
Mommy Vivian terpekik saat mayat mengerikan dua orang suruhannya tergeletak di hadapannya. Dia menatap sekitar ruangan yang bahkan tidak berjendela dan hanya mempunyai lubang angin berukuran 50 cm di atas.
Siapa yang membawa? Jika lewat pintu aku pasti tahu. Batin Mommy Vivian seraya melirik pintu yang tepat ada di sampingnya.
"Kau ingin berakhir seperti mereka?" Tiba-tiba saja Lucas sudah berdiri di sofa dengan santainya. Dia bahkan meneguk sedikit minuman keras yang ada di atas meja.
"Kau siapa?"
"Aku Suami dari wanita yang kau buru. Bukankah mereka anak buah mu." Mommy Vivian melebarkan matanya seraya cepat-cepat menuju pintu dan berusaha kabur.
Brraaaaakk!!!!
Klik!
Klunting!!
Mommy Vivian semakin ketakutan saat melihat kelihaian kekuatan Lucas menggerakkan sesuatu tanpa menyentuh.
"Percuma. Jangan coba kabur." Secepat kilat Mommy Vivian mengambil ponselnya dan secepat itu juga Lucas menghempaskan ponsel itu hingga hancur berkeping-keping." Ku bilang jangan kabur!!!" Teriak Lucas memperlihatkan mata merahnya. Dia merasa geram melihat wanita yang memiliki bentuk tubuh seperti kerdil itu.
"Dia Milikku. Sudah selayaknya aku mengambilnya darimu!!"
Klunting!!!!
Lucas melemparkan satu buah emas batangan.
"Aku benar-benar tidak ingin menyakiti. Terima itu dan berhenti memburu Istriku." Mommy Vivian memungut emas itu.
"Ini kurang. Harga ini tidak sesuai dengan kerugian yang ku dapatkan."
Klunting!!!
Lucas melemparkan empat lainnya seraya berdiri. Dengan wajah berbinar-binar, Mommy Vivian memungut emas itu lalu menciumnya.
Dasar manusia tamak!!!
"Oke. Aku terpaksa mengiyakan ini." Tapi hanya sampai aku menemukan cara mengambil lagi ATM berjalanku.
"Kau bilang apa tadi?" Lucas meraih leher Mommy Vivian dengan tangan runcingnya seraya memojokkannya di dinding.
"Aku bilang i i iya." Jawab Mommy Vivian dengan nafas tersengal-sengal.
"Aku bisa membaca isi hatimu." Mommy Vivian melebarkan matanya dengan bibir tertutup terbuka karena oksigen mulai tidak bisa di hirup olehnya.
"Le e lepaskan aku." Pinta Mommy Vivian tidak di dengar sebab cengkraman tangan Lucas semakin mencekiknya.
"Manusia sepertimu tidak bisa di ajak negoisasi." Taring runcing Lucas keluar dan segera mencabik leher Mommy Vivian untuk menghisap habis darahnya.
Craaaaaasssshhhhh...
Tubuh Mommy Vivian melebur menjadi abu bersama dua jasad yang lain.
"Kamu bisa bebas berkeliaran setelah ini Baby." Lucas kembali menjadi asap dan menghilang dari ruangan itu tanpa membuka pintu terlebih dahulu.
Sementara di luar. Mobil Alex baru saja terparkir. Dia kembali membeli beberapa gadis untuk di jadikan santapan pesta yang di gelar seminggu sekali.
Alex juga ingin membahas perihal terbunuhnya Zian. Dia ingin melebarkan penyelidikan agar Lucas segera di temukan. Tujuannya bukan semata-mata ingin membantu Elena, tapi untuk membuktikan tebakannya jika sekarang Lucas mengikuti jejaknya.
__ADS_1
"Oh Tuan Alex silahkan masuk." Salah satu anak buah Mommy Vivian mempersilahkan dan mengiring Alex menuju ruangan yang terkunci.
Tok Tok Tok
"Mom.. Mommy.. Ini ada Tamu." Ucapnya cukup keras namun pintu masih saja tertutup.
Wajah Alex seketika berubah ketika mengendus abu manusia berada di ruangan.
"Dobrak saja." Pinta Alex merasa tidak sabar.
"Tidak bisa Tuan. Ruangan ini hanya Mommy yang bisa membukanya."
Tanpa menunggu persetujuan. Alex melangkah maju dan memegang kenop pintu lalu memutarnya sedikit hingga kenop itu terlepas. Anak buah Mommy Vivian melongok dengan bibir terbuka. Pintu itu begitu kokoh namun Alex bisa merusaknya dengan mudah.
Ouh... Baunya seperti... Lucas...
Alex tersenyum, mengedarkan pandangannya dengan aroma abu memenuhi ruangan.
Ini aroma keturunan Stefanus.. Kenapa dia membunuh manusia-manusia ini?
"Ke kenapa kosong?" Tanya si anak buah menatap heran.
"Jadi pada siapa aku bisa membeli dua orang gadis."
"Mommy tidak ada. Sebaiknya Tuan menunggunya."
"Dia memang sudah tidak ada dan menjadi abu." Jawab Alex merogoh saku jasnya dan memberikan dua batang emas.
"Tuan bilang apa?"
"Ikut saya Tuan." Alex tersenyum dan mengikuti langkah lelaki itu ke sebuah ruangan.
Aku semakin tidak sabar bertemu denganmu Lucas...
๐น๐น๐น๐น
Cepat-cepat Lucas mengganti handuk yang melilit di pinggangnya dengan kaos santai saat melihat tubuh Noa menggeliat. Dia duduk dengan begitu lembut tepat di bawah kaki Noa seraya menyalahkan televisi.
"Tuan." Panggil Noa lirih. Dia menyipitkan matanya seraya mengedarkan pandangannya padahal Lucas sedang duduk di ujung.
"Aku di sini?" Noa menoleh dan tersenyum menatap Lucas.
"Ku fikir Tuan pergi." Dia duduk lalu menggeser tubuhnya seraya memegang ujung selimut yang menutupi tubuh polosnya.
"Aku akan berpamitan jika pergi."
"Hm. Aku sedikit pusing." Noa menumpukan kepalanya pada paha Lucas. Dia meraih jemari kekar itu dan menggenggamnya erat seraya menciuminya.
"Tidur lagi. Setelah membaik, kita membeli ranjang lalu makan malam."
"Biarkan aku tidur sebentar lagi Tuan." Lucas hanya tersenyum dan membiarkan jemarinya di mainkan.
Untung saja tepat waktu..
Kruuuuuuukkkkkkkkk...
Noa langsung terduduk saat terdengar perutnya sudah meronta. Dia memegang erat selimut yang di pakainya dan hendak mengambil dress-nya. Lucas mengambilkan dress itu tanpa menyentuh dan membuat Noa tersenyum.
__ADS_1
"Terimakasih Tuan."
"Sama-sama Baby."
"Tuan sudah mandi?" Noa memakai dress-nya sembarangan.
"Hm sudah." Lucas menuang air putih dan memberikannya pada Noa.
"Aku mandi sebentar Tuan lalu kita pergi untuk makan malam. Aku lapar sekali."
"Kita beli cemilan sepulang makan malam." Noa mengangguk seraya berdiri.
"Tunggu sebentar." Noa mencium pipi Lucas sebentar kemudian berjalan dengan terhuyung-huyung. Itu memicu gelak tawa keluar dari bibir Lucas.
"Kamu baik-baik saja Baby?" Tanya Lucas memastikan.
"Entahlah Tuan kenapa mataku jadi berkunang-kunang." Secepat kilat Lucas memegang tubuh Noa saat akan jatuh.
"Istirahatmu kurang." Sinar putih kembali keluar dari tangan Lucas untuk menormalkan otot-otot Noa yang menegang.
"Aku sudah tidur empat jam lamanya." Eluh Noa menghentikan pijatan kepalanya karena mata berkunang-kunangnya seketika menghilang.
"Bagaimana sekarang." Noa menegakkan posisi berdirinya seraya tersenyum. Dia tahu jika Lucas bisa menyembuhkan apapun kesakitan yang di alami.
"Sudah sangat baik Tuan. Aku mandi dulu." Noa menjinjit lalu mellumat bibir Lucas sebentar." Aku mencintaimu Tuan." Imbuhnya lirih.
"Aku juga mencintaimu Baby." Lucas membalas lummatan itu sedikit lama dan membuat Noa kembali terbuai. Mereka saling mellumat hingga bibir keduanya terlihat basah dengan tubuh kian merapat.
Noa menekan tengkuk Lucas erat. Seiring dengan lummatan yang terasa semakin kasar. Tubuh keduanya kian merapat bahkan sudah bergesekan satu sama lain.
"Tidak Baby." Lucas menghentikan aktivitasnya. Dia tidak ingin Noa sakit meski tidak dapat di pungkiri jika dia ingin bisa melakukan percintaan setiap dia ingin.
"Takut aku sakit." Tanya Noa lirih karena merasa kecewa.
"Tentu saja. Ingat peraturannya. Satu hati hanya satu kali." Padahal tadi dia mengeluh akan mati tapi kenapa dia malah memintanya lagi?
"Apa aku tidak bisa sekuat dirimu Tuan." Lucas tersenyum seraya menyingkirkan rambut panjang Noa dari wajahnya.
"Kita berbeda. jadi itu tidak akan bisa."
"Aku harus beli vitamin agar bisa melakukan itu dua kali sehari." Kenapa aku jadi gila? Bukankah ketangguhan Tuan setara dengan..
"Jangan lanjutkan isi hatimu itu." Noa langsung menutup mulutnya dengan kedua tangannya.
"Maaf Tuan hanya.."
"Ini semua terasa ringan karena kita saling mencintai. Kau Istriku dan aku Suamimu." Sahut Lucas tidak ingin Noa mengingat masa lalunya lagi.
"Iya Tuan maaf."
"Aku hanya tidak ingin kamu bersedih. Sekarang cepat mandi. Aku mendengar suara perut mu." Lucas tersenyum seraya menatap Noa penuh cinta.
"Iya aku lupa." Noa akan menjinjit tapi mengurungkan niatnya." Aku tidak akan mandi jika mengulanginya lagi. Jangan tinggalkan aku Tuan. Aku hanya sebentar." Noa berjalan cepat masuk kamar mandi.
"Dia semakin menggemaskan." Lucas duduk dengan wajah memerah. Dia merasa hidupnya terasa begitu manis sejak dia mengenal Noa. Tidakkah kau lihat Ayah. Mencintai manusia jauh lebih menyenangkan daripada mencintai wanita dari bangsa kita! Maaf aku sudah melanggar aturan mu dan maaf aku sangat mencintainya melebihi diriku sendiri.
๐น๐น๐น๐น
__ADS_1