ISTRI MUDAKU MAFIA

ISTRI MUDAKU MAFIA
BAB 44


__ADS_3

Aku perhatikan dari jauh nampak seorang pria separuh baya, badannya tinggi, kulit sawo matang, kumis tebal melintang, pakai baju hitam lengan panjang, peci dan juga sarung. kelihatan sangar dan serem, Mirip Matt beken. Berjalan pelan melajukan motornya ke arah terminal. Di balik punggung Bapak itu, terdapat pemandangan indah yang menyejukan mata, terpancar cemlorot menyilaukan mata. Seorang gadis cantik dengan rambut panjang terurai bergerak-gerak di terpa kencangnya angin mobil tronton yang lewat cepat.


-Dimana lu?gue sudah sampai diterminal-


sebuah pesan dari Viska.


-Di depanmu, di dalam warung makan "Mbadhog wareg"-


Balasku cepat, saat Viska melihatku, aku segera melambaikan tangan.


"Waduh! kelihatan garang juga ni Bapak Viska" batinku, saat mereka memasuki warung,kemudian duduk di depanku. Aku bersalaman sama calon mertua dengan memasang muka ceria, padahal hati menangis Gunda gulana, takut dan panik kalau beneran di hajar secara hansip di terminal.


"Mau makan apa Pak,Vis?" tanyaku sopan.


"Ohhh, nggak usah, cukup minum saja. Esteh manis hangat" selorohnya sambil tersenyum sok akrab. Aku cuma terbengong. Mana ada esteh manis hangat. Mumet nggak tuh.


Sambil menikmati segelas esteh plus gorengan yang sudah tersaji di depan kami, Bapak mulai mengutarakan maksutnya. Deg-deg an dong aku, keringat dingin mulai mengalir membasahi ketiak.


"Gini nak Pras, Bapak kesini ada sedikit perlu sama kamu" beliau tidak melanjutkan omongannya.


"Perlu apa ya pak?" aku mulai kuatir, takut nanti Bapaknya Viska ngomong soal kehamilan. Aku cuma terdiam menunggu jawaban dari Bapak Viska. Kulihat Beliau juga agak gelisah dan bingung untuk melanjutkan omongannya. Kulirik Viska juga diam dan menundukan kepalanya ke bawah.


Wah, perasaanku sudah tidak enak. Ngalamat kena tonjok nih.


Sebagai seorang pria yang baik dan bertanggung jawab, aku memberanikan diri untuk mengakui bahwa, Aku adalah ayah dari anak yang di kandung Viska.


"Iya pak, aku sudah tau maksut kedatangan Bapak, dan aku akan-" belum selesai aku melanjutkan omonganku.


"Ohhh, syukurlah kalau kamu sudah tau nak, Bapak hanya butuh 400 ribu saja. Hahaha" jawabnya sambil tertawa riang.


"Hah!! empat ratus ribu?" aku heran campur bengong masih tak mengerti.


"Iya nak, Bapak pinjam empat ratus ribu"


"Ohh, ternyata keperluannya mau utang to?"


JEDDEERRRR, ku tepuk jidatku, ku elus daddaku lega.


"Kenapa Nak Pras? nanti kalau Viska gajian, uangmu nanti di balikin kok" ujarnya sedikit lesu.


"Oh nggak apa-apa Pak, ada kok pak, santai aja" jawabku sumringah, kemudian aku meraih dompetku yang di kantong belakang celana. Ku keluarkan duit empat lembar ratusan ribu, lalu ku serahkan ke Bapak Viska. Dengan senyum merekah beliau menerima uang yang aku sodorkan.


"Sebelumnya terima kasih lho nak Pras"

__ADS_1


"iya pak nggak apa-apa" Kulirik Viska, dan ku kerlingkan mataku. Dia hanya tersenyum malu.


"Ya sudah ya nak, Bapak langsung mohon pamit"


"iya pak, aku juga mau ke kecamatan, ada perlu sedikit" jawabku berbohong. Hatiku bersorak gembira, akhirnya mukaku yang tampan rupawan ini tidak jadi kena gampar.


Beberapa hari aku mendapat kabar dari Viska, kalau dia sudah datang bulan. Bukan Karna minum jamu yang aku belikan, melainkan karna memang keluar sendiri alias datang bulannya tidak teratur. Duh, membingungkan sendiri tamu yang tak di undang itu, tapi selalu datang setiap bulannya. Bikin jantungan saja.


Sekarang kami jadi sering ketemu, Selain adegan pengencrotan yang sering kami lakukan di hotel, kami juga kadang hanya jalan-jalan biasa, karna tidak adanya duit buat ceck in. Ya itung-itung sebagai variasi biar tidak bosen, kataku suatu hari. Awalnya Viska melakukan dengan terpaksa, karna dia ingin memenuhi janjinya padaku. Sekarang dia yang minta sendiri untuk bertemu, sekedar jalan atau jajan.


Hingga suatu saat ponselku berdering.


wing...wing...wing.


ku buka dan ku baca pesanya.


-Aku kangen kamu, nggak tau kenapa sekarang aku sayang kamu-


weeeh, lhadalah, mimpi apa aku semalam, sekarang dia berani mengutarakan perasaannya. Tanpa pikir panjang, sifat baik ku keluar. Eh,sifat buayaku keluar.


-iya aku juga kangen banget sama kamu,  sama yang kamu rasakan saat ini.


entah mengapa, ku rasa tak menentu, semenjak aku mengenali dirimu sayang.


terbayang-bayang, wajahmu di mataku hingga tersentuh rasa indah di kalbu.


ku harap, kau faham perasaanku, yang kini di lamun rindu padamu.


Sesungguhnya aku telah jatuh cinta, oh,indahnya bila bersamamu, janganlah engkau sia-siakan, harapan dan impianku.-


Sleret...aku kirimkan pesan rayuan receh, sepenggal lagu Malaysia. Semoga dia tidak tahu bait lagu tersebut, dan semoga saja akan meleleh hatinya dengan rayuan recehku.


-Gombal-


balasnya, aku hanya tersenyum geli. Terus aku balas pesannya.


-mukiyo-


*flasback selesai*


******


"mas, kalau ada duit itu dapur dan kamar mandi di renov, biar bersih dan tidak kumuh" kata Fatimah, istriku.

__ADS_1


"Ya dik, nanti tak ngepet sebentar. Kamu yang jaga lilin ya" celutuk ku santai.


"Kalau buat kencan sama cewek ya ada duit, tapi kalau buat kebutuhan rumah bilangnya nggak ada"


"iya nanti tak cari, siapa tau ada orang yang membuang duitnya di jalan" balasku masih tetep santuy.


"Mas, mas, rumah masih nggak jelas bentuknya gini, kamu sukanya main cewek terus, aku sampai malu di buat gunjingan para tetangga"


telingaku mulai panas, saben hari dengerin omelan istri.


"kamu enak-enak kelon di hotel, sedangkan aku di rumah, ngurus anak, nyuci, masak" gerutunya mulai mengeluh.


"ya berarti kamu terkenal dik bag selebritis, nyatanya kamu di gosipin tetangga to" sahutku.


Krepul-krepul, asap rokok aku hembuskan ke udara, sinambi menikmati celoteh sang istri.


"Tetangga juga pada ngledekin, katanya aku sekarang kurus kering, nggak ke urus"


"nggak apa-apa dik, yang penting anak-anak gemuk semua" sahutku lagi.


Sruuuuppp, ku teguk kopi yang mulai dingin, lalu ku hisap rokok ku dengan nikmat.


"kamu itu kalo di ajak ngomong bisa serius tidak sih mas?" cerocosnya sambil netekin si kecil putriku yang bernama Aini.


"Bisa dik, kalau aku nggak serius, nggak mungkin aku nikahin kamu to"


bekk, sebuah lemparan kain kecil tepat di mukaku, aku pungut dan ku perhatikan, ternyata celana bekas pipisnya Aini. Pantesan sedikit bau Pesing.


"gemes aku, setiap di ajak bicara, jawabnya nglantur" katanya geram. Aku bersihkan mukaku pake sarung yang aku kenakan. Aku hampiri istriku, sambil menenteng celana Aini yang kotor yang tadi di lempar ke mukaku.


"Dik, jangan kurang ajar sama suami, dosa itu. Aku juga pingin punya rumah bagus, dan punya barang mewah lainnya. Tapi semua butuh duit. Suami mana sih yang tidak ingin membahagiakan keluarganya! kalau kamu di hina, di gunjing, di rendahkan tetangga, belum tentu kehidupan tetangga itu lebih baik dari kita. Coba bayangkan dan kamu lihat, apa ada tetangga kita yang hidupnya santai kayak kamu? bangun tidur sesukamu, momong juga aku bantuin, paling aku berangkat kerja jam sembilan dan jam dua belas siang sudah di rumah, dan momong lagi bantuin kamu. Lihat tetangga kita terutama yang perempuan dari pagi ada yang kerja buruh dan lain-lain nggak ada yang nganggur kayak kamu dik, harusnya kamu itu banyak bersyukur, kehidupan kita sudah lebih baik. Apa kalo kita kelaparan minta tetangga? nggak kan? apa kalau anak kita sakit, tetangga yang berobatin? nggak juga kan? anggap saja mulut tetangga itu motifasi kita. Kita yang jalanin, tetangga yang menilai dan gosipin. Itu lumrah" tuturku panjang banget, istriku hanya diam mendengarkan.


"sudah sana kekamar kelonin Aini, habis itu gantian kelonin aku" gurauku, kucubit hidung pesek istriku. Dia beranjak berdiri menuju kamar. kemudian aku mengangkat anaku yang pertama Ghibran yang tertidur pulas di samping tempat aku duduk, lalu aku pindahkan kekamar di samping istriku. masih ada bekas guratan-guratan tikar di pipi yang di buat tidur tadi.


Aku kembali ke ruang tamu melanjutkan aktifitasku, menikmati segelas kopi dan menyesap rokok kesukaanku.


"Ada benarnya juga ucapan istriku" gumamku sendiri. Kulihat rumahku masih sangat berantakan, lantainya masih tanah, bangunannya juga masih berupa susunan bata merah belum di plester.


Ting tung, Ting Tung. Ponselku berdering gemas.


-Mas aku butuh bantuan, di taman. cepat!-


Sebuah pesan dari anak buahku, yang aku suruh untuk jadi keamanan wilayah taman.

__ADS_1


"Ada apa dengan Tomy, kalau tidak mendesak tidak mungkin dia minta bantuan" pikirku gusar. Aku segera mengambil motor yang ada di bagasi, segera meluncur menyusul Tomy yang sedang ada masalah.


terus dukung karyaku dan jangan lupa follow ya kak, trims.


__ADS_2