ISTRI MUDAKU MAFIA

ISTRI MUDAKU MAFIA
BAB 29


__ADS_3

Ceklek, Aku buka pintu. Dua orang yang didepan melihatku tidak berkedip,dengan cepat melepas kaca mata yang di pakainya.


"Waw! Bidadari Brow!" seru seorang kepada temannya.


"Bank settan ya!"seruku pula, dan mempersilahkan masuk. Mereka saling berpandangan bingung dengan ucapanku barusan.


Ciyeee, Bidadari dan settan ketemuan.


Bank settan hanya sebutan bagi Bank mingguan oleh warga kampungku, mereka adalah karyawan Koperasi swasta yang di tugaskan untuk mencari nasabah dengan cara keliling kampung. Menawarkan pinjaman uang dengan cara mudah dan simpel, tanpa melalui proses yang rumit dan tanpa Jaminan yang berarti. Hanya cukup dengan foto copy Kartu Keluarga dan Kartu tanda Penduduk, warga sudah bisa mendapatkan uang.


Dengan cara yang mudah itulah banyak warga yang terjerat hutang dengan Bank ini, Bunga yang harus dibayarnya tidak tanggung- tanggung, sebanyak 20% dari nominal hutang, belum lagi ada potongan administrasi dan tabungan wajib. Yang paling menjengkelkan, setiap seminggu sekali karyawan ini berkeliling untuk menagih hutang, mereka kerja dengan sistem target. Tidak perduli punya uang atau tidak, pokoknya setiap mereka datang harus membayar hutang sesuai perjanjian. Apabila si tuan rumah pergi atau sengaja ngumpet, mereka akan tetap dengan setia menunggu sampai datang, bahkan sampai malam hari. makanya di sebut Bank settan.


Kupersilahkan Abangnya untuk duduk menunggu.


"Sebantar ya mas, aku panggilkan Mamak dulu" Kulihat mereka hanya duduk di lantai, tidak duduk di kursi ruang tamu. Ah mungkin sudah biasa merakyat pikirku.


Mamak datang dengan senyum mengembang di bibirnya. Aku mengikuti di belakang Mamak, masih ada rasa penasaranku. Masih berapa kira-kira hutang Mamak ke mereka.


"Aduh mas ganteng sudah datang to, aku bayar segini dulu ya" sifat ganjen Mamak kumat lagi. di sodorkan dua ratus ribu ke Masnya, "berarti masih kurang enam kali lagi ya Bu?"jawab seorang yang masih kelihatan muda dan cukup tampan.


"Lha kok cuma dua ratus yang dibayarkan Mamak, bukankah tadi tak kasih hampir dua juta?" batinku heran, aku kira Mamak pasti Korupsi nih.


"Ini anaknya ya Bu, kok baru lihat aku?"tanya seorang yang masih muda, sambil mengarahkan senyum nakal ke arahku.


"Iya ini anakku, baru pulang tadi malam. Cantikan? kayak Mamaknya?"jawab Mamak ganjen, aku hanya melirik Mamak risih.


"Haduh punya anak cantik gini kok nggak dikenalin ke aku sih Bu!"


"anak ku namanya Viska, orangnya pemalu, Maklum masih gadis"jawab Mamak sambil senyum-senyum genit.


Ish, Mamak bikin malu saja, aku berdiri langsung menuju kamar. Mamak hanya memandangku heran,"hei Vis?mau kemana Nak? di ajak kenalan masnya ini lho" kata mamak mau menahanku, tapi aku tetep cuek. Dari balik kamar kudengar Kedua orang itu pamit untuk melanjutkan pekerjaannya. Belum lama mereka pergi, datang dua orang lagi dari Koperasi yang berbeda. Aku mengelus dadaa,dalam seharian ini sudah enam koperasi yang berbeda datang silih berganti.


Tiga hari dirumah sudah membuatku pusing tuju keliling, tiap hari di tagih Koperasi yang berbeda,pantesan Bapak dan Mamak setiap hari harus muter cari utangan. Kalau begini terus tidak akan bisa selesai, malah makin mendalam dililit hutang. Bapak hanya bisa pasrah, sedangkan Mamak hanya menangis, tatkala belum mendapat uang untuk membayar Koperasi.


"Kamu mau kemana Vis?" tanya Bapak ketika melihatku mengeluarkan sepeda motor dari dalam rumah.


"Aku mau cari kerja pak, Kasihan Bapak dan Mamak tiap hari di samperin Bank settan"jawabku, kulihat wajah Bapak kelihatan murung, sampai kumis tebalnya ikut melorot turun. Setelah motor aku taruh di luar, aku samperin Bapak yang duduk di kursi ruang tamu.


"Pak, aku pamit dulu ya?"


"tunggu sebentar, duduk sini" kata Bapak menahanku dan menyuruhku duduk disebelahnya. Aku menuruti Bapak dengan duduk disebelahnya.


"Ada apa Pak?"


"kamu tidak kembali ke kota lagi Nak?"


"tidak pak" jawabku sambil menunduk.


"ada masalah apa Vis?"tanya Bapak mengejar.

__ADS_1


"Pingin kerja di rumah saja pak" jawabku berbohong.


"Bukankah menyanyi dan jadi model adalah yang kamu inginkan sejak kecil Vis?ceritakan saja ke Bapak"ujar Bapak santai.


"Kamu kan tahu, Bapak sudah tahu semua tentang pekerjaan yang kamu lakukan di kota, Bapak juga tahu kamu ingin membahagiakan orang tuamu, tapi jangan korbankan dirimu Nak. kamu juga harus memikirkan masa depanmu. Jadi buat apa kamu tutupi masalahmu dari Bapak" sambungnya menenangkanku.


"Iya pak, kami dapat masalah. barang kiriman dari Batam tertangkap BNN, dan Andreano sekarang mendekam dalam LP cipinang, sekarang aku dan teman-teman menjadi DPO pak, menjadi buronan. Makanya aku pulang pak, sedangkan teman-teman yang lainnya aku suruh lari dan bersembunyi. sekarang entah dimana mereka sekarang, aku sendiri tak tahu pak" jelasku kepada Bapak, Bapak malah tertawa.


"Hahaha untung ya, kamu jadi buronan" kelakar Bapak.


"Lho kok malah beruntung sih pak!" seruku heran.


"Lha kalau kamu tidak jadi buron, kamu tidak ingat orang tua dan tidak pulang to, iya kan?" aku hanya mengangguk tersenyum, mendengar jawaban Bapak yang lucu.


Kemudian aku berpamitan sama Bapak, setelah mengucapkan salam aku langsung memacu motorku cukup kencang. Tujuan pertama aku meluncur ketempat teman terdekat, cari-cari info soal pekerjaaan.


"Okeh trims ya infonya, aku akan segera kesana" jawabku, lalu aku menuju lokasi Pabrik yang dikatakan temanku tadi, dan di suruh menemui orang yang bernama mas Danu.


Sampailah aku di tempat tujuan, setelah mengatakan maksut dan tujuanku kepada Satpam, akhirnya aku di antar keruang Pak Danu.


"Tunggu sebentar ya mbak, saya menghadap Pak Danu dulu" kata satpam kepadaku, aku tersenyum mengangguk.


"Selamat pagi pak" aku sapa pak Danu, setelah pak Satpam menyuruhku masuk untuk menemui Beliau, aku kira pak Danu orang sudah tua. Ternyata masih muda dan berotot kekar, terlihat dari bentuk dadanya yang bidang dengan kemeja putih sliminfit, dan senyumnya menawan.


"Ya selamat pagi mbak, silahkan duduk" dengan agak grogi aku duduk didepannya yang terbatas meja kerja besar, yang diatasnya ada berbagai tumpukan kertas laporan.


"iya Pak"


"mbak bisa menjahit?"


"ya bisa Pak" jawabku tegas, jangankan menjahit, merubah kain menjadi busana mewah aja bisa. Jangan salah ya, Cantik-cantik gini aku desainer lho.


"Kebetulan, kami kekurangan karyawan untuk menjahit mbak, biar nanti pak Han yang mengantarkan mu untuk melihat-lihat tempat kerjamu" kata Pak Danu, lalu melakukan panggilan dengan telpon kantor yang ada didepannya.


"Pak Han, tolong keruangan saya sebentar"


"iya Pak"balas orang di balik telepon.


Tak lama datanglah orang paruh baya menghadap Pak Danu.


"Mbak Viska, ini Pak Handoko, ia nanti yang akan menjadi Supervisor mu dan akan menunjukan mu tempat kerjanya" lanjutnya mengarahkan ku.


"iya baik pak" jawabku sambil mengangguk, tak lupa sebuah senyum manis aku lemparkan ke arah Pak Danu.


"Mari silahkan mbak" kata Pak Handoko, mengajakku untuk keluar dan keliling Pabrik yang nantinya aku bekerja.


Pak Handoko dengan sabar menjelaskan semua tentang apa yang akan aku kerjakan besok, dan menjawab semua pertanyaan yang belum aku mengerti.


"Hai Viska" tiba-tiba ada yang memanggil namaku, suara perempuan.

__ADS_1


Aku menengok ke arah asal suara itu, tapi aku tidak mengetahui siapa kiranya yang memanggilku, karna banyaknya orang disini. Di tambah bisingnya suara mesin jahit dan Mesin obras saling bersahutan,


"Vis, Viska" suara cempreng itu lagi, kulihat seorang perempuan tersenyum dan melambaikan tangannya kearahku.


"Hah! rempeyek tengik, eh maksutku Ida Khasanah! dia bekerja disini juga to" gumamku dalam hati, ada rasa senang bertemu teman disini, apalagi tunggal satu kampung denganku. Aku juga melambaikan tanganku kepadanya.


"Bagaimana mbak, ada yang ditanyakan lagi" kata Pak Handoko mengagetkanku.


"Tidak ada pak"


"kalau sudah tidak ada, saya tinggal dulu ya mbak? mbak Viska bisa langsung pulang, atau melihat-lihat lagi juga boleh" kata Pak Handoko.


"Iya Pak, gue, eh aku mau kesana dulu pak, kebetulan ada temanku disana pak." Jawabku tersenyum, dan menunjuk ke arah Ida.


"Oya silahkan mbak, saya tinggal dulu ya mbak"


"ya Pak, trima kasih pak" Pak Handoko hanya tersenyum mengangguk.


"Viskaaa, makin cantik aja kamu, ngapain kamu disini?" tanya Ida senang saat aku menghampirinya.


"Aku besok mulai kerja disini Da, kamu dah lama kerja disini ya?"


"Hu'um, aku sudah tiga bulan disini, duh kamu makin cantik aja, besok kerjanya disampingku aja ya. Itu masih ada meja yang kosong,nanti aku yang bilang ke Pak Handoko. Oya kamu langsung pulang atau disini dulu lihatin aku kerja?"tanyanya nyerocos tidak berhenti. Aku garuk-garuk alisku, ini bocah kayaknya seneng banget lihat aku, ini seneng beneran atau ada maksut lain.


"Aku langsung pulang aja Da, mau beres-beres rumah" jawabku capek mendengar celotehnya.


"Baiklah, Oya besok jemput aku ya, sekalian kita berangkat bareng. nggak enak pinjam motor setiap hari ketetangga" katanya melas. Haah!! aku menghela nafas panjang, sudah aku duga, pasti si kunyuk ini ada maunya deh.


"Hu'um, nanti gue jemput lu. Udah ya gue pulang dulu."


"Yoi, hati-hati dijalan ya Vis, jangan lupa besok jemput aku ya!" aku berlalu tak menggubrisnya.


Tiba-tiba perasaanku tidak enak, dalam perjalanan pulang jantungku berdegup kencang. Kepalaku sedikit pusing, hampir beberapa kali aku kehilangan konsentrasi dan mau jatuh dari motor. Tetap aku tahan hingga sampai rumah. Di rumah sepi, Bapak Mamak pergi entah kemana, sedangkan dik Ubay pasti belum pulang sekolahnya.


Aku meringkuk di pojokan kamar, kuremas- remas kepalaku, aku Jambak kuat rambutku.


tokk tokk Assalamualaikum, ibu Roh!


tokk tokk, ibu Roh!


"MAMAK GAK ADA DI RUMAH!!" teriaku dari kamar. Ah sial!! pasti Bank settan.


"BUDEG LU YA!! UDAH GUE BILANG, MAMAK GAK ADA DI RUMAH!!" teriaku semakin kencang, tapi masih saja memanggil-manggil nama Mamak. Aku semakin geram dan sudah tidak bisa mengontrol emosiku.


"RAH ROH, RAH ROH!! EMANGNYA MAMAK GUE ROH GENTAYANGAN. AH SIAL!!"


Aku langsung berdiri dan mendatangi mereka, dengan langkah cepat dan penuh amarah kubuka pintu.


"BANGSATT!! BUDEG LU YA, GUE UDAH BILANG MAMAK GAK ADA DIRUMAH." aku acungkan pisau karter ke arah mereka, mataku mendelik emosi, ingin rasanya kulumat tubuh mereka berdua.

__ADS_1


__ADS_2