
Tubuh Tania merosot kelantai mendengar kabar Kematian suami nya, mata yang tak pernah berhenti mengeluarkan cairan bening sejak mendengar keadaan suami nya itu pun mulai bengkak, apa lagi saat seorang pengawal memberikan kabar jika Dion telah meninggal, sungguh Tania serasa tertipa oleh langit, tidak bisa mengeluarkan suara apapun selain tangisan yang memiliukan, bayangan suami nya ketika bermanja-manja terlintas jelas di ingatan nya,....
Walaupun Dion pernah bersiap tidak baik padanya jujur saja Tania sangat mencintai sang suami, ia tidak perduli akan sikap suami nya dulu terhadap nya, baru saja ingin menelfon Vino ingin bertanya tentang kondisi sang suami malah ia mendapat kan kabar yang tak menyenangkan lebih dulu membuat hidup nya hancur saat itu juga, cinta dan belahan jiwa nya telah pergi meninggalkan nya untuk selama-lama nya, Om Bram yang ada disamping hanya diam saja, tentu merasa terpukul atas apa yang menimpa keponakan nya, baru beberapa hari berkumpul, mereka harus terpisah untuk selama nya .....
"Hikss Hikss,, kenapa kamu jahat Banget mas, mana janji kamu sama aku dan bayi kita, kamu jahat mas aku benci sama kamu aku sangat membenci kamu...."Tania meraung memanggil dan maki nama suaminya, baru sebentar saja merasakan kebahagiaan bersama Dion kenyataan pahit malah merundung nya berkali-kali lipat, seolah waktu tak membiarkan kebahagiaan untuk nya terlalu lama .....
Tania terus menangis tanpa henti, hingga ia lelah dan jatuh pingsan, untung saja papa Tomi dengan cepat menahan tubuh Tania agar tak terjatuh kelantai, segera ia membawa putri nya kelantai 2 kamar Dion dan Tania berada....
Sementara Mama Ratih sudah pingsan sedari ia mendengar kabar putra sulungnya, ia tak kalah histeris nya dengan Tania kala mendengar kematian Dion....
"Nak kamu lihatlah semua nya sangat terpukul atas berita ini, tolong datang dan patahkan berita bohong ini,...."Papa Tomi menghapus air matanya menatap wajah menantu nya yang sangat pucat, ia pun turun ketika memastikan Tania baik-baik saja dan mencari keberadaan istri nya uang dibawa kedalam kamar....
Disaat-saat seperti ini, Monika dan Om Jack mengambil kesempatan untuk menyerang, tidak memberikan keluarga Dion kesempatan untuk berduka, para pengawal lengah karna berita yang datang para anak buah Monika dan Om Jack dengan bebas masuk kekediamam Dion dan menyerang....
Disaat-saat mereka berkabun, anak buah Monika dan Om Jack datang menyerang, menembak satu persatu pengawal yang menghadang, menghabisi semua yang ada didepan mata.....
__ADS_1
Dorrr.... Dorr.... Dorr.....
Kediaman Dion bak seperti lautan darah yang ada dimana-mana, saling mempertahankan diri dan menyerang satu sama lain itulah yang sedang terjadi dikediaman megah itu, Monika dan Om Jack melenggang masuk dengan sangat bebas, tertawa puasa melihat kediaman itu hancur berantakan, inilah yang mereka tunggu-tunggu, hancurnya keluarga Dion didepan mata mereka.......
"Habisi mereka semua jangan ada yang tersisa satu pun diantara mereka...."Seru Om Jack pada anak buahnya....
Tania tersadar saat mendengar suara yang menggema diluar rumah, walaupun kepalanya masih terasa sangat sakit, ia mencoba untuk bangkit dan melihat apa yang terjadi, ia menuju balkon dan seketika mata nya membulat sempurna melihat keadaan dibawa sana, Tania juga dapat melihat Monika berdiri bersama seorang pria yang mungkin usia nya sama dengan papa mertua nya, Tania sangat yakin jika lelaki itu adalah Om Jack....
Tania seketika megang perut nya dan kembali masuk kedalam kamar, takut? Tentu saja, Tania sangat takut jika mereka menemukan keberadaan nya dan melenyapkan bayinya, Tania masuk kedalam ruang ganti dan bersembunyi dalam lemari, menutup rapat mulut nya agar tak mengeluarkan suara sedikitpun, berdo'a dalam hati agar seseorang datang membantu nya, Tanpa ia ketahui Monika sempat melihat nya saat ia mengecek ke balkon kamar...
Brakk....
"Tania dimana kamu sayang jangan bersembunyi dariku aku tau kamu ada disini kan, kamu tenang saja, aku hanya ingin mengantar mu dan bayimu untuk bertemu suami mu disyurga jadi jangan takut, aku baik bukan...."Tania mendengar namanya disebut semakin membuat nya ketakutan apa lagi saat memd ucapan Monika, jika saja bukan karna anak yang ada didalam kandungan nya Tania sudah pasti keluar dari persembunyian nya dan melawan Monika...
"Ayolah Tania, biasanya kamu selalu berani melawanku kenapa kamu sekarang takut, kamu bersembunyi dimana, aku tau loh kamu ada kamar ini aku melihat mu tadi berdiri di balkon...."Monika terus memanggil Tania, mencari kesetiap sudut rumah tapi tak kunjung menemukan Tania, ia pun melihat kemari yang bersusun tapi dan buka nya satu persatu....
__ADS_1
Brakk....
Brakk....
Sudah hampir sepuluh pintu Yang Monika buka tapi tak kunjung menemukan keberadaan Tania, menembak kedalam lemari yang masih tertutup tapi tak ada apapun disana, hingga Monika sampai ke lemari yang paling pojok, ia berjalan santai kesana dan membuka nya dengan perlahan....
Seketika senyuman Monika mengembang saat melihat Tania sedang meringkup ketakutan didalam sana, dengan tega ia menarik rambut Tania dan membawa keluar dari ruang ganti menuju ruang kamar nya...
Brakk....
Monika dengan kejam mendorong tubuh Tania kemeja rias, menarik rambut nya dan membenturkan kepala Tania berkali-kali hingga kepala Tania mengeluarkan Darah, tak hanya sampai disitu, Monika pun kembali menarik rambut Tania dan mendorong nya hingga terkapar dilantai, ia menginjak dada Tania tanpa belas kasih sedikitpun....
"Jangan sakiti anak ku kumohon dia tidak salah apapun...."Pinta Tania memeluk perut nya dengan kedua tangan nya, tak perduli rasa sakit yang ia rasakan dikepala nya dan dada nya yang ada dipikiran Tania saat ini adalah bayi yang masih ada dalam kandungan nya, apapun yang terjadi bayi dia dan bayinya harus selamat....
"Maafkan aku sayang, aku tak bisa menuruti permintaan mu itu, karna anak yang kamu kandung itu adalah cucu dari orang yang telah melenyapkan kedua orang tua ku, ditubuhnya mengalir darah yang sama seperti nya jadi dia harus lenyap ditangan ku...."
__ADS_1
"Auhh sakit...."Tania menjerit kesakitan saat Monika menginjak kepala nya yang berdarah, Monika kemudian mengarahkan pistol ditangan nya kearah perut Tania, Monika terlihat begitu bersemangat dan tak sabar melihat darah segar mengalir diperut besar Tania hingga ia mulai menari pelatuk pistol nya dan...
Dorr.....