ISTRI MUDAKU MAFIA

ISTRI MUDAKU MAFIA
BAB 33


__ADS_3

Darah yang mengalir itu, aku hisap sampai tak tersisa lalu aku telan. Kurang puas aku ulangi lagi,aku gores tanganku hingga mengeluarkan banyak darah. Dengan rakusnya, aku sedot dan aku hisap semua darah yang keluar. Tidak ada rasa perih maupun rasa takut dari perbuatanku itu.


Sekarang kondisi tubuh sudah lebih baik. Aku sudah bisa mengendalikan dan bisa berfikir jerni kembali. Hanya saja sedikit sekali efek yang aku rasakan, terasa perih dan nyeri di tanganku. Aku lemparkan pisau karter ke lantai. Aku kembali memungut hapeku yang tergeletak di sebelah almari, ada sebuah pesan masuk.


"Jangan-jangan orang sinting itu lagi!" gumamku, karna aku pikir pesan dari Prasetyo. Tapi setelah aku baca, ternyata pesan dari Lena.


-gue sudah di jalan Genk,lu tunggu gue dan jangan nglakuin hal yang aneh-aneh-


"Monyet lu Len, kelamaan lu!" ujarku membatin. Kira-kira satu jam lagi, Lena akan sampai sini. Aku harus memikirkan cara untuk keluar dari rumah tanpa sepengetahuan orang rumah.


"Kalau gue lewat pintu depan, pasti akan menimbulkan suara berdecit, jam segini juga Bapak Mamak belum tidur" aku melihat jam baru menunjukan pukul 21.43. Aku memutar otak, supaya keluar tanpa ketahuan.


Senyumku merekah, Kulihat jendela kamar.


"Oh kenapa tidak kepikiran dari tadi, dongok!!" gumamku senang. Aku berjingkat pelan di atas kasur, menuju jendela. aku buka pengait Jendela, kudorong sepelan mungkin daun jendela agar tidak berdecit. Karna engsel agak karatan, gerakan sedikit akan timbul suara decitan.


Aku tahan nafas sambil mendorong jendela. Krrk cit, aku hentikan sebentar, sedikit ku angkat lalu aku dorong lagi. krrreek cciiieeett.


"Aauhh!!" seruku pelan. Takut menimbulkan suara yang mencurigakan.


Setelah kurasa agak longgar, aku kembali duduk di atas ranjang menunggu Lena datang.


Wruiiing Wruiiiing, hapeku bergemuruh.


-gue udah di depan rumah lu, gue masuk atau gue tunggu disini!-


Pesan dari Lena telah aku baca, dengan semangat 45, aku segera membalas pesannya.


-Okeh, tunggu gue, gue samperin lu-


Aku berjingkat kembali menuju jendela, perlahan aku buka, lalu aku menelusup turun. Kaki kananku berusaha menggapai tanah, tapi belum berhasil.


"Wah berarti jadi maling juga harus perjuangan nih! ternyata nggak gampang juga jadi maling, apalagi lewat jendela kayak gini" pikirku. Setelah kaki kananku berhasil sampai tanah.


"Aooh, siall!" pekik ku pelan, karna kaki kiriku masih menyangkut di kusen jendela.

__ADS_1


"Bapak ngapain sih! bikin jendelanya ketinggian, jadi susah Kabur nih" omelku membatin. Akhirnya, setelah melalui perjuangan alot. Aku bisa keluar dari kamar. Pintu jendela kembali kututup pelan-pelan, kemudian aku melewati lorong samping rumahku yang gelap pekat tanpa alas kaki. Bagai orang buta aku berjalan, sambil meraba-raba tembok menuju tempat dimana Lena sudah menungguku.


Aku memasuki mobil Lena sambil menenteng sandal jepit, yang sebelumnya aku ambil dari depan rumah. Sandal siapa aku sendiri tidak tahu.


"Sekarang kita kemana Vis?" tanya Lena sambil menghidupkan mobilnya.


"Udah jalan aja dulu, penting bisa kabur" jawabku sambil memakai sandal.


"Oya! mana barangnya" tanyaku pada Lena, diambilnya bungkusan plastik kecil dari balik saku celananya. Lalu di sodorkannya padaku, dengan cepat aku ambil bungkusan serbuk putih dari tangan Lena.


"Itu tangan lu apain? pe'ak lu!" tanya Lena, saat mengetahui luka yang ada di lenganku.


"Udah jangan bawel lu"tukasku cepat. Amphetamin berbentuk kristal ini aku taruh d balik punggung tangan kiriku.


Ssshhuup, Sshhuupp. "Aaahh"


Kemudian aku hisap lewat lubang hidung sebelah kiri, hidung sebelah kanan aku tekan pakai jari telunjuk.


Ada tiga cara untuk menikmati benda laknat ini. Caranya yaitu, yang pertama dengan mengisapnya, seperti yang aku lakukan ini. Yang kedua dengan menyuntikannnya lewat pembuluh darah. Caranya, dengan melarutkan Amphetamin ini dengan air hangat, Lalu di masukan ke dalam alat suntikan sesuai kebutuhan. Biasanya hanya 10mili. Dan cara yang ketiga adalah dengan memasukannya ke dalam *****. Cara ini adalah cara yang paling berbahaya, karna resikonya juga lebih tinggi. Sabunya saja sudah berbahaya di tambah cara makainya begitu ekstrim. Menjijikan.


Aku sandarkan kepala dan tubuhku di kursi, Sebelumnya sudah kuatur kemiringannya.


"Ke Semarang yuk Len, refreshing otak bentar." Ajak ku. Lena menyambut dengan senyum semangat.


"Wah, cocok, gue juga pinginnya gitu" ujar Lena.


"Okey!! kita party!!" seruku semangat.


Efek obat sudah aku rasakan, mengalir melalui pembuluh darahku. menyusup di tulang sumsumku, dan menjalar ke semua saraf-sarafku. memberikan perasaan bahagia dan nikmat, Aku merasa lebih tenang dan lebih energik.


Lena memasuki area klub malam di Thamrin square, Klub malam ini termasuk sudah jadi langganan kami.


tempat Dugem paling happening, sehappy perasaan yang aku rasakan saat ini.


Kami masuk di sambut dengan dentuman musik yang membuatku terhanyut dalam suasana Heppy. kelap kelip lampu beraneka warna dan bentuk di klub, membuat suasana tambah semarak, ditambah seorang DJ (Disc Jokey) yang kece, berjoget ria serta meracik musik secara mixing untuk menghibur audiens. Lena langsung berbaur mengikuti irama Jedak-jeduknya musik, ku susul dengan mengangkat kedua tanganku, anggukan kepala dan goyangan pinggul. Sorak gegap gempita bergemuruh, bau rokok, bau alkohol bercampur jadi satu. Terasa nikmat, seolah inilah Surga dunia, yang di ciptakan manusia sendiri.

__ADS_1


Berjubel para pria dan wanita sexy nan cantik jelita, perpakaian serba minim sudah menjadi pemandangan lumrah. Bergelayut di leher, bersimpuh di pangkuan, ataupun bercumbu, itu juga hal yang wajar. Sorak Sorai, gelak tawa kesombongan terlihat di mana-mana.


Seorang penari striptis melenggak- lenggok, bergelayut dan berputar di tiang penyangga mengikuti bledak-bleduknya musik, menjadi hiburan tersendiri bagi pria hidung belang. Apalagi nyaris telanjang, dengan tubuh yang semlohai dan wajah yang aduhai.


Dalam sekejap saja aku lupa semua masalah yang aku hadapi dalam keluarga. Dan rasa capek tubuhku, Setelah sepekan lebih bekerja sebagai buruh. Hilang seketika. Aku goyangkan badan, gelengkan kepala, mengikuti irama musik Dj yang menggetarkan daadda. Kini hanya perasaan senang, dan gelak tawa. sebuah kebahagiaan semu, yang telah menjadi candu bagi sebagian orang.


"Duduk yuk, aus nih!" Ajak Lena. Mataku mengitari arae klub ini, mencari tempat duduk yang pas buat istirahat sejenak.


"Yuk sana" tunjuk ku ke sebuah tempat yang kosong.


"Hoi" Lena melambaikan tangan memanggil pelayan, tak lama datanglah pelayan muda yang cukup tampan denga setelan kemeja putih di bungkus vest hitam, lengkap dengan dasi mungilnya.


"Jack Daniels honey satu, Vodka red dan, eh lu mau apa Vis?"tanya Lena ke arahku.


"Hmm, gue non-Alcoholic Beer satu Ama soft drink aja,terserah" jawabku sambil tetap manggut- manggut mengiringi musik.


"Kasih cemilan juga!" Tambahku. Dengan ramah pelayan klub ini mencatat pesanan kami, kemudian berlalu untuk mengambil pesanan kami. Sungguh recomended deh klub malam ini, selain bentuk yang modern dan asyik, pelayanan d klub ini friendly banget.


Makin malam makin seru, makin panas dan makin gila. Karna orang-orangnya sudah pada nggak ingat daratan.


Beberapa botol minuman sudah habis di depan kami, kepala ku sudah terasa pening, bau alkohol menyeruak di hidung. Pukul 02.00 dini hari, tubuhku sudah terasa oleng.


"Len! bayar sana gih" kataku dengan suara berat pada Lena, karna kepalaku juga sudah terasa berat.


"Lu bawa duit nggak Vis?" Lena balik tanya.


"Ya nggak lah, bego lu, mana ada duit gue"


"gue juga nggak Vis, hehehe" jawabnya santai.


"Monyet lu ya, kirain lu bawa Len!" omelku pada Lena.


"Gue kira juga gitu Vis, lu yang ngajak tak kira ya, lu bawa duit. Brengsek lu Vis!" tukas Lena dengan suara berat karna mabuk.


"Settan lu ya" ku remas kepalaku karna bingung. Aku sepeserpun tak bawa duit, hanya sandal jepit tadi yang aku bawa. Untunglah Lena bawa sepatu di mobilnya, jadi bisa aku pakai. Apalagi ukuran kaki kami sama. Lena kayaknya juga kebingungan, mencari cara untuk membayar minuman kami ini.

__ADS_1


__ADS_2