ISTRI MUDAKU MAFIA

ISTRI MUDAKU MAFIA
BAB 60


__ADS_3

Fatimah di kasih sesuatu oleh bidan, sepertinya alat tespack dan di suruh masuk menuju kamar mandi yang menjadi satu dengan ruangan bidan ini.


Lima menit Fatimah keluar dari kamar mandi dan sudah mendapat hasilnya. sesaat Bu bidan mengamati dan sedikit merapatkan alisnya.


"Kapan terkahir Bu Fatimah datang bulan?"


"pasca melahirkan sampai sekarang belum datang bulan Bu"


"Disini, di alat tespacknya menunjukan kalau Ibu Fatimah positif ya, artinya ibu hamil lagi anak yang ketiga" jelas Bidan Desa, yang membuat kami lemas.


"Jadi ibu Fatimah harus rajin periksa dan rutin minum obatnya, termasuk obat penambah darah, karna jarak kelahiran sangat dekat, maka ibu Fatimah sangat beresiko" jelas Bidan Desa dengan sangat hati-hati, bagaimanapun juga kalau terjadi apa-apa dengan ibu yang hamil di Desa pengawasannya, maka bidan Desa juga nanti yang kena imbasnya.


"Sebaiknya putri Bapak, di kasi sufor (susu formula tambahan) aja pak, kasihan Bu Fatimah kalau harus menyusui dengan Asi, nanti bisa menghambat perkembangan janin yang ada di perut ibu" tambah Bu bidan seraya menyerahkan bungkusan obat, dan Buku ibu dan Anak.


"Iya baik Bu" jawabku datar.


"jaga baik-baik kandungan ibu pak, jangan terlalu capek dan tidak boleh stress" jelas Bu bidan lebih lanjut.


Di sisi lain Viska sedang uring-uringan dengan Pak Dullah Bapaknya.


"Berat buatku pak, mengingat kelakuan Mujab yang selama ini terhadapku. Bapak saja yang tidak tahu, sifat asli Mujab gimana" Viska berulang kali menjelaskan, tapi Pak Dullah tak mengindahkan perkataan anaknya.


"Memang kelakuan Mujab gimana Vis?bukannya dia baik-baik saja, selama ini yang Bapak kenal memang dia baik, rajin bekerja, menurut Bapak, malah kamu yang selama ini kurang ajar padanya. Sudah tau kamu itu tunangan orang. Malah setiap hari pergi terus sama Prasetyo. Bapak malu, tiap hari menjadi gunjingan para tetangga. Mereka sering tau kalau kamu sering pergi jalan-jalan sama Prasetyo. Wajar kalau Mujab marah sama kamu" kilah Pak Dullah mempertahankan argumennya.


"Kalau kamu tidak menurut sama orang tua, sana pergi! pergi sana sama Prasetyo, apa kamu tidak pikir, kalau Prasetyo itu sudah punya anak Istri. Hah!" sambung pak Dullah geram dengan suara keras. Viska hanya bisa diam tak banyak membantah, tidak berguna juga kalau membantah Bapaknya. Bisa-bisa malah semakin runyam nantinya.


"Tapi pak, Prasetyo hanya mengantarkan aku ke Rumah sakit saja, karna kemarin tidak ada yang aku mintai tolong" balas Viska mencoba membela diri.


"Alah, alasan kamu saja Vis, bukannya kamu sudah tau kalau hari itu Mujab bakal pulang, kenapa kamu tidak mencoba menelponnya atau sekedar memberi tahu dia, kamu kan bisa" balas Pak Dullah tak kalah sewot.

__ADS_1


"Beri tau apa pak?"


"beri tahu Mujab kek, atau saudara-saudara Mujab, kalau kamu tidak bisa menjemputnya pulang" sanggah Pak Dullah.


"Aku terus yang di salahkan pak" keluh Viska kesal.


"ya memang kamu salah, kalau kamu tidak salah tidak mungkin juga Mujab marah sama kamu" hardik Pak Dullah.


"Ahh, Mujab terus, Mujab terus yang Bapak bela, Tanya tu sama Mujab, kapan nikahin aku" pertanyaan Viska sedikit menohok Pak Dullah, seketika Pak Dullah terdiam. Dia baru sadar kalau hubungan Mujab dengan Viska selama ini hanya menggantung tidak ada kepastian juga.


"Iya Bapak akan menanyakan ini secepatnya ke Mujab, sudah sekian tahun tidak ada kepastian" akhirnya kata-kata Pak Dullah sedikit melunak.


"Kalau Mujab memang serius sama aku pak, tidak mungkin dia menggantungkan hubungan ini, Bapak bisa pikir sendiri. Apa selama ini Mujab memperhatikanku? apa Mujab bisa di andalkan kalau kita lagi membutuhkannya? tidak kan pak" pertanyaan demi pertanyaan di lontarkan Viska, pak Dullah hanya terdiam tak bersuara. Hanya sedikit manggut-manggut membenarkan perkataan Viska. Kini keadaan berbalik, Viska sekarang yang ganti memojokan Pak Dullah. Dasar anak durhaka.


"Dalam satu bulan, Mujab tidak ada kepastian, aku pingin Bapak memutuskan tali pertunangan ini pak" pinta Viska ke Pak Dullah, pak Dullah hanya diam tak menyahut. permintaan Viska ini sekaligus ancaman.


"Tidak mungkin, aku tidak bisa hidup tanpa Prasetyo" pikir Viska kelam. tapi bagaimanapun juga, prsetyo sudah beranak istri. tidak mungkin juga Viska dan Prasetyo bisa bersatu.


"Baiklah pak, aku akan menuruti kata Bapak" akhirnya sebua kesepakatan terucap dari bibir Viska, meski terasa berat buatnya.


Kembali ke Prasetyo, setelah pulang dari Polindes. Aku pergi dinas, dalam pikiranku masih kalut, bingung. Apakah aku mampu menjalani kehidupan yang lebih layak? sedangkan perekonomian saat ini saja kurang dari cukup. Apalagi nanti ketambahan satu anak lagi, Aku mengusap wajah dengan kasar. Rasanya aku sudah tak sanggup menahan beban yang lebih besar lagi. Tetapi di sisi lain, aku berpikir, bukannya anak adalah salah satu rejeki juga? anak adalah amanah dari Tuhan, tidak mungkin Tuhan membiarkan hambanya kelaparan gara-gara banyak anak. Orang jaman dulu cuma bermodalkan cangkul dan sabit, bisa menghidupi enam sampai sembilan anaknya. Masak aku yang sekarang di jaman lebih maju, dan lebih berkembang kalah sama orang jaman dulu. Aku kembali tersenyum dan Optimis, setiap ada masalah pasti ada solusi, kalau kita mau berusaha pasti ada rejeki. Aku harus lebih rajin bekerja, dan pinter-pinter cari sampingan buat tambahan. Pikirku semangat.


Tiyye,tiyye...drrttt drrtt.


hapeku bergetar, Ku tengok sekejap saje, sudah nampak bilah seseorang mengirim pesan kepadaku.


"Oih, Viska! ada apa kiranya, dari kemarin pesanku tidak di balas" gumamku, lalu aku buka pesan yang di kirim olehnya.


-sayang, nanti bisa ketemu nggak?-

__ADS_1


"kebetulan sekali, aku ingin sekali bertemu dengannya" desisku girang.


-Iya bisa sayang, dimana dan jam berapa?-


balasku cepat, Tak lama balasannya pun datang menghampiri.


-makan siang, di rumah makan pecel kemangi sedap-


-Okey-


Setelah membalas singkat, aku taruh kembali ponselku kedalam saku kantong baju. Danterus dukung karyaku dan jangan lupa follow ya kak, trims. kembali fokus bekerja menyelesaikan pembuatan proposal yang di berikan pak Lurah untuk di selesaikan hari ini. Setelah kurasa proposal yang aku buat telah selesai, kemudian aku print out dan ku serahkan kepada pak Lurah untuk di periksa dan di tanda tangani lebih lanjut.


"Bagus, segera gandakan dan langsung di jilid. Habis itu antarkan ke kecamatan, biar di tanda Tangani pak Camat" kata pak Lurah puas dengan hasil kerjaku.


"Siap Bos, segera laksanakan" jawabku bersemangat. Aku tidak usah minta uang untuk penggandaan ataupun ganti transport ke kecamatan, karna yang pegang uang Desa adalah aku sendiri, jadi sesuai kebutuhan harian Desa, aku tinggal menulisnya saja beres.


Masih ada dua jam untuk ketemu dengan Viska, jadi aku masih ada waktu untuk menggandakan proposal, mengerjakan penjilidan dan kemudian mengantarkan proposal ke kantor Kecamatan. Baru jam 12 siang aku akan menemui Viska di tempat yang sudah kami janjikan. Kebetulan tempat janjian aku dengan Viska adalah satu arah aku ke Kecamatan, jadi aku sekalian saja membereskan barang-barangku yang di meja kerja aku masukan ke dalam tas, karna nanti setelah mengantar proposal aku bisa langsung pergi menemui Viska tanpa harus kembali ke kantor.


"Pak camatnya ada Bu?" tanyaku pada Sekcam, beliau adalah sekretaris kecamatan.


"Kebetulan pak Camat sedang ada rapat di Pendopo Kabupaten pak, ada yang bisa di bantu" tanyanya sopan.


"Mau minta tanda tangan Bu" balasku seraya memberikan beberapa lampir proposal yang aku buat tadi.


"Di tinggal dulu ya pak, besok pagi baru bisa di ambil" ucapnya seraya menerima proposal dariku.


"Iya Bu, nggak apa-apa, permisi Bu" pamitku meninggalkan kantor Kecamatan, dan seterusnya aku melaju ke tempat janjian, dimana Viska sudah menungguku. Dalam perjalanan otak ku berpikir keras, haruskah aku memberi tahu Viska kalau Fatimah kini hamil lagi, terus bagaimana respon Viska saat mengetahui Fatimah hamil? akankah Hubunganku dengan Viska akan berakhir? semua pertanyaan-pertanyaan bodoh menghampiriku. Ya pertanyaan Bodoh. Bukankah aku hanya cowok yang sudah berkeluarga, yang tak terlalu mengharap lebih dari Viska yang masih sendiri dengan wajah yang cantik, dan body yang menarik. di tambah Viska sudah mempunyai seorang tunangan yang tampan lagi menawan. Tidak mungkin rasanya kalau Viska akan memilihku. Menurutku, aku hanya pelampiasan Viska saja di saat tunangannya pergi jauh untuk merantau.


terus dukung karyaku dan jangan lupa follow, beri hadiah ya kak, trims.

__ADS_1


__ADS_2