
Noa duduk menatap kedua pembantunya dengan wajah datar. Mereka tengah mengingatkan Noa akan statusnya sebagai Istri Lucas setelah kepulangan Bastian.
"Saya masih ingat Bik, Bima." Ucap Noa lirih.
"Lalu tadi Non? Saya lihat kok Nona mesrah sekali."
"Apapun yang kalian lihat. Itu hanya sandiwara." Bima dan Bik Minah saling melihat dengan wajah bertanya-tanya.
Sandiwara? Tanya keduanya.
"Hm iya Bik, Bima. Dia itu Bastian, kaki tangan Tuan Lucas." Bima dan Bik Minah mengangguk-angguk seraya tersenyum. Mereka merasa lega mendengar kenyataan tersebut." Saya tidak mungkin berkhianat. Saya masih sangat mencintai Tuan Lucas tapi hal itu terpaksa harus saya lakukan karena sesuatu yang tidak bisa saya ceritakan." Imbuh Noa menjelaskan.
"Syukurlah jika begitu Non."
"Hm iya Bik. Bisakah kalian berjanji."
"Berjanji apa Non."
"Kalian akan jadi saksi tentang sandiwara yang saya buat sekarang. Jika nanti Tuan Lucas kembali dan bertanya. Bilang padanya jika aku masih setia." Noa sengaja merekam recorder atas pembicaraannya sekarang untuk menjadi bukti jika nantinya Lucas menuduhnya berselingkuh.
"Baik Non." Jawab Bik Minah cepat.
"Siap Non." Sahut Bima menimpali.
"Terimakasih ya." Noa mengambil ponselnya lalu berdiri." Saya mau beristirahat dulu." Imbuhnya tersenyum kemudian pergi menaiki tangga.
"Memangnya Tuan kemana Bim?" Tanya Bik Minah tidak tahu menahu soal apa yang terjadi sekarang.
"Saya juga tidak tahu Bik. Tapi sebelum pergi, Tuan berpamitan pada saya untuk menjaga Nona Noa dengan nyawa saya." Bik Minah memasang wajah terkejut.
"Nyawa?"
"Hm iya. Ada peraturan yang memang aneh. Kalau ada tamu yang tidak bisa melewati dua pohon besar yang ada di depan rumah, katanya itu bukan manusia." Bik Minah semakin terkejut. Dia mengusap kasar tengkuknya seraya membulatkan matanya.
"Maksudnya demit?" Tanyanya lirih.
"Entahlah Bik. Saya hanya menurut saja yang penting gajian lancar. Di sini juga kerjaannya enak. Mereka ramah dan sangat baik."
"Iya Bim. Kita juga sudah janji tidak membahas keanehan yang terjadi di sini." Keduanya berlalu pergi untuk mengerjakan tugas nya masing-masing. Sementara Noa sendiri enggan memejamkan mata meski dia berusaha untuk tidur.
Noa kembali duduk seraya menatap sekitar kamarnya yang sepi. Seolah hati mereka terhubung. Dia bisa merasakan kesedihan yang di rasakan Lucas sekarang.
"Aku kesal melihatnya kemarin. Tapi apa benar rasa itu tercipta karena dia akan meninggalkan aku?" Gumam Noa berbicara sendiri.
Tangan nya meraih ponsel untuk memeriksa mungkin saja Bastian menghubunginya.
"Aku merindukan nya." Eluhnya meletakan ponselnya. Jemarinya mengusap lembut cincin pemberian Lucas lalu menciumnya." Sayang.." Noa berharap Lucas datang seperti biasanya. Namun rasanya cincin itu sudah tidak berfungsi lagi." Apa yang mereka lakukan padamu hingga kamu tidak bisa menemuiku." Imbuhnya seraya menurunkan tangan kanannya lemah.
Noa berbaring dengan posisi meringkuk memeluk guling yang ada di depannya.
"Aku tidak ingin terjadi sesuatu dengannya. Lindungi dia di mana pun dia berada Tuhan."
__ADS_1
Tok.. Tok.. Tok...
"Non." Noa bergegas berdiri untuk membukakan pintu.
"Ada apa Bik?" Tanyanya cepat. Dia berharap Bastian datang menemuinya.
"Ada Tamu Non. Em.. Lelaki tadi."
"Oh." Noa bergegas berjalan menuruni tangga untuk menemui Bastian yang membawa beberapa koper." Tuan. Ke kenapa membawa koper?" Tanya Noa terbata.
"Saya ingin tinggal sementara di sini Nona. Saya takut." Jawab Bastian dengan suara bergetar." Tadi Tuan Alex hampir membunuh saya karena bertanya perihal tujuannya melakukan ini semua." Noa mengangguk lalu duduk di hadapan Bastian.
"Lalu bagaimana Tuan?"
"Sesuai dugaan Nona. Emmm... Tuan Alex menginginkan Nona berpisah dengan Tuan Lucas. Dia sengaja menyuruh saya untuk menggoda Nona karena dia tidak bisa masuk ke sini." Jawab Bastian menjelaskan.
"Itu saja?"
"Tuan Alex menyukai anda Nona." Noa melebarkan matanya mendengar ucapan Bastian.
"Tidak mungkin." Noa terkejut dengan kenyataan yang di lontarkan Bastian.
"Saya pantang berbohong Nona. Apalagi Nona adalah Istri dari seseorang yang sangat saya hormati. Tuan Alex menyukai Nona dan ingin memiliki Nona." Noa menelan salivanya kasar. Dia percaya dengan ucapan Bastian yang memang di kenalnya sebagai lelaki baik.
"Apa dia ada di luar?" Rasa khawatir juga tidak sabar mendorong kuat. Noa menjadi sangat ingin bertemu dengan Alex dan membuktikan ucapan Bastian sendiri.
"Aku yakin dia masih ada di sekitar sini." Noa berdiri di ikuti Bastian.
"Anda tunggu di sini Tuan."
"Menemuinya." Bastian memasang wajah bingung. Dia tentu takut sebab Alex bukanlah manusia apalagi mengingat sikap jahatnya yang di tujukan padanya.
"Dia jahat Nona. Saya takut.."
"Dia tidak akan melukaiku." Noa merasa yakin jika Alex tidak sampai hati menyakiti nya." Jika dia menginginkan itu. Bukankah sebaiknya tidak melibatkan anda. Em.. Sebaiknya Tuan tetap di sini. Ini bukan lagi urusan anda." Noa akan melangkah namun Bastian yang khawatir menghadangnya.
"Berbahaya Nona. Kita lakukan rencana awal."
"Tidak Tuan. Aku harus segera tahu tentang masalah ini. Aku takut mereka melakukan sesuatu dengan Tuan Lucas." Bastian membuang nafasnya kasar. Dia ingin membantu tapi masalah yang di hadapi terasa berat.
"Saya temani Nona."
"Tidak Tuan. Ini akan berbahaya untuk anda. Saya cukup senang dengan bantuan yang anda berikan dari info tadi. Itu sudah lebih dari cukup. Saya juga tidak ingin Tuan Lucas salah faham karena kedekatan kita." Entah keberanian dari mana hingga Noa mampu berkata demikian. Padahal di luar hari sudah gelap dan dia tahu tentang resiko yang harus di tanggung.
"Maafkan saya Nona."
"Anda tidak bersalah. Kamar tamu ada di sana Tuan." Menunjuk ke arah kiri." Saya permisi." Bastian mengangguk pasrah. Melihat Noa berjalan keluar dari rumah.
Lindungi mereka ya Tuhan..
Bima cepat-cepat berdiri ketika dia melihat Noa berjalan ke arah pintu pagar.
__ADS_1
"Kemana Non?"
"Aku ada perlu sebentar." Jawab Noa ramah.
"Saya antar."
"Tidak. Terimakasih."
"Itu peraturannya Non."
"Sekarang tidak ada Tuan Lucas. Biarkan aku pergi." Bima masih belum beranjak dan masih berdiri di hadapannya.
"Ini perintah Nona." Noa tersenyum, mulai memikirkan cara untuk bisa keluar rumah.
"Ini juga perintahku. Saya mohon jangan mempersulit." Pinta Noa dengan suara lembut.
"Tapi Nona. Saya bisa terkena masalah jika sampai terjadi sesuatu dengan anda."
"Tuan Lucas tidak akan kembali. Saya juga tidak tahu dia akan kembali atau tidak." Kakinya kembali terayun keluar. Bima terpaksa menyentuh pergelangan tangan Noa namun dengan kasar Noa menampisnya.
Tak!!!
"Saya tahu apa yang sedang saya lakukan!" Tunjuknya kasar pada Bima yang tengah menggebaskan tangannya sebab sentuhan Noa membuat telapak tangannya nyeri." Tetap di situ atau saya berbuat kasar!" Ancam Noa terlihat tidak kendali. Dia yang sebelumnya terlihat penyabar. Kini tergantikan dengan raut wajah yang garang.
"Baik Nona." Bima tertunduk sesekali melihat ke Noa yang mulai melangkah keluar pagar. Maafkan aku Tuan Lucas..
Noa menghentikan langkahnya tepat di tengah kedua pohon besar yang tumbuh di sisi pagar. Salivanya tertelan kasar saat dia mulai merasakan hawa tidak enak dari kedatangan para Vampir kasta terendah yang mulai mengendus aroma darahnya.
Jika mereka menyerang. Aku tinggal kembali masuk ke dalam.
Noa mengedarkan pandangannya untuk mencari keberadaan Alex yang belum juga tampak batang hidungnya.
Apa Tuan Bastian membohongiku?
Kakinya kembali terayun dan kini dia benar-benar keluar dari pelindung yang sudah Lucas bangun.
Sesaat semua terasa hening hingga Noa menyadari gerakan bayangan hitam berpindah pada dahan pohon yang ada di sekitarnya.
Noa mendongak, menatap beberapa pasang mata merah tengah bertengger di perpohonan. Dia kembali mengingat kejadian di pantai yang sempat membuat nyawanya terancam.
Sebaiknya aku kembali saja...
Baru saja Noa memutar tubuhnya dan berniat kembali, satu Vampir sudah berdiri di depannya dengan lidah menjulur panjang.
"Nona." Teriak Bima berusaha menolong tapi tubuhnya di hempaskan hingga terpental membentur besi pagar." Ach!!!" Seketika Bima tidak sadarkan diri karena kekuatannya tidak sepadan.
"Darah keturunan Stefanus." Gumamnya seraya menggeram dan menatap Noa dengan wajah buruknya.
Noa berjalan mundur, dengan manik fokus menatap pergerakan makhluk yang tengah memperhatikannya.
Secepat kilat makhluk itu sudah berada di hadapannya dan mencengkram erat lehernya. Makhluk lainnya berdatangan. Berusaha merebut untuk mendapatkan darah Noa yang di anggapnya berharga.
__ADS_1
Kedua tangan Noa terangkat, berusaha melepaskan cengkraman tangan dengan kuku runcing tersebut namun itu perkerjaan yang sia-sia. Makhluk itu memiringkan kepala Noa dan bersiap memangsanya tapi sebuah sinar menghempaskan tubuhnya hingga membuat tubuh makhluk itu terdorong mundur.
🌹🌹🌹