
Mengingat kata-kata kasar Fatimah yang di lontarkan pada Viska, aku tidak bisa berbuat banyak. Hanya menasehati dengan lembut agar Fatimah tidak tersinggung.
"Dik boleh marah, tapi kata-katamu jangan kasar gitu, apalagi sampai menyinggung orang tuanya"
"Biarin, kamu bela pelacurr itu terus. Akan aku buat dia malu nanti di kampungnya" ucapnya ketus.
"Emang kamu mau ngapain?" tanyaku heran.
"Aku mau labrak dia ke rumahnya, biar orang tuanya tau, kalau anaknya telah merebut suami orang" katanya lantang, Fatimah mendengus kesal terhadap Viska.
"Emang kalau kamu nanti di ajak berantem sama Viska, apa kamu berani" ujarku pada Fatimah, dia hanya terdiam. Sebenarnya Fatimah sangat penakut, berhubung dia tersulut amarah, dia nekat akan melabrak Viska.
"Nggak apa-apa akan aku ladeni dia" tukas Fatimah galak.
"Ya sudah terserah kamu aja" kataku terus menyulut rokok dan menyesapnya pelan. Asap rokok melayang dan hilang di udara, aku hanya menghela nafas panjang. Sudah tak tahu harus giman lagi.
"Dik, daripada kamu ngurusin hal yang nggak penting gitu, mending kamu ngurus rumah dan anak-anak dengan baik" kataku memberi saran.
"Agar kamu terus bisa enak-enakan gitu dengan Viska, tiap hari jalan-jalan, makan enak, ceck in hotel. Aku hanya kamu anggap pembantu. Gitu?" ketus Fatimah terus membantah.
"Ya nggak gitu to dik, terus kalau kamu sudah melabrak Viska, apa ada perubahan dalam hidupmu? kalau kamu tidak bisa di bilangin baik-baik, aku malah akan meninggalkanmu" Ancamku pada Fatimah.
"Alah, kamu itu selalu saja belain Lontte murahan itu, bolak-balik ngomong gitu terus, iihh aku benci kamu" kata Fatimah sambil mencubit lenganku hingga merah, aku hanya merintih kecil kesakitan.
"Aku tidak perduli, akan aku labrak dia nanti" setelah berkata begitu dengan kesal, Fatimah pergi meninggalkanku ke kamar karna Aini sedang menangis.
Fatimah tidak main-main dengan ucapannya, wanita kalau sudah di sakiti dia pasti akan nekat. Tidak memperdulikan akibatnya kelak.
Siang ini aku baru pulang dari kantor, sampai rumah ternyata semua pintu rumah tertutup.
"Hm, tumben rumah tutupan pintunya, Fatimah dan anak-anak kemana nih" pikirku, dan tak lama tetanggaku bilang kalau anak-anak sedang tidur di rumahnya.
__ADS_1
"Lha Fatimah kemana mbak?" tanyaku heran, tidak biasanya Fatimah menitipkan anak-anakku pada tetangga.
"nggak tau kok Pras, tadi cuma bilang titip sebentar anak-anak dia mau pergi ke seseorang" kata tetanggaku menerangkan. Peeasaanku sudah ada firasat tidak enak. Apa jangan-jangan Fatimah pergi kerumah Viska, aku hanya bisa menduga-duganya saja. Tapi di benakku,
"Mana mungkin Fatimah berani mendatangi Viska, sama orang yang tidak di kenal saja dia takut" batinku sambil berjalan mengambil anak-anak yang sedang tidur di kamar tetanggaku yang masih ada ikatan saudara. Saat sedang asyik-asyiknya menikmati musik-musik India dari speaker, tiba-tiba muncul Fatimah naik motor dan berhenti di depan rumah.
"Tadi sudah aku labrak Viska, dia tak berani keluar dari rumahnya" kata Fatimah bangga, Fatimah menyunggingkan senyum kepuasan kepadaku karna sudah berhasil melabrak Viska.
"Dasar pelakor murahan, berani-beraninya mau merusak keluargaku. Sudah aku bikin malu juga Viska" ujarnya senang, aku hanya memandangnya tak percaya.
"emang kamu tau rumah Viska dik?"
"Ya taulah, kalau soal itu mah gampang" jawabnya senang.
"kamu itu lho ngapain juga kerumah Viska, merawat anak-anak di rumah kan enak sih dik" kataku berusaha membuat Fatimah tidak tersulut emosi.
"Biarin dia tau rasa, emang Viska nggak laku apa, sampai merebut suami orang" hardik Fatimah galak, aku hanya melihat Fatimah kesal.
"Huh, di bilangin suami nggak pernah percaya, gimana kalau Viska nggak terima, dan melakukan perbuatan yang bisa membuatmu kenapa-kenapa gimana dik" dengusku kesal, sudah capek aku menasehati Fatimah.
"Mas sejak kapan Aini dan Ghibran di kamar?" tanya Fatima heran.
"kamu itu memang keterlaluan, rela meninggalkan anak-anakmu demi memenuhi emosimu"
"Biar saja, biar Viska tau rasa. Dasar Lontte murahan" ujar Fatimah masih kesal dengan Viska, aku hanya menghela nafas panjang. Ringan banget mulut Fatimahe gucapkan kata-kata kotor seperti itu. Apa dia tidak menyadari kalau di sudah menjadi orang tua, dan kini tengah mengandung anak yang ketiga. Kalau ucapannya seperti itu terus, nanti bisa di tiru oleh anak-anak.
Wueeeeng.... srookkk.
Tiba-tiba motor melaju kencang dan berhenti mendadak di depan rumah, Viska turun dari motor dengan cepat, jelas terlihat dari raut wajahnya dia lagi emosi.
"Assalamualaikum!!"
__ADS_1
belum sempat aku balas salam dari Viska, Viska sudah masuk kedalam rumah, dia sangat berang saat melihat Fatimah.
"Mbak Fat, apa maksutmu melabrak ku, hah!! kalau saja tidak di cegah oleh Bapak, sudah ku habisi kamu" gertak Viska, melihat Viska yang marah Fatimah terlihat nyiut nyalinya. Tidak segarang dan seganas tadi.
"Salahnya kamu sendiri, kenapa kamu merebut suamiku" Fatimah masih berusaha membela diri, dan duduknya di geser lebih dekat ke arahku.
"Beb, pelankan suaramu dan jangan bikin ribut di rumah, anak-anak lagi tidur" ucapku menenangkan Viska yang masih terbakar emosi, tapi ucapanku tak di hiraukan oleh Viska.
"Makanya, kamu jadi istri itu yang benar, kalau kamu melayani suamimu dengan baik, tidak mungkin suamimu mencari perempuan lain" kata Viska sambil mendelik ke arah Fatimah, Fatimah juga tidak mau kalah, dia berdiri dari tempat duduk.
"memang kamu sudah nggak laku apa, sampai mau sama orang yang punya anak istri. Dasar pelakor murahan!!" Bantah Fatimah tidak kalah galak. Karna keributan Fatimah dan Viska dengan suara yang keras, Aini menangis di dalam kamar.
"Sudah, sudah! jangan pada ribut, yang waras ngalah!!" akhirnya aku juga berdiri menengahi pertikaian antara Fatimah dan Viska. Aku merasa menjadi cowok paling ganteng sedunia, karna di perebutkan cewek-cewek sampai rela bertengkar. Hehehehe jancok aku.
"Dik, ambil Aini dulu, kasihan dia sampai terbangun karna suara kalian, beby kamu duduk sini" ucapku agar suasana tidak memanas, karna kulihat tetanggaku sudah pada merapat untuk melihat perang dunia ke tiga. Ku dorong sedikit Fatimah untuk mengambil Aini, karna dia cuma diam saja tak bergerak. Dan ku tarik tangan Viska agar duduk di sampingku. Fatimah beranjak dari tempat duduknya dan mengambil Aini yang sedang menangis, tak lama Fatimah datang dengan Aini di dekapannya, berusaha menenangkan Aini yang menangis.
"Kasih tau istrimu itu, kalau masih macam-macam denganku, akan aku habisi dia" kata Viska mengancam Fatimah.
"Beb kamu tenang dulu, jangan terbawa emosi gitu" aku masih berusaha meredakan emosi Viska, aku tau Viska orangnya kayak gimana.
"Tidak bisa!! dia sudah mempermalukan keluargaku, akan aku buat perhitungan dengan dirinya" mata Viska menatap tajam ke arah Fatimah.
"Kamu itu yang salah, dasar perempuan gatel, sudah tau punya anak istri masih saja kamu goda" Sahut Fatimah tak mau kalah.
"Brengsyek kamu!! jangan kurang ajar sama aku, aku tak segan-segan menghabisi kamu" kata Viska menunjuk Fatimah, Fatimah hanya diam karna sibuk menimang-nimang Aini.
"Sekarang kamu pilih dia atau aku?" kata Viska menatapku, mendengar pertanyaan Viska yang menjurus kepadaku, aku hanya terdiam tidak bisa menjawab.
"Ayo jawab, kamu itu jadi cowok harus tegas jangan diam seperti pengecut" timpal Viska menunggu jawaban kepastian dariku.
__ADS_1
visual Viska
terus dukung karyaku dan jangan lupa follow dan hafianya ya kak, trims.