ISTRI MUDAKU MAFIA

ISTRI MUDAKU MAFIA
BAB 79


__ADS_3

Mataku terbelalak kagum saat melihat Viska memakai gamis, terlihat lebih anggun dan feminim.


"Beb kok bengong"


"eh, nggak anu beb, kita duduk dimana?"


"di situ aja yuk, adem dan enak" tunjuk Viska ke sebuah tempat yang ada tempat duduknya, di bawah pohon yang rindang.


"permisi mas, kami ngobrol sebentar ya?"


pamitku pada penjaga ponpes.


"iya kang, silahkan" angguknya sambil tersenyum ramah.


"Kok bisa sampai sini sih beb, gimana ceritanya"


"Sstt! pelan-pelan" ujar Viska celingukan lihat kanan kiri, aku juga mengikuti lihat kanan kiri.


"ada apa beb? nggak ada siapa-siapa kok" ujarku sambil duduk di kursi yang terbuat dari batang pohon.


"iya beb, takut nanti kedengaran santri yang lain, nanti bisa di laporin Abah sama umi"


"siapa itu Abah dan umi, beb? keamanan disini ya?'


"huss, beliau itu pengasuh ponpes ini, yang punya pesantren ini beb, kalau keamanannya ya itu tu" kata viska sambil melirikan matanya ke mas yang penjaga gerbang tadi.


"Oh... "


"peraturan di sini cukup ketat beb, termasuk para santri tidak memperbolehkan membawa hape, kecuali pengurus ponpes" ujar Viska menarik gamisnya dan melipatkan ke dalam kaki.


"Kamu tampak beda kok beb, lebih cantik dan berseri-seri, bikin aku makin klepek-klepek"


"hayo mulai deh gombalnya" ujar Viska tersenyum, aku mencoba memegang tangan Viska, tapi dengan cepat dia menariknya ke pangkuan.


"kenapa beb? pegang tangan aja nggak boleh. Aku kangen tau" tanyaku heran dan mengernyitkan alis.


"Eh kalau di sini nggak boleh beb, bukan muhrim. Hehehe, lain lagi kalau di hotel kamu bisa sepuasnya sama aku"


"aku juga kangen banget sama kamu kok beb" timpal Viska, ada raut sedih di mukanya.


"Kok kamu bisa sampai sini gimana ceritanya sayang?" tanyaku sambil mengambil rokok yang ada di saku, kemudian menyulutnya. Viska hanya memandangku, ku hisap rokok ku pelan.


Viska menundukan kepalanya, kayaknya dia bingung harus menceritakan darimana, dia menghela nafas sebentar.


"Setelah pulang dari hotel, sampai rumah aku di marahin bapak habis-habisan. Bahkan aku di gampar lagi sampai dua kali, bapak tau kalau aku pergi denganmu. Karna ada tetanggaku yang tahu kita masuk ke hotel Laksana beb"

__ADS_1


"wah mata-mata bapakmu tu beb"


"kebetulan lewat itu beb, ngapain juga bapak pakai mata-mata untuk ngawasin kita, buat bayar bank settan aja susah" sahut Viska.


"Terus, kamu di sini belajar kitab apa beb?"


"ya banyak beb, tapi aku fokus di hapalan aja. Suntuk tau beb di sini, kayak di penjara"


" kayak ngerti ja kamu di penjara, emang kamu pernah di penjara beb?"


"pernahlah" jawab Viska keceplosan, segera dia mengalihkan omongannya.


"Maksutku pernah lihat, sewaktu nganter orang ke Polres, di situ aku melihat orang di penjara beb"


"kayaknya di sini enak beb suasananya, damai dan tenang. Di hati juga adem gitu" ujarku sambil mengamati sekeliling ponpes.


"Aku bosen beb, kamu nggak pingin apa, sama yang hot-hot dariku" tukasnya sambil melirik manja ke arahku.


"Yaelah beb, ini di ponpes lho! masak ngomongnya gitu. Ya pingin atuh" jawabku sambil cengengesan. Viska di ponpes tetep saja nafsuan, hadeeehhhh.


"Lha iya makanya, buruan gi bawa aku pergi dari sini" rengeknya berharap padaku.


"Gimana caranya sayang?"


"lha beby kan biasa cerdas cari alasan" aku berpikir sejenak, sambil mandangin pohon jambu bergoyang-goyang tertiup angin. Cling, ahaaa.


"Gimana caranya beb?"


"udah tenang aja, biar aku yang atur. Oya minta ijinnya sama siapa"


"Ya sama Abah atau umi lah beb" jawab Viska merengut.


"itu kyainua ponpes ini kan beb" Viska hanya mengangguk.


"Terus beliaunya dimana beb?" tanyaku semangat.


"Kalau Abah sedang pergi karna ada panggilan beb, yang di rumah tinggal umi sama abdi dalem"


"abdi dalem itu apa beb?"


"santri juga tapi cewek, orang kepercayaan Abah dan umi beb, yang membantu pekerjaan rumah beliau" terang Viska.


"rumah nya yang mana beb?"


"itu yang dekat masjid, kalau sampingnya asrama putri beb, kamarku juga di sana, satu kamar di isi 4 sampai 6 orang" tunjuk Viska sambil melihat rumah kyainya. Aku berjalan menuju rumah yang di tunjuk Viska, dan Viska berjalan di belakangku. Lumayan luas juga ponpes ini.

__ADS_1


"Assalamualaikum?"


"Waalaikumsalam" sahut seseorang perempuan dari dalam rumah.


"Uminya ada mbak?"


"ada kang, tunggu sebentar ya?" jawabnya sopan sambil tersenyum, lalu kembali masuk ke rumah.


"Kok aku di panggil kang lagi ya beb, kan aku bukan kakangnya" aku nyengir ke arah Viska.


"ah kamu beb, kalau di pondokan emang gitu beb, untuk cowok di panggil kang"


"ohh, lha mbaknya tadi siapa? cantik dan manis hehehehe"


"ah dasar hidung belang, lihat yang kelimis aja langsung kepincut" tukas Viska sambil mencubit pinggangku.


"Itu abdinya beb, namanya Laila"


"Eh, ada tamu. Silahkan masuk kang, mbak Viska" kata seorang perempuan yang kelihatan masih muda, dengan ramah mempersilahkan kami masuk dan duduk.


"Ada perlu apa ya mbak? dan kang ini siapa?" tanya Bu nyai, yang biasa di panggil Umi oleh para santrinya.


"Maaf Bu, saya Prasetyo calon suaminya Viska. Maksut kedatangan saya kemari mau minta ijin barang sehari membawa Viska pulang Bu" jawabku sambil menundukan kepala, sedangkan Bu nyai memandangku dari atas sampai bawah. lalu membetulkan jilbabnya yang sedikit menceng. Ku lirik Viska gelisah, takut kalau tidak dapat ijin.


"Betul ini calon suamimu mbak?" tanya Bu nyai pada Viska. Masih tak percaya dengan pengakuanku.


"Iya Mi"


"ada acara apa di rumah kang, atau punya hajat apa sampai Viska harus minta ijin untuk pulang. Seharusnya kalau ada sesuatu di rumah yang sangat penting, harus orang tuanya yang datang menjemput" terang Bu nyai. Datang Laila membawa nampan berisi tiga gelas teh hangat.


"Permisi Mi, ini teh hangatnya" sambil meletakan segelas teh di hadapannya Bu nyai, kemudian pergi dengan berjalan mundur kayak di keraton-keraton gitu. Aku terus menatap Laila, sampai hilang di balik korden rumah. Viska meliriku geram, karna tak tahu sedang di lihat Viska, kakiku di injaknya sampai aku kaget dan malu saat melihat tatapan mata Viska yang mendelik tajam ke arahku.


"Ayo silahkan di minum kang, mbak Viska" tawar bu nyai.


"iya Bu"


lalu kami menyesap teh dengan perlahan.


"Gini Bu, justru saya kemari di suruh oleh bapak Viska untuk menjemput Viska pulang. Karna, karna nenek Viska meninggal tadi jam sepuluh Bu" Viska tersentak memandangku, aku menundukan kepala sambil akting sedikit mengusap mataku yang tak berair. Biar dramatis lah.


"innalilahi wainnailaihi rojiun" gumam Bu nyai kaget.


"Tunggu sebentar ya, umi mau telpon Abah sebentar" ucap Bu nyai, lalu bergegas menelpon suaminya ke dalam kamar. Setelah Bu nyai pergi, Viska memijit keningnya.


"Aduuuuh beb, gimana kalau Abah dan umi ikut pulang melayat. Di kira nenek ku meninggal beneran. Kamu itu cari alasan yang masuk akal sedikit napa" bisik Viska bingung, dia hanya menggelangkan kepalanya sambil memijat minat keningnya terus.

__ADS_1


"Oh iya, kenapa tak terpikirkan olehku ya. Haduh, betapa bodohnya diriku" aku ikut memijat jidatku yang mulus tanpa jerawat.


terus dukung karyaku dan jangan lupa follow ya kak, trims.


__ADS_2