ISTRI MUDAKU MAFIA

ISTRI MUDAKU MAFIA
Bab 53


__ADS_3

Dengan jelas aku melihatnya, gamis coklat motif bunga melati dan kerudung warna kunyit yang di pakai Bu Lik, sama persis dengan perempuan yang aku lihat di hotel tadi. Aku tersadar dari rasa terkejutku, setelah mendengar teriakan histeris dari mbak penjual kopi.


"Mas prasss...!! sialan kamu!" pekiknya keras.


"Mati aku!! ngalamat kena gampar nih!" gumamku gugup, aku menutup mukaku dengan kedua tanganku, dari balik jari-jariku aku melihat wajah mbak penjual kopi yang belepotan, dia sibuk membersihkan wajahnya dengan tisu, sedangkan air kopi yang dekat mulutnya dia menjilatinya dengan nikmat tanpa rasa jijik.


"Mas Pras gimana sih, dua kali kena semburan mu, apes banget nasibku" dengusnya marah.


"maaf, maaf mbak, aku nggak sengaja"


"nggak sengaja kok sampai dua kali, alesan saja. Aku nggak mau tahu, pokoknya harus tanggung jawab" rengeknya kesal, aku hanya bisa membantu membersihkan wajahnya yang masih kotor. Kalau ketahuan orang, pasti adegan ini mirip telenovela yang di tayangkan di tivi-tivi.


"Baik mbak, besok kita berangkat gimana?" raut wajahnya seketika berubah senang.


"Beneran lho mas Pras, besok kalau pingin nyembur pakai mulut yang bawah aja ya!" celutuknya senang, sambil memperhatikan sesuatu yang ada di bawahku, aku hanya mengiyakan saja.


" Ya sudah ya mbak, berapa harga kopinya" aku ingin membayarnya, tapi di tolak oleh mbaknya, dengan genitnya meremas tanganku dan pandangan matanya liar menatapku penuh hasrat. Aku segera pergi dari warung, dan langsung pulang kerumah. Ada saja godaan yang menghampiriku, godaan-godaan yang begini yang membuat remuk iman dan imronku.


Otak ku berpikir keras, apa mungkin Bu Lik melakukan itu. Meski aku tahu sudah beberapa tahun Bu Lik di tinggal oleh suaminya yang kecantol Daun muda. Tapi Bu Lik kan umurnya hampir setengah abad, masak iya masih pingin belaian seorang pria. Bu Lik ku bernama


Asripah, adik kedua dari Emak ku. Selisih umur Bu Lik dengan Emak kisaran sepuluh tahun. Dan Bu Lik adalah termasuk orang yang cukup kaya, dia Pedagang sayur dan buah di pasar kota yang sudah berhasil. Dari hasil dagangnya, Bu Lik mampu membangun rumah yang cukup bagus untuk kedua anaknya. Dan sudah punya dua mobil, dan beberapa sepeda motor keluaran terbaru untuk anak-anaknya dan untuk dirinya sendiri.


"Ada apa mas? kok bengong" Fatimah istriku mengejutkanku dari belakang. Di susul anak pertamaku Ghibran, dengan manja naik ke pangkuanku. Kemudian bergelayut senang, pindah ke punggungku.


"Ah nggak apa-apa dik, cuma capek saja"


"capek habis ngapain? habis kencan dengan cewek ya" omelnya mengintimidasi ku, setiap aku di rumah, pasti istriku bawaannya pingin ngomelin aku terus, yang membuatku tak betah lama-lama di dekatnya. Aku hanya menghela napas panjang, mencoba terus bersabar.


"Ghibran, ikut ayah jalan-jalan yuk!" Ku rengkuh Ghibran yang masih main-main di punggung.

__ADS_1


"Yuk yah, jalan-jalan. Asyyikk" serunya kegirangan, anak ku ini kalau di ajak jalan-jalan paling suka, walau hanya sekedar naik motor keliling-keliling kampung dan tak ada tujuan. Tetapi aku mempunyai rencana tersendiri, kalau berhasil bisa menghasilkan uang. Meski tidak banyak, dari pada tidak ada hasil sama sekali pikirku.


"Mau kemana lagi, baru di rumah sudah mau pergi lagi" seru Fatimah melihatku dengan tatapan menyebalkan.


"karna mulutmu yang nerocos terus dik, hingga membuatku tak betah di rumah" dengusku kesal pada Fatimah.


"Jangan lupa kalau pulang bawa jajanan" aku mengambil nafas dalam-dalam, dan menggelengkan kepalaku. Rumah tangga seperti apa ini, Fatimah istriku apa tidak melihat wajahku yang sedang kesal padanya. Masih sempat minta jajan pula, membuatku makin stress saja.


Aku sudah sampai di depan rumah Bu Lik, memang jarak rumahku dengan Bu Lik tidak seberapa jauh, paling dua menit naik motor sudah sampai. Aku turunkan Ghibran dari motor, kemudian aku ajak masuk ke rumah Bu Lik. Ku lihat Bu Lik rebahan sambil nonton tivi di ruang tengah, mungkin habis kecapekan dari pasar atau kecapekan habis melakukan pertarungan sengit dengan pak Abu.


"Wah lagi nyantai ya Lik?" aku menyapa dengan senyum mengembang, dan segera Bu Lik membalikan badannya dan tersenyum riang menyambut Ghibran.


"Ehh, cucuku Ghibran, ayo sini masuk. Mbah punya jajanan" dia segera bangkit dan masuk sebentar ke dapur, saat kembali sudah banyak oleh-oleh yang ada di tangannya. Ada agar-agar, buah salak, buah semangka dan beberapa bungkus Snack anak-anak. Bu Lik ini memang orangnya baik, sangat suka pada anak-anak.


"Deh gemesnya, dan tambah ganteng. nggak kayak kamu lho Pras" katanya sambil membukakan Snack untuk Ghibran. Ghibran sangat senang dengan semua oleh-oleh yang di dapatnya.


"Lik kayaknya lagi seneng ya, kelihatan seger banget wajahnya" ujarku, sedikit memancing tentang tadi pagi waktu di hotel.


"Sekarang kelihatan nampak lebih muda lagi lho Lik, kembali kayak ABG-ABG gitu" aku terus memancingnya, Bu Lik hanya tertawa malu saat aku puji seperti anak muda.


"kamu bisa aja sih Pras, sudah, nih jajannya di makan" jawabnya sambil menyodorkan buah salak dan semangka kedepanku. Aku mengambil sebuah dan mengupasnya, kemudian melahapnya langsung sekalian bijinya. Biar cepat kenyang.


"Sofi mana Lik, tumben rumah sepi, dan Eno juga nggak ada " Sofi adalah keponakanku, anak perempuan Bu Lik yang pertama dan sudah mempunyai anak bernama Eno, Sofi tinggal serumah dengan Bu Lik.


"Lagi masak di Dapur, anaknya kalau jam segini ya sekolah" jawabnya santai sambil nonton drama kolosal di tivi.


"Lik pah" panggilku, dan dia menoleh kearahku.


"ada apa Pras?"

__ADS_1


"ada duit nggak, aku butuh Lik, nggak banyak kok, cuma satu juta aja" Kulihat dia hanya melengos sebal.


"Duit darimana? jualan sekarang sepi" tukasnya sewot, seakan keberatan waktu aku bilang butuh duit satu juta. Kebetulan sekali, Sofi datang dari arah dapur dan menyapaku.


"Cuma sama Ghibran kak, mbak Fat nggak ikut"katanya, lalu mencubit pipi Ghibran dengan gemas. Lalu ikut duduk di sebelahku sambil nonton tivi.


"Iya cuma ma Ghibran aja kok Sof" jawabku pendek.


"Eh Bu Lik, di jalan lingkar kayak ada hotel kelas melati namanya Mahligai, lantai dua, kamar nomor 104 bangunannya-" belum sempat aku melanjutkan perkataanku.


"Hwahaha, kamu itu lho Pras" memotong perkataanku sambil menepuk pundaku keras, kulihat wajahnya memerah menahan malu.


"Tunggu sebentar ya tak ambilin, satu juta aja kan?" aku mengangguk heran, tapi dalam hatiku girang banget.


"Yes!! berhasil, berhasil horee" teriakku dalam hati. Tak lama Bu Lik Asripah menyodorkan uang kepadaku, pecahan seratus ribu. Kuterima dengan suka cita. Sofi terheran memandangku, tidak biasanya ibunya memberikan pinjaman kepada seseorang dengan mudahnya. Kayaknya Bu Lik dapat membaca isi pikiran anaknya, maka dengan cepat dia menyahut.


"Itu si Pras katanya butuh duit satu juta, katanya penting, buat kebutuhan. Dia belum gajian. Sama keponakan sendiri, nggak apa-apa. Sudah pakai aja Pras" cerocosnya untuk menghilangkan kecurigaan Sofi. Kemudian kembali duduk dan menyuapi agar-agar ke Ghibran.


"Oya trimakasih ya Bu Lik, aku balik dulu ya"


"habis terima duit, langsung balik kak"


"iya Sof, sudah sore, saatnya Ghibran mandi" jawabku mencari alasan, yang terpenting tujuan dan rencanaku berhasil.


"Nanti malam lanjut ke rumah pak Abu, semoga lancar" pikirku dalam perjalanan pulang, uang yang aku dapat, sebagian mau tak kasih ke Viska. Tadi waktu pulang dari ceck in, tidak aku kasih uang karna memang tidak punya uang. Padahal Viska butuh banget uang ini.


"Waduh! kalau ke rumah pak Abu, aku pasti ketemu anaknya, gimana nih" aku terhenyak sebentar, aku terus berpikir bagaimana caranya dapat uang dari pak Abu, tanpa sepengetahuan anaknya. Karna aku sudah berjanji akan mengajaknya pergi besok.


Cling.... aku dapat ide cemerlang.

__ADS_1


terus dukung karyaku dan jangan lupa follow ya kak, trims.


__ADS_2