ISTRI MUDAKU MAFIA

ISTRI MUDAKU MAFIA
BAB 69


__ADS_3

Kami menuju ke arah mall terdekat, bersenang-senang sebentar apa salahnya. Kami mutar-mutar mengelilingi Mall, sesekali melihat barang-barang yang menarik, kalau ada yang cocok kami beli.


"Duh, capek rasanya muterin mall, kita cari makan yuk" keluh Elvi kecapekan.


"Huh! dasar gentong, makan aja yang di pikirin" ketus Katrine mencibir, Aku hanya tersenyum melihat temanku.


"Baiklah, kita cari caffe" ujarku sambil berjalan menenteng beberapa papperbag di tangan, teman-temanku juga sama sepertiku menenteng papperbag, hasil dari muter-muter mall. Seperti pada cewek pada umumnya, dominan kami suka pakaian yang bagus dan beberapa make up.


"Guys, sisa uang yang di ATM ini, gua pakai dulu ya untuk berobat" ucapku pada teman-teman, setelah duduk di salah satu caffe mall.


"Buat lu aja Vis, lu yang lebih membutuhkan" sahut Lena, dan teman-temanku yang lainnya juga tak mempermasalahkannya.


"Bukannya obat lu sudah di tanggung sama Andriano Vis?" tanya Katrine menatapku, aku hanya tersenyum dan menggelengkan kepalaku pelan.


"Sekarang gue cari sendiri, gue mencoba lepas darinya. Agar gue tak selamanya tergantung sama Andriano" ujarku berusaha menyembunyikan sesuatu yang getir saat aku bersama Andreano. Karna setahu teman-temanku, hidupku bersama Andreano sangatlah mewah. Memang iya, hidup bersama Andreano serba kecukupan, serba mewah, mau apa tinggal tunjuk, mau liburan tinggal pilih. Namun di balik semua itu aku harus membayarnya dengan harga yang sangat Mahal, bukan dengan nominal uang, melainkan sesuatu yang membuatku keluh dan getir untuk di ucapkan. Biarlah aku saja yang merasakan kepahitan hidup, di saat bersama Andreano dan keluarganya.


Selesai makan, aku mengajak teman-temanku untuk kembali ke basecamp.


"Guys aku pulang dulu ya, terima kasih sudah pada datang menemaniku dan menghiburku, aku ingin segera menemui sesorang. Sudah kangen" kataku tersipu pada teman-teman sebelum meninggalkan basecamp.


"seseorang siapa Len, apa lu tau? kayaknya berharga banget buat Viska. Bisa di lihat dari raut mukanya tu" bisik Katrine ke Lena. Meski berbisik aku masih mendengar bisikan Katrine ke Lena, dan aku hanya tersenyum ke arah mereka.


"Oya salam sama Bu Salamah ya, aku pergi dulu. Daaaa" aku meninggalkan basecamp dan teman-temanku, hari ini aku sudah merasa bahagia. Ya bahagia karna akan bertemu Prasetyo yang sudah beberapa hari aku cuekin.


POV PRASETYO


Beberapa hari ini aku kehilangan jejak doiku, dia ngambek sewaktu aku bilang kalau Fatimah hamil lagi anak ke tiga. di kirim pesan tidak terkirim, di telpon nomor tidak aktif. Persis siluman ini doiku, namun begitu aku tetap bersabar untuk berharap kedatangannya.


Tiung...tiung... drrtt,drrttt(hape bergetar)


-beby, aku kangen kamu-


sebuah pesan singkat aku terima dari Viska.


"Tukan, Viska bakalan datang padaku, tak mungkin dia bisa meninggalkanku" gumamku tersenyum senang saat mendapat sebuah pesan singkat darinya.


-beby kemana aja, aku juga kangen banget ma kamu-


balasku, cepat.


-bisa ketemu nggak?-

__ADS_1


-bisa dong, dimana sayang? dan kapan?-


-sekarang ya beb, di hotel kartika. Aku pingin. Heheheeh-


-baiklah, aku juga sudah kebelet nih-


balasku sambil tersenyum girang, makin cepat makin baik. Saat ini aku sudah berfantasi menikmati kemolekan tubuh Viska yang seksi. Aku segera berkemas dari kantor, dan kebetulan sudah jam pulang. Gerimis kecil tak menghalangiku untuk meluncur ke tempat yang sudah kami janjikan, setelah sampai aku langsung memesan kamar. Dan tinggal  menunggu Viska di kamar dengan epleh-epleh santai.


Telponku berdering, ternyata dari Viska.


"Iya hallo beb"


"kamu ada di kamar nomor berapa beb, aku sudah di depan hotel Kartika" kata Viska, aku sebutkan nomer dan letak kamar yang aku sewa dan tak lama terdengar pintu kamarku di ketuk dari luar.


"Ayo masuk sayang" kataku sambil tersenyum senang saat melihat Viska yang kali ini tampil sangat cantik. Ku tutup kembali pintu kamar, dan selanjutnya kami berpelukan dan bercipika-cipika ria untuk melepaskan rasa kangen yang sudah tak bisa di bendung lagi.


"Aku kangen banget sama kamu beb, kamu kemana saja? kok tidak ada kabar" tanyaku sama Viska tanpa melepaskan pelukanku. Aku suka dengan aroma parfumnya, begitu menggoda dan menggairahkan. seperti bau daun kemangi.


"Aku hanya ingin menenangkan pikiran sayang" jawabnya tersenyum sambil mencium bibirku manja.


"Hai, hai sang pelita hati, di saat dirimu pergi tanpa kabar, diriku bagai malam yang tak berembulan, begitu gelap dan begitu sunyi"


"lebay amat beb, aku bukan anak kecil yang harus di rayu" tukasnya sambil terus memandangku penuh pesona.


"receh amat ngerayunya" Viska sekarang memeluku dengan erat.


"Tak usah kamu merayuku dengan kata-kata gombalmu sayang, aku akan selalu hadir mewarnai hidupmu"


"Prutt" celutuku cekikikan, lalu kami menjatuhkan diri di atas ranjang yang empuk mentul-mentul.


kami beradu congor sebentar, menikmati rasa rindu yang menggebu.


"Berjuta bintang di langit cuma satu yang terang, berjuta gadis yang cantik cuma kamu yang aku sayang"


"hmmm, recehan lagi" senyumnya manis banget.


"Beb, jangan sering-sering kamu tersenyum padaku"


"Kenapa beb?" tanyanya heran.


"Aku takut senyummu yang indah itu mengalahkan keindahan di dunia ini"

__ADS_1


"udah ah jangan ngegombal meluluk" tukasnya manja, tersenyum malu.


"Rasa cintaku sudah terpatri erat padamu, sampai berkaratpun aku tak bisa melepaskanmu" wajah Viska bersemu merah mendengar ocehanku yang tak bermutu.


"Kamu tau lebah sayang?"


"ya tahu, mang Napa beb" jawab Viska mengangkat alisnya.


"Mulai besok, dia tak akan menghasilkan madu lagi"


"lha kok bisa!"


"Ya karna manisnya senyummu, mengalahkan manisnya madu, cihuyyy"


"eh! sejak kapan kamu membuka kancing bajuku?" tanyanya heran sambil melihat kancing bajunya yang sudah terlepas semua.


"Sejak kamu membutakanku dengan cintamu" lalu aku membenamkan wajahku di leher Viska, dia menikmatinya, meremas rambutku pelan dan mendesah lirih.


"beby, ibarat Romy Dan Yuli" aku terus menelusuri tubuh Viska, hembusan nafas kecilku membuatnya merinding.


"Teruskan sayang" rengeknya menikmati setiap setuhanku.


"Teruskan apanya sayang, cumbuanku atau kisah tentang romi Dan Yuli?" tanyaku tak melepaskan, cumbuanku dari tubuhnya. Hingga dia tak menyadarinya semua pakaian sudah terlepas semua. Bagai terhipnotis oleh sihir asmaraku, Viska menurut oleh semua yang aku lakukan terhadapnya.


"Ouhh, Romi Dan Yuli bebbby, sshh" lirihnya menahan desiran, lalu tubuhku di baliknya, gantian dia yang menindihku sekarang. Dia menatapku penuh tanya,


"apa selanjutnya sayang" tanya Viska, menggigit kecil telingaku. Aku kegelian dong.


"mereka mati karna cinta, karna mereka bodoh. Tapi kita akan terus hidup dari cinta karna kita rajin menyiraminya dengan air kasih sayang" kataku sambil menikmati sentuhannya Viska. Viska hanya tersenyum gemas.


"Disaat tubuh sudah kepanasan karna hasrat, kamu masih saja bisa ngegombal beb" ujarnya sambil memainkan milikku. Dan kemudian aku merasakan hangatnya milikku di jepit oleh dinding rongga mulutnya. Hayo tebak, sedang di apain itu? Hehehe. Aku hanya memejamkan mata menikmatinya, sampai permainan kami selesai hingga beberapa ronde. Puas dong tentunya.


Tak terasa hari sudah sore, dan kamipun pulang menuju rumah penuh kebahagiaan. Namun kebahagiaan tak bertahan lama, sampai rumah Fatimah sudah mendengus kesal saat melihatku di ambang pintu. Pandangan matanya penuh kebencian, raut wajahnyapun berubah menegang penuh amarah.


"Kamu darimana jam segini baru pulang!" suara bentakan Fatimah mengagetkanku. Ini orang kok tiba-tiba marah tidak jelas.


"Ya kerja dong dik" jawabku asal dan masuk kedalam rumah.


"terus ini apa, ini apa!!" ujarnya marah sambil memperlihatkan sebuah tanda merah, bekas kecupan Viska di leher.


Waduh biyung, mati aku...

__ADS_1


terus dukung karyaku dan jangan lupa follow ya kak, trims. Baca juga novel terbaruku "modal selangkangann"


__ADS_2