
Aku memandang Viska tak percaya, bukankah hubungan ini hanya sekedar untuk kesenangan saja. Dulu dia yang bilang, kalau hubungan kita ini hanya sebagai pelampiasan untuk pasangan kita masing-masing. Dan aku juga sudah pernah bilang, kalau hubungan ini jangan sampai membawa perasaan di dalamnya.
"Beb, nanti kita bicarakan, Sekarang kamu pulang dulu. Biar aku selesaikan" kataku pelan pada Viska.
"Omong kosong, tinggal bilang kamu pilih istrimu atau aku, biar istrimu itu tau, kalau kamu sudah sangat kecewa dengan perilakunya dan kata-katanya yang kotor. Kayak sampah" tukas Viska, pandangan matanya masih tersirat emosi, karna malu usai di labrak Fatimah.
"Apa maksutmu hah!! kamu itu yang pelakor, berarti kamu yang sampah. Perempuan murahan" sahut Fatimah tidak terima di rendahkan Viska. Menghadapi situasi yang membingungkan ini, aku hanya bisa mengusap wajahku kasar. Hah, resikonya jadi lelaki yang menawan ya seperti ini. Selalu jadi rebutan para harim-harim.
"Sudahlah diam semua, kalau kalian sudah tidak bisa di bilangin dengan baik-baik ya sudah silahkan gelut saja sana. Tak aku yang jadi wasitnya" kataku kesal kepada Viska dan Fatimah. Mereka berdua hanya diam.
"Beb, kita semua yang salah, kamu juga sudah punya tunangan, Masih juga mengejarku. Sedangkan kamu dik, kalau kamu ingin aku menjadi suami yang baik, kelakuanmu juga harus di rubah menjadi baik. Punya mulut juga di jaga yang baik, jangan asal mangap dengan kata-kata kotor. Aku sendiri juga gitu, sudah punya anak istri juga masih mencari perempuan lain. Harusnya aku menjaga keharmonisan keluarga dan menjaga keutuhan keluarga, karna aku bertanggung jawab sebagai kepala keluarga" Aku menghela nafas sebentar, menyulut rokok lagi lalu menyesapnya dengan nikmat.
"Beb, Fatimah memang salah telah melabrak ke rumahmu, karna dia merasa punya Hak atas diriku, dan keutuhan keluarganya, mungkin caranya yang salah. Jadi kalau dia telah membuat kesalahan terhadapmu, mohon di maafkan. Dan kamu beb, tolong berfikirlah dewasa, kalau merasa di permalukan oleh Fatimah, jangan langsung membalas melabraknya pula. Kalau kamu melakukan hal sama, kamu juga tak ubahnya sama seperti Fatimah. Jadi, kalau bisa saling memaafkan, dan jangan bikin Ribut" timpalku lagi menasehati kedua perempuan yang ada di hadapanku. Ku sesap lagi rokokku yang tinggal separuh.
"Dik, kamu yang mulai duluan, kamu minta maaf Ke Viska ya" ujarku pada Fatimah yang sedang sibuk menggendong Aini.
"Nggak mau, harusnya dia yang minta maaf, orang dia yang salah kok. Sudah tau suami orang, masih saja di rebut" tukas Fatimah merasa benar.
"Aku juga nggak Sudi minta maaf ma dia, lagian dia duluan yang mulai" sahut Viska, langsung keluar menuju motornya yang terparkir di depan rumah.
"Mau kemana beb?" tanyaku melihat Viska pergi dan akan menyalakan motornya.
"Mau pergi ke kota, pikiranku lagi kacau. Di rumah juga nanti aku di marahi orang tuaku" jawabnya kemudian melajukan motornya pergi.
"Ngapain sih mas, pakai di tanya segala, biarin saja dia pergi, dasar perempuan pelakor" sahut Fatimah ketus, aku hanya memandang Fatimah yang mendengus kesal, dengan perasaan yang sebal.
"Dik, dik... assudahlah, kalau merasa sudah pada benar, dan mencari kebenaran diri masing-masing ya gini ini hasilnya. Pada mentingin ego ketimbang hati" krepul, krepul, asap rokok membumbung tinggi dan hilang di lahap angin.
Sementara di kota.
Viska mengirim pesan dan mencari keberadaan Lena.
-Lu dimana Len?-
Dan tak lama Lena menelpon Viska.
__ADS_1
"Iya hallo, lu dimana nih"
"gue baru di salon nih, kenapa emang?" jawab Lena dari balik telpon.
"okey, gue kesalon aja deh, gue lagi bete nih, butuh hiburan"
"ayolah,kebetulan juga salon juga agak sepi, gue telpon Serly dan Elvi dulu ya, tadi Serly juga katanya pingin hiburan yang menyenangkan, dia lagi gabut gara-gara di putus ma cowoknya. Hahahaha" tukas Lena.
"Kebetulan tuh, gue jemput Elvi dulu yang dekat, habis itu meluncur ke salon"
Tut...Tut.. hape di matikan Viska, terus memutar motornya menuju Rumah Elvi. Tak selang berapa lama, Viska dan Elvi sudah Berpelukan mesra di atas motor menuju salon Lena.
"Tumben lu siang-siang ngajakin kita nongkrong, ada masalah apa lu Vis?" tanya Elvi.
"Nggak ada masalah apa-apa kok, gue pingin cari angin segar aja, di rumah Mulu suntuk gue" Jawab Viska sambil mengendarai motornya yang cukup kencang.
"Awas Vis!! lihat jalan"
Tiss, kletiss... keok keok...
"Ya salah sendiri, kenapa nyebrang jalan nggak liat kanan kiri dulu. Hahaha" celutuk Viska terkekeh.
"Monyong lu, ayam mah nggak usah lihat kanan kiri, bego! kan matanya sudah ada di kanan kiri"
"Hehehehe, betul juga ya" Jawab Viska.
Setelah sampai di depan salon Lena.
"Nyet, ayo buruan!!" teriak Viska, sambil lihat spion motor ngerapiin rambutnya yang sedikit berantakan.
"Brengsekk lu, tunggu sebentar, gue baru pake ****** nih" jawab Lena, dari balik jendela kamar yang terbuka. Tak lama Lena datang dengan memakai kaos street dan Celana hotpant Levis, terlihat seksi banget.
"Mundur lu nyet, biar gue yang pegang kendali motornya" ujar Lena pada Elvi, kemudian Elvi berangsur mundur. Dan Viska duduk di depan Lena.
"Ah dasar badak lu" sahut Elvi mendengus.
__ADS_1
"Udah ayo buruan jalan, Serly udah nungguin di pinggir jalan. Kasihan kalo di sahut Om-om" kata Lena, kemudian meluncur menjemput Serly yang sudah menunggu di pinggir jalan. Serly memakai celana Jeans panjang di padu jaket Levis pula, kelihatan manis dan sporty.
"Manja amat tu rubah betina, ayo lekas naik, kenapa nggak datang aja sih ke salon" ucap Lena kesal.
"Kan gue udah bilang, lagi nyuciin mobil, lha tu lagi di cuci" Jawab Serly.
"Bang, gue tinggal dulu ya mobilnya"
"iya non Serly, tenang aja" jawab seorang tukang cuci mobil yang sudah jadi langganan Serly.
"Lha ayo buruan naik, kok malah bengong" ujar Lena, yang melihat Serly kebingungan.
"Gue duduk di mana monyong"
"ya di belakang gue lah, dodol"
"haduh, bisa remek ni tubuh gue, di jepit dua kingkong. hahahaha" sahut Serly terkekeh, lalu naik ke belakang Lena.
"Enak aja gue di bilang kingkong"kata Elvi melengos. Lalu Lena melajukan motor muter-muter di sekitar pantai, dan menikmati keindahan pantai hingga menjelang sore.
"Cari makan yuk, gue laper nih" ujar Elvi dengan muka sedikit cemberut sambil mengelus-elus perutnya yang buncit.
"iya nih, gue juga lapar, dari tadi siang belum makan" balas Viska menyetujui usulan Elvi.
Krincing... krincing...
"te... sate, satenya dik" teriak penjual sate.
"Eh itu ada sate ayam Madura lewat di pinggir jalan, makan sana aja yuk?" seru Serly menunjuk sate yang sedang lewat.
"Bang sateee" teriak Elvi berlari ke arah penjual sate, kami hanya tertawa melihat Elvi yang berlari kayak bebek. Lalu kami juga menyusul Elvi yang sudah duluan memesan sate lontong. Saat menyebrang jalan, tiba-tiba ada truk besar melaju dengan kecepatan tinggi. kami semua terpekik kaget, Elvi menjerit histeris.
"Tidaaaaaak!!"
terus dukung karyaku dan jangan lupa follow ya kak, trims.
__ADS_1