ISTRI MUDAKU MAFIA

ISTRI MUDAKU MAFIA
BAB 50


__ADS_3

Menjelang jam 10 malam, kututup outletku. Tapi aku masih saja asyik dengan hapeku, bercanda ria saling kirim pesan dengan Viska di dalam outlet.


-Aku ada berita seru, besok aku ceritain ya-


- berita apaan beb?jangan bikin penasaran dong-


-ada dech, beby pasti suka- jawab Viska.


Krieekk...pintu outlet tiba-tiba terbuka.


secara otomatis aku menoleh ke arah pintu.


"Ada apa dik" kulihat tatapan tajam Fatimah.


"sudah malam, dan outlet juga sudah di tutup, kenapa tidak segera kerumah mas?" tanyanya dengan curiga.


"masih ngitung barang yang sudah laku dik, sekalian besok aku mau ambil dagangan lagi" jawabku berbohong, padahal mau balas pesan dari Viska.


"Ngitung barang atau lagi maen hape? kirim-kiriman pesan sama siapa mas? Viska ya?" tanyanya penuh selidik.


"Yuk kerumah, anak-anak sudah pada tidur belum?" tanyaku mengalihkan pertanyaannya, lalu ku kunci outletku.


"Sudah barusan, kamu makan nggak?"


"kebetulan aku lapar, kamu masak apa dik?"


"biasa tempe orek kesukaanmu, sama sayur bening mas" jawabnya senang, dan lupa akan pertanyaannya.


"Asyek, besok bisa pergi dengan Viska nih, daripada di rumah, kenyang dengan omelan terus. Mending pergi kencan" kataku membatin, sambil senyum-senyum sendiri.


Di sisi lain.


DOKK...DOK...DOK.


"Vis, bangun!!" teriak Bapak, pagi-pagi buta sudah menggedor pintu kamar Viska dengan kasar.


"Vis, ayo bangun!! dasar pemalas! Bapak mau ngomong, cepetan buka pintu!" Bapak masih berteriak keras sambil menggedor pintu.


"iyaa!" sahutk Viska, dengan malas Viska bangun dari hangatnya selimut. Kemudian membukakan pintu untuk Bapak.


"Hoaaaamm, ada apaan sih pak, ngagetin aja" dia menggeliat dan masih ngantuk, sambil mengucek mata Viska bertanya heran pada Bapak.


"Sini kamu!" Viska di tariknya sedikit kasar ke ruang tamu, kemudian Bapak menyuruhnya duduk.


"Apa yang kamu lakukan dan teman-temanmu kepada Mujab, Hah!!" hardik Bapak keras, sambil mengusap wajah, Viskq pura-pura tidak tahu.


"Mujab kenapa pak?"


"Sekarang dia di rawat di klinik, anunya bengkak, lubang buat keluar telek robek" jelas Bapak geram.


"Oh" Viska hanya bisa mengucap O sambil manggut-manggut. Dalam batinnya.


"Untung Mujab masih hidup"


Bapak melanjutkan lagi perkataannya.

__ADS_1


"Kamu jenguk dia dan minta maaf"


"t-tapi pak, bukan aku yang melakukannya"


"iya bukan kamu, tapi teman-temanmu atas suruhan mu kan?" Bapak ngerti banget kelakuan anaknya, dan Viska jadi merasa bersalah sama Bapak, karna berani berbohong tadi.


"Kalau dia tidak kurang ajar padaku, juga aku nggak akan nglakuin itu pak" kata Viska mencoba membela diri, tapi menurutnya juga percuma. Pasti nantinya Bapak juga tidak akan percaya.


"Jangan membantah lagi, ini juga demi kebaikan kamu. Mujab itu tunanganmu, tidak sepantasnya kamu melakukan perbuatan itu. Hampir saja anak itu mati" Viska menundukan wajahnya kelantai, hampir saja tertawa, Bapak mengatakan kalau Mujab hampir mati. dan Viska hanya bisa menahan tawanya, sambil memainkan mulutnya yang cemberut.


"Iya pak, nanti tak jenguk Mujab" jawab Viska malas.


"Jangan cuma di jenguk, tapi di tungguin"


"hah! di tungguin? males banget nungguin dia" Viska sedikit kaget di suruh nungguin Mujab, padahal hari ini dia ada janji sama Prasetyo.


"tidak usah membantah, segera mandi, terus kesana. Lagian jadi cewek kok petakilan gitu, dari orok sampe Segede gitu nggak berubah" seloroh Bapak terus ngeloyor pergi ke dapur, mungkin haus, karna sepagi ini sudah olahraga mulut dengan Viska.


"males banget sepagi ini disuruh mandi, mending bergelut lagi ma selimut" Viska kembali lagi ketempat tidurnya, baru saja menyusup di balik selimut hangatnya, Bapak Viska sudah berteriak kencang dari dapur.


"Vis!! buruan!!"


"Hadeeehhhh, iya ya pak" dengan kesal di lemparkannya selimut yang tadi sudah membungkusnya. kemudian menyambar handuk yang tergantung di balik pintu kamar. Viska merasa kesal bukan Karna di suruh Bapak, tapi di suruh nungguin Mujab.


"Uh, menyebalkan sekali" dengusnya kesal.


Sampai di klinik, Viska langsung mencari kamar yang merawat Mujab,setelah ketemu, dia langsung mendatanginya dengan perasaan ragu.


"Assalamu'alaikum?"


"Waalaikumsalam!" semua yang ada di ruangan itu serempak menjawab salam, dan menoleh ke arah Viska. ada bapak Mujab dan satu lagi adik Mujab, mereka sedang menunggui di ruangan itu. Tahu yang datang adalah Viska, Bapak Mujab memberi muka tidak senang, karna dia tahu yang mencelakai Mujab adalah Viska. Dengan sikap dingin, Bapak dan adik Mujab menyambut uluran tangan Viska bersalaman.


"Lihat saja sendiri"


Viska melihat keadaan Mujab yang sangat menyedihkan, lagi tertidur lelap dengan dahi hitam lebam. Terlebih lagi bagian burungnya, kayak di kasih sangkar tapi tertutup selimut. Viska hanya tersenyum kecil saat melihat keadaannya.


"Menyedihkan sekali sekarang keadaanmu, biasanya sesumbar, sekarang terkapar" gumam Viska dalam hati.


"Sudah puaskah kamu sekarang Vis, telah mencelakai Mujab!"


"Iya pak, aku kesini juga mau minta maaf, tapi satu hal yang harus Bapak tau"


"Apa itu?" tanya Bapak Mujab heran.


"Aku melakukan itu juga karna Mujab telah menyakiti badan maupun hatiku, dan sangat tak pantas kalau aku ceritakan sama Bapak" Jawab Viska sedih, saat mengingat apa yang di lakukan Mujab atas dirinya. Mengingat hal itu Viska jadi kembali muak saat melihat Mujab, ingin rasanya melempar kursi ke muka Mujab. Namun sayang, kursi yang mau di lempar sedang di duduki Bapaknya Mujab.


"Ya udah pak, aku mohon pamit mau kerja"Viska memberi alasan untuk segera pergi dari tempat itu, dan segera menemui Prasetyo.


Kembali ke Prasetyo.


Cliriit cliritt titt titt,


biasa, sebuah pesan terlihat di layar hapeku.


-sayang, aku sekarang lagi di jalan. Ketemu di tempat biasa ya-

__ADS_1


Dengan segera ku balas pesan dari Viska.


-okey sayang, aku juga mau jalan, cepat sedikit ya, keburu penuh-


Segera ku kantongi hapeku, dan berjalan keluar menuju motorku yang terparkir di depan rumah.


"Dik, aku pergi belanja dagangan dulu ya"


aku berpamitan sama istriku.


"Ya, jangan mampir-mampir, cepetan pulang" jawabnya datar, sambi menyusui si kecil Aini, putriku yang kedua.


"Hm" jawabku cuek.


Segera ku melajukan motorku dengan kecepatan standar. Ingin rasanya segera ketemu dengan Viska, selain pingin melakukan olahraga bareng, aku juga penasaran dengan cerita serunya. Aku sudah sampai di tempat janjian, dan tak lama Viska muncul dengan senyum manisnya.


"Yuk sayang langsung berangkat, nanti nggak kebagian lho" ajakku sambil menyalakan sepeda motor.


"nggak kebagian apa sih sayang?" jawabnya enteng, terus naik dengan manja. Tercium wangi tubuhnya oleh parfum yang di pakainya, membuatku ingin segera menerkamnya.


"kebagian kamar dong beb, biasanya kan kalo hari libur gini, kebanyakan kamar hotel sudah penuh akan pelanggan" jawabku sambil melajukan motor, sedikit lebih kencang. Viska merapatkan duduknya, dan tangannya melingkar erat di pinggangku.


"nggak usah buru-buru beb, kalo nggak kebagian kamar, nanti kita lakukan di kamarku aja. Hehehe" jawabnya santai sambil menyandarkan kepalanya di pundak ku.


"emang boleh beb?"


"ya boleh dong, kamarku nggak kalah lho sama kamar hotel"


"masak sih beb?"


"iya beb, makanya maen dong ke rumahku" jawabnya kalem dan penuh rayuan. menambah gairahku saja.


Sudah dua kali aku membelokan motorku ke hotel, tapi semuanya sudah penuh. Dan untuk yang ketiga kalinya, akhirnya kami dapat satu kamar VIP.


"syukur deh masih dapat kamar" pikirku, walaupun sedikit lebih untuk mengeluarkan uang untuk bayarnya.


Setelah masuk kamar dan aku kunci, langsung ku sergap Viska dari belakang. Dengan membabi buta aku ciumi seluruh wajahnya, dan ku ***** bibirnya yang lembut.


"Sabar sayang, tak melepaskan jaketku dulu, dan aku mau ke kamar mandi dulu untuk pipis" meski berkata begitu, dia hanya diam dan menerima semua cumbuanku.


"Aku sudah pingin banget beb, ayo dong cayang" rengeku manja.


"Iya, semua pasti buat kamu sayang, nanti tak kasih yang spesial, sekarang lepaskan dulu ya" bisiknya dengan lembut, dan melepaskan pelukanku.


Sembari menunggu Viska ke kamar mandi, aku segera membuka semua pakaianku, lalu dengan santainya aku tiduran di atas ranjang yang empuk. Siap bertempur dengan Viska. Tak lama terdengar pintu kamar mandi terbuka.


"Sayang, maaf ya menunggu lama" senyumnya cantik banget, dan yang membuat aku tepanah adalah lekuk tubuh indahnya yang mempunyai daya maghnet tersendiri.


"Wow!! super sekali beby" pujiku kagum dengan keindahan tubuhnya, meski sudah berulang kali melihat tubuh Viska, aku tetap mengaguminya setiap melhatnya lagi. Apalagi kali ini dia keluar hanya memakai tanktop dan ****** ***** saja waktu keluar dari kamar mandi, membuat diriku semakin terbuai akan kemolekannya.


"Kemari cepat dong sayang, aku sudah menginginkannya" seruku tak sabar. Dengan lembut dia menghampiriku ke atas kasur, kemudian mulai mencumbuiku dengan mesra dan lembut. Mulai dari lumayan bibir dan pagutan lidah, kami saling menyesap satu sama lainnya. Di teruskan dengan gigitan kecil di leherku, dengan tangannya mempermainkan tonjolan kecil di daddaku, hingga menambah kenikmatan tersendiri buatku. Aku melayang penuh kenikmatan saat lidahnya menyusuri setiap centi di tubuhku, aku hanya bisa mendesah dan menggeliat kenikmatan. Tiba-tiba hapenya berdering tanda ada panggilan masuk. Setelah di lihat sebentar oleh Viska, ternyata dari Ubay, adik Viska.


"Tak angkat sebentar ya sayang, siapa tahu penting"


"ya beb, tapi bentar aja lho" jawabku merajuk.

__ADS_1


"Ya hallo dik, ada apa?"


"mbak, kak Mujab kejang-kejang mau mati" terdengar suara dari seberang terlihat panik.


__ADS_2