ISTRI MUDAKU MAFIA

ISTRI MUDAKU MAFIA
BAB 77


__ADS_3

Sesampainya di hotel laksana, kami langsung ceck in. Viska langsung merebahkan diri di atas kasur, badannya lemas tak bergairah.


"Kamu ada masalah apa cayang?" tanyaku pelan sambil membelai rambut Viska. Viska tiba-tiba menangis, yang membuatku malah bingung.


"Ada apa sih beb?" tanyaku merapatkan alis.


"Aku di putuskan oleh tunanganku beb, aku telah membuat malu orang tuaku" jawab Viska dengan suara bergetar.


"Oh, masalahnya apa beb?"


tapi dalam batinku.


"Hehehe syukur dech, jadi bisa sama aku terus... Asyik!"


"Aku harus gimana beb, bapak sangat marah, tadi pagi ngamuk-ngamuk saat aku mau pergi janjian sama kamu beb, terus aku di gampar keras banget sampai kepalaku pusing" ujar Viska, air matanya mulai meleleh membasahi pipinya, aku tidak tega dong, kalau cewek secantik dia mengeluarkan air mata yang tiada berarti. Maka aku mengusapnya dengan lembut.


"Alasannya di putuskan apa beb? terus yang mutus Mujab sendiri atau datang bersama keluarganya?"


"Bapaknya yang datang, pak Lamin, Mujabnya aku sendiri tak tau dia ada dimana" timpal Viska.


"Ya gara-gara penyakit kanker serviks ku, pak Lamin bilang kalau aku perempuan yang tidak bisa mempunyai keturunan, aku perempuan yang tidak sempurna. Katanya, menikah itu yang di cari adalah keturunan beb" tambah Viska mulai sesenggukan. Aku hanya mendengarkan ceritanya sambil ngerokok santai.


"Aku harus gimana beb? ibarat kata, aku ini adalah perempuan yang tiada berarti, aku perempuan yang tidak sempurna. Apa ada cowok yang mau sama aku, seorang perempuan yang tidak bisa memberi keturunan?" tangis Viska semakin menjadi-jadi, lalu memeluk ku dengan erat. Aku hanya bisa menepuk-nepuk punggungnya dengan lembut.


"Sudah, cup.... cup... cup. Masih banyak cowok yang mau sama kamu cayang, kamu wanita hebat kok. Selain cantik dan seksi, kamu juga banyak bakat. Aku contohnya"


"Aku akan selalu bersamamu beb, bagaimanapun keadaanmu. Aku selalu menyayangimu seiring denyut jantungku berdetak, sebanyak darahku mengalir di pembuluh. Aku akan selalu mencintamu selama nafasku masih berhembus" ujarku memberikan keyakinan pada Viska, kalau aku ini benar-benar menyayanginya. Viska memandangku tak percaya, lali mengecup lembut bibirku.


"Benarkah ucapanmu beb?"


"iya sayang, janganlah kamu meragukan rasa cintaku padamu. Gunung ku daki, lautan ku sebrangi. Ombak besar akan ku arungi demi dirimu seorang" Bucinku mulai membara. Ingin ku tambahi dalam perkataanku,


"Hujan badai akan aku terjang" tetapi aku mendadak teringat, kalau aku takut hujan karna dingin. Lagi pula air hujan mainnya keroyokan tidak berani satu lawan satu.


"Tunggu sebentar ya sayang"


"mau kemana kamu beb?" tanya Viska heran, saat aku berdiri dari kasur.


"Mau naruh ini beb, pantesan berat dari tadi" jawabku sambil memperlihat tas kerja yang masih ada di gendongan. Viska cuma tersenyum geli. Setelah menggantungkan tas, tak lupa aku juga menggantungkan seragam kerjaku di tempat yang telah di sediakan.


"Sini peluk aku" rengek Viska.


"Sudah nggak marah ma aku beb?"


"marah kenapa?"


"kan kemarin kamu berantem sama Fatimah" Viska cuma tersenyum dan menggelengkan kepalanya.


"Sekarang hanya kamu yang aku punya beb, aku juga menyadari kalau aku ini yang salah. Sudah berulang kali juga kan kamu mengingatkanku, kalau hubungan kita dari dulu jangan memakai perasaan. Aku saja yang Baper" ujarnya manja, kemudian bergelayut di leherku. Di cium juga tentunya pipiku ini.


"Hehehe ingat juga kamu beb, tapi beneran kok sayang, kalau aku akan selalu bersamamu"Sahutku memberi kecupan mesra di keningnya. Lalu adegan panas pun berlanjut hingga usai.


Setelah pertemuan itu, Viska menghilang lagi hingga hampir satu bulan. Tak ada kabar apapun darinya, aku bingung di buatnya.


"Benar-benar seperti siluman ini Viska, pergi tanpa kabar berita. nomer hape juga tidak aktif. Ah siaaal!!"


Kemanakah? Haa...


Akan kucari


Gelap terasa dunia ini


Bagai tiada matahari

__ADS_1


Kau pergi tanpa pesan


Kunanti tiada datang


Di mana kau kini?


Di mana kau kini?


Aku tiada berdaya lagi


Aduh-duh-duh-duh-duh-duh-duh-duh


Apakah kau tak sadar?


Janji suci kau katakan


Di mana kucari?


Di mana kucari?


Aku tiada berdaya lagi


Aduh-duh-duh-duh-duh-duh-duh-duh


Putuslah harapanku


Letih rasa kumenunggu


Putuslah harapanku


Letih rasa kumenunggu


Ke mana ku akan pergi?


Tempat bernaung diri


Berkorban apa saja


Demi untuk yang kucinta


Tapi aku tak bahagia


Aduh-duh-duh-duh-duh-duh-duh-duh


Putuslah harapanku


Letih rasa kumenunggu


Putuslah harapanku


Letih rasa kumenunggu


Ke mana ku akan pergi?


Tempat bernaung diri


Berkorban apa saja


Demi untuk yang kucinta


Tapi aku tak bahagia


Aduh-duh-duh-duh-duh-duh-duh-duh

__ADS_1


Ho-ho-ho-ho...


Ho-ho-ho...


Ha-ha-ha-ha...


Aku bersenandung menyanyikan lagu milik Iis Dahlia, yang berjudul Kau pergi tanpa pesan.


Sama persis seperti yang aku rasakan saat ini.


"Viska... Viska, kemana aku harus mencarimuuuu.... Jangkrik!!" teriaku kesal dan lelah aku mencarinya. Duniaku rasanya hampa tanpa hadirnya Viska, Kerjaan ku juga agak kacau karna selalu memikirkan Viska.


"Dari mana mas?" tanya Fatimah.


"Dari sawah" jawabku datar.


"Ngapain ke sawah?"


"cari garangan, ih tanya terus, bikinin kopi gi" Fatimah cuma tersenyum gemas mendengar jawabanku.


"Garangan kok cari garangan" kelakarnya sambil pergi ke dapur membuatkanku kopi. Aku hanya duduk di teras rumah sambil menyulut rokok, seraya menunggu kopi.


"Ini mas kopinya"


"hm, anak-anak mana dik?"


"di rumah simbah" balas Fatimah, aku hanya diam, rumah emak ku satu deretan dengan rumahku dan rumah saudara-saudaraku.


"Mas kamu punya duit nggak?" tanya Fatimah duduk di sebelahku.


"ada dikit" ku sesap pelan kopiku karna masih panas, setelahnya ku hisap rokok.


"Nanti malam anterin periksa ya?"


"periksa kemana?"


"ya ke bidan kandunganlah mas, masak ke pom bensin"


"ya, nanti tak anterin kisaran jam 8 malam ya? soalnya nanti habis isya' aku ada kumpulan RT an"


"he'em" jawab Fatimah lalu pergi ke rumah emak ku untuk mengambil anak-anak yang sedang bermain bersama mbahnya. Aku hanya melihatnya, ada rasa kasihan juga karna sudah sering kali aku bohongi Fatimah. Tetapi ada rasa kesal juga, karna dia sudah berulang kali membuat darahku naik karna tak bisa memenuhi keinginannya.


"Ayaaaah" teriak Ghibran berlari ke arahku, lalu memeluk dan bermanja di pangkuanku. Sedangkan si Aini tampak tertawa senang melihatku, seraya melambaikan tangannya.


"Minggir bentar ya kakak, ayah mau mangku adik" kataku pada Ghibran.


"tak mau, adik cama mamak" jawab Ghibran bikin gemas.


"Ya udah kakak duduk sini, dan adik duduk sini ya" jawabku memindahkan Ghibran ke paha kiriku, sedangkan Aini aku pangku di paha kanan. Karna takut terkena anak-anak, rokok yang ada di jari aku buang. Padahal masih lumayan panjang lho. Kami bercanda ria, sedangkan Fatimah sudah pergi ke dapur.


"Dik" kata ku sedikit berteriak.


"Ya" sahut Fatimah dari dapur.


"Sudah sore, anak-anak di mandiin"


"iya, ini lagi tak siapin airnya" dan tak lama Fatimah mengambil Aini dari pangkuanku, sedangkan Ghibran bergelayut di punggung minta di gendong.


"Ayah Ayuk mandi, ma aku" kata Ghibran.


"ayoo" jawabku seraya mengangkat Ghibran di gendongan. Aku berjalan menuju kamar, melihat hapeku yang ada di kantong celana yang aku gantungkan. Ada sebuah pesan masuk dari nomer yang tidak aku kenal. Setelah aku buka dan membacanya ternyata pesan dari Viska.


-beb ini aku Viska, ini nomer temenku besok jemput aku, di pondok pesantren Jannatul Firdusy, jam satu siang alamatnya xx-

__ADS_1


Aku mengernyitkan kening ku, heran dengan pernyataan Viska yang sekarang ternyata ada di pondok pesantren.


"Ngapain Viska di pondok pesantren? jadi ustadzah kah?" gumamku membatin.


__ADS_2