Istri Tuan Vampir

Istri Tuan Vampir
24


__ADS_3

Mata Alex memincing, ketika dia melihat Lucas keluar dari mobil bersama Noa. Dia masih ingat Noa adalah wanita yang ada di pantai tadi pagi. Ingatan tentang sosok Noa melekat cepat, karena Alex seolah kembali bertemu sosok Tiara, Istrinya.


Alex mengurungkan niatnya untuk pulang dan menyuruh supir pribadinya memarkir di bahu jalan depan mini market.


"Ada apa Tuan?" Tanya salah satu wanita yang ada di samping Alex. Tangannya yang lentik mengusap lembut lengannya yang berbalut jas mewah.


"Kalian tunggu sebentar di sini. Toni, tolong jaga mereka." Ucap Alex seraya membuka pintu.


"Baik Tuan." Dengan langkah tenang Alex menyebrangi jalan tanpa melepaskan pandangannya pada Noa dan Lucas yang tengah berada di dalam minimarket.


Aroma keturunan Stefanus semakin menyeruak saat Alex mulai membuka pintu mini market.


Aku yakin dia Lucas.


Tepat di belakang keduanya, Alex berdiri terpaku. Menghirup aroma darah Noa yang beraroma sama.


Dia wanita itu. Berarti tadi pagi aku tidak salah lihat. Pesonanya mirip denganmu sayang.


"Lucas." Sapa Alex tanpa basa-basi. Lucas memutar tubuhnya begitupun Noa.


"Pa paman Alex." Jawab Lucas terbata. Melihat Alex berdiri di hadapan. Lelaki yang sudah di asingkan bangsa Vampir sejak ratusan tahun yang lalu.


Astaga Lucas? Apa tebakanku benar-benar terjadi. Darah wanita ini sudah bercampur dengan darahmu? Apa itu berarti kalian sudah menikah tanpa sepengetahuan Stefanus.


Lucas melepaskan genggaman tangan Noa lalu merangkul akrab Alex setelah sejak lama tidak bertemu. Alex dengan hangat membalas rangkulan Lucas meski di dalam hatinya masih berkecamuk sebuah dendam.


"Kamu sudah sangat besar. Padahal dulu kau masih setinggi pundak ku." Canda Alex seraya melirik paras cantik Noa yang tengah memperhatikan keduanya.


"Aku sudah dewasa Paman." Ucapan Lucas tertahan. Dia melepaskan rangkulannya lalu mengulurkan tangan kanannya ke arah Noa.


"Apa kamu mengikuti jejak ku Luc?" Tanya Alex lirih. Matanya melirik ke arah tangan Noa yang langsung menggenggam erat jemari Lucas.


"Dia Noa. Istriku. Anak Adam, keturunan manusia." Alex tersenyum menang sebab tebakannya benar.


Hahahaha.. Sudah ku bilang jika aturan mu akan berbalik arah padamu Kak.


Perlahan, Noa mengulurkan tangannya dan di sambut langsung oleh Alex.


Dia cantik sekali. Pesonanya mirip dengan Tiara ku.


"Bagaimana gilanya mencintai anak manusia?" Alex tersenyum simpul, menatap penuh tanya ke arah Lucas. Sementara Noa sendiri lebih memilih diam.


"Kau benar Paman. Maafkan aku atas sikap ku yang dulu." Dengan terang-terangan, Lucas mengakui kesalahannya yang sempat mengatakan sesuatu yang mungkin menyinggung perasaan Alex.


"Aku memakluminya karena kau masih remaja dulu. Tapi tidak untuk Ayahmu." Lucas menddesah lembut. Apa yang di katakan Alex benar adanya.


Stefanus membuat aturan seolah dia tidak pernah merasakan gilanya jatuh cinta.


"Paman akan bercerita pada Ayah?" Tanya Lucas lirih.

__ADS_1


"Itu bukan urusanku. Lambat laun dia akan tahu sendiri." Lucas tersenyum seraya mengangguk." Aku hanya ingin tahu bagaimana reaksinya? Apa dia akan memburu mu sama sepertiku dulu atau dia akan menghapus aturan itu karena kau putra mahkota?" Ucapan Alex yang terdengar penuh penekanan, membuat Lucas menarik kesimpulan jika Alex masih menyimpan dendam dengan kematian Tiara yang di tewas di bantai bangsanya." Apa kau siap untuk itu?" Alex mendekatkan bibirnya pada telinga Lucas." Kau siap jika Istrimu di buru selayaknya hewan?" Imbuhnya berbisik.


"Memburunya berarti memburuku dan membunuhnya berarti membunuhku. Aku tidak takut akan itu Paman. Sejak aku mengambil keputusan ini. Segala resiko sudah ku tanggung." Alex tersenyum dan menepuk pundak Lucas lembut.


"Kau pemberani sekali." Alex mengeluarkan sebuah kartu nama lalu menyerahkannya pada Lucas." Aku ada urusan setelah ini. Hubungin nomer ini dan buat janji untuk pertemuan kita. Sangat banyak yang ingin ku bicarakan dan ku tanyakan padamu." Lucas mengambil itu dengan senang hati.


"Besok ku atur waktu untuk pertemuan kita."


"Ajak Istrimu. Aku juga ingin mengenalnya dengan lebih baik." Alex tersenyum ke Noa yang langsung membalasnya. Apa dia sekuat Tiara ku?


"Hm Paman." Jawab Lucas merangkul kedua pundak Noa erat.


"Aku pergi. Sampai jumpa lain kali." Alex melangkah keluar mini market dengan senyuman yang sulit di artikan. Entah dia senang atau merasa kesal tapi senyuman itu terlihat ganjil." Jalan Pak." Pintanya masih menatap ke Noa dan Lucas.


Sebentar lagi aku akan mendengar berita menggemparkan. Putra Stefanus menikah dengan manusia. Hahahaha.. Bagaimana pendapatmu tentang itu Kak? Buru anakmu sendiri dan telat bulat-bulat peraturan pahit yang kau terapkan itu.


Kala itu. Alex kerapkali merajuk untuk meminta pengampunan. Dia tidak mempermasalahkan jika semua bangsa Vampir membencinya dan mengasingkannya.


Alex hanya ingin kehidupan tenang bersama Tiara yang tidak pernah dia dapatkan hingga dia harus menyembunyikan Tiara dengan segala cara.


Stefanus berdalih, jika manusia tidak pantas mendapatkan penghormatan untuk menampung darah bangsa Vampir yang berkasta tinggi. Sehingga dia memburu setiap manusia yang sudah terlanjur menikah dan membiasakan dengan cara mengenaskan.


๐ŸŒน๐ŸŒน๐ŸŒน


"Berarti kehidupan bangsa mu seperti kami Tuan." Tanya Noa setengah berbisik.


"Ucapan yang mana Tuan."


"Ayah akan memburu mu setelah tahu soal hubungan kita." Lucas menatap Noa dengan raut wajah khawatir, sementara Noa sendiri malah tersenyum.


"Aku takut Tuan."


"Tapi kamu tersenyum." Tanya Lucas bingung.


"Aku takut tapi juga tidak."


"Bagaimana bisa begitu?"


"Aku menganggap jika mati itu kata lain dari kebebasan."


"Berarti aku tidak akan membiarkanmu bebas." Jawab Lucas cepat. Dia meletakkan keranjang belanjaan di atas meja kasir.


"Aku tahu Tuan. Tapi aku benar-benar tidak masalah jika garisnya seperti itu. Asalkan aku tidak lagi melakukan perkerjaan kotor." Lucas tidak menjawab dan malah mengeratkan genggamannya.


Aku pun lebih baik mati jika Ayah menyuruhku meninggalkanmu.


"Totalnya 245 Kak."


"Biar ku bayar." Noa membuka dompetnya dengan tangan yang masih di genggam.

__ADS_1


"Ini struk dan kembaliannya. Terimakasih."


"Sama-sama." Uang kembalian di masukkan. Lucas mengambil kantung belanjaan dan mengiring Noa keluar.


"Kita langsung pulang." Setelah memakaikan sabuk pengaman. Lucas melajukan mobilnya perlahan.


"Iya Tuan." Noa mengambil sebungkus cemilan dan memakannya.


Selayaknya manusia normal. Tentu saja Noa merasa khawatir mendengar pembicaraan antara Lucas dan Alex tadi. Sebisa mungkin dia tidak membicarakan kekhawatirannya di dalam hati agar Lucas tidak tahu soal ketakutannya.


"Apa kamu tidak ingin berkunjung ke rumah orang tuamu Baby." Tanya Lucas tiba-tiba. Noa menoleh seraya memelankan kunyahannya.


"Sebaiknya tidak perlu Tuan." Jawab Noa lirih.


"Seburuk itu?" Noa mengangguk pelan.


"Aku merasa bukan anak mereka." Sejak Ayah Noa menikahi Ibu sambung. Hidup Noa seakan di neraka.


Noa harus menjadi pembantu di rumahnya sendiri. Di siksa secara berlebihan saat kesalahan kecil di lakukan.


Dia bahkan di fitnah Ibu sambung nya ketika Prapto dan anak buahnya menagih hutang dengan jumlah yang sangat besar. Tentu saja hal itu menyulut kemarahan Ayahnya hingga Ibu sambungnya menyudutkan Noa untuk bertanggung jawab.


"Ayah sudah tidak lagi seperti dulu Tuan. Ibu sambung ku menganggap aku saingan untuknya bukan seorang putri. Dia tidak memperbolehkan aku memakai baju bagus karena dia tidak ingin melihatku lebih cantik dari dia."


"Lalu sikap Ayahmu?"


"Dia sangat mencintai Ibu sambung ku melebihi apapun sehingga dia menjadi buta. Apa yang Ibu katakan pasti Ayah menganggap nya benar." Noa terdiam sesaat seraya tersenyum getir. Mengingat wajah buruk Ibu sambungnya ketika sedang marah." Mereka akan lebih bahagia tanpa ku." Imbuhnya pelan.


"Hm ini terakhir kalinya aku bertanya."


"Tidak apa Tuan. Em apa Tuan ingin meminta restu?" Tanya Noa melanjutkan makannya.


"Ingin sekali. Meskipun aku bukan manusia tapi aku ingin mengenal keluargamu."


"Kita ke makam Mama." Sahut Noa cepat." Tapi tempatnya sangat jauh. Membutuhkan waktu satu jam untuk ke sana."


"Sebutkan namanya. Kita ke sana dalam satu menit." Noa tertawa kecil membuat perhatian Lucas teralih hingga beberapa kali dia harus menoleh.


"Besok saja Tuan. Ini sudah malam."


"Maksudku besok Baby." Noa menahan senyumnya lalu mengalihkan pandangannya ke arah luar mobil dan menyadari banyak mata merah mengintai di atas pohon.


Noa menggeser tubuhnya menjauhi jendela. Tangan kanannya menelusup masuk ke rongga lengan Lucas yang sedang memegang setir.


"Tuan apa mereka manusia?" Tanya Noa berbisik.


"Menurutmu?" Padahal sudah sejak tadi ada.Tapi dia baru merasakannya. " Mereka hanya bisa melihat saja." Imbuh Lucas menggenggam jemari Noa untuk menenangkan perasaan takutnya.


๐ŸŒน๐ŸŒน๐ŸŒน

__ADS_1


__ADS_2