
Selepas sholat magrib, dan mengaji sebentar. Cieee, santrinya diriku. Aku bangkit dari tempat duduk ku, melangkah menuju motor yang terparkir di bawah pohon pisang halaman rumah.
"Mau kemana mas?" sapa istriku, curiga.
"Cari duit" jawabku datar.
"cari kemana? outlet nggak di buka?";
"cuma pergi sebentar kok dik, setelah pulang nanti tak buka" kemudian aku berlalu, dan Fatimah hanya memandangku kesal sambil menggendong Aini.
"Assalamu'alaikum?" sesampainya di depan pintu rumah pak Abu. Ada empat orang sedang menonton televisi semuanya sedang asyik rebahan, menikmati waktu santai menjelang malam. Hanya pak Abu yang duduk.
"Waalaikumsalam..." serempak menjawab dan menoleh ke arahku, dengan semangat pak Abu berdiri dan menghampiriku.
"Eh, Prasetyo, silahkan masuk, ayo duduk" dengan ramah pak Abu menyapaku dengan senyuman khas orang tua. Dan menyuruhku duduk di ruang tamu yang bersebelahan dengan mereka nonton tivi tadi.
"Ningsih, bikinin kopi dua ya" seru pak Abu pada Ningsih anaknya, yang sedari tadi meliriku sambil curi-curi pandangan nakal kepadaku.
"iya pak" dengan semangat bangkit dari rebahan, dan meletakan anaknya yang tadi tidur di peluk, ke atas bantal sebelahnya.
"oh jadi mbak penjual kopi yang tadi siang menggodaku namanya Ningsih, hihihi baru tau aku" batinku.
"Anak Ningsih usianya berapa tahun pak?" ucapku membuka obrolan, hanya sekedar basa-basi.
"Wah, lupa, berapa ya Bu?" pak Abu malah bertanya pada istrinya yang rebahan di depan tivi.
"kalau tidak salah, umurnya 4 tahun pak"
"oh" aku hanya bergumam kecil dan manggut-manggut. Ku edarkan pandangan di seluruh ruang tamu, ada lukisan kecil dan beberapa gambar anak yang ditempel di dinding tak beraturan. Mungkin hasil prakarya anak Ningsih. meja kursih dari kayu jati minimalisan yang sudah di plintur indah mengkilap, dan di pusat meja terletak bunga hias dari plastik. Di sisi kiriku bertumpuk bersak-sak padi menjulang tinggi, hingga tingginya kurang lebih 3meter. Memang pak Abu adalah petani padi yang cukup sukses di Desaku.
"Gini pak, dengar-dengar pak Abu katanya sedang mencari sawah garapan ya? Nah kebetulan sekali sawahku yang di sewa pak Rukani, masa sewanya tahun ini habis. rencana, mau menyewakannya pada pak Abu untuk tahun depan" aku langsung mengatakan maksut dan tujuanku ke pak Abu sebagai modus, kalau aku mengatakan yang sebenarnya tentang kejadian tadi pagi secara langsung, takutnya nanti malah sedikit runyam. Karna ada istri pak Abu yang ada di sebelahnya.
"Oh yang di pojok dekat sungai itu ya nak? itu luasnya berapa? dan minta harga berapa?" balasnya semangat.
"Betul pak, itu luasnya lima kotak atau sebahu, masalah harga gampanglah pak, buat pak Abu tak kasih murah pokoknya" selorohku masih tahap basa-basi.
"Murahnya itu berapa nak Pras? boleh enam juta, hahaha..." kelakarnya santai menawar harga di bawah harga standar pasaran.
__ADS_1
"Waduh! kalau segitu ya bandar remuk pak, tahun kemarin saja pak Rukani membayar delapan juta setengah pak. Apalagi tahun ini, kayaknya panennya melimpah di tambah letak sawahku itu strategis, dekat sungai dan akses JUT( jalan usaha tani) yang mumpuni, di jamin nggak mengecewakan" terangku singkat, mulai mempraktekan ilmu marketingku.
"Ya,ya kalau sawahmu aku sudah tau Pras, sawahmu itu termasuk katagori sawah baik" jawabnya manggut-mangut.
Ningsih datang membawa nampan berisi dua kopi hitam, dia tersenyum manis arahku. Dengan nakalnya mengerlingkan mata kirinya kepadaku, aku hanya membalasnya dengan senyuman.
"Silahkan mas Pras" katanya sambil menaruh kopi di depanku.
"trimakasih Ningsih" balasku mengangguk pelan. Kemudian dia kembali melantai, rebahan di sebelah anaknya yang tertidur lelap.
"Ayo silahkan nak Pras, kopinya di cicipi" Tawar pak Abu ramah, aku mengangkat gelas dan meniupnya sebentar karna masih panas.
"Bismillah, Alif ba ta tsa..." kemudian menyesapnya pelan, dan sekali lagi ku sesap kopi di gelas dengan nikmat.
"Achhh, mantap banget kopi bikinanmu Ning, bikin mata langsung terang" pujiku pada Ningsih, dia hanya tersipu malu.
"Ningsih memang pandai menyeduh kopi nak Pras, makanya Bapak buatkan warung di pojok itu, Kayaknya tadi siang kamu mampir di situ kan? tapi sayang, nasib Ningsih belum beruntung. Dia di tinggal pergi suaminya" ucap pak Abu dengan raut wajah yang sedih mengingat nasib Ningsih yang kurang beruntung.
"ya namanya lika-liku kehidupan memang seperti itu pak, bersabar saja. Toh Bapaknya juga mampu menghidupi Ningsih dan anaknya dengan baik" ucapku menghibur.
"terus gimana dengan harga Sawah yang di tawarkan tadi nak, pasnya minta harga berapa?" tanya pak Abu kemudian.
"Sebenarnya sih bisa aja pak, Untuk Mt tiga kali di Desa kita, seperti halnya Kabupaten sebelah, namun sayangnya petani kita yang enggan melakukannya. Untuk pengelolaan tanah yang baik, musim pertama dan kedua di tanami padi dan yang ketiga di tanami palawija. Biar ada sirkulasi di tanah kita ini, untuk masalah pengairan, aku kira di Desa kita cukup memadai pak. Dan untuk masalah Pupuk kan bisa di bicarakan dengan anggota Gapoktan (gabungan kelompok tani), gimana baiknya dalam mendapatkan subsidi pupuk. Cuman sayang ya pak, petani kita pada enggan untuk melakukan sampai Mt tiga" balasku menjawab pak Abu tentang pertanian.
"Bukannya enggan atau malas nak, cuma untuk MT (musim tanam) tiga itu rawan penyakit dan Hama, jadi harapan besar petani cuma di Mt dua atau masa gadu, kan kamu sudah tau sendiri kondisi Desa kita Pras" bantah pak Abu lirih. Aku hanya mengangguk kecil.
Dalam pertanian memang seperti bermain Judi, mengandalkan musim, dan keberuntungan diri. modalnya cukup besar pula. Mulai dari pengolahan tanah kita perlu membajak sawah menggunakan jasa traktor, di tambah bayar orang untung mengatur pematang sawah biar rapi, setelah itu lanjut ke pembibitan. Proses pembibitan juga tidak mudah, mulai memilih bibit unggul, hingga penaburan benih bibit ke sawah harus di olah secara benar dan teliti, di samping itu pengairan juga harus di perhatikan agar bibit tidak mati. Bibit baru bisa di tanam kisaran umur bibit berumur 11 sampai 20 hari, kalau lebih dari itu juga kurang baik. Karna bibit tidak bisa berkembang dan beranak sesuai harapan, bibit yang berkembang dengan baik, satu atau dua batang bibit yang sehat dan baik, bisa berkembang atau beranak 23 sampai 30 lebih batang padi. Dan banyak jenis sistem untuk penanaman padi, untuk di Desaku menggunakan sistem jajar legowo yaitu, jarak bibit satu dengan yang lainnya berjarak 20 centi meter biar ada cela atau tempat untuk berkembang lebih baik. dan setiap empat shof ada tenggang jarak 40 centi meter, gunanya untuk jalan petani saat pemupukan, selain itu untuk masuknya pencahayaan matahari dengan baik. Sampai sini aku sudah mumet masalah pertanian, belum lagi nanti ada pemupukan, perawatan, dan pemanenan yang semuanya butuh biaya banyak dan melewati beberapa proses yang cukup rumit. Untuk lima kotak sawah atau sebahu memerlukan biaya kurang lebih 15juta, dan untuk hasil panen yang baik di hargai kurang lebih 30 juta, dengan jarak dari masa tanam sampai masa panen kisaran tiga bulan. Itu kalau nasib lagi baik. persoalan dalam kendala pertanian itu juga banyak sekali. Seperti musim penghujan itu banjir, atau padi rubuh karna kencangnya angin. Musim tanam kedua kebanyakan Hama, seperti hama wereng, kaper, belalang, ulat, tikus dan burung. Makanya, dari pada mumet dan ribet soal pertanian, aku sewakan saja sawahku pertahun. Simple dan praktis, soalnya aku sudah bosan, dari kecil di ajak Bapak dan mainnya di sawah melulu.
"Jadi gini ajalah pak, pak Abu bayar saja sepuluh juta saja sawahku" ucapku memecah kesunyian di ruangan itu, kembali kusesap kopiku dan kulanjutkan menyesap rokok kesayanganku. Sukun.
"Wah apa nggak kemahalan itu Pras?" pak Abu memandangku tajam, aku hanya menyunggingkan senyum kecil.
"menurutkan nggak dong pak, itu harga yang pantas kok, lagian aku tadi siang sudah menunggu lama lho pak di warung Ningsih, menunggu kedatangan pak Abu. Bayar aja dulu satu juta pak, sebagai uang Muka dan sisanya di bayar kapan-kapan terserah pak Abu" pak Abu menghela nafas panjang, mengerti maksutku yang sebenarnya. Aku memandangnya penuh ancaman, dan sedikit tersenyum di sudut bibirku.
"Kebetulan sekali ya pak, Hotel melati no 104" bisik ku pelan ke arah pak Abu, seketika wajahnya berubah sedikit panik.
"Lha kamu di situ ngapain?" suaranya pelan, ingin tahu juga apa yang aku lakukan di hotel itu.
__ADS_1
"Oh, kebetulan temenku kerja di resto situ. jadi aku mampir pak untuk ngopi" jawabku mencari alasan yang masuk akal.
"Baiklah, tak kasih uang muka dulu satu juta ya. Tunggu sebentar" katanya, terus bangkit menuju kamar untuk mengambil uang. Aku hanya tersenyum penuh kemenangan.
"Yess! berhasil lagi" batinku senang.
"serius amat sama Bapak, ada perlu apa mas?" tanya Ningsih pelan, sesaat bapaknya masuk kamar.
"Mau minta ijin buat kamu, untuk jalan-jalan besok Ning" candaku pelan juga, Ningsih jadi tersipu dan wajahnya memerah.
"Makan tu rayuan receh ku" desisku membatin.
"Ehm-ehm" pak Abu keluar dari kamar dan menyerahkan satu juta uang, dalam bentuk pecahan lima puluhan dan ratusan ribu kepadaku. Dengan cepat ku ambil dan ku hitung, setelah selesai, aku segera berpamitan pada pak Abu.
"terima kasih ya pak Abu, besok-besok kita sambung lagi, aku mohon pamit dulu"
"Hm, iya hati-hati" jawabnya sedikit bersungut kecewa karna merasa tak kerjai.
"Ning, aku pulang dulu ya? oya ini buat jajan anakmu" pamitku pada Ningsih, dan kukasih lima puluh ribu pada Ningsih.
"terimakasih ya mas" serunya senang banget, dan mencium punggung tanganku dengan mesra. Dasar janda genit, di kasih umpan sedikit sudah blingsatan tak karuan. Aku segera berlalu dari rumah pak Abu denga hati yang riang, karna sudah mengantongi uang yang cukup banyak.
Sesampainya di rumah, aku langsung membuka outlet pulsaku. Baru saja duduk sejenak ponselku bergetar.
Drrrrtt drrtt, wik-wik wik-wik.
Kubuka dan ku baca pesan yang masuk.
-pelanggan yang terhormat, anda sudah menunggak pembayaran motor selama 7 bulan. Kira-kira bapak Prasetyo membayarnya kapan, kalau tidak segera di lunasi. motor kami tarik kembali.-
Aku abaikan pesan tersebut, karna menurutku tidak penting.
"Coba saja ambil, aku pingin tau caranya mengambil motor dariku" gumamku tersenyum.
"Ku tunggu kedatanganmu besok Debt Collector sialan!"
bukan satu dua kali aku berurusan dengan yang beginian, tunggu saja bagaimana aku menghadapi Debt Collector motor.
__ADS_1
terus dukung karyaku dan jangan lupa follow ya kak, trims.