
"Sudah lama menunggu ya" Viska hanya memperlihatkan barisan gigi putih yang rapi, yang bagi siapa yang melihatnya akan terpikat oleh senyum manisnya itu. Aku duduk di hadapannya.
"Sudah pesan makanan?" dia hanya menggelengkan kepalanya pelan, aku panggil pelayan. Ku lihat catatan menu yang di bawanya, setelah memesan makanan yang kami rasa cocok dengan lidah kami, pelayan itu pun berlalu pergi.
"Hmm, ngomong-ngomong ada apa beb kok tumben ngajak makan siang"
"bosen ja di rumah, tadi pagi aku habis uring-uringan sama Bapak" jawab Viska enteng. Aku hanya merapatkan alisku.
"Uring-uringan soal apa?" tanyaku penasaran.
"Biasalah beb, soal Mujab. Kemarin waktu kamu anterin aku pulang dari Rumah sakit, Mujab terus ngambek dan marah-marah nggak jelas gitu" terang Viska, mengambil minuman dari tangan pelayan yang sudah datang mengantarkan makanan pesanan kami.
"hm, lalu reaksi Bapakmu gimana?"
"ya Bapak membela Mujab terus, aku sudah berusaha menjelaskan semuanya. Tapi kayaknya Bapak masih saja kekeuh sama pendiriannya. Dan aku di minta untuk meninggalkanmu beb" aku menatap dalam Viska, dia hanya menundukan pandangannya.
"kamu setuju dengan keputusan Bapakmu beb?"
"Ya bagaimanapun Mujab adalah tunanganku beb, dan kita juga tidak akan bisa bersatu. Mengingat bahwa kamu sendiri sudah berkeluarga" jawab Viska datar dan lemah.
"Kamu sayang aku kan beb?" Viska hanya mengangguk lemah.
"iya aku sayang kamu beb, tapi aku harus bagaimana? tidak mungkin juga kan kamu meninggalkan anak istrimu demi aku, aku yang terlalu bodoh. Bisa sesayang ini sama kamu, kenapa kita terlalu jauh bermain perasaan. Padahal pada awalnya kita cuma bermain-main untuk mengisi hati kita yang sedang hampa dan kosong" ungkap Viska dengan Jujur. Dan aku juga menyadari hal itu. Memang benar, kita terlalu jauh dan terlalu panas bermain api. Aku menyuapkan makanan ke dalam mulutku, begitu juga Viska dia lahap banget makannya.
"Aku memberikan waktu satu bulan untuk Bapak, kalau bapak tidak bisa membujuk Mujab untuk menikahiku, maka aku minta pada Bapak untuk memutuskan tali pertunanganan ini beb" ujar Viska kemudian, aku sempat kaget juga dengan keputusan Viska. Dia terlalu berani mengambil keputusan sepihak.
"Mujab tahu hal ini tidak beb?"
"tidak, dia tidak mengetahuinya. Bosen aku tiap hari di gantung mulu ma dia" Tukasnya cepat, aku jadi bingung, aku harus mengatakan yang sebenarnya tidak ya, mengenai kehamilan Fatimah. Aku takut kalau aku mengatakannya, Viska akan marah. Bagaimanapun Viska sangat mencintai dan menyayangiku.
"Beb"
"iya, ada apa sayang" tatapannya tajam ke arahku.
"Aku mau ngomong sesuatu" bibirku gemetar, lidahku rasanya keluh.
"Ngomong apa beb? jangan bikin penasaran dong" jawab Viska memicingkan matanya.
Aku menggaruk rambutku pelan, menghilangkan rasa grogi yang menyelimuti perasaanku.
__ADS_1
"Anu beb, Fatimah hamil lagi"
"Apa!!" suara keras Viska menggema di ruangan itu. Aku sempat kaget juga mendengar suaranya.
"Busyiiit!!" dia mengambil minumannya kemudian meneguknya sampai habis, terus menggeprakkan gelas ke meja dengan kasar.
PRRAAKK, dia menatapku dengan tatapan benci, dia mendengus kesal dan sebal. Aku hanya mengusap wajahku dengan kasar.
"Sudah berapa bulan?" tanya nya ketus.
"Baru satu bulan beb" jawabku pelan takut menyinggung perasaanya.
"Gugurkan!" balasnya singkat namun penuh tekanan.
"Tapi beb, gimana dengan Fatimah?" jawabku mencoba menenangkan Viska yang sedang emosi.
"Gugurkan atau gue bunuh Fatimah" ancamnya dengan pandangan seolah ingin melumatku bulat-bulat. Matanya berubah menjadi merah dan menyalak kasar.
"Maksutmu apa beb?" aku makin tak mengerti dengan ucapan Viska yang sangat kasar, ancamannya begitu nyata. Seolah sangat ringan mengucapkan kata-kata yang tak seharusnya di ucapkan oleh seorang wanita.
"Lelaki semuanya sama saja, pembohong, pendusta! kurang apa gue sama lu? semua yang lu minta gue kasih, gue kira lu itu beda dengan cowok lain ternyata sama aja"
"Waduuuhh! ngalamat ganti rugi ini" pikirku sambil melihat pecahan gelas yang berserakan.
"Oh Tuhan!! kenapa Engkau tak membiarkan aku sedikit bahagia, kenapa selalu saja ada masalah yang timbul menghampiriku" Viska menelungkupkan wajahnya ke meja, dia memejamkan mata, menyesali kehidupannya.
"Apakah aku memang tak pantas di cintai atau mencintai? Kamu milikku Beb, dan selamanya akan jadi milikku" matanya mengarah tajam menusuk jantungku, aku terhenyak dengan ucapannya.
"Berani mengusik ku! akan ku bantai semuanya, termasuk Fatimah istrimu bila dia berani menghalangiku untuk mendapatkanmu" tudingnya keras ke arahku sambil berdiri, kemudian Viska pergi meninggalkanku yang masih duduk terbengong di resto sendirian. Aku tersadar, Viska suatu ancaman bagi keluargaku. Aku harus cepat-cepat mencegahnya, supaya tidak terjadi hal yang tidak di inginkan. Mungkin aku akan membujuknya, tapi bukan hari ini. Dia butuh waktu untuk berpikir, aku tahu ini sulit baginya, sudah banyak cobaan datang bertubi-tubi mencoba melemahkan mentalnya.
"Darimana mas?akhir-akhir ini kamu pulang terlambat terus" sapa Fatimah, saat aku tiba di rumah.
"Banyak tugas di kantor dik" jawabku memberi alasan. Fatimah hanya diam, dia sibuk dengan kegiatannya sehari-hari sebagai ibu rumah tangga.
"Ah, kasihan sekali Fatimah, setiap hari aku bohongi terus" Kulihat Fatimah yang sangat kerepotan menggendong Aini, sedangkan di tangannya sedang memegang pakaian kotor untuk di kumpulkan dengan pakaian kotor lainnya.
"Sini Aini biar aku yang gendong dik" pintaku seraya mengambil Aini dari gendongannya. Aini tersenyum senang saat aku meraih tubuhnya dari ibunya. Ku ciumi pipi gembulnya, Ku ajak bermain di halaman rumah, tak Lama Ghibran berlari menyusulku. Hidup di antara dua wanita yang sama-sama aku sayangi memang sangat merepotkan, di sisi lain aku harus berperan menjadi kepala keluarga yang baik, dan di sisi lain aku harus berperan menjadi seorang cowok yang siap melindungi dan memberi kenyamanan pada cewek yang masih labil dan manja. Tapi bisa membuatku dan memberikanku kesenangan batin. Sampai kapan aku akan berperan ganda begini yang kadang membuatku tersiksa.
"Ah Viska, sekarang kamu dimana? jangan membuatku takut" gumamku lirih dalam hati.
__ADS_1
"Kopi nggak mas?" suara Fatimah membuyarkan lamunanku.
"Iya kopi juga boleh dik" balasku tersenyum, Kulihat tampang Fatimah yang dekil dan semakin kurus saja karna habis melahirkan dan sering begadang kalau sikecil rewel minta di tetekin tengah malam. Meski dalam kekurangan Fatimah masih menerimaku dengan baik, aku saja yang kurang bersyukur dan mengerti. Kehidupan Fatimah nanti akan semakin berat dan tertekan, apalagi sekarang dia tau kalau dia saat ini tengah hamil anak ketiga.
"Yang sabar ya dik, jadilah perempuan yang hebat. Meski sering aku sakiti kamu masih percaya sama aku, bahkan kamu rela menolak ajakan ibumu untuk pulang saat tahu aku berselingkuh" gumamku lirih. Tak terasa mataku terasa sembab.
"Dik"
"iya mas" Fatimah menaruh kopi di atas meja, kemudian melihatku dengan heran.
"Ada apa mas?"
"sekarang kamu harus lebih hati-hati dan Waspada" kataku dan memberikan Aini ke pangkuannya.
"Maksutnya apa mas?" tanyanya bingung.
"Ya kan sekarang kamu tengah hamil, harus jaga kondisi kandunganmu dik" Jawabku mengalihkan, aku tidak mau membuat Fatimah ketakutan akan ancaman Viska, dia juga tidak mengetahui perihal hubunganku dengan Viska. Hanya desas-desus tetangga yang di dengarnya.
"Ya sebenarnya aku takut mas, gimana nanti aku, sanggup tidak ya merawat ketiga anak kita yang masih kecil-kecil. Apalagi nanti saat kamu pergi kerja" balasnya mengeluarkan unek-unek yang ada dalam pikirannya, aku hanya menghela nafas panjang. Ku sesap kopiku pelan, kemudian aku taruh kembali di atas meja.
"Kamu pasti bisa dik, kan sudah terbiasa" kataku memberinya semangat, dia hanya tersenyum kecil.
Saat tengah malam, Tiba-tiba hapeku berbunyi beberapa kali. Saat aku melihatnya, ternyata panggilan dari Viska.
"Ada apa dengan Viska tengah malam begini menelponku" ku matikan panggilan dari Viska, takut Fatimah terbangun dan curiga. Dan beberapa kali hapeku menyala lagi, aku mengangkatnya dan pergi keluar rumah agar tidak menganggu Fatimah dan anak-anak yang sedang tidur.
"Iya hallo beb, ada apa beb?" tanyaku panik.
"Oh sayang, kamu dimana? aku sangat membutuhkanmu" jawab Viska dari seberang.
"Kamu dimana beb?"
"hahahah bebyy, beri aku kehangatanmu sayang" suara Viska semakin ngelantur, yang membuatku semakin tak mengerti.
"Okey, okey besok pagi kita ketemu ya beb" balasku meminta tenggang waktu sama Viska, tidak mungkin juga aku tengah malam begini menemui Viska.
"Hohoho tidak bisa sayang, Gue maunya sekarang, Tut...Tut...tut..."
"hallo, hallo beb!" tiba-tiba hape Viska di matikan, yang membuatku semakin bingung dan bertanya-tanya.
__ADS_1
terus dukung karyaku dan jangan lupa follow dan beri hadiah ya kak, trims.