
Satu tahun berjalan, perjalanan Bisnisku di dunia hitam mendapat masalah besar, Narkoba yang rencana mau dikirim kepadaku disita Negara karna tertangkap oleh Badan Narkotika Nasional yang disingkat BNN, di pelabuhan Batam.
Tidak tanggung- tanggung total keseluruhan Narkoba yang disita sebanyak 2 ton, sebagian besar adalah Ganja, sabu, ekstasi dan heroin.
Beritanya cepat tersebar, baik dari media cetak maupun lewat berita ditelevisi Nasional, dengan tertangkapnya barang bukti itu secara otomatis namaku juga terseret didalamnya.
Aku kumpulkan semua anggotaku untuk segera merapat ke basecamp,
"teman-teman, kalian pasti sudah tau semua mengenai tertangkapnya barang kita yang ada dipelabuhan Batam, dan dari info yang gue dapatkan, semua nama kita ada dalam Daftar Pencarian Orang atau DPO di Polda Jateng, cepat atau lambat kalau kita tidak cepat bergerak, kita semua akan tertangkap!"
"terus kita harus gimana Vis??" tanya Katrine panik.
"Maka dari itu gue kumpulin semuanya disini, apakah ada yang punya ide, atau saran barangkali?"
aku lihat semua temanku terdiam, bingung dengan pikirannya masing-masing.
"Andreano gimana kabarnya Vis?" tanya Lena memecah keheningan.
Aku menarik nafas panjang, rasanya sudah cukup sepak terjangku di Dunia hitam ini, nyesek banget dadaku.
Pikiranku kacau, kalau aku berhenti dari bisnis ini bagaimana kelangsungan hidupku?, tidak mungkin aku hanya bisa mengandalkan pendapatan uang dari menjadi biduan dan model, itu masih kurang, sangat kurang.
Aku hanya bisa menyembunyikan Masalah pribadiku, sesuatu yang sangat rahasia, yang tidak mungkin aku ceritakan kepada semua temanku, hanya Lena yang tahu tentang diriku yang sebenarnya.
"Andreano sekarang mendekam di LP Cipinang Jakarta Timur, selain kasus keterkaitan dengan Narkoba, dia ditangkap keterlibatannya dengan perampokan di salah satu Bank besar di Jakarta" jawabku sedikit menjelaskan tentang Andreano.
Memang saat ini Perusahaan Andreano sedang mengalami pailit dan akan bangkrut, di tambah lagi dengan kasusnya sebagai dalang dari bencana ini yang menimpaku dan teman- temanku, sehingga Andreano membutuhkan uang yang tidak sedikit jumlahnya untuk menutupi semua hutang-hutangnya.
"Karna sekarang sudah tidak ada lagi yang bisa kita mintai tolong" kataku lebih lanjut,
"untuk sementara kita bersembunyi dulu dari kejaran Polisi, kalau kita tetap disini akan lebih berbahaya"
"caranya gimana Vis? sembunyi dimana?" sahut Angie yang kebingungan, yang dari tadi cuma diam saja.
"Terserah, kalian sembunyi dimana, yang penting kita berpencar, semua yang berkaitan dengan jati diri kita, kita buang jangan meninggalkan jejak apapun, kita bersembunyi sampai waktu dimana suasana tenang, kalau gue sendiri akan balik ke kampung dan akan tinggal bersama orang tua gue" kataku menjelaskan.
Semua sudah memikirkan masing- masing, kemana mereka akan pergi dalam persembunyiannya dan aku juga meminta untuk membuang semua kartu chip di hp yang di pakainya sekarang, termasuk mengahapus kontak nomor, jadwal acara dan foto-foto kebersamaan kita yang ada di galeri-galeri hp.
__ADS_1
Disaat ini kami semua merasa sedih karna harus berpisah dengan teman-teman yang sudah kami anggap saudara, banyak kenangan manis yang tertoreh dan terukir indah di benak kami.
Aku menitikkan air mata, begitu juga dengan yang lainnya, Katrine dan Angie sampai terisak keras tak sanggup berpisah dengan kami semua, kami kemudian berpelukan untuk berpisah.
"Jaga diri kalian semua ya, suatu saat kita pasti akan bersatu kembali seperti semula" kataku menyudahi pertemuan ini, air mataku tak berhenti mengalir hingga membasahi kedua pipiku.
"Len, nanti sore lu ikut gue kejakarta ya, gue mau ketemu Andreano, ada sesuatu yang penting yang ingin gue bicarakan sama Andreano"
Lena hanya mengangguk, Karna tak sanggup untuk berbicara, dia masih larut dalam kesedihan, matanya merah sembab berair sesekali menyekanya dengan sapu tangan yang dibawanya.
Satu persatu kutatap punggung teman- temanku saat pergi meninggalkan basecamp,
"mungkin ini jalan yang terbaik, gue harap mereka bisa menemukan masa depan yang lebih baik, gue gak mau mereka terus terjerumus bersamaku dalam lembah kenistaan, jalan mereka masih panjang dan tak selamanya kita akan selalu bersama, maafin gue temen- temen" gumamku dalam hati, tak terasa buliran air mata kembali membasahi pelupuk mataku.
Musik mellow mengiringi perjalanan kami ke Jakarta, dalam perjalanan Lena hanya diam fokus menuju jalan yang di depannya, tidak ada lagi gelak tawa dalam mobil ini, tidak ada lagi suara riuh saling mengejek, yang ada hanya pikiran kalut berkecamuk yang membuat kepalaku terasa penuh dengan masalah.
"Minggir dulu Len, kita cari makan" kataku menyuruh Lena untuk mencari resto terdekat, sekalian istirahat sebentar.
Kulihat Lena agak kecapekan menyetir sendiri, Jepara- Jakarta akan kami tempuh kurang lebih delapan jam, maka di tengah perjalanan kami berhenti sebentar untuk makan dan mendinginkan mesin mobil.
Setelah kurasah cukup beristirahat sebentar, kami melanjutkan perjalanan kembali, hampir tengah malam kami sampai dijakarta.
Lena membelokan mobilnya keparkiran hotel sesuai permintaanku, selesai menyelesaikan administrasi hotel kami menuju kamar yang sudah kami pesan,
"nggak mandi lu Len?" tanyaku pada Lena, karna kulihat baru masuk kamar Lena langsung menjatuhkan dirinya diatas kasur yang empuk, sambil menelentangkan tangannya lebar, aku hanya bisa menggeleng tersenyum.
"Ah nggak, males gue Vis!!, lu aja sono yang mandi" jawabnya males dengan mata terpejam,
"mungkin dia sangat lelah" pikirku, aku masuk ke kamar mandi, dan
Jessstt, sroottt
suara keras air dingin sower membasahi seluruh tubuhku, sengaja kusiramkan air dingin dikepalaku biar terasa sejuk otak ku, yang sudah terlalu panas memikirkan masalah yang membelit ku saat ini.
Ku lanjutkan dengan berendam air hangat dalam bathtub sebatas leher, kurasakan urat saraf yang menegang sedikit kendur dan sedikit rileks, aku buat senyaman mungkin tubuhku, ku hibur diriku sendiri dengan bermain busa putih dan gelembung- gelembung sabun cair yang kubalurkan ke sekujur badanku.
"Huh, dasar kebo!!" kulihat Lena sudah mendengkur halus, sesaat aku keluar dari kamar mandi,
__ADS_1
"makasih ya sobat, lu adalah sahabat sejati gue, lu selalu ada buat gue, maafin gue selalu merepotkanmu" kupandangi wajah Lena yang bulat, masih terlihat cantik dan seksi tubuhnya meski kecapekan, ku kecup keningnya kemudian ku cium lembut bibirnya yang sedikit terbuka.
Aku keringkan rambutku dengan handuk, hanya memakai ****** ***** dan tanktop tanpa bra, terus aku merebahkan diriku di samping Lena, berusaha memejamkan mata untuk meraih mimpi indah.
Jam 10 kami tiba di LP Cipinang, setelah mendaftar dan menyerahkan identitas kepada petugas Lapas, kemudian petugas Lapas memeriksa barang bawaan kami,
baru kemudian petugas Lapas menyuruh kami menunggu ditempat duduk yang telah disediakan bagi penjenguk.
Sorot mata tajam dan terangnya, di padukan senyum menawan yang mengembang di bibirnya, Andreano datang menghampiriku, tidak nampak dia seorang tahanan atau tersangka,
bisa dilihat dari pakaian formalnya yang dikenakannya saat ini.
"Uh, tetep tampan dan menawan meski dia seorang tahanan, orang berduit memang beda ya kalau di Lapas, tetap kelihatan elit, berwibawa dan berkelas" celutuk Lena, aku hanya mengangguk mengiyakan.
"Hai sayang, gimana kabarnya? gue kangen banget ma lu" kata Andreano memeluku hangat, mencium kening dan bibirku dengan mesra.
"Kabar gue baik sayang, seperti yang lu lihat, meski agak sedikit capek sih" jawabku menarik nafas panjang, tapi sudah sedikit terobati dengan bertemu Andreano.
"Ada perlu apa sayang, kayak penting banget" tanyanya kemudian duduk di kursi yang ada dihadapanku,
"gak terlalu penting sih sayang, kangen aja sama lu, dan ada sedikit sesuatu yang harus gue sampein ke lu" jawabku menggigit bibir bawahku, takut kalau yang aku katakan nanti menyinggung perasaannya atau dia tak menerimanya.
"Katakan aja sayang, dan kalau ada apa- apa gue bakal bantu lu kok"
"iya sayang makasih, gini sayang Sudah setahun lebih gue gak pulang kerumah, kasihan orang tua gue dikampung pasti sudah kangen banget ma gue, kita juga lagi kesandung masalah kan? gue sudah jadi DPO juga, jadi lebih baik untuk sementara kita berpisah dulu" kataku sedikit gemetar dan tidak berani memandang wajahnya.
"Apa!! berpisah? gila, ini gila!!" sahut Andreano keras, meremas kepalanya dengan kuat, dia kaget dengan keputusanku yang cepat ini.
"Dengarin dulu sayang, masih ada satu lagi yang ingin gue katakan ke elu" pintaku lembut,
setelah Andreano agak mereda emosinya, aku lanjutkan kembali perkataanku.
"Gue ingin lu tetep menjalani hukuman sebagaimana mestinya"
"ini benar-benar gila!! besok pun gue bisa bebas sayang, Pengacara gue sudah mempersiapkan semuanya, oh Tuhan, sebenarnya apa sih yang lu inginkan dari gue sayang, hah!!" hardik Andreano kepadaku, aku hanya terdiam menunduk.
Braakkk,
__ADS_1
Andreano berdiri dan menghentakan tangannya ke meja dengan keras, aku dan Lena sampai kaget dibuatnya, termasuk orang-orang yang ada disini.
"Haahh, gue bisa sinting dan gila beneran disini!!" amarah Andreano meluap seketika.