
bocil sabar dulu ya, ini masih kawasan dewasa... segera di skip daripada nanti minta kawin cepat.
Angin pantai menyapu wajah kami dengan lembut, hawa dingin sudah terasa merasuk ke tulang. Namun tidak dengan kami, darah kami mendidih,semangat api asmara terus berkobar membakar gairah kami yang larut dalam buaian-buaian cumbuan panas.
"Oh sayangku jangan siksa aku begini" desah Viska tak kuasa menerima cumbuan yang aku berikan. Tangan kananku menyusup ke bawah masuk dalam handuknya, dia menggeliat nikmat. Tangan kiri Viska meremas lembut kepalaku dan tangan kanannya masih usil membelai batang lembut milikku yang ingin berontak keluar dari dalam celana.
"Ayo dong beby buka celananya, aku sudah tidak tahan lagi" rengek Viska memelas.
"Sabar bentar ya sayang" bisiku sambil menjilat daun telinga Viska.
Aku masih memeluk Viska dari belakang, sambil memainkan jari-jariku, Viska mendesah pelan menambah gairahku semakin memuncak.
Perlahan aku buka celana yang masih melingkar erat di pinggangku, tanpa lama aku sibak handuk Viska dari belakang. Dan
SLEB, AUWWW...
"Uh.. beby pelan-pelan dong" lirih Viska meliriku,tangannya memegang erat teralis balkon.
"Maaf sayang, udah gak tahan" balasku tersenyum sambil menggoyang kan badanku pelan, maju mundur cantik.
Kami terus berpacu pelan menikmati pelayaran di lautan asmara, suara deru ombak pantai beradu dengan racauan nikmat yang kami lontarkan silih berganti.
"Aoh beby, sungguh pengalaman yang menyenangkan, nikmat banget sayang" aku mendesis dan terus melancarkan serangan dengan tempo tak berubah. Pelan tapi pasti.
"Sss, iya sayang, aku kangen banget sama belaianmi, desahannmu dan kegagahanmu.. terus beby, lebih dalam aohh... yahhh" racau Viska semakin liar.
Hampir satu jam kami merengkuh berdayung bersama menikmati goncangan-goncangan panasnya bahtera cinta. Dan aku sudah tak tahan untuk menyemburkan lahar panas yang sudah berontak ingin di keluarkan.
"Cayang, aku mau dapet nih" seruku sambil terus bergoyang seirama dengan angin malam yang semakin kencang.
"Iya sayang, aku juga mau sampai puncak, kita barengan aja,uuuhhh mantap beby" sahut Viska terengah-engah, dia semakin erat memegang teralis balkon dan semakin liar gerakannya.
__ADS_1
Aoww aowww yessss, serrrr.
Aku memeluk erat Viska dan ambruk menindih punggungnya dia.
"Sayang, jangan gitu dong, aku gak kuat, tubuhmu berat" ucap Viska dengan nafas yang memburu, ternyata Viska juga sudah mencapai puncaknya bersamaan denganku.
"Terima kasih beby" aku mengecup pipi kanan Viska, dan Viska balik badan kemudian memelukku.
"Aku juga sayang, aku puas banget, emmm" bibirku di lumatnya dengan rakus, sampai aku gelagapan.
Sambil mengatur nafas, aku ajak Viska masuk kedalam kamar, karna angin di luar semakin dingin, sampai kamar aku langsung merubuhkan tubuhku di kasur di susul Viska tidur di sampingku.
Setelah ku rasa tenagaku sudah pulih, aku berjalan berdiri menuju gantungan handuk yang ada di dinding hotel.
"Mau ngapain beb?"
"mandi dulu biar seger, terus bisa tancap gas lagi" balasku nyengir, Viska cuma tersenyum manis. Aku lilitkan handuk di pinggangku, lalu aku gantungkan celanaku di dalam almari yang sudah tersedia di hotel.
"Mau aku bikinkan kopi sayang"
"okey"
Viska bangkit terus menuju meja yang sudah tersedia kopi dan kemudian mengambil air mineral botolan segera memasukan ke panci elektrik untuk di masak.
"Aku tungguin aja ah kopinya"
"lho gak jadi mandi nih"
"nanti dulu ah"
Cesss..
__ADS_1
Aku nyalakan korek dan aku sulut rokok filter kesukaanku,ku sesap pelan kemudian aku tiupkan asapnya dengan nikmat.
"Taruh mana nih kopinya beb?"
"taruh aja di situ beb" aku berjalan mendekati kopi yang ada di meja, aku tiup-tiup sebentar kemudian kusruput kopiku dengan nikmat.
"Oya beb, apa kamu ada hubungan dengan Josep dan Marko?" aku teringat kejadian tadi sore sewaktu di pantai, mendengar pertanyaanku Viska sedikit terkejut, lalu dia duduk di tepian kasur sambil memandangku.
"Cuma kenal aja kok beb" jawabnya santai.
"Oh cuma kenal ya?"
"Hm, iya Napa memang beb?" Viska balik tanya.
"Ah nggak apa-apa beb, kayaknya kulihat tadi Marko dan Josep kayaknya sudah kenal lama dan akrab sama kamu gitu"
"Ya kan tadi udah aku bilang sayang, mereka tu teman bapak sewaktu dulu Bapak jadi tukang parkir di pasar"Viska berdiri terus mengecup bibirku dan berlalu ke dalam kamar mandi
Aku hanya terdiam cuek, Ah bodo amat yang penting saat ini aku bisa menikmati tubuh Viska yang seksi dan gemoy. Satu batang rokok telah habis, saat Viska keluar dari kamar mandi aku gantian masuk kedalam kamar mandi.
"Lama amat di dalamnya beb, kamu gi ngapain?"
Viska cuma menatapku gemas dan tersenyum.
"Gara-gara inimu mengalir keluar" sahut Viska seraya meremas pelan si otongku, aku cuma nyengir.
"Oh kirain lagi maenan sikat gigi, hihihi"
"woi enak aja, ada yang lebih asyik, ngapain juga pake sikat gigi" seru Viska tertawa agak keras, tapi aku suka lihat dia tertawa ceria gitu.
Selesai mandi aku istirahat sebentar untuk memulihkan tenaga, dan tak lupa juga kami pesan makan malam biar bertenaga saat olahraga malam nanti bersama Viska, kemudian selesai makan kami lanjutkan pertarungan hingga beberapa ronde sampai menguras tenaga, tapi kami puas bisa melepas hasrat rindu yang menggebu. Bukan rindu tapi nafsu.
__ADS_1
Hari masih remang, aku sudah di jalan mengantar Viska kembali ke pondokan, karna aku juga masuk kerja pagi-pagi,maka meski masih gelap dan tulang rasanya remuk semua aku paksakan untuk kembali mangantar Viska ke ponpesnya biar aman dan kondusif.
Jam 07.15 pagi aku sudah sampai rumah, jantungku berdegup kencang tatkala kulihat Istriku Fatimah sudah ada di depan pintu dengan tampang sangarnya.