
Sekitar satu jam lamanya mereka menunggu, barulah Dokter dan suster keluar, Dion dengan cemas mempertanyakan keadaan nenek nya...
"Bagaimana keadaan Nenek saya Dokter, dia baik-baik saja kan...."
"Keadaan beliau sangat tidak memungkinkan, karna menghirup terlalu banyak asap membuat jantung dan paru-paru nya ikut terdampak, saya harap kalian memperbanyak do'a agar beliau cepat sadar dari masa kritisnya...."Dion terduduk lemas mendehqr pernyataan Dokter, mencoba untuk menahan air matanya yang mengenang dipelupuk mata, Tania dengan setia mengelus punggung sang suami, memberikan sedikit kekuatan agar tidak larut dalam kesedihan....
"Aku tidak akan membiarkan mu lolos Monika, aku berjanji akan mencari mu keujung dunia sekali pun..."Terlihat Dion sangat marah, mata nya menyalang dan tidak tangan nya terkepal kuat membuat urat nya terlihat begitu jelas....
.....
Sudah seminggu lamanya Nenek Ami dirawat dirumah sakit, terus dalam pengawasan Dokter, belum ada tanda-tanda jika keadaan nya menunjukkan kemajuan, sementara Dion dan Vino sibuk mencari keberadaan Monika dan Jack, karna pengeboman itu, sikap Dion semakin waspada, memperketat pengawasan dirumah nya dan dirumah mama Ratih, ia tidak ingin kesalahan terjadi lagi membuat salah satu keluarganya terluka karna kecerobohan nya, mama Rima dan papa Tomi pun tinggal dirumah Dion karna tidak ingin terjadi sesuatu lagi pada kedua orang tua nya.....
Seusai sarapan, Dion berangkat kekantor sendiri, walaupun Vino selalu ingin mengantar dan menjemput nya, Dion menolak mengingat kejadian yang menimpa asisten nya itu, Kaki Vino masih sedikit pincang, Dion pun tak tega jika harus di antar jemput oleh asisten pribadinya...
"Ma Pa, sebentar lagi ada yang mau datang, mama sama papa ngak papa kan nunggu sebentar baru kita kerumah sakit?...."Tanya Tania menghampiri kedua mertua nya yang sedang duduk diruang tamu mengistirahatkan perut mereka yang baru terisi,....
"Siapa sayang, apa mama kamu yang mau datang?..."tanya mama Rima yang penasaran Tania menggeleng, tak lama kemudian, seorang pelayan pun masuk dan memberi tahu jika ornag yang ditunggu telah datang......
__ADS_1
"Mama sama papa tunggu disini dulu ya!..."Gegas Tania meninggalkan kedua mertua nya dan menuju pintu, Mama Rima dan papa Tomi pun sangat penasaran dengan orang yang dimaksud oleh Tania..
"Mas Bram..."Mama Rima ternganga saat melihat Tania datang mendorong kursi roda yang digunakan om Bram, papa Tomi yang fokus pada tv pun segera berdiri dan menoleh dengan cepat saat mendengar nama kakak nya disebut, dan betapa terkejutnya dia saat melihat kakak yang begitu ia rindukan sedang menuju kearah nya menggunakan kursi roda yang didorong menantu nya...
Air mata papa Tomi seketika mengalir, ia melangkah dengan cepat menghampiri saudara yang selama ini ia cari keberadaan nya...
"Mas kemana saja kami selama ini, kenapa kamu pergi dan menghilangkan dan kenapa mas jadi begini...."Kedua saudara laki-laki itu berpelukan dengan sangat erat, melepaskan kerinduan yang selama ini memisahkan mereka, Om Bram menangis tersedu-sedu membalas pelukan adik nya....
"Semua ini karna kebodohan ku Tomi hingga membuat aku seperti ini, karna cinta buta aku meninggalkan kalian semua, aku meninggalkan keluarga ku demi perempuan yang salah, dan untungnya aku diselamatkan oleh Putrimu yang baik hati,...."Om Bram melirik Tania yang kini berdiri disamping ibu mertua nya menyaksikan pertemuan antara kakak beradik itu, rasa haru tak bisa terelakkan, saling memeluk erat satu sama lain....
Setengah bertemu kangen, Mereka semua pun berangkat ke rumah sakit untuk melihat keadaan nenek Ami, berharap kehadiran Bram bisa membawa keajaiban untuk wanita tua yang masih setia berbaring diatas ranjang rumah sakit....
Sekitar satu jam lebih, akhirnya mereka pun sampai, diseoanj perjalanan, Bram tidak henti-hentinya mengutuk kebodohan nya karna meninggalkan sang mama yang telah melahirkan dan membesarkan nya demi wanita seperti Monika....
"Masuklah mas, semoga saja kehadiran kamu membawa perubahan yang baik untuk mama!!..."Seru papa Tomi yang diangguki Bram, ia pun masuk kedalam ruangan yang tertutup rapat...
Air mata Bram tak bisa ia bendung lagi saat melihat wanita yang telah melahirkan nya berbaring diatas ranjang rumah sakit, perlahan ia pun mendekati tubuh lemah mama nya, dengan tangan bergetar Bram meraih tangan mama nya yang bebas dari selang infus mencium nya berkali-kali,....
__ADS_1
"Ma tolong maafkan anakmu yang bodoh ini, maaf, karna waktu itu Bram tidak mendengar kan mama, andai saja Bram nurut semua ini tidak akan terjadi, tolong maafkan Bram ma...."Om Bram terus meminta maaf, mencium tangan mama nya tanpa henti, menyesali apa yang telah ia perbuat kepada keluarga nya....
....
Sementara dilain tempat, tepat nya dikantor milik Dion, lelaki itu tampak sedang gusar, bagaimana tidak keberadaan Monika dan Jack tak kunjung ditemukan, Bahakan Dion telah mengerahkan seluruh pengawal nya untuk mencari informasi tentang keberadaan mereka tapi tak kunjung membuahkan hasil, sepertinya Monika telah memprediksi semua ini...
"Tuan...."Vino masuk menyeret kaki pincang nya menghampiri Dion yang tengah duduk dikursi kebesaran menatap laptop yang menyala...
"Ada apa Vin?...."Vino langsung duduk dan memberikan beberapa lembar kertas kepada Dion,...
"Apa semua ini benar adanya?...."Dion dengan begitu serius melihat dan membaca apa yang tertulis dikertas itu, Vino mengangguk yakin, Dion meremas kertas itu dan melempar nya dengan keras, terlihat sorot mata tajam itu menunjukkan kemarahan yang teramat dalam....
"Ternyata Monika sudah merencanakan semua ini dari lama Tuan, tapi untungnya saya dan Nona muda berhasil menyembunyikan separuh Dokumen yang sangat penting sehingga Monika hanya mengambil beberapa saja,....."Dion mengusap wajahnya dengan kasar, sungguh bodoh mempercayai Monika begitu saja....
"Terimakasih Vin, untung saja kamu berhasil menyelamatkan perusahaan kita, dulu aku sangat dibutakan oleh cinta Wanita bedebah itu sehingga membuat keluarga dan perusahaan ku hampir hancur...."
"Sama-sama Tuan, ini sudah tanggungjawab saya untuk melindungi Tuan beserta keluarga tuan...."ditengah-tengah kegelisahan nya, Dion selalu bersyukur karna memiliki orang kepercayaan seperti Vino, walaupun dia sering memaki dan memarahi Vino demi membela Monika tapi Vino tetap setia padanya, sampai kapanpun Dion tidak akan melupakan semua pengapdian dan kebaikan Vino pada keluarga nya....
__ADS_1