
Lelaki itu mencoba memberontak melepasakan cengkeraman tangan Lena, tapi sayangnya, cengkeraman tangan Lena terlalu kuat.
"Coba ngomong sekali lagi" Kali ini Lena bersikap keras, sambil menggoncang kan kerah baju lelaki itu.
"Apa-apaan sih ini, lepasin nggak"
"Okey gue lepasin"
PLAKK, kepala lelaki itu kena kibasan tangan Lena dengan keras. Dia meringis kesakitan sambil mengusap-usap kepalanya. Hobi banget Lena main keplak sama kepala, kayak kendang saja itu kepala orang.
"Cewek sinting, kalau kamu cowok sudah tak gibeng dari tadi" lelaki itu mencoba melawan Lena, dia berani menatap tajam mata Lena.
"Kalau cewek emang Napa, gue nggak takut sama lu"
PRAAKK!!
Sebuah tamparan keras mendarat tepat di muka lelaki itu, membuat wajah lelaki itu merah. Merah karna akibat tamparan keras Lena, dan merah akibat malu di tampar cewek di muka umum. Mending kalau di tampar pacar, bisa ada cerita dramatis. Lha ini di tampar cewek tak di kenal, yang beringas dan arogan pula. Orang-orang mulai berkerumun melihat kejadian yang di anggap lucu dan langka, tak sedikit orang yang mengambil momen ini dengan merekam dengan ponsel. Melihat gelagat yang kurang mengenakan, akhirnya aku menyuruh Lena untuk menghentikan aksinya.
"Len, sudah! kalau di teruskan bisa membahayakan kita" ku dekati Lena dan ku berbisik ke telinganya sambil melirik orang-orang di sekitar yang mulai merekam kegiatan Lena. Sadar dengan situasi ini, Lena tersadar dan mendekati Lelaki itu dengan sebuah ultimatum.
"Nggak usah macem-macem ma gue, atau gue habisin semua keluarga lu" bisik Lena santai, seolah tidak terjadi apa-apa. Setelah berbisik, Lena menebar senyuman ke semua orang.
"Hehehe ini pacar gue, di berselingkuh dengan janda sebelah kontrakan" celutuk Lena sambil memandangi orang-orang yang melihatnya. Dia memeluk erat lelaki itu yang keheranan sambil melihatnya. pinter banget membuat alibi.
Orang-orang mulai membubarkan diri, kembali Lena melotot ke arah lelaki yang tak berdaya setelah mendapat gamparan keras darinya.
"Bayar semua bakso kami"
"i-iya mbak" jawab lelaki itu ketakutan, kini dia mulai mengerti, kenapa dari tadi di suruh pergi oleh penjual bakso. Memang cewek-cewek ini settan semua, bukan bidadari seperti yang di pikirkannya.
"mang Komeng, bakso kami yang bayar mas ini ya"
__ADS_1
"i-iya mbak" jawab mang Komeng bingung, tumben banget baksonya di bayar, tapi dalam hatinya dia senang karna tidak merugi.
"Wuiih di traktir nih, tau gitu gue bungkus banyak" Celutuk Katrine sambil berdiri, dan kami meninggalkan warung bakso mang Komeng. Melanjutkan keliling pasar, siapa tau dapat bos besar dalam pasar.
"Syukur, syukur... selamet, selamet" mang Komeng tersenyum lega sambil mengelus dadanya. Kami berjalan menyusuri lapak-lapak, dan lorong-lorong pasar. Dan sekarang tiba di lapak bagian penjualan pakaian dan sepatu, sedikit lebih ramai di bandingkan di lapak sayur dan buah. Ekor mataku menyipit dan menangkap gelagat yang mencurigakan, nampak di depan dua orang sedang membuntuti ibu-ibu yang berpenampilan ngejreng, dandanan yang ramai dan tatanan menor. Melihatkan kalau ibu-ibu itu orang kaya, dia berjalan sambil menenteng tas branded.
"Auhk, ada apa Vis?" tanya Lena saat aku sikut.
"Lihat dua orang cowok di depan, dari gelagatnya mencurigakan. Kita awasi mereka"
"Oh okey, kayaknya orang-orang baru, aku tak mengenalnya. Apa yang lain mengenal kedua cowok itu" jawab Lena menanyai Katrine dan Elvi, keduanya mengangkat bahu tanda tak mengenal.
"Yuk kita ikuti aksi mereka, kayaknya dia memepet ibu itu terus, mau mencopet" ujarku terus memperhatikan kedua cowok yang membuntuti ibu-ibu itu, tapi ibu itu tidak sadar kalau sedang di ikuti oleh dua orang cowok.
Ibu-ibu itu berjalan dengan santai, sesekali menawar barang yang menarik perhatiannya. Sambil tersenyum pamer, sesekali mnunjuk sesuatu yang di atas sambil memamerkan gelang yang di pakainya hingga menimbulkan suara gemrincing. Saat ibu itu lengah, kedua cowok itu memulai aksinya. Kulihat satu cowok yang memakai jaket hitam mengeluarkan sebuah pisau kecil dari balik jaketnya, sedang yang memakai kaos lengan pendek mengawasi sekitar. Kini saatnya kami beraksi, kami berjalan cepat mendekat ke arah kedua cowok itu, segera Elvi dan Katrine berjalan di depan kedua cowok itu, tujuannya menghalangi pandangan kedua cowok itu. Sedangkan aku dan Lena mengeluarkan Carter dari saku celana yang selalu kami bawa saat berjalan keluar, untuk jaga-jaga diri. Ini merupakan senjata kami yang simple dan aman, saat di bawa. Ku tarik kerah cowok yang memakai jaket hitam, lalu ku arahkan Carter ku ke lehernya, sambil kututup dengan jari telunjuk, dengan begitu tidak menarik perhatian orang-orang pasar yang sedang melintasi kami. Lena juga melakukan hal yang sama denganku, kami harus melakukannya dengan serentak, biar lawan tidak memberontak atau berkelit saat tahu sedang di todong senjata tajam.
"Diam dan ikuti kami, letakan kembali pisau mu dalam saku, berani melawan. Mampus kamu!" ancamku pelan, tapi pasti dan menakutkan. Kedua cowok itu saling berpandangan, melihat temannya di acungi sebuah pisau Carter, mereka diam dan mengikuti perintah kami.
Kami berjalan beriringan, Elvi dan Katrine berjalan di depan, mereka juga telah siaga memegang pisau Carter di tangan masing-masing. Merasa situasi terdesak, kedua cowok itu hanya pasrah mengikuti instruksi kami. Di lapak kosong, kami mendorong dan memojokannya di sudut lapak. Lapak ini masih dalam tahap renovasi yang sudah lama terbengkalai, tapi keadaan sepi jarang orang melewati jalan lapak sini.
"Kalian bekerja sendiri atau anak buah seseorang" tanyaku penuh selidik, sambil mengacungkan pisau Carter ke leher mereka. Cowok yang memakai kaos lengan pendek melirik temannya, seakan memberi isyarat dan aku mengetahuinya.
"Kami bekerja sendiri" jawab orang yang memakai jaket, dengan gerakan cepat tangan cowok ini mencoba meraih Carter yang di tanganku. Dengan sigap aku menepisnya. Di sebelahku terdengar suara tendangan yang sangat keras.
"Cewek sialan!" teriak cowok memakai kaos lengan pendek, lalu dengan cepat menendang perut Lena dengan keras.
BUKK!
"Aauuk!!" Lena terpental dan terjatuh, dia meringis kesakitan. Kejadian ini sangat cepat, hingga Lena tak tahu sebuah tendangan mendarat di perutny.
Saat aku menepis tangan cowok yang di depanku, dengan cepat aku serang balik cowok itu.
__ADS_1
Sreett....
Sebuah sayatan yang cukup dalam dan panjang melukai dada cowok itu, darah segar mengalir dan membasahi kaos dan jaketnya. Dia menjerit kesakitan dan langsung ambruk ke tanah saat tahu dadanya penuh darah.
"AAAARRRGGGHHH"
Lalu berganti mengayunkan Carter ku ke arah cowok yang satunya, dia membelakangi ku saat menendang Lena. Jadi sabetan carterku mengenai punggungnya, dia menjerit kesakitan di tambah sabetan Carter dari Elvi dua kali.
Sret, sret...
tepat mengenai dadanya. Dia terpekik kaget tubuhnya telah terluka, suara jeritan terdengar keras. Dia terduduk dengan memegangi lukanya, darah segar tak berhenti mengalir dari luka yang kami buat. Lena yang terjatuh dengan segera bangkit berdiri, dengan garang meraih kepala cowok yang menendangnya tadi.
Jeddeer jeddeer... Benturan berkali-kali ke rolling door dengan sangat keras, di tendangnya muka cowok itu berulang kali secara membabi-buta. Darah segar keluar dari hidung serta sudut mulut, tak lama cowok itu tak sadarkan diri. Puas dengan kebrutalannya, Lena menghentikan aksinya. Tubuh cowok itu basah oleh darahnya sendiri, Lena mendengus puas.
"Ini akibatnya kalau berani melawan kami" kataku dingin,
PRAKK, sebuah tamparan keras ku daratkan di wajah cowok yang merintih kesakitan di depanku. Darah terus mengalir membasahi kaos dalamnya.
"Am-ampun Mbak, ka-kami mengaku salah" ucap lelaki itu terbata-bata karna menahan sakit dan perih yang luar biasa.
"Jangan macam-macam di wilayah kami, lu cari mati ya!!" tatapku tajam, membuat cowok itu tak berani memandangku.
"Katakan padaku, lu kerja sendiri atau anak buah seseorang, kalau lu kerja sendiri gue matiin lu sekarang. Lu cuma sampah disini" aku bersiap mengarahkan carterku ke lehernya, yang membuat dia seketika gemetaran dan langsung memohon ampun.
"Ampuuuun mbak, kami anak buah bang Gopal" akunya dengan nafas mulai tersengal-sengal.
"Hah! Gopal?" aku terhenyak, aku dan teman-temanku saling berpandangan. Lalu aku berdiri,
"Panggil Gopal kemari, telpon dia" perintahku pada cowok itu, dan aku hanya tersenyum sinis. Gopal adalah pimpinan preman, wajah sangar dengan badan yang tinggi besar.
Hay kak, aku merilis novel baru yang berjudul "modal ************" mohon dukungannya ya? trima kasih.
__ADS_1