus aku melanjutkan aksiku.


"Saudara- saudara semua yang saya banggakan, mohon perhatian!!!, apakah kalian sayang dengan Barnadi?!!"


"iyaaa" jawab mereka serempak, lalu lanjutku,


"kami pun demikian, tapi perlu Saudara- saudara sekalian ketahui, bukankah Barnadi baru saja meninggal tadi malam, dan pagi ini adalah pemakaman Barnadi, kalau Saudara- saudara sekalian ada disini lantas siapa yang mengurus jenazah Barnadi?!!! siapa nanti yang memakamkan Barnadi?!!" kataku dengan keras dan lantang serta berjalan mondar- mandir didepan masa, kayak komandan yang sedang mendiklat anak buahnya.


"Kalau kalian sayang Barnadi, urus dulu semua keperluan Barnadi, nah kalau sudah selesai kalian kembali lagi kesini melanjutkan aksi kalian, gimana setuju!!!,


"setuju" jawab mereka kompak sembari mengangkat senjata yang mereka bawa.

__ADS_1


"Negara kita Negara hukum, percayakan pada kami untuk memberikan keadilan untuk kematian saudara kita Barnadi, biarlah kami pihak berwajib yang menyelesaikannya, justru dengan ulah kalian ini almarhum Barnadi akan sedih, kekerasan tidak akan menyelesaikan masalah, dengan ulah kalian ini justru akan menimbulkan masalah baru nantinya, tidak kasihankah kalian pada saudara almarhum Barnadi?? ayo sekarang baliklah kerumah, beri penghormatan, beri rasa sayangmu dan rasa perdulimu kepada yang telah kamu anggap sekalian sebagai saudara, tunjukan kalau kamu sekalian benar- benar sahabat sejatinya saudara Barnadi , antarkan Dia ke tempat peristirahatannya yang terakhir dengan tenang, segeralah balik pulang saudara Barnadi menanti anda semua untuk mengantarkannya ke pemakaman" kataku mengakhiri pidato, tak lama kerumunan masa yang membuat ricuh di kantor polisi membubarkan diri untuk pulang.


Setelah suasana kembali hening dan tenang, aku berikan megaphonenya ke kepala polisi.


Kepala polisi menerimanya dengan heran,


"siapa dia" tanyanya pada bawahannya yang ada disebelahnya sambil terus memperhatikanku, karna aku sudah berlalu kebelakang mengembalikan topi dan masker milik polisi bagian pelayanan.


"Ya justru dia pak pelaku pembunuhan Barnadi"jawab bawahannya, dia tersentak kaget,


"apa?? dia!!, heroik sekali aksinya, nanti suruh keruangan saya untuk menghadap" katanya terus balik ke dalam kantor menuju ruangannya.


"Baik pak"


"mbak di suruh menghadap bapak kepala polisi keruangannya" kata petugas polisi menghampiriku di dalam sell, padahal aku baru siap- siap melanjutkan tidurku karna masih mengantuk.


"Ih apaan lagi sih" gerutu dalam hati,


"ya pak, anu pak sekalian tolong dong saya dibelikan sarapan, sekalian teh anget tawar ya pak" pintaku sambil tersenyum menggoda ke bapak petugas.


"Iya mbak, silahkan mbak keruangan bapak kepala dulu untuk menghadap"


"iya pak" aku beranjak males, kemudian berjalan gontai mencari ruangan kepala polisi.


"Permisi pak"


"iya silahkan masuk mbak" katanya ramah, kemudian mempersilahkan ku duduk didepannya.


"Ini betulkan dengan mbak Viska Aulia, menurut buku catatan dan biodata yang saya terima, mbak bukan dari kota ini ya?" tanyanya basi menurutku.


"Iya pak betul, kenapa ya pak" jawabku ingin muntah dengan pertanyaan konyolku tadi.


"Aksi anda tadi sungguh luar biasa, sangat mengesankan, sudah cantik cerdas lagi, saya salut sama mbak Viska" katanya panjang gak ada lebarnya memuji aku.


"Ya elah pak cuma segitu doang, dianggap luar biasa, ngebunuhnya aja gue nyantai, apalagi cuma aksi begitu Cemen pak"


"ya ya, saya akui mbak Viska ini benar- benar pemberani sekali dan juga cerdas, semau sudah terencana dengan rapi, hanya bermodalkan selembar Ktp mbak Viska bisa menemukan pelaku pengroyokan atau pembunuh pacar anda, tapi meski begitu hukum tetap ditegakan mbak, Karna negara kita negara berdasarkan hukum dan berazaskan Pancasila, mungkin mbak Viska juga sudah tahu apa konskwensinya bagi pelaku pidana pembunuhan berencana, maka dari itu mbak, saya memanggil mbak Viska kemari untuk memberikan bantuan" kata kepala polisi, dan aku sudah tau kemana arah pembicaraan ini.


"Maksutnya gimana pak, bantuan apa yang bapak tawarkan pada saya??" tanyaku penasaran, alah mana ada bantuan yang gratis.


"Gini ya mbak Viska, saya ada tawaran menarik buat kamu, ini kalau kamu mau lho ya, saya bisa membantu kamu untuk bebas dari tuduhan ini, bahkan bisa langsung pergi tanpa melalui prosedur yang rumit, namun bantuan saya disini juga harus ada imbal baliknya" katanya langsung menuju intinya, hadeh sudah aku duga pasti ujung- ujungnya kayak gini, basi banget tau gak sih.


"Baik, terus Bapak mau apa dari saya"


"ini yang membuat saya bingung mbak, saya takutnya mbak Viskanya tersinggung" katanya sambil cengesan, heleh malu- malu garangan.


"Ya katakan saja, Bapaknya maunya gimana kalau bisa ya saya lakukan, kalau memberatkan saya ya saya tolak, gampang kan pak" jawabku simpel.

__ADS_1


"Sebelumnya maaf ya mbak, sebenarnya saya tertarik sama kamu mbak"


"hah, apa!!?" aku kaget dan sedikit bicara keras.


"Sstt!! mohon pelankan suaranya mbak," kata kepala polisi pelan menenangkanku dengan mengacungkan jarinya didepan bibirnya, memberi isyarat padaku untuk tidak berisik.


"Maksut Bapak apa sih?"


"saya ingin mbak Viska melayaniku semalam saja mbak, soalnya selain cantik mbak Viska sangat sexy dan mempesona, saya ingin menikmati tubuh indahmu semalam saja mbak" katanya berhati- hati takut menyinggungku barangkali.


BRAAKK, aku gebrak meja cukup keras yang ada dihadapanku, Bapak kepala polisi sampai tersentak kaget.


Aku berjalan memutar melewati meja, dan menuju tempat duduk Bapak kepala polisi, kulihat beliau sedikit panik saat ku hampiri.


Aku peluk dari samping karna Bapak Kepala Polisi masih duduk bersandar di kursi besarnya, tangan kiriku melingkari leher Bapak kepala polisi, kudekatkan wajahku kewajahNya,


aku meraba dadaanya yang berseragam coklat penuh wibawa, kemudian naik keleher dan terakhir mengelus pipinya dengan nakal.


"Yakin Bapak mau tak temeni cuma semalam saja" kataku pelan di telinganya dengan suara yang menggoda, Bapak kepala Polisi cuma diam menikmati setiap sentuhan ku.


"Kalau dilebihin juga gak apa- apa mbak Viska sayang" jawabnya sambil tersenyum penuh nafsu, karna tangannya sudah berani mengelus tanganku yang bermain- main di dadanya.


"Baiklah Pak, kapan kita melakukannya" tanyaku masih penuh dengan godaan sensual, kini ku jilati telinganya dengan nakal, dia bergidik nafasnya mulai memburu cepat.


"Bagaimana kalau nanti sore kita berangkat mbak" katanya gak sabar.


"Yerus bagaimana cara berangkatnya sayang, kan aku masih jadi tahanan disini, padahal aku juga ingin menikmati tubuh gagahnya Bapak yang ganteng ini" rengek ku manja dan membelai lembut dadanya, kulihat Bapak Kepala Polisi diam sejenak untuk berfikir, kemudian mengangkat gagang telpon Yang ada dimeja kerjanya.


"Hallo Pak Fendi,


"iya Pak,ada apa Pak?" jawaban dari seberang telpon,


"tolong buat dan siapkan berkas- berkas surat pembebasan bersyarat buat mbak Viska Aulia ya, kalau sudah selesai segera bawa kemari" jawab Bapak Kepala Polisi, aku tersenyum puas, yess ternyata menguntungkan banget punya wajah cantik dan body yang sexy.


"Ya siap pak" jawaban yang mengesankan buatku.


Aku masih bergelayut manja dalam posisi tak berubah, malah semakin liar tanganku menjelajahi tubuh Kepala Polisi mesum ini, hahaha justru karna Dia mesum, bisa aku ambil keuntungan darinya.


Sial, lama banget itu bawahan membuat suratnya, mana badanku sudah capek dari tadi merayu terus, kan biasanya aku yang dirayu cowok- cowok ganteng dan tajir, lha ini malah merayu cowok tambun berkumis lebat, tapi cukup ganteng juga sih, hihihi senyumku geli.


Kulihat ada petugas yang datang, aku buru- buru kembali duduk didepan Bapak kepala polisi dengan anggun dan tenang, karna ruangan kerja Bapak Kepala Polisi ini di bagian pojok dan pintunya dari kaca tebal warna hitam, kalau dilihat dari luar tidak akan bisa melihat apa yang sedang terjadi didalam, tapi kalau dari dalam bisa melihat keluar dengan jelas.


"Permisi pak, ini berkas yang diminta sama bapak" kata petugas setelah dipersilahkan masuk.


Kulihat petugas menyerahkan berkas untuk pembebasan bersyarat buatku sebanyak dua rangkap, kemudian diterima Bapak Kepala Polisi, membacanya sebentar dan mengamatinya dengan teliti lalu menanda tanganinya dan membubuhi stempel pada berkasnya, baru diserahkan padaku untuk tak tanda tangani.


Aku tersenyum senang dengan wajah berbinar aku goreskan tanda tanganku dengan lincah, srett sret beres.

__ADS_1


"Gimana sudah beres to mbak, sekarang berkas ini saya yang bawa, nanti saya kasihkan ke mbak Viska setelah nanti kita tiba di hotel" katanya tiba- tiba sambil mengambil berkas yang ada dihadapanku, aku hanya bisa manyun cemberut.


Huh, cerdas juga otaknya Bapak Kepala Polisi ini, kirain cuma cewek cantik dan sexy doang isinya, kemudian aku berjalan keluar setelah berpamitan dengannya, dan akan bertemu lagi dihotel yang sudah kami janjikan nanti jam lima sore.


__ADS_2