ISTRI MUDAKU MAFIA

ISTRI MUDAKU MAFIA
BAB 26


__ADS_3

"Ayo bangun perempuan sundel, ******!! lu tau gak Viska itu tunangan Mujab!!" Dengan garang Lena menarik handuk yang melilit tubuh Riana. Plak!! ditamparnya sekali lagi lalu menghempaskan nya ke kasur hingga terlepas handuk di tubuhnya, telanjanglah Riana, Riana menangis sesenggukan menahan sakit akibat tamparan tangan besar Lena.


"Haaaah!!! siall!!, cowok bangsat lu!!" aku sudah tidak bisa menahan amarahku lagi, aku luapkan emosiku,


Prakk Prakk!! Jdukk Jdukk!!


"Aukk, ADUUHH ampun Vis, maafin aku!!"


Aku tonjok muka Mujab beberapa kali, lalu benturkan kepalanya ketembok yang ada di belakangNya, darah mengalir dari salah satu hidung Mujab dan bibirnya.


Pandanganku beralih ke Lena yang sedang membabi buta mangsanya,


"Rasakan ini" Cpakk!! Cpak!!


"Aduhh Auuhh!! ampuuun mbaakk, huuu huu huu" Lena menendang bokong Riana yang meringkuk menangis diatas kasur, terlihat bercak- bercak hitam bokong dan paha Riana bekas penyakit gatal pada tubuh.


"Dasar cewek burik!!" Plakkk, Lena mengeplak keras kepala Riana ,


"Aauuh sakitt mbak, ampuuunn!! huuuu huuu" Riana menyeringai kesakitan, rambutnya yang basah acak-acakan menutupi sebagian wajahnya, air matanya terus mengalir membanjiri pipinya.


Mendengar kegaduhan, orang-orang disekitar kost datang untuk melihat sumber kegaduhan, satu persatu orang berdatangan ke kost Mujab, karna risih dan malu Riana yang masih telanjang berangsut kepojok, kemudian meraih bantal untuk menutupi tubuhnya saat orang-orang datang mengerumuni tempat itu, dan memandang rendah padanya.


"wuih mantap tuh" celutuk seorang pemuda saat melihat Riana.


"Ada apaan sih?" tanya seorang ibu-ibu,


"tidak tahu, mungkin rebutan cowok kali" sahut yang lainnya.


"Eh sampai bonyok gitu muka cowoknya, diapain itu?" seloroh bapak- bapak,


"seru ya coy"celutuk seorang bocah pada temannya.


"Kurang apa gue sama lu a', semua yang lu butuhkan semua gue siapkan, gue kasih, tapi apa balasan lu, hah!!" kuhentikan kakiku dengan keras ke lantai, ingin rasanya aku ***** tubuh Mujab, saking geramnya sama Mujab.


"Kalau bukan Karna orang tua gue, udah gue habisin lu disini!!" Plaakkk, aku tampar muka Mujab dengan sangat keras, dia meringis kesakitan sambil mengusap wajahnya yang sudah lebam dan panas akibat tamparanku.


"Ayo Len cabut, mual gue, pingin muntah lihat tampang mereka berdua"


Crrott Byurrr, aku ambil air kemasan yang ada didekat kasur, kemudian aku guyurkan ke muka Mujab.

__ADS_1


"Huuuh, mantap keren mbak!!" Plok plok plok, orang-orang yang mengerumuni bersorak dan bertepuk tangan karna aksiku.


"Tuh mah cowoknya yang buta, aweweknya cantik selangit Kitu, malah selingkuh sama budak burik, ih pika sebeleun, hajar wae neng, ulah kasih kendor" seloroh seseorang lagi.


"Iya ya kang, urang teh hoyong janten salakina(aku lho mau jadi suaminya) hehehe"jawab temennya bergurau.


Aku melangkah keluar diringi Lena di belakangku, orang-orang melihatku dengan senyum sanjungan dan mengacungkan jempolnya padaku, Lena yang menanggapi senyum mereka dengan berjalan bergaya menebarkan senyum penuh pesona melambai-lambaikan tangannya, seperti artis menyapa penggemar fanatiknya.


"Hei Vis, seru ya kita di elu-elukan bag artis terkenal, gue seneng banget deh hehehe"


"iya gue juga seneng Len, sedikit ada hiburan buat gue, sebenernya kalau dia nglakuin kayak gitu bagi gue gak apa-apa kok, toh bagi gue itu sudah biasa, cuma pingin ngasih pelajaran sedikit aja ke dia" aku kembali berjalan bersama Lena menyusuri jalan setapak atau tepatnya gang sempit yang penuh rumah-rumah kecil berhimpitan.


"Kasihan juga ya Mujab, mukanya sampe lu bikin babak belur kayak gitu," timpal Lena.


"Padahal Mujab tu kalo di kampung Baek banget, ramah lagi, apa lagi sama ortu gue, dah baik, ramah, sopan pula, makanya ortu gue ngebet banget jodohin gue ma Mujab"


"padahal kelakuannya kayak bangsat ya Vis,"kata Lena melanjutkan.


"Hu'um, eh lu tau gak! ada bong alat hisap sabu disitu, diatas rak pakaian yang lu rubuhin tadi"


"nggak tau gue, orang tadi gue fokus ma si burik, jadi gak merhatiin sekitar, emang kenapa Vis??"


"Terus kita kemana lagi ni Vis?" tanya Lena, saat kembali didalam mobil lalu melanjutkan perjalanan.


"Langsung balik aja, atau lu mau dugem dulu buat refreshing?"


"nggak ah males gue, kurang rame kurang seru" ujar Lena, aku hanya menghela nafas panjang, memang benar kata Lena, kalau tidak ada teman-teman kurang seru, tapi mau bagaimana lagi! Dan sampai kapan aku harus begini, hidup tidak jelas dan di Landa perasaan was-was.


"Terus rencana lu mau kemana Len?"


"belum ada rencana gue, paling kayak biasanya, balik kesalon sama manggung" jawab Lena datar,


"atau gue cari suami lagi ya!, tua nggak masalah yang penting kaya, bisa menopang hidup gue hehehe" lanjutnya berseloroh.


"Nah itu malah lebih baik Len, lu bisa sedikit nyante, cari yang tuaan aja, biar cepet mampus, kan lu bisa dapatin sebagian warisannya"


"iya bener bener, boleh juga tu hahahah" jawab Lena sambil membelokan mobilnya kearah Pom bensin untuk isi BBM,sekalian mau buang air kecil.


Setelah semuanya selesai kami kembali lagi melanjutkan perjalanan, kali ini perjalanan kurasakan agak lama, tidak seperti biasanya kalau sama teman-temanku, kalau sama teman-teman kita bisa bercanda ria sepanjang jalan jadi tidak terasa perjalanannya.

__ADS_1


Menjelang malam kami sudah tiba di basecamp, untuk mengambil pakaian dan barang-barangku yang lainnya untuk aku bawa pulang ke rumah.


Aku menitipkan kunci basecamp ke Bu Salamah seperti biasa, dan aku berkata pada beliau, kalau kami akan lama kembali ke basecamp, jadi Bu Salamah tak suruh merawat dan membersihkan basecamp kami, dan kami memperbolehkan Bu Salamah menyewakannya, semua kami pasrahkan semua ke Bu Salamah.


Aku berpamitan pada Bu salamah dan semua keluarganya, derai air mata mengiringi kepergian ku,


"sering-sering main kesini ya nak, kami pasti akan merindukan kalian semua" kata Bu salamah di tengah Isak tangis sambil memeluku,


"iya Bu, aku akan sering main kesini" jawabku dengan uraian air mata.


Aku melambaikan tangan pada keluarga Bu Salamah yang sudah aku anggap keluarga sendiri, perlahan Lena melajukan kuda besinya ke rumahku, waktu tempuh perjalanan kurang lebih satu jam menuju rumahku.


Deru mobil melaju dengan kecepatan sedang, kami melewati jalan sepanjang pesisir pantai yang lengang, kanan kiri hanya ada tambak-tambak ikan laut dan tambak garam, kincir-kincir angin pemasok air laut keladang berputar dengan kencang seakan tersenyum melambai mengucapkan selamat datang, begitu hening dan gelap, hanya sinar rembulan yang menerangi perjalanan kami menuju rumah.


dikejauhan nampak kelap kelip lampu jalan dan lampu rumah- rumah warga, pertanda kami akan memasuki perkampungan terdekat, setelah melewati perkampungan kami kembali melewati jalanan yang panjang dan lengang, hanya satu dua motor atau mobil berpas-pasan dengan kami.


Aku membuang pandangan ke jendela, melihat area persawahan yang luas yang kini memasuki musim tanam padi, nampak padi-padi muda berjajar rapi di sawah bag permadani yang digelar terhampar luas di sepanjang jalan, sebelah kananku tanggul besar dan tinggi sebagai penahan air sungai yang cukup besar.


Aku tersenyum melihat Lena meracau tidak jelas mengikuti alunan musik yang distelnya, mungkin untuk mengusir rasa lelahnya atau hanya sekedar untuk menghibur dirinya yang lagi galau, Hah!! Galau?? masak iya Lena bisa galau sih! aku kembali tersenyum memandangnya.


"Apaan sih lu mandangin gue kayak gitu, gue cantik ya?" tanyanya sambil cengar- cengir, "iya lu cantik, secantik tuan putri"


"uuh masak sih, gue secantik itu!!" Lena jadi tersipu malu,


"iya, tuan putri kodok hahahah"jawabku cepat.


Lena cuma manyun mendengar jawabanku, "ya mayanlah, meski kodok kan tetep cuantik hihihi" katanya membalas.


Kini memasuki kampung halamanku, hatiku sangat girang, rindu akan orang tua, rindu teman sekolah rindu yang akan sebentar lagi terobati.


Ada gang bertugu warna merah Lena membelokan mobilnya, memasuki jalan yang hanya muat satu mobil dan satu motor saja, jadi kalau ada mobil yang berlawanan arah, salah satu mobil harus minggir ke halaman orang yang cukup luas untuk parkir atau berhenti sebentar.


Waktu menunjukan pukul sepuluh malam lebih, saat ini aku senang banget sebentar lagi, ya sebentar lagi sampai rumah.


"Eh eh Len berhenti dulu, lihat itu!!" kataku tiba-tiba mengagetkan Lena, menunjuk jauh ke arah jalan yang kayaknya tepat didepan rumahku.


"Ada apa Vis!! oh iya banyak orang juga"


kami memandang sebentar dan mencermati dengan teliti karna jarak yang cukup jauh, kemudian mataku membelalak, mulutku mengangah, aku dan Lena saling berpandangan.

__ADS_1


"Hah Polisi!!" seru kami serempak kaget. Duk duk Duk duk, tiba-tiba degup jantungku berpacu kencang tak terkendali.


__ADS_2