
Keesokan harinya..
Noa menyipitkan matanya seraya membungkus tubuhnya dengan selimut. Rasa kantuk masih setia bertengger di pelupuk mata, sehingga membuatnya kembali mendengkur.
Lucas memperhatikan Noa yang sejak tadi melakukan gerakan yang sama. Dia sengaja tidak membuka tirai untuk menghalangi sinar matahari yang masuk.
"Terlalu dingin." Gumamnya pelan.
Jika aku tidak beranjak dari situ. Kamu malah tidak akan bangun.
Noa tidak tahu jika sudah sejak pukul lima pagi Lucas menunggu. Namun Noa malah merasa nyaman berada di dekapannya sehingga Lucas terpaksa bangun bahkan menaikan suhu pendingin ruangan.
"Dingin sekali Tuan." Gumam Noa baru sadar akan sesuatu saat tangannya hanya menyentuh selimut. Selimut? Noa meraba selimut yang menutupi tubuhnya.
Sontak matanya melebar. Dia bergegas duduk dan mengedarkan pandangannya.
"Tuan!!!" Teriaknya seraya berdiri.
"Aku di sampingmu." Jawab Lucas terkekeh melihat wajah cemas Noa.
"Ku fikir." Ucapan Noa tertahan. Dia tahu apa maksud dari gelak tawa Lucas sekarang. Noa duduk lemah dan kembali membalut tubuhnya dengan selimut.
"Kenapa sepanik itu Baby?" Tanya Lucas sudah duduk di samping Noa.
Entahlah.. Kenapa aku jadi berlebihan seperti ini.
"Ku fikir Tuan pergi." Lucas mengerakkan tangannya sehingga tirai tersingkap sedikit.
"Ini sudah pukul 9 pagi. Jika aku pergi. Tidak masalah kalau kamu keluar sendirian."
"Aku tidak mau Tuan. Aku takut di bawa paksa dengan anak buah Mommy Vivian."
"Aku sudah menebus mu. Kamu tenang saja." Noa memutar tubuhnya dan menatap Lucas antusias.
"Serius Tuan?" Tuturnya memastikan.
"Hm. Kamu bebas berkeliaran asal jangan malam hari."
"Eh. Tapi hari ini kita akan ke makam Mama dan mencari rumah. Bukankah Tuan sudah berjanji. Apa Tuan lupa?" Kedua tangan Lucas menelungkup wajah Noa lalu menciuminya.
Kepolosan yang di tunjukkan Noa membuatnya semakin jatuh cinta. Lucas merasakan perbedaan begitu jauh ketika dulu dia mencoba menuruti permintaan sang Ayah untuk mencoba berkenalan dengan beberapa gadis di bangsanya.
Gaya gadis di bangsanya cenderung membahas masalah masa depan yang berujung pada kekuasaan kerajaan. Entah sejak kapan Lucas memiliki selera berbeda. Padahal untuk bangsa Vampir, itu sesuatu yang wajar.
Permaisuri calon raja harus memiliki ambisi. Kepemimpinan yang kuat sebab nantinya mereka akan berdiri di belakang seorang lelaki hebat. Lelaki yang harus memikirkan kepentingan banyak orang. Bukan masalah pribadi yang membahas perasaan masing-masing.
Noa menjauhkan wajah Lucas seraya mengerucutkan bibirnya. Dia berfikir jika Lucas melupakan itu dan sekarang mencoba merayunya.
__ADS_1
"Aku maafkan jika Tuan melupakannya." Ucap Noa lirih.
"Kamu sadar aku siapa Baby? Meskipun aku bukan pangeran dari bangsamu tapi aku adalah calon raja." Noa menghembuskan nafas berat dan malah memutar tubuhnya lalu duduk tegak.
"Maksud Tuan apa berbicara seperti itu? Apa aku tidak pantas meminta tempat tinggal?" Lucas kembali terkekeh sementara hembusan nafas Noa kian berat." Iya maaf mungkin aku terlalu matre." Imbuhnya akan berdiri namun dengan gerakan cepat Lucas menahannya.
"Apa itu matre?"
"Materialistis. Wanita yang mencintai uang."
"Oh." Lucas mengangguk-angguk seraya mengangkat tubuh Noa dan memangkunya di atas paha kanannya." Aku tidak pernah menyebut mu begitu. Ambil semua uang di brangkas dan emasnya jika memang kamu mau." Imbuhnya mencoba meredam tawanya. Dia ingin bicara serius agar Noa tidak salah faham.
"Lalu kenapa Tuan tertawa?"
"Aku raja dan harus memikirkan nasib bangsaku ku. Bagaimana pendapatmu."
"Aku tidak mengerti Tuan. Urus itu sendiri. Aku tidak tahu menahu soal itu."
"Not Baby. Maksudku. Apa yang kamu lakukan jika ada yang ingin menggeser posisi kepemimpinan ku." Lucas membalikkan pertanyaan gadis Vampir yang di temuinya.
Aku akan membantumu mengatur strategi Tuan. Aku cukup pintar untuk itu karena kedua orang tuaku sudah melatihku. Kita akan menjaga kekuasaan kerajaan bersama-sama untuk mempertahankan kasta keluarga kita.
"Asal hatimu tidak bergeser Tuan." Gelak tawa Lucas meledak hingga membuat Noa kembali mengerucutkan bibirnya. Dia kembali menertawakan ku seperti itu. Bukankah jawabanku sudah benar. Untuk apa menjadi Istri seorang calon raja jika nantinya seorang madu di hadirkan. "Aku mandi dulu Tuan." Noa berusaha menyingkirkan tangan Lucas yang tengah mengikat pinggangnya.
"Pembicaraan kita belum selesai. Tunggu dulu."
"Oke Baby maafkan aku. Jawaban itu sangat menghibur." Lucas menarik nafas panjang berusaha mengendalikan mimik wajahnya." Jika kekuasan ku berhasil di rebut dan aku menjadi Vampir biasa bagaimana?" Noa menyandarkan tubuh dan kepalanya pada dada bidang Lucas.
"Jawaban yang sama Tuan. Aku butuh pelindung bukan harta meskipun kehidupan tanpa harta juga begitu sulit dan bisa mengikis akal sehat."
"Kasta ku akan turun."
"Asal cinta Tuan untukku semakin meninggi." Sahut Noa mengecupi pipi kanan Lucas seraya tersenyum.
"Memang sudah meninggi."
"Aku bingung."
"Hehe.."
"Aku tidak mengerti kenapa Tuan bertanya itu?"
"Untuk menyamakan jalan fikiran kita."
"Apa yang Tuan fikirkan?" Noa menjauhkan wajahnya sehingga kini manik keduanya bertemu.
"Kekuasaan tidak penting. Aku lebih memilih kehilangan tahta daripada harus kehilanganmu." Senyum Noa merekah dengan wajah memerah.
__ADS_1
"Jadi kita akan beli rumah."
"Hehe iya Baby. Tenang saja. Bastian sudah menyiapkannya." Lucas meraih dagu Noa dan melummat nya sebentar." Manis sekali, seperti sikapmu." Imbuhnya kembali melummat lagi dan lagi.
"Emmmmm.." Baru saja Noa menggalungkan kedua tangannya. Bunyi bel pintu berbunyi." Suara apa itu?" Tanya Noa merasa aneh dengan suara bel pintu milik Lucas.
"Ada tamu. Itu suara bel pintu." Noa beranjak seraya tertawa kecil. Suara bel pintu terdengar begitu konyol untuknya.
"Suara itu jarang berbunyi karena aku tidak pernah menerima tamu selain Bastian."
"Em aku mandi saja Tuan. Silahkan berbincang dengan tenang." Lucas meraih lengannya cepat.
"Dia ke sini untuk mempertemukan kita dengan seorang agen penjualan rumah."
"Aku akan mencuci muka."
"Kau sudah sangat cantik." Lucas mengiring Noa kembali duduk." Aku buka pintu dulu. Jangan rindu jika ku tinggal." Canda Lucas mengecup puncak kepala Noa sejenak dan melangkah ke arah pintu.
Darimana dia belajar rayuan itu?
"Dari sikapmu ketika bangun tidur." Sahut Lucas belum menggerakkan gagang pintu. Dia malah membalikkan badannya menatap Noa." Nanti aku akan merayumu lagi setelah pertemuannya selesai." Pipi Noa kian merona dengan anggukan pelan sehingga dessahan lolos dari bibir Lucas. Menggemaskan sekali.
๐น๐น๐น
Menghilangnya Mommy Vivian membuat anak buahnya langsung merayakan pesta besar, setelah melakukan rapat untuk menunjuk seorang pengelola tempat pellacuran yang baru.
Lono sudah di tunjuk. Dia anak buah Mommy Vivian yang paling patuh namun masih memikirkan nasib teman-temannya. Terkadang dia rela di maki ketika melakukan pembelaan sehingga para anak buah Mommy Vivian yang berjumlah 30 orang memutuskan memilih Lono tanpa paksaan.
"Selamat ya Lon. Semoga kau bisa menjadi pemimpin yang adil. Tidak seperti Mommy yang hanya mementingkan kantungnya sendiri." Lono tersenyum tipis. Dia merasa sungkan walaupun kenyataannya dia juga merasa senang.
"Iya. Terimakasih sudah percaya."
"Terus. Bagaimana dengan misi memburu Noa." Wajah Lono seketika berubah. Dia mengusap tengkuknya kasar saat ingatan soal kejadian malam itu melintas.
"Bukankah mereka semua hilang? Itu kenapa kita harus menghentikan pemburuan pada Noa. Suaminya makhluk sejenis Vampir tapi lidahnya sangat panjang." Jawab Lono menggelinjang. Dia masih ingat saat lidah Lucas membersihkan sisa darah di sekitar bibirnya.
"Ku fikir itu alasan saja agar kau tidak kena marah."
"Astaga. Aku tidak pernah berbohong. Dia menangkap peluru itu dengan tangan kosong. Lidah panjangnya juga sempat... Ach!! Aku tidak ingin membicarakan itu."
"Terus tugas kita apa?"
"Menjaga keamanan tempat ini dengan sistem sif." Ide Lono di sambut riuh. Mereka tentu setuju karena selama ini Mommy tidak pernah membiarkan mereka beristirahat.
"Kita setuju. Itu ide bagus." Gumam mereka serentak.
"Aku tidak setuju." Sahut Prapto yang sudah berdiri sejak tadi di belakang kerumunan.
__ADS_1
๐น๐น๐น