ISTRI MUDAKU MAFIA

ISTRI MUDAKU MAFIA
BAB 49


__ADS_3

"HMMM,HMMM" Mujab terus memberontak, keringatnya bercucuran, air matanya ikut mengalir membasahi wajahnya yang panik.


"Bukankah tadi lu bilang, ingin aku memuaskanmu? nikmatilah, akan gue layanin lu dengan baik" seringaiku seram, ku buka tutup benda kecil bulat, ku ulir dengan pelan, mempermainkan Mujab yang semakin memucat. Lalu ku colek krim putih yang di dalamnya, serta merta memainkan di depan mukanya.


Sebuah balsem, berwadah kaca bulat dan berisi warna putih, cukup membuat Mujab bergidik ngeri.


"Telentangkan dia, lepas semvaknya, oleskan ini kepadanya, gue jijik liatnya, apalagi memegangnya" ku sodorkan balsem ke salah satu temenku yang paling konyol, Abdel, dengan senang hati menerima balsem dari tanganku


"Asyek, dapat mainan dewasa kelas wahid, kapan lagi bisa mainin kamu, cowok sampah sombong, sok kaya" ketus Abdel senang, aku tahu Abdel punya dendam kecil sama Mujab.


"Mmmm,mmmm!!" teriak Mujab tanpa suara,karna dalam mulutnya bertengger dua kaos kakiku yang telah aku sumpalkan. Dia terus memberontak, menggeleng-gelengkan kepalanya, matanya memerah dan buliran air mata keluar dari pelupuknya.


Dengan pelan dan perasaan lembut Abdel mengolesi burung Mujab dengan telaten, Mujab berontak pun percuma, karna tubuhnya sekarang di pegangi oleh enam orang cowok yang perkasa.


"Sekalian tu telurnya, di kocok lembut dong Del, biar greget gitu. Hahaha" celutuk salah satu temen yang memegangi kaki Mujab.


"Jangan kuatir sob, tak jamin olesanku merata, ishhh, pegangin yang kuat dong, dari tadi gerak-gerak mulu. Kalau meleset, kan sayang balsemnya" tukas Abdel cengengesan. Dia sepertinya menikmati yang ia lakukan sekarang.


Kulirik Mujab merem melek, nafasnya memburu dan terus memberontak, entah dia menikmati belaian Abdel atau reaksi balsem sudah mulai bekerja, aku tak tahu.


"Lu pingin gue melayanimu dengan baikkan? baiklah, akan gue lakukan" kemudian aku mengelap keringat Mujab yang jatuh berceceran di lantai, dengan taplak meja yang aku ambil dari meja guru, Kuseka wajahnya kasar. Dia memandangku ketakutan, memelas rasa iba dariku.


"Sudah selesai nih Vis! kita apakan lagi?" seru Abdel, Dia antusias banget mengerjai Mujab.


"Tengkurapkan dia, biar di merasakan apa yang gue rasakan"


"Hayo, hayo bantuin, satu, dua, tiga" teman-teman kompak membalikan tubuh Mujab.


BUKK,GLEDUK.


"AAUUUGHHMM"teriak Mujab kesakitan.


"Weee lhadalah! kepalanya kejedot ubin, pasti sakit la Yau" seloroh yang lainnya terkekeh.


"Terus diapain Vis? sudah kayak babbi panggang nih! mana item kayak pantat wajan" Celutuk Abdel, saat melihat pantat Mujab yang beneran item.


"Masukin ini ke duburnya" kulemparkan sapu lantai ke arah Abdel, Abdel malah terbengong tak mengerti. Mujab terkesiap hingga mendongakan kepalanya.


"Wah, sadis nih! bisa-bisa mati nih bocah"


"udah, lakukan saja, biar dia tau rasa"


"jangan pakai gagang sapu ah Vis, kasihan" tukas Abdel, aku hanya mendelik ke arahnya.


"Gimana kalo pake itu aja" tangannya menunjuk sesuatu benda yang ada di pojok kelas, aku mengikuti arah telunjuknya. Kemudian senyumku mengembang.


"Boleh juga tu hihihi, kerjakan sekarang, tunggu apalagi!" seruku bersemangat.

__ADS_1


Dengan girang Abdel mengambil pengki tangan yang ada di pojok itu, kemudian mencopot gagangnya.


"Nah! kalo yang ini pas, lebih besar lebih mantap, warnanya kuning, toh kalo keluar tainya, jadi nggak ketara. Hwahaha!!" Abdel tertawa beringas, kemudian mencoba memasukan gagang pengki yang terbuat dari plastik itu ke lubang sempit milik Mujab. Mujab berteriak kesakitan tanpa suara.


"Duh susah amat, bantuin dong" serunya kesal, sambil terus mencoba memasukan gagang tersebut, dengan cara di putar dan mendusal-dusalkan ke arah annus Mujab sambil sedikit di tekan. Kali ini Mujab benar-benar pasrah, aku kembali jongkok di dekat wajahnya.


"Gimana?sakit?" Mujab hanya menganggukan kepala, dan kulihat matanya merem dengan erat menahan sakit, saat gagang pengki ditekan masuk ke duburnya. Kali ini bukan hanya keringat dan air mata yang keluar, tapi air liurnya juga tak berhenti mengalir dari mulutnya.


"Ini yang gue rasakan waktu itu" ucapku sedikit berbisik pada Mujab. Dia hanya terdiam kaku, kemudian menjerit pilu saat gagang tersebut telah berhasil menembus pertahanan Mujab. Anak-anak bersorak kegirangan, saat mereka berhasil memasukannya.


"Eh ternyata lucu juga ya! Jab, sekarang kamu punya ekor hihihi" seloroh Wakijan yang dari tadi diam saja memegangi tangan Mujab. Aku sendiri sampai tidak bisa menahan tawaku, kulihat gagang pengki itu tegak lurus, tertancap di pantat Mujab.


"Ambilin sapu itu bro"


"buat apaan Del?"


"udah bawah sini deh, kita buat Mujab berjoget ria"


"Hah!!" serempak bengong dengan perkataan Abdel, aku juga di buat bingung dengan ulah Abdel. Mujab lemas terkulai, merasakan batangnya yang panas luar biasa oleh balsem, di tambah pantatnya, yang nyerinya teramat sangat. Hidup tersiksa, mau mati tidak bisa.


Tok Duk, totok Duk duk.


"Tu kan Mujab goyang" ujar Abdel senang, karna sudah membuat Mujab berjingkat nyeri, saat gagang pengki yang tertancap di pantatnya, di pukul-pukul Abdel dengan gagang sapu yang di pegangnya. Teman-teman yang lain hanya terkekeh di buatnya. Sudah Puas bermain musik, Kini Wakijan mengambil alih dengan memaju mundurkan gagang tersebut. Hingga Mujab mengejan kuat menahan sakit yang tiada Tara. Setiap mengejan mulut comel Abdel tak berhenti meledeknya.


"Iya terus, tahan, dorong lebih kuat nak, bagusss! iya dorong lagi, lebih kuat!! terus! terus!" kami yang mendengarkan malah tertawa geli, dengan sikap Abdel yang menirukan dokter yang sedang membantu proses persalinan.


"Padahal masih seru lho Vis, ishh!!" Abdel munampahkan kekecewaannya, dengan menekan gagang pengki yang masih tertancap di pantat Mujab lebih dalam.


"AAAARRRTGHHHH!!" teriaknya keras kesakitan, terdengar sangat memilukan dan menyayat hati bagi yang mendengarnya.


Dia berdiri dengan sempoyongan, dan sesekali terjerembab kembali. Dengan susah payah dia berusaha berdiri, di saat dirinya masih membungkuk ingin berdiri, kami semua mengatupkan mulut kuat-kuat hingga menggembung pipi kami, karna tak kuasa menahan tawa, meledaklah seketika tawa kami bersama.


"Hwahahahaha! sumpah lucu banget, sampai meleleh air mataku" seru Abdel yang tertawanya paling keras. Mujab hanya memandangi kami satu persatu dengan perasaan geram. Bagaimana tidak? di saat dia membungkuk mau berdiri, kami melihatnya seperti monyet. Saat gagang pengki yang masih menancap di pantat Mujab bergerak naik turun, mirip ekor. Tersadar apa yang kami tertawakan, Mujab secepat mungkin mencabut gagang tersebut dengan kasar.


SLUUPP..


"AAUUUUKKKH" dia meringis kesakitan.


"Ye... bagusan gitu malah di cabut, depan ekor pendek, belakang ekor panjang" celutuk Wakijan sambil tersenyum nyinyir. Kami semua hanya melihat geli kepada Mujab, bag tontonan yang menyenangkan. Setelah memakai celana panjang dan sepatunya, Mujab berjalan keluar dengan merambati tembok sekolah, dia berjalan sambil membungkuk layaknya orang yang sudah renta. Karna tidak bisa berdiri tegak.


Ku menyusulnya, bukan Karna iba atau minta maaf, hanya sekedar memberi tongkat bambu buat penyangga di jalan. Tongkat bambu Pramuka yang aku ambil di pojok kelas, yang tadi menjadi satu sama sapu dan pengki tangan, yang sekarang gagangnya copot buat hadiah Mujab.


"Pakai ini, dan ini peringatan terakhir lu, berani macem-macem ma gue lagi. Tak segan gue habisin nyawa lu. Cam kan itu!" ancamku kepada Mujab, dia hanya terdiam menahan sakit depan belakang. kemudian melanjutkan jalan dengan membungkuk dan tertatih-tatih.


"meski lu tunangan gue, kalo lu kurang ajar ma gue, Gue tak akan diam" desisku membatin, sambil memandangi Mujab pergi dengan kesusahan.


*****

__ADS_1


POV PRASETYO


Hari ini penjualan di outletku cukup lumayan ramai, sampai malam ini pun aku masih melayani pembeli. Memang outlet Pulsaku termasuk cukup besar dan komplit di Desaku.


"Mau isi pulsa berapa mas?"


"dua puluh ribu aja kak"


"dari provider apa?"


"ini mas"


"sebutkan nomernya mas, atau di tulis di buku nomor itu" tunjuku kepada salah satu pelangganku.


"Sudah belum om" sela seorang pemuda yang sudah dari tadi duduk di outletku, untuk mengisi lagu di kartu memorinya.


"Oya, sebentar lagi selesai"


"pulsa sudah masuk ya kak" ujarku pada seorang yang beli pulsa tadi.


"iya sudah mas, berapa?"


"dua puluh dua ribu kak" setelah membayar kemudian langsung pergi.


"sekalian isiin film XXX nggak?" tanyaku pada seorang pemuda yang ada di hadapanku, yang menunggu dari tadi untuk mengisi lagu. Selain jualan pulsa, kuota, perdana dan aksesoris lainnya. Aku juga mengisi lagu, video dan film biru untuk menambah penghasilan.


"ada om? berapa?" tanyanya antusias.


"Murah kok, cuma sepuluh ribu perfolder, isinya seratus film, mantap gak tuh! karna kamu sudah isi lagu, nanti cukup bayar delapan ribu aja untuk filmnya" jawabku, merayu pelanggan.


"Wah, boleh tu om, sekalian aja" serunya senang.


"okey, aku isiin sekalian ya?"


wushhh...wushhh, ddrrrtt drrrtt.


hapeku berbunyi dan bergetar, ada pesan masuk. Lali ku baca dalam hati.


-sayang, ada duit nggak? aku kangen. pingin-


aku tersenyum senang, segera ku balas pesan dari Viska.


-ada sayang, pingin apa tuh?-


aku tahu, arah pesan yang di maksut Viska ini kemana. Aku hanya ingin menggodanya. aku suka kalau Viska merengek manja, dan minta belaian lembutku.


Episode selanjutnya, BOCIL skip aja ya? hanya untuk umur 21+.

__ADS_1


terus dukung karyaku dan jangan lupa follow ya kak, trims.


__ADS_2