
-hai cewek cantik yang galak dan judes, kapan ada waktu kencan ma aku-
begitu bunyi pesannya.
"Ah,nggak penting! ngapain juga gue ladenin cowok buduk model dia" gumamku dalam hati.
Klotak...klotak, hapeku berbunyi dan bergetar lagi.
"Ish, siapa lagi ini!" ku buka hape, dan ku baca pesannya.
-aku yakin, habis di baca pesan ini, terus kamu diemin, nggak kamu balas-
aku tersenyum geli.
"tau aja nih orang, pasti anak dukun" gumamku sendiri.
Hapeku berbunyi dan bergetar lagi, ah paling orang stress itu lagi. dan tebakanku benar.
-hoiii, kalo gak di balas, aku makan kaleng biskuit nih-
aku menutup mulut, menahan tawa.
"coba aja kalau berani, mau debus atau mau nglawak sih, cowok gak jelas banyak tingkah" batinku.
Pesan masuk lagi,
-wah sungguh terlalu, emak! Bella nakal, ambilin kaleng biskuit, mau aku telan bulat-bulat.-
tanganku berjalan diatas keyboard, membentuk sebuah kata.
-berisik-
aku membalas pesannya.
Dan cukup lama aku menunggu balasannya, eh, ngapain aku menunggu balasannya. Eh sikecoa balas pesanku.
-Aduhai cewek cantik, maaf saja kalo berisik, bukan hati ingin mengusik, hanya maksut berbuat baik. menjalin tali batin makin terlilit, jika sayang sudah membukit, jangan kau buang jangan kau tampik.
biarkan mengalir searah parit, biarkan semilir semribit. menjadi benih menjadi bibit, munajatku terpanjat kelangit, semoga kita jadi pasangan unik nan asyik.-
Owalah, pantesan lama. rupanya sedari tadi dia sedang merangkai kata. Uuhhh, kata-katanya bikin meleleh. Pantesan Ida Khasanah terkintil-****** dengan rayuannya. Lha itu kan Ida, bukan aku.
Cukup menghibur juga nih Prasetyo, kalau aku balas pesannya lagi, pasti nglunjak tuh anak. mending aku biarin saja, toh tidak penting juga.
__ADS_1
-malam semakin larut, bulan kelihatan malu menampakan wajahnya. bila hati sudah terpaut, jangan campakan AnugerahNYA.-
Kiriman pantun norak aku baca dari pesan kirimannya.
-uwwweeeek,kampungan!!-
terpaksa aku balas pesannya, lumayanlah buat hiburan.
-haruskah ku daki gunung lewati lembah, haruskah ku berenang sebrangi samudra. kalau naik motor bisa, kenapa harus bersusah payah.-
Hanya ku baca saja pesannya, mataku sudah lelah,aku rebahkan tubuhku diatas ranjang. terlelap sampai pagi hari.
Pintu kamar di ketok dari luar.
"Vis bangun, kamu kerja nggak?" suara Mamak membuyarkan mimpiku.
"Hmm, iya Mak" aku menguap, dan meregangkan badanku sebentar. Kurapikan tempat tidur, kulihat jam di hape menunjukan pukul 06.00 kurang.
"Hmm, ada pesan masuk juga! pasti dari kunyuk itu." Ku buka kemudian ku baca.
-Vis, berangkat jam setengah tujuh ya?mampir bentar ke konter kak Pras, aku mau bayar hutang pulsa.-
Oh ternyata dari kunyuk betina, Ida Khasanah. Aku hanya menghela nafas panjang. "Pras lagi, Pras lagi, muak gue denger namanya" desisku kesal.
"Mau nglenong kemana nih bocah? bukannya cantik malah mirip ondel-ondel."
Menor banget Dandanan Ida, yaelah mau ketemu Pras saja, sampai segitunya. Alis tebal kayak ulat hitam daun kangkung, bibirnya merah tebal bagai Drakula habis hisap darah kambing, blus on di pipi, bagai badut Ancol.
Belum lagi eyeshadow yang menghiasi sekitar matanya bagai kena tonjok Mike Tyson, di tambah goresan eyeliner hitam, bagai goloknya Bagong.
Dengan wajah sumringah, dan senyum yang merekah. Ida menaiki motor membonceng di belakangku. Aku denguskan hidung,bau parfum yang menohok saluran pernafasan, membuatku sedikit pusing. Ini parfum apa minyak bekas goreng ikan asin sih!
"Yuk Vis jalan." kata Ida girang. Aku jengkel mendengar ajakannya.
Seenaknya saja nyuruh-nyuruh aku, sudah nebeng, main perintah pula. memangnya aku ini tukang ojeknya apa.
Dari jauh sudah kelihatan konter milik Prasetyo,
"kok konternya masih tutup Da?"
"iya, tapi kak Pras ada di dalem kok!" seru Ida semangat. Heleh cuma ketemu cowok buduk saja, girangnya bukan main. Aku berhentikan motorku tepat di depan konter, di pinggir jalan. Kulihat suasana kampung Pras cukup sepi hanya beberapa ibu-ibu tetangganya Pras yang sedang menyapu halaman.
Ida turun dari boncengan ku, dengan langkah cepat dia menuju pintu belakang konter. Semenit aku menunggu, belum ada tanda-tanda Ida menampakan batang hidungnya. aku jadi jengkel sendiri
__ADS_1
"Cuma bayar hutang doang lama banget!" gumamku bersungut kesal. Belakang konter Pras ada rumah orang tuanya, masih tertutup juga, jaraknya sekitar satu meteran.
Aku turun dari motorku, berinisiatif nyusul Ida sekalian mau cari aksesoris buat hape. Aku hentikan langkahku saat mau masuk kedalam, eh, suara apa itu? samar-samar kudengar suara rintihan dari dalam konter. Aku penasaran dong. Dari cela pintu yang terbuat dari papan kayu, aku intip kedalam konter. Busyeet!! dengan jelas aku lihat Ida dan Prasetyo bercumbu syahdu, saling beradu dengan posisi berdiri. Karna listrik di dalam konter menyala terang, jadi aku bisa lihat semua yang mereka lakukan. keringatku keluar, suhu badanku kurasakan panas dingin "ish, apaan nih, bukannya gue sudah terbiasa lihat yang kayak ginian" desisku dalam hati.
Aku berniat pergi dari situ, tapi aku urungkan. Mengikuti rasa penasaran, aku intip kembali mereka.
Ida dan Prasetyo saling menyerang, dan caplok sana, caplok sini, tergantung dimana mereka mendapat umpan.
Dengan mata terpejam, Ida menikmati caplokan nakal yang di berikan Prasetyo, Dari leher memutar ke tengkuk, kembali membelit gunung. Persis cerita rakyat baru klinting. Ida mendesis sssstt. tangan kanan Prasetyo membuka kancing kemeja putih kotak-kotak milik Ida, tanpa menghentikan juluran nakal yang merayap di leher.
Tiga kancing terlepas, terlihatlah gunung Fujiyama yang putih, bag salju muonthok milik Ida, dengan piawai Pras mengarungi dan menggigitnya gemas gunung tersebut, Ida mendsh pelan.
Aku merinding, terasa kering kerongkonganku. Hingga beberapa kali aku menelan Sulivaku sendiri.
"Masak iya aku terbuai dengan apa yang aku lihat!" aku berusaha menepis perasaanku.
Dari kanan beralih kekiri, bibir Prasetyo mendaki gunung Fuji milik Ida, sedangkan tangan kanannya meremas dan memlintir kacang Arabnya, semakin bringasan Ida dibuatnya. suara mengerang, meraung-raung Ida terlihat jelas meski di tutup dengan tangan. Untuk menyamarkan suara raungan keras Ida, biar tidak kedengar sampai luar, dan tidak ribut di luar.
Tangan Prasetyo menggapai mouse komputer, dan mengarahkan pada file musik. Terdengar suara musik dangdut dengan suara agak kencang. ternyata manjur untuk menutupi suara raungan Ida yang menggelagar panas. Agar tidak Gerah, karna suasana di dalam cukup panas, Pras menghidupkan kipas angin yang ada di sebelah meja komputer.
Aku tersenyum sendiri,cerdas juga cowok mesum ini. Prasetyo melanjutkan aksinya yang tertunda. Kembali menyikat bibir Ida dan tangannya meremas gunung fuji, jari telunjuk memainkan kacang Arab milik Ida, dshan Ida lebih jelas dan semakin bebas, karna sudah berbaur dengan suara musik Dangdut.
Dengan posisi yang sama, kini tangan kanan Prasetyo berusaha membuka ikat pinggang warna hitam yang di pesan lewat olshop seharga tujuh ribu rupiah milik Ida, kulihat agak kesulitan Prasetyo membuka ikat pinggang itu, sehingga Ida membantu membuka ikat pinggangnya sendiri. Bacot saling beradu, mereka terbuai dengan panasnya api asmara yang mereka ciptakan.
Untuk mempercepat kinerja Prasetyo dalam mencapai puncak karier. Tangan usil Pras meraih sesuatu yang masih menempel pada bagian bawah Ida.
( HADUH SUSAHNYA MENCARI KATA-KATA BIAR LULUS SENSOR, DAN TIDAK REVISI TERUS)
Kancing celana jeans pensil warna hitam kini sudah terbuka, Perlahan tangan kanan Prasetyo menelusup masuk kedalam mencari perabotan berharga yang tersembunyi. Ida terpekik, dan mendesis keras kayak ular kobra, ssssttt. Yang siap menyerang ketika terganggu oleh musuh. Tangan Prasetyo bermain lincah di balik kain kecil yang membentuk segi tiga berwarna pink muda motif bunga-bunga. Semakin erat Ida merangkul Prasetyo, raungan dan geberan bacot Ida membuatku tambah merinding.
Keringat dingin mengalir dipelipisku, tangan kiri Ida membelai sesuatu yang menggembung di balik cellana kollor merah milik Prasetyo. Dan berusaha merayap masuk mencari perkakas yang mirip alu. Prasetyo mendsh halus,saat alunya di genggam dan dibelai lembut oleh Ida.
Ida berjongkok di depan Prasetyo, menurunkan kain berjahit bentuk kollor Prasetyo sebatas Luttut. Sial!! aku tidak bisa melihat apa yang dilakukan Ida pada alu milik Prasetyo, karna posisi Prasetyo membelakangi ku. Setelah puas bermain dengan alu milik Prasetyo, Ida kembali berdiri menyikat bacot Prasetyo.
Kemudian Pras membalikan tubuh Ida mengahadap meja etalase, menurunkan celana Jeans dan kain segi tiga milik Ida secara bersamaan. Kurasakan tubuhku semakin gerah, kakiku sedikit gemetar. Jantungku berdegup lebih kencang, nafasku juga memburu cepat.
"Haduh apaan ini! apakah aku terangsang oleh mereka?oh tidak, tidak mungkin, yang lebih gila dari ini aja gue pernah lihat! tetapi kenapa gue jadi begini?" perasaanku tak menentu. Menurutku ini Hal yang paling Bodoh yang pernah aku lakukan. Mengintip orang sedang beradu sodok, tetapi kenapa aku juga menikmatinya? ah, lebih baik aku teruskan saja. Nanggung.
Ida mendongak keatas dan mengaum keras, saat Prasetyo menyentakan alunya tepat ke lumpang Ida dari belakang.
"Aih!! UPS" aku buru-buru menutup mulutku, karna tanpa sengaja aku ikut terpekik saat Prasetyo menyentakan alunya ke arah lumpang Ida.
"Aduuuhh! apa yang gue lakukan? bodoh, bodoh!" ujarku berbisik pada diriku sendiri,seraya memukul-mukul mulutku pelan.
__ADS_1
"Mampus gue, ketahuan nggak ya?" tanyaku dalam hati, kalau ketahuan bisa berabe. Masalahnya tadi suaraku cukup keras. Bukan masalah takut yang jadi persoalan, tapi rasa malu yang akan aku tanggung seumur hidup. Apalagi sama mereka berdua, mau ditaruh dimana muka cantikku ini kalau ketahuan mengintip.