ISTRI MUDAKU MAFIA

ISTRI MUDAKU MAFIA
BAB 34


__ADS_3

"Sssstt!! lu tenang ja, gue punya ini kok" celutuk Lena yakin. Tangannya menelusup saku baggy Jeansnya, kemudian mengeluarkan sesuatu bungkusan plastik kecil. Lalu di tunjukan ke mukaku, aku hanya tersenyum lega.


"Emang Lu sobat gue yang bisa di andalkan Len"ucapku mengacungkan jempol kepadanya.


"Lu tunggu bentar disini, gue mau cari mangsa dulu" Lena berjalan berlenggok, menggoyangkan tubuhnya meliuk-liuk, mengikuti dentuman alunan musik Dj. Membaur kedalam kerumunan orang yang sedang life party. Goyangan Lena sangat seksi dan menggairahkan bagi yang melihatnya, tak ayal banyak cowok mendekat kepadanya.


Tak butuh waktu lama, Lena sudah mendapatkan mangsa. Dia menarik seorang pria setengah baya, kelihatan berduit dan berkelas. Sambil bergeyal-geyol nakal,Lena menariknya ke pojokan klub. Sebentar saja dia sudah berhasil menggaet pria itu.


"Hehehe mudah kan!" kata Lena sambil mengipas-ngipaskan uang segepok, sambil tersenyum padaku.


"Keren lu Len"pujiku senang.


"Tapi nanti temenin gue bentar ya?"


"kemana?"


"nglayanin om tadilah!"jawabnya santai.


"Maksutnya?"tanyaku bingung.


"Hehehe tau sendirilah"


"kapan?"


"ya sekarang dong, yuk berangkat!"ajaknya.


"Ish, buru-buru amat!"


"iya mintanya sekarang kok, gue juga pingin hehehe"


"terserah lu aja ah" jawabku berdiri mengekori Lena. Setelah mengurus semua pembayaran, kami keluar klub


Seseorang melambaikan tangannya ke arah kami, dan Lena membalas lambaiannya.


"Siapa Len?"


"iya itu orangnya Vis, yang tadi di dalam klub"kata Lena menjelaskan.


"Oh, cukup bonafit" Lena cuma tersenyum kecil. Memang di dalam klub tidak begitu jelas, karna lampunya diatur tidak untuk penerangan. Lena mengikuti mobil sedan warna hitam mengkilat, melaju dengan kecepatan sedang.


"Hmm, emang bonafit tu orang!" gumamku.


"Iya, gak nyangka ya, tampangnya sedikit dekil, ternyata tajir hihihi" sahut Lena bergurau. Sedan di depan kami membelokan mobilnya ke arah hotel bintang lima di jl. gajah Mada semarang.


Setelah naik lift, kami berjalan menuju kamar yang sudah di pesan si omnya. Dengan ramah si om mempersilahkan kami masuk, Kulihat kamar yang luas dengan design model Eropa modern. kasur dengan seprai yang putih bersih, di depannya terpampang televisi LED yang besar berback ground kayu Hpl motif kayu. di sebelah televisi ada meja minimalis dengan kaca rias yang besar, sebelah kanan kasur kulihat meja bundar dari kaca dengan dua kursi. Kanan kiri ranjang ada meja kecil yang di atasnya ada lampu tidur hias ala Eropa.


"Wijaya, Hardi Wijaya Kusuma Ningrat" si Om memperkenalkan diri dan tersenyum padaku.


"Bella, Bella Octavia" senyumku menyambut uluran tangannya.


"Mau ikutan main?"tanyanya kemudian. Aku menggelengkan kepala.


"Hmm, mau nonton?" katanya lagi, sambil membuka kaos kasualnya.

__ADS_1


"Dia lagi dapet om" bisik Lena ke kuping om Wijaya berbohong.


"Oh... is okey!" jawabnya manggut-manggut. Lena mendorong om Wijaya yang sudah bertelanjang dadda kekasur dengan senyuman nakalnya.


"Ayo kemari sayang"ajak om Wijaya menelentangkan tangan. Lena naik ke atas kasur, membuka blous yang di pakainya. Heran deh, kenapa nama Wijaya selalu dikaitkan dengan orang kaya. Dan selalu mendapat peran jadi orang kaya, yang bergelimang harta. Aku tersenyum kecut.


"Gue mandi dulu" kataku, Kulihat mereka sedang asyik bergumul.


"Hu'um"jawab Lena tanpa melepaskan bibirnya dari bibir om Wijaya yang berkumis tipis. Aku berjalan memasuki kamar mandi yang cukup luas, untuk ukuran kamar mandi, ini terbilang luas. Kulepas semua pakaianku, lalu memasuki tempat sower berada, yang berdinding kaca tebal berbentuk kotak.


"Oh segarnya" ku lepaskan rasa penatku, seiring air hangat mengguyur dari ujung kepala hingga membasahi seluruh tubuhku. Selepas itu aku menuju bathub untuk berendam, ini adalah favoritku.


Sayup-sayup ku dengar suara ******* om Wijaya, yang ngeselin.


"Ouuh" cukup keras erangannya. Aku hanya biasa saja.


" Aahh nikmat sayang" suara Om Wijaya mendesah terdengar menjijikan.


"Kok ya beda dengan cara permainan Prasetyo, yang bisa bikin Aku bergidik ngeri" pikirku. Aku teringat kembali permainan Pras dengan Ida tempo hari. Tiba-tiba darahku berdesir, bulu romaku berdiri.


"Ahay, apaan ini?" aku kembali membaluri tubuhku dengan sabun cair yang aromanya sangat harum, supaya tubuhku tidak merinding mengingat ******* Prasetyo yang buluk itu. kembali raungan Om Wijaya terdengar.


Hanya satu menit om Wijaya sudah terkapar tidak berdaya.


"Anjay!! apaan ini!!" Lena terpekik kaget, kemudian kembali sunyi. Aku sudahi berendamku, mengambil handuk dan menyeka seluruh tubuhku hingga kering di depan kaca besar berbingkai alumunium warna emas.


"Kenapa lu Len? mukanya di tekuk kayak gitu!" tanyaku setelah keluar dari kamar mandi.


"gue sebel banget" jawabny terduduk di tepi ranjang, masih telanjang pula.


"itu si omnya, baru di goyang sebentar udah mancue!" gerutunya.


Aku lihat om Wijaya cuma diam merasa bersalah.


"Ya suka-suka dialah, orang dia yang bayar" gumamku tersenyum geli.


"Udah sayang, jangan ngambek gitu. Nanti om tambahin deh uang jajannya." Kata om Wijaya menenangkan Lena.


"Bukan masalah uang om, sudah terlanjur buka baju, capek-capek cumbuin. Mana gue udah kebelet juga! eh gak taunya, cuman bentar doang! kecewa gue! kecewa!!" sungut Lena menggerutu kesal tiada henti. Sampai segitunya ya, kalau lagi kebelet. Aku jadi geli sendiri dengarnya.


"Iya sayang maaf, kapan-kapan kita lanjutin lagi ya? nih buat tambahan jajanmu." Bujuk om Wijaya sambil memberikan segepok uang lagi. terus di ciuminya pundak Lena. Lena mengambil uang di tangan Wijaya dengan kasar, kemudian memakai pakaiannya.


"Iya makasih" jawabnya masih ngambek. Entah itu beneran atau pura-pura biar di kasih uang tambahan, aku juga tidak tahu.


Setelah berpamitan, kami tertawa dalam mobil perjalanan menuju rumah.


"Eh, lu tau nggak?" tanya Lena.


"Nggak"


"oya, kan gue belum kasih tau" ujar Lena.


"Kan elu emang sinting dari dulu"

__ADS_1


"***** om Wijaya kecil mungil, juga gak tahan lama. ngeselin gak sih!" celutuk Lena sambil cengengesan.


"lu ngerasain enak nggak?"


"enak apaan!! malah bikin geli tau, uh tanggung banget, rugi gue buka pakaian kalo cuma semenit doang. Hwahahahah!!" oceh Lena.


"Paling nggak lu dapat tambahan kan??"


"iyalah, harus, gue pura-pura aja marah" jawab Lena bangga.


"Sudah gue duga, pasti itu akal bulus lu"


"hehehe kalau nggak gitu, nggak untung dong gue, mana tadi teriaknya kenceng lagi pas mancur. sampe kaget gue dibuatnya. Hwahahaha" seloroh Lena.


"Nih buat lu!" Lena menyodorkan sebagian uangnya yang dari om Wijaya kepadaku.


"Buat apa?"


"ya buat apa aja dong, namanya juga duit!" katanya santai.


"Nggak Len, gue udah banyak nyusahin lu" aku tolak pemberian Lena.


"Udah lu terima aja, lu lebih butuh ini ketimbang gue" paksa Lena, aku hanya menggeleng.


"Lu udah berapa Minggu tidak berobat, Hah!!" tukas Lena galak.


"Iya gue tau Len, tanks, lu udah perhatian banget ma diri gue. Tapi gue nggak bisa terima ini, nanti aja kalo gue benar-benar butuh. Gue akan minta ke elu, lagian orang rumah juga akan curiga, kalo gue tiba-tiba banyak duit" terangku. Lena hanya manggut-manggut.


"Okey, terserah lu aja deh" Lalu menaruh uangnya dalam dompet lagi.


Hampir Subuh, aku sudah sampai rumah, dan Lena langsung putar balik pulang juga ke kostnya. Aku kembali mengendap-endap melewati lorong gelap samping rumahku. Kembali menaiki jendela, untuk masuk kedalam kamar. Dengan susah payah akhirnya aku berhasil ke dalam kamar, tak lama aku sudah terlelap dalam dengkuran.


PYYAAARRR...


"Ini semua gara-gara kamu dik!! kalau kamu tidak berulah, kita tidak akan begini!!" terdengar keras suara Bapak memarahi Mamak.


"Aku melakukan itu juga demi keluarga ini kak!!" sergah Mamak tak mau kalah kerasnya. Mamak menangis terisak.


"Demi keluarga apa?? Hah!! kamu saja yang kegatelen" racau Bapak kembali.


"Kalau kamu kerja kak, aku juga tidak akan melakukan itu!! huuu... huuu..." Mamak membela diri menangis tersedu.


"Uhuk, uhuk, kerja, kerja apa?? apa aku kurang pontang-panting cari kerjaan!! kamu tau sendiri, badanku lemah karena penyakitan. orang tidak mau memberikan kerjaan pada orang yang penyakitan. kamu tau tidak!!" suara Bapak semakin tinggi, Mamak cuma bisa menangis.


Rasanya baru beberapa menit aku terpejam, suara ribut-ribut di luar mengagetkanku.


"Hoaammm, berisik!!" aku menguap, kemudian meraih hape yang di sampingku, kulihat jam menunjukan pukul 08.00. Dengan malas aku beranjak dari tempat tidurku. Baru membuka pintu kamar.


"Hah!! ada apa ini??" sontak aku kaget.


kulihat piring pecah dan masih berserakan di depan pintu kamarku. Mamak dan Bapak melihatku bersamaan, saat aku membuka pintu kamar.


"Vis, tolong Mamak Vis" kata Mamak menangis memohon padaku.

__ADS_1


Aku masih bingung, dengan kejadian barusan. Mamak minta tolong apa? ada masalah apa sih sebenarnya.


__ADS_2