
"Sayang, lu pulang dulu gak apa- apa kok" kataku pada Andreano, nampaknya dia kelelahan.
"Tapi gue kuatir ma lu sayang, takutnya nanti ada apa- apa gimana? misal, teman- teman Barnadi datang kemari dengan masa yang banyak" balas Andreano,
Ada benarnya juga kata Andreano, terpancar dari mata terangnya dia kelihatan cemas dan sangat menghawatirkan keadaanku.
"Iya sayang, makasih ya" jawabku tersenyum sambil mengelus punggung tangannya kemudian menyambut tanganku dengan genggaman sayang.
"Eh gue keluar bentar ya, mau beli minuman dan bungkus makan, laper banget nih" kata Elvi yang bertubuh besar.
"Gue ikut juga ah, biar gak ganggu dua insan yang lagi kasmaran ini, yuk Ser sekalian lu ikut kita beli jajan" tambah lena semangat dan senyum yang mengembang.
"Ah bisa aja lu kutu" sahutku tersenyum, kulirik andreano juga tersenyum kemudian mengambilkan beberapa lembar ratusan ribu ke Elvi.
Seorang petugas membuka pintu sel atau tahanan sementara buatku,
"sebelum dilakukan pendataan dan introgasi besok pagi, silahkan masuk kedalam sell sementara mbak" kata seorang petugas kepadaku.
"Biar disini saja pak, saya jamin kita tidak akan macem-macem, apalagi melarikan diri" sela Andreano meyakinkan petugas.
"Tapi ini prosedurnya pak, dan aturannya juga begitu, demi kebaikan bersama" terang petugas menerangkan.
"Baik tunggu sebentar pak" jawab andreano kemudian pergi sebentar menelpon seseorang, setelah selesai menelpon, tak selang berapa lama telpon kantor polisi berdering dan diterima oleh petugas yang ngajak bicara padaku tadi.
Kemudian petugas itu datang menghampiri kami,
"baik mas dan mbak diijinkan diluar, tapi janji tidak boleh macem- macem atau mencoba melakukan perbuatan yang tidak menyenangkan" kata petugas kemudian berlalu ke meja kerjanya lagi.
"Haah" aku menguap dan meregangkan tubuhku karna kecapekan,
"pindah ke tempat yang lebih enak yuk sayang, cari tempat buat rebahan biar sekedar melepas lelah"pintaku pada Andreano, kemudian kami beranjak pergi dari dalam kantor polisi menuju mushola yang berada didepan kantor polisi.
Waktu menunjukan pukul 00.45 wib, kami berdua rebahan didepan mushola yang bersih tapi cukup dingin.
"Sayang, besok lu balik, aja biar gue disini ditemani teman- teman" kataku kemudian ke Andreano.
"Kenapa begitu sayang, malam ini pun gue bisa langsung membawa lu pulang, tanpa menunggu harus besok" kata Andreano meyakinkan.
"Iya tau sayang, tapi kan dari awal gue punya rencana disini, sudah lu tenang aja, kalau gue lagi butuh bantuan, nanti segera gue hubungin lu okey!!"
"okey dech, terserah lu aja yang, oya rencana disini berapa hari yank?" tanya Andreano sekedar ingin tahu.
"Yah kurang lebihnya satu mingguan"
__ADS_1
"busyet deh, lama amat yang, emang mau ngapain lu disini!!" kata Andreano kaget bercampur heran.
Aku cuma tersenyum, kucium pipinya untuk menenangkannya, kemudian Andreano menggenggam erat tanganku.
"Ehmm, ehmm ciee ciee kayak anak sekolah aja lu pacarannya" ejek Elvi dan yang lainnya datang tiba- tiba disampingku.
Aku dan Andreano bangun dari rebahan kemudian duduk bersama menikmati makan malam yang ala kadarnya, tapi tetep nikmat karna perut lagi lapar banget.
"Rencana selanjutnya apa Vis?" tanya Serly setelah selesai makan,
"nanti tak kabarin lagi semua, karna gue nantinya juga butuh bantuan semua kok" jawabku terus meneguk minuman botol yang dibeli Elvi.
"Ya baiklah, kalau itu maunya lu Vis" tambah Elvi kemudian,
"atau gini aja guys, kalian semua balik aja dulu, termasuk lu Andreano, biar urusan ini cepat kelar okey" kataku memberi saran pada semuanya.
Semua setuju, akhirnya mereka semua berpamitan padaku untuk balik, dan andreano besok pagi tak suruh pergi ke keluarga korban untuk menanyakan langkah apa yang akan diambilnya tentang kejadian ini.
Setelah semua pergi pulang, aku melangkah kedalam kantor polisi untuk tidur dalam sell penjara sementara,
"pak minta selimut dan bantal juga lotion anti nyamuk ya" kataku pada polisi penjaga.
"Iya mbak tunggu sebentar" jawab penjaga kemudian beranjak mengambilkan keperluan yang aku butuhkan,
Kulihat ada empat sell dua diantaranya sudah di isi oleh orang, kutunjuk sell pojok yang masih kosong, kemudian sipir membukakan pintunya untukku, setelah ku masuk dia pergi tanpa mengunci pintunya, orang yang di sell lain melihatku penuh keheranan, kok bisa pintunya gak dikunci, mungkin itu pemikirannya.
ya iyalah, gue gitu loch.
Belum sampai ku merebahkan badan, tiba- tiba datang dua orang polisi menghampiri dalam sellku, aku sedikit terkejut dan ada rasa takut pula,
"mau apa nih dua polisi mendatangiku malam- malam begini, bukannya ini jam istirahat" batinku mulai panik.
"Maaf mbak mengganggu sebentar, kami gak bermaksud apa- apa hanya ingin ngobrol sebentar sama mbak, Oya nama mbak siapa?" tanyanya tenang.
"Nama saya Viska Aulia pak" jawabku agak sedikit takut, karna tampang polisi ini cukup seram lebih seram dari Mak lampir.
"Tenang dan gak perlu takut dengan kami, perkenalkan nama saya Bachrudin dan ini teman saya namanya Fatkhurrozi" katanya mulai basa- basi.
"Niat kami datang kesini mbak, hanya ingin membantu kamu biar lolos dari hukuman mbak, karna mbak Viska telah melakukan pembunuhan berencana" timpal Fatkhurrozi seorang polisi tinggi besar dan berjambang lebat.
"Lha itu mbak menurut undang- undang yang diatur dalam Pasal 340 KUHP, yaitu: “Barangsiapa sengaja dan dengan rencana terlebih dahulu merampas nyawa orang lain, diancam, karena pembunuhan dengan rencana (moord), dengan pidana mati atau pidana penjara seumur hidup atau selama waktu tertentu, paling lama dua puluh tahun penjara" tambah Bachrudin menjelaskan tentang pasal- pasal dalam hukum tindak pidana, aku cuma mendengarkan saja, aku hanya menyimak dan mengangguk tanda paham.
"Waduh lama juga dan ngeri juga kedengarannya ya pak, terus bagaimana caranya supaya saya bisa bebas pak" tanyaku bergidik ngeri setelah dijelaskan oleh bapak Bachrudin, hanya pura- pura takut aja biar dramatis gitu.
__ADS_1
"Maka dari itu mbak, kami datang kemari mau menolong kamu mbak, sampai- sampai jabatan polisi saya ini pertaruhkan demi menolong kamu lho mbak" katanya meyakinkan, aku hanya terus mendengarkan celoteh mereka sambil berselimut memeluk kedua lututku, karna malam ini udaranya cukup dingin.
"Eh pak jongkok terus apa gak capek, duduk ja yang santai biar enak ngobrolnya" selorohku tiba- tiba begitu saja.
"Oh iya mbak, memang sebenarnya sudah capek dari tadi cuma aku tahan aja biar kelihatan kuat" balasnya sambil tersenyum, kemudian mereka berdua duduk bersila menghadapi dan terus melanjutkan rencana bantuannya buatku.
"Jadi gini mbak Viska, untuk bisa bebas dari hukuman ini mbak harus menyiapkan biaya segini" katanya sambil mengacung dua jari kearahku.
"Wow, murah amat pak, iya saya mau di bantu sama bapak" jawabku senang, mereka pun perpandangan ikut senang.
"Cuma segini kan, dua juta saja" kataku kegirangan sambil mengacungkan dua jariku ke arahnya, mereka cuma saling pandang melongo keheranan.
"Haduh, bukan dua juta mbak, tapi dua ratus juta, emang kasus mbak Viska itu kasus nyolong ayam, kok cuma dua juta" kata polisi Bachrudin bersungut- sungut tak senang.
"Kasus mbak Viska ini kasus tergolong berat lho mbak, hukumananya saja bisa sampai 20 tahun bahkan seumur hidup, apa mbak Viska mau selamanya mendekam dalam penjara!!" timpal polisi Fatkhurrozi mulai jengkel.
"Waduuhh, duit segitu darimana pak, aku ini hanya anak kampung, biduan panggung jalanan pak" kataku pasang muka memelas.
"Menurut informasi yang kami dapatkan, pacar mbak Viska kayaknya orang kaya ya, nyatanya mbak Viska bisa santai disini, sell penjara pun dibiarkan terbuka" kata polisi Bachrudin menyelidiki kebenaran tentangku dan Andreano.
"Apa iya pacarku mau mengeluarkan duit segitu banyaknya pak, kan kami juga baru jadian" jawabku menjelaskan.
"Lha mau gimana lagi mbak, mbak Viska mau mau bebas gak??, kalau mau bebas tolong di usahain ya mbak bagaimanapun caranya"
lha, yang pingin bebas aku kok, yang minta tolong mereka, gimana sih ini. jadi pingin tertawa ngakak.
"Iya nanti saya usahain pak, ya sudah kasih nomor hape bapak ja nanti kalau sudah siap dananya, saya konfirmasi ke bapak okey" jawabku santai, toh aku sudah ngantuk banget pingin mengistirahatkan mata dan tubuhku ini.
Dengan sigap mereka berdua memberikan nomor hapenya padaku, setelah aku mencatatnya dihapeku, mereka pamit pergi melanjutkan tugas malam mereka.
Malam menjelang pagi, rasanya baru sebentar aku memejamkan mata, terdengar suara ribut- ribut di kantor polisi.
"Iihhh, berisik ada apaan sih ini" suaraku parau, dan matapun enggan terbuka karna masih ngantuk banget.
Sayup- sayup kudengar suara gaduh di luar,
"nyawa balas nyawa!!" teriak seorang lelaki dengan lantangnya.
"Bunuh saja, bunuh saja!!" teriak yang lainnya.
"Aku gak terima, seret pelakunya kemari, biar kami bakar hidup- hidup orang seperti itu!!!" teriaknya garang dan penuh amarah .
Terdengar banyak orang diluar sana, apa iya temannya Barnadi pada mengerahkan masa guna mengadiliku secara hukum rimba, tiba- tiba jantungku berdegup kencang, ada sedikit takut juga was- was.
__ADS_1