Istri Tuan Vampir

Istri Tuan Vampir
36


__ADS_3

Alex tersenyum tipis. Menatap langit malam itu yang tiba-tiba saja mendung. Hidungnya menghirup aroma angin yang berhembus kuat-kuat seolah tengah menikmatinya.


"Ku fikir tidak secepat ini." Gumamnya membalikkan tubuhnya menghadap ke Adam yang juga ada di sana.


Alex sengaja memberi informasi soal tempat tinggal Lucas pada Adam yang merupakan orang suruhan dari Elena. Dia merangkap sebagai dokter di sebuah rumah sakit sehingga dengan mudah dia dapat menyediakan stok darah manusia untuk anggota kerajaan juga para bangsawan.


"Stefanus sudah tahu Tuan?" Tanya Adam ikut tersenyum.


"Hm ku rasa." Aku yakin Stefanus akan segera menangkap mu. Ketika hari itu datang, aku akan hadir untuk merebut Noa dari tanganmu..


"Saya fikir Tuan tidak perduli dengan itu. Bukankah Tuan sudah nyaman tinggal di sini." Alex mengangguk-angguk lalu duduk di samping Adam.


Aku memang sudah tidak perduli tapi aku sangat perduli dengan Istri Lucas..


"Aku hanya ingin cepat melihat karma menghantam hidup Stefanus. Dia akan menelan bulat-bulat aturannya sendiri."


"Hm iya Tuan. Sesuai kemauan Elena. Mungkin Stefanus akan mencabut aturan itu sehingga kita bisa bebas berburu." Alex terdiam. Dia baru sadar tentang hal itu. Perbuatan yang di lakukan sekarang akan memicu musnahnya kehidupan manusia.


Aku tidak perduli. Jika itu terjadi, aku akan menyembunyikan Noa di bungker yang sudah ku siapkan..


Alex merasa yakin jika Noa sama halnya dengan Ana yang di anggap tidak setia. Dia sangat memahami seluk beluk kesetiaan manusia yang akan memudar jika di telantarkan oleh pasangannya. Keyakinan itu membuat Alex merasa percaya diri bisa merebut Noa dengan mudah ketika nanti Lucas tertangkap.


๐ŸŒน๐ŸŒน๐ŸŒน


Keesokan harinya..


Noa bergumam dengan bibir tersungging ketika menyadari jika Lucas masih mendekapnya. Dia memilih kembali menutup matanya dan ingin bermanja-manja pagi ini.


"Masih mengantuk Baby?" Tanya Lucas seraya membelai rambut panjang Noa.


"Jam berapa sekarang sayang?"


"Pukul enam. Tidur mu nyenyak sekali semalam."


"Apa kamu pergi ke Ayah kemarin?"


"Hm iya. Tapi hanya sebentar." Lucas menghembuskan nafas berat mengingat keputusan yang sebenarnya begitu sulit di ambil.


Meskipun Stefanus sudah berkata memutuskan hubungan antara Ayah dan anak. Tapi Lucas tahu jika itu semua tidak akan bisa mengubah statusnya sebagai putra mahkota.


"Aku sudah mengakui hubungan kita pada Ayah." Noa bergegas duduk seraya memegangi ujung selimut untuk menutupi tubuh polosnya.


"Lalu bagaimana sayang?"

__ADS_1


"Sesuai peraturan Baby. Dia mengutukku dan tidak menganggap ku sebagai anaknya lagi." Noa melebarkan matanya sebentar lalu menghembuskan nafas berat.


Maniknya menatap Lucas yang kini juga tengah menatapnya dengan sebuah senyuman. Noa sudah bisa menilai bagaimana besarnya perasaan Lucas padanya hingga dia rela meninggalkan Ayah serta tahta kerajaan hanya untuk bersamanya.


"Kamu akan kehilangan semuanya sayang." Ucap Noa lirih.


"Sejak awal aku memang tidak menginginkan tahta kerajaan itu. Biar saja Ayah mengantikan posisi ku dengan menantunya. Tapi itu tidak akan mudah terjadi Baby." Lucas kembali menarik nafas panjang dan menghembuskan nya kasar." Aku lebih takut dengan pemburuan yang mungkin akan Ayah lakukan pada kita terutama pada mu." Noa terdiam sesaat sebelum akhirnya angkat bicara.


"Siap tidak siap. Bukankah kita harus siap."


"Aku bahkan sudah siap sejak aku memutuskan untuk menikah denganmu." Keduanya saling menatap seraya tersenyum untuk menguatkan hati masing-masing.


"Aku hanya takut kamu menikah lagi."


"Jika kamu pergi. Aku akan hidup tanpa cinta. Bagaimana mungkin aku bisa menikah lagi." Noa mendekat lalu meringkuk di dekapan tubuh Lucas.


"Aku ingin menikmati kebersamaan kita."


"Kita memang akan terus bersama. Aku tidak akan membiarkan mereka menyentuhmu selama aku masih ada."


Lucas menunduk seraya mengangkat dagu Noa dan mellumat bibirnya lembut hingga bibir keduanya basah.


"Lengket sekali. Aku mau mandi." Pinta Noa dengan tengkuk yang masih bersandar pada lengan kekar Lucas.


Meski sudah meminta, namun nyatanya Noa masih enggan mengangkat kepalanya dari lengan Lucas. Tangannya menggalung erat dan sesekali mengusap rahang kerasnya seolah meminta Lucas memperdalam ciumannya.


"Tidak Baby." Lucas tersenyum dan menyudahi kegiatannya saat tubuh Noa mulai memintanya untuk melakukan lebih.


"Kenapa melakukan itu." Dengus Noa tentu merasa kesal karena hasratnya tidak tersalurkan.


"Kamu akan sakit. Kita mandi bersama agar kamu bisa mendapatkan sarapan mu." Lucas berdiri seraya mengangkat tubuh Noa bersamanya.


"Ayolah Tuan Lucas. Kenapa kau selalu saja mempermainkan aku." Protes Noa seraya mengecupi leher Lucas dengan harapan sebuah percintaan panjang dia dapatkan lebih awal.


Entah karena kuatnya perasaan atau karena candu yang mulai Lucas tancapkan hingga membuat seorang Noa meminta sebuah percintaan yang dulunya ingin dia hindari.


"Aku tidak mempermainkan mu Baby. Nanti ku berikan menjelang larut."


"Lalu kamu pergi lagi?" Lucas menyalakan keran dan mendudukkan Noa lebih dulu ke dalam bak mandi besar. Dia menyusul setelah melepaskan baju dan duduk sejajar.


"Tidak. Aku tidak akan pulang. Bukankah kamu tahu jika aku sudah di usir."


"Apa ada sedikit sesal sayang?" Tanya Noa lirih.

__ADS_1


"Menyesal Baby. Kenapa aku terlambat untuk bertemu denganmu."


"Bukankah aku yang seharusnya berkata itu."


"Nyatanya aku yang mengatakan itu lebih dulu." Lucas membasahi wajah Noa dengan percikan air dari tangannya." Jangan lagi tanya sesal. Aku selalu berfikir matang dalam mengambil keputusan. Aku tidak akan menyesal sekalipun kita akan sama-sama binasa nantinya." Bukan hanya sentuhan Lucas yang terasa menghanyutkan. Tapi perkataannya juga membuat Noa semakin tenggelam di dasar hatinya.


Hubungan yang masih sangat singkat tapi makhluk di sampingnya sudah sanggup mengorbankan nyawa demi hanya untuk bersamanya.


"Apa tidak ada jalan lain untuk berdamai sayang."


"Jika keegoisan masih berada di titik tertinggi. Ayah tidak akan bisa di ajak berdamai." Lucas tersenyum tipis, memikirkan kenyataan jika dulu Ayahnya juga mencintai seorang manusia." Bencana ini terjadi karena penghianatan Ibu ku." Noa melebarkan matanya, menatap Lucas penuh tanya.


"Ibu mu?"


"Paman Alex benar. Ibu ku seorang manusia. Dia berkhianat bahkan menelantarkan aku hingga membuat hati Ayah ku terluka dan kembali memberlakukan peraturan yang seharusnya sudah di cabut." Noa terdiam. Dia tidak percaya jika ada seorang Ibu yang tega melakukan itu pada anak kandungnya." Bukankah itu sangat egois Baby. Kenapa dia harus membenci semuanya padahal hanya Ibu ku yang bersalah." Imbuh Lucas bimbang. Dia tidak tahu harus berbuat apa selain menerima kenyataan pahit itu.


"Jika bukan Ibu kandung aku masih percaya sayang tapi dia Ibu kandung mu."


"Buktinya dia menelantarkan aku Baby. Aku bahkan tidak tahu bagaimana wajah dari Ibu ku sendiri. Dia meninggalkan aku karena aku seorang Vampir."


"Dulu orang-orang menyebutku bisu dan tidak bisa bicara. Semua orang menggunjing kecuali Ibu ku. Dia masih menyebutku sebagai anugerah yang paling sempurna yang sudah Tuhan berikan. Lalu apa salahnya jika Ibu mu memiliki anak keturunan Vampir. Bukankah itu sudah jelas sebab dia berhubungan dengan Ayah mu."


"Mungkin dia terlalu menderita saat mengandung ku Baby."


"Entahlah sayang. Aku merasa jika semua terdengar ganjil. Jika dia membenci anak keturunan Vampir. Kenapa dia mau menikah dengan Ayahmu? Apalagi anaknya setampan Tuan Lucas. Menurutku itu terdengar aneh." Lucas mengangguk-angguk dan mulai memikirkan keanehan yang di sebutkan Noa.


"Apa kamu akan setia padaku Baby meski nantinya kamu mengandung keturunan Vampir?"


"Tentu saja sayang. Dia tumbuh di rahimku. Bagaimana mungkin aku bisa membencinya."


"Itu akan berbeda. Mengandung keturunanku akan membuat hari-hari mu sangat sulit. Dia akan menyerap darah di tubuhmu setiap harinya. Itu ku ketahui dari buku sejarah yang ku baca."


"Asal janinnya sehat sayang. Aku siap karena itu anak kita. Semua Ibu melakukannya. Mengorbankan nyawa hanya demi melahirkan satu kehidupan."


Lucas tersenyum. Kedua tangannya terulur lalu menelungkup wajah Noa dan memberikannya beberapa kecupan. Tubuh Noa kian merapat, saling bergesekan di dalam air bak mandi yang hangat.


"Kamu harus cepat hamil."


"Hm sayang. Harus sering bercinta jika ingin hamil."


"Aku takut kamu sakit."


"Aku akan baik-baik saja." Keduanya kembali terbakar hasrat hingga percintaan panas menjadi tidak tertahankan.

__ADS_1


Air di dalam bak berukuran cukup besar yang tadinya terlihat tenang. Kini bergelombang akibat percintaan yang terjadi di dalam.


๐ŸŒน๐ŸŒน๐ŸŒน


__ADS_2