ISTRI MUDAKU MAFIA

ISTRI MUDAKU MAFIA
BAB 36


__ADS_3

"Apa mau kamu? kamu mempermainkan penyidikan ini!" katanya sedikit berteriak tepat di depan mukaku.


"Gue cuma mau makan pak! apa itu salah?" balasku ketus, Aku tidak takut dengan gertakannya. Meski dia seorang anggota kepolisian.


"Kamu arogan sekali, dan terlalu sombong" balasnya sengit.


"Kalau gue nggak arogan, nggak mungkin juga gue sampe sini" balasku sewot.


"Lalu, aku kamu suruh beliin makanan gitu buat kamu?"


"ya kalau bapak tidak keberatan, nggak masalah" jawabku enteng.


"Kamu memang sengaja membuat penyidikan ini berjalan alot ya? atau kamu sengaja mengulur-ngulur waktu, begitukah?" tanya polisi itu penuh curiga. pandangannya sinis kearahku, sedangkan tangaannya disilangkan kedada.


"gue nggak bermaksud membuat penyidikan ini berjalan alot pak, kalau jalannya alot, ya naek motor dong. Gitu aja kok repot" celotehku sambil membuang muka ke tempat lain. Sehingga membuat dia tambah geram.


"Baiklah mbak Viska yang bikin jengkel, interogasinya kita lanjutkan nanti setelah makan, dan menunggu kedatangan Bapakmu"


"Hah!! Bapak??" ujarku kaget.


"Iya betul!! anggota kami sudah memberikan kabar ini ke keluargamu. Dan sekarang dalam perjalanan kembali kesini" katanya dengan senyum penuh kemenangan, karna telah berhasil membuatku terkejut. Dan aku mencoba masih bersikap biasa dan santai.


"Kok cuma Bapak doang?? pak RT nggak di ajak sekalian pak" kataku terkekeh.


Polisi itu hanya memandangku jengah.


Benar saja,mobil double kabin milik polisi memarkirkan di halaman kantor polisi. Selang 10 menit, Bapak datang dengan sepeda motor. Aku menyambutnya dengan senyuman.


"Lho Bapak sudah sampai sini to, katanya tadi, tidak perduli dengan anaknya!" kata seorang polisi menanyai Bapak, Bapak hanya menjawab dengan senyum khasnya. Dan aku malah heran tak mengerti.


"Makan dulu pak, habis ini nanti ambil motor yang aku titipkan" ujarku pada Bapak, karna saat Bapak datang, aku sedang makan yang di belikan Polisi yang menginterogasi ku tadi. Sayang banget kan? sudah di beliin makanan kalau tidak di makan.


"Kamu makan saja, tak tungguin sampai habis, setelah itu kita baru pulang" jawab Bapak, kemudian duduk di sebelahku menemani aku makan.


Sambil menunggu aku makan, Bapak menceritakan kejadian dirumah tadi sewaktu di datangi beberapa anggota polisi. Hampir tersedak aku menahan tawa karna geli dengan jawaban yang di berikan Bapak ke polisi. Pasti jengkel banget itu para Polisinya.

__ADS_1


"Yuk pak pulang" ajak ku kepada Bapak.


"Lha urusan disini gimana?"


"tenang, sudah beres kok"


"yakin beres? kok bisa?"


"iya, tadi aku kesini cuma maen aja, dan polisinya saja yang salah paham. Hehehe"


"ya sudah, yuk pulang!"


"Yuk, tapi ambil motorku dulu yang aku titipin ya pak" kataku pada Bapak. Sebelum naik motor, aku berlari ke ruang interogasi. menemui Pak polisi yang menjengkelkan tadi.


"Pak, gue pulang dulu ya? dan trims ya, sudah di belikan makanan" ucapku tersenyum sambil meraih tas selempang yang aku gantungkan di kursi tempat duduk ku tadi. Kulihat polisi tadi mukanya ditekuk sebal melihatku. Aku hanya mengulas senyum kemenangan.


Tadi, sewaktu polisi yang interogasi aku keluar untuk membelikan makanan. Aku langsung meraih hape yang ada didalam tasku, kemudian aku menelpon Andreano.


"Sayang, gue di tangkap polisi kota, sekarang gue lagi di sidik" ceritaku ke Andreano.


"Tapi lu nggak apa-apa kan sayang?" tanya Andreano menghawatirkan ku.


"Oke, lu tenang aja sayang, biar gue urus sebentar, dan nanti biar pengacara gue yang di kota itu yang menjamin lu keluar" katanya di balik telpon.


"Cepetan ya sayang" pintaku.


"Iya, gue telpon sekarang. ilove you?"


"ilove you to" kemudian ku tutup telponku. Meski di balik jeruji, Andreano masih bisa aku andalkan. Karna aku tahu, semua pasti beres kalau sama Andreano. Sesaat polisi penyidik datang membawa makanan.


"Ini makan dulu, habis ini kamu sudah bisa pulang" katanya sambil menyodorkan bungkusan plastik.


*****


Aku dan Bapak sudah tiba di basecamp, setelah mengambil beberapa barang dan aksesorisku, aku berpamitan pulang ke Bu Salamah. Manik mata Bu Salamah berbinar, saat melihatku dalam keadaan baik-baik saja.

__ADS_1


"Bapak nanti pulang saja duluan, aku pergi sebentar ke rumah teman" ucapku pada Bapak. Bapak mengiyakan saja. Karna rencanaku, barang-barang yang aku bawa ini mau aku tawarin ke sesama teman satu profesi denganku.


"Mohon pamit ya Bu" ucapku ke Bu Salamah yang sudah aku anggap sebagai orang tuaku sendiri.


"Mari Bu" kata Bapak menganggukan kepala, seraya melajukan motornya pelan. Satu tas besar aku bawa dengan sepeda motor, selain baju-baju manggung yang tersisa, ada tas branded dan bagian sepatu serta aksesoris lainnya.


Hari hampir menjelang malam, aku baru sampai di rumah. tubuhku lelah, bau asem menyelimuti seluruh tubuh. Asem-asem sedap menurut ku.


segayung air dingin aku siramkan ke seluruh badanku. meski dingin tapi seger, dingin-dingin empuk. Se empuk goyangan pinggulku saat manggung. Selesai mandi aku hanya mengenakan piyama tidur tanpa make up, lalu aku menemui Mamak yang lagi melamun di kamar.


"Mak, ini uang hasil menjual barang-barangku, aku kira ini cukup untuk menutup tiga koperasi dulu" kataku saat menemui Mamak yang sedang bersedih dalam kamar. Mata Mamak membulat saat aku kasih uang yang cukup banyak. Dia sekarang sudah bisa tersenyum lebar. Selebar layar tancap jaman dulu.


"Kamu dapat uang segini banyak dari mana Vis?"


"Ngepet Mak! ya, usaha atuh Mak"


"idih neng geulis pinter pisan nyak" kata Mamak tersenyum senang.


"Eh, logatnya jangan niru orang Sunda atuh Mak, kan urang anak Jawa" cengirku ikut senang.


"aduh, naon anu anjeun carioskeun? kumaha sigana éta pikaresepeun." Celutuk Bapak tiba-tiba dari belakang.


Aku dan Mamak saling berpandangan, karna memang tidak tahu apa arti omongan Bapak.


"Ngomong apa sih Bapak?" tanyaku mengernyitkan dahi.


"Sok-sok an ngomong basa Sunda, giliran di balas, bingung" gumam Bapak. Aku dan Mamak tersenyum Malu.


"terus artinya apa kak?" tanya Mamak juga penasaran kayak aku.


"Artinya itu: aduh, pada ngomong apaan sih? kayaknya kok seru banget" jawab Bapak sambil memitak jidatku. Malam ini terasa indah keluargaku kembali harmonis. Masak iya gara-gara uang bisa mengubah sifat dan sikap. Kayaknya memang iya. Buktinya sekarang Mamak dan Bapak, wajahnya kembali cerah, tanpa adanya awan kemurungan yang melanda, saat lembaran-lembaran kertas persegi panjang dengan tulisan, gambar dan serangkaian proses rumit serta menjadi alat transaksi yang Syah di Indonesia. Bahkan dunia. Atau bisa di sebut dengan nama Uang.


"Pak Mak, aku ke kamar dulu ya?"


"iya, istirahat sana" balas Mamak. Aku cepat ke kamarku, langsung aku kunci dari dalam. Tiba-tiba saja gejala Sakaw kembali mengusiku. Aku takut, aku bingung harus bagaimana. Kalau aku minta bantuan lagi ke Lena untuk memberikan Sabu, terus sampai kapan aku akan berubah. Sudah aku niati untuk meninggalkan barang laknat tersebut, bagaimanapun caranya.

__ADS_1


Badanku mulai menggigil, keringat dingin mulai bercucuran, tenggorokan mulai sangat kering. Aku ambi beberapa jilbab yang aku simpan dalam almari, mumpung masih sadar dan aku masih bisa mengontrol diriku. Aku ikat kakiku sangat erat dengan beberapa jilbab, kemudian dengan bantuan mulut, aku ikat kuat-kuat tanganku. Badanku kini mulai gemetar hebat. Aku mengerang dan merintih menahan candu yang teramat menggila di tubuhku ini.


"Vis" Bapak memanggilku dari luar sambil mengetuk-ngetuk pintu kamarku. Mungkin suara erangan dan rintihanku terdengar Bapak, karna memang kamar kami bersebelahan. Aku berusaha diam menahan eranganku, dengan cara menggigit bantal yang di sampingku.


__ADS_2