Istri Tuan Vampir

Istri Tuan Vampir
42


__ADS_3

Noa tengah berada di tempat yang sekelilingnya penuh dengan api. Namun terasa aneh karena dirinya tidak merasa gerah sedikitpun.


Dia mengingat mimpi ini. Mimpi yang selalu mendatanginya di waktu-waktu tertentu saja.


"Jangan takut nduk." Ujar seorang wanita dengan jarik dan kebaya kuno yang di pakainya. Wanita itu memiliki mahkota berlambang naga dan seluruh bajunya dominan berwarna hijau.


NB. Nduk adalah sebutan orang Jawa untuk anak perempuan.


Mimpi yang sama. Tapi siapa dia?


"Kamu tidak perlu tahu siapa aku Nduk." Noa terkejut karena ternyata wanita itu memiliki kemampuan sama seperti Lucas.


"Saya sering bermimpi seperti ini tapi saya baru pertama kali melihat anda." Tanya Noa sopan.


"Ini memang tempat tinggal ku."


"Lalu kenapa saya ada di sini sekarang?"


"Ya pasti toh Nduk. Aku ini sebagian dari tubuh kamu jadi sudah seharusnya kalau sesekali kamu di undang ke sini." Noa mengerutkan keningnya. Dia tentu merasa bingung dengan ucapan wanita asing yang baru pertama kali di lihatnya.


"Saya tidak mengerti Bu."


"Panggil aku Nyai saja."


"Nyai?"


"Iya Nyai. Aku sudah bersamamu sejak lama meskipun kamu tidak menyadari itu. Kamu lihat toh Nduk, wajah kita mirip kan." Noa di giring ke arah cermin besar yang terletak di ujung tangga tanpa bangunan.


"Aku masih tidak mengerti." Noa tercengang karena paras wanita itu sangat mirip dengannya. Yang membedakan hanya cara berpakaiannya saja.


"Mirip Mama?" Tanya Noa terbata.


"Oh Ratih. Dulu aku juga tinggal di sana."


"Ratih? Mama saya."


"Hm iya."


"Sebenarnya anda siapa? Saudara Mama."


"Aku Nenek moyangmu Nduk. Aku di urus untuk menjaga para titisan. Kamu itu titisan nomer enam dari yang pernah ada." Noa ingat dengan kuburan keluarganya yang di sendirikan.


"Anda keluargaku?" Wanita itu tertawa cekikikan mendengar pertanyaan yang di lontarkan Noa.


"Anggap saja begitu. Ini pertama kali, satu keluarga, dua kali turun temurun. Kalau sampai anak turun mu juga seorang perempuan. Berarti keluarga Ratih sangat spesial. Lebih berani lagi Nduk. Ingat, ada Nyai di sini. Kamu tidak perlu takut dengan apa yang menghadang di depan nanti. Mereka itu hanya musuh kecil untuk Nyai apalagi sekarang Nyai sudah punya calon rumah baru."


"Calon rumah baru?" Tanya Noa mengulang. Wanita itu tertawa nyaring kemudian pergi dari hadapan Noa tanpa menjawab pertanyaan." Nyai, jangan pergi. Jawab aku dulu." Teriak Noa mengedarkan pandangannya ke atas karena suara tertawa wanita itu terdengar masih menggema.


Mimpi Noa terasa begitu aneh hingga di dunia nyata dia bergumam seraya meneriakkan nama Nyai.


Tok.. Tok.. Tok...


"Non.. Non.. Bangun." Panggil Bik Minah dari luar kamar. Bibik yang tidak sengaja melintas mendengar suara gigauan Noa yang sangat nyaring.


Tanpa berhenti, Bik Minah terus saja mengetuk pintu hingga Noa tersadar dalam keadaan berkeringat.


"Hah...." Nafas Noa terbuang kasar. Dia menoleh dan tidak mendapati Lucas di sampingnya.


Tok.. Tok... Tok...

__ADS_1


"Non.. Non Noa. Bangun Non."


"Iya Bik." Jawab Noa cepat-cepat beranjak duduk meski kepalanya terasa nyeri. Dia berusaha berdiri untuk membuka pintu kamar.


"Astaga Non.. Maaf Bibik khawatir. Non teriak-teriak sampai kedengaran Bibik." Noa memijat pelipisnya seraya mencoba tersenyum." Mimpi apa Non sampai seperti itu. Apa Tuan Lucas tidak membangunkan." Imbuhnya bertanya.


"Aku juga lupa Bik. Aku mimpi apa." Noa mencoba mengingat mimpinya namun ingatannya tidak bisa menjangkau." Tuan Lucas mungkin pergi." Bik Minah tersenyum aneh mendengar jawaban Noa. Sejak tadi dia duduk bersama Bima di pos penjagaan namun tidak melihat Lucas keluar.


"Ya sudah. Non tidur lagi saja. Jangan lupa berdoa biar tidak mimpi macam-macam." Noa melirik ke jendela luar yang terlihat masih gelap.


"Memangnya sekarang pukul berapa Bik?"


"12 Non. Ini tadi Bibik keliling untuk ngecek pintu dan jendela mungkin ada yang belum tertutup, Eh denger Non teriak-teriak."


"Hm iya Bik Maaf. Sebaiknya aku tidur lagi." Noa tersenyum seraya menutup pintunya perlahan." Katanya tidak pergi." Eluhnya berjalan ke sofa. Noa duduk lemah seraya menyalakan televisi. Dia mengedarkan pandangannya ke sekeliling kamar yang terlihat sepi." Takut juga." Gumamnya memandangi cincin pemberian Lucas. Baru saja Noa akan mencium cincin itu untuk memanggil, Lucas sudah lebih dulu datang.


"Kenapa bangun." Tentu saja Noa menoleh cepat karena merasa terkejut.


"Aku tadi bermimpi tapi aku lupa." Jawab Noa memalingkan wajahnya.


"Tidur lagi jika begitu."


"Agar kamu bisa pergi lagi?"


"Aku tadi sudah berpamitan." Lucas membaca raut wajah Noa yang tengah kesal.


"Hm aku tidur lagi." Noa berdiri namun tangan Lucas menahannya.


"Kamu marah?"


"Jika aku marah. Bukankah itu mirip anak kecil." Jawaban ketus yang di lontarkan Noa membuat Lucas merasa yakin jika Noa tengah marah padanya.


"Apa yang tidak masalah. Kepalaku pusing sekali. Aku harus beristirahat." Secepat kilat Lucas mengangkat kedua tangannya lalu memijat pelipis Noa.


Selayaknya seorang dokter. Rasa pusing yang memuakkan langsung menghilang seketika.


"Aku hanya memeriksa keadaan sekitar saja." Ucap Lucas lirih.


"Aku pusing karena mimpi itu. Bukan karena kamu."


"Hatimu bahkan sakit." Jawab Lucas cepat." Jangan berbohong Baby. Jika kesal bilang saja kesal." Lucas menginginkan Noa jujur atas perasaannya sendiri.


Noa menghela nafas panjang lalu menghembuskannya lembut. Dia memandangi wajah Lucas yang tepat berada di hadapannya.


Tidak seharusnya aku bersikap begini.


"Jika kamu nyaman lakukan saja." Jawab Lucas tersenyum.


"Aku hanya merasa bingung dengan mimpi ku tadi." Noa memutar tubuhnya dan otomatis kedua tangan Lucas terlepas.


"Mimpi buruk?"


"Aku tidak mengingatnya sedikitpun tapi aku merasa sering bermimpi seperti itu." Jawab Noa mencoba mengingat namun tetap tidak bisa.


"Mungkin kamu terlalu takut dengan kenyataan yang ada di depan kita."


"Aku memang takut tapi aku merasa sering bermimpi soal itu."


"Lalu apa?"

__ADS_1


"Kamu tidak bisa melihatnya di otakku?" Lucas terkekeh seraya mencubit lembut pipi kanan Noa.


"Aku hanya bisa menyembuhkan, bertarung dan melarikan diri. Kalau untuk membaca memori di otak. Itu tidak bisa Baby."


"Sudahlah sayang." Tanpa rasa sungkan, Noa duduk di pangkuan Lucas." Aku masih mengantuk. Mari kita tidur agar besok tidak kesiangan untuk berjalan-jalan." Secepat kilat Lucas sudah membawa tubuh Noa di atas ranjang.


"Mau kemana lagi?"


"Banyak tempat yang ingin ku kunjungi." Noa menumpukan kepalanya pada lengan kekar Lucas dan menyembunyikan wajahnya pada lehernya.


"Bagaimana jika tidak perlu membawa mobil."


"Terserah sayang. Eum kamu wangi sekali." Noa tersenyum seraya menghirup kuat-kuat aroma kulit Lucas yang wangi." Parfum apa yang kamu pakai?" Imbuhnya ingin tahu.


"Aku tidak pernah memakai parfum."


"Tapi ini wangi sekali." Lucas menddesah lembut merasakan sensasi bibir Noa yang sesekali menempel pada kulit lehernya.


"Ugh Baby.. Jangan lakukan itu. Milikku meronta dan kamu bisa sakit jika dia kembali meminta." Noa tersenyum dan menjauhkan bibirnya.


"Iya sayang maaf. Selamat tidur." Noa mengecup pipi Lucas sebentar lalu mulai memejamkan matanya agar kantuk cepat di dapatkan.


๐ŸŒน๐ŸŒน๐ŸŒน


Setelah memastikan aman. Elena masuk ke ruang rahasia di mana Ana di kurung. Dia tersenyum kecut menatap Ana yang juga tengah melihat ke arahnya.


"Kau mendengar titah Stefanus kan." Tanyanya penuh hinaan.


"Makhluk jahat tidak selamanya selalu menang Elle. Aku mohon jangan menebar kebencian dengan menggunakan namaku."


"Semua terserah padaku! Aku yang mengendalikan kehidupanmu dan sebentar lagi anakmu itu."


"Kau akan jatuh suatu saat nanti Elle. Tuhan tidak tidur."


"Suruh Tuhanmu membebaskan kamu!!" Jawab Elena yang tidak percaya dengan Tuhan. Ambisinya terlalu besar untuk menguasai tahta kerajaan sehingga membuatnya menghalalkan segala cara.


"Dia akan datang menolong ku Elena."


"Kau sudah ku kurung selama ratusan tahun tapi mana Tuhanmu?" Ana terdiam karena tidak memiliki jawaban. Dia membenarkan ucapan Elena walaupun sekalipun dia tidak pernah berhenti berharap.


"Dia sedang menunggu waktu yang tepat."


"Hahahaha.. Silahkan berharap. Lucas segera akan di buru. Jika tertangkap, aku akan memaksa Stefanus menikahkannya dengan Daniella." Ana menoleh, menatap Elena dengan sorot mata tajam.


"Andai Stefanus tahu kau makhluk yang begitu buruk. Mungkin dia akan memusnahkan mu Elle."


"Dia tidak akan tahu karena dia terlalu bodoh."


"Aku mohon Elle. Berhenti mengusik hidup putraku. Cukup aku saja yang menjadi korban. Biarkan dia memilih dan menentukan kehidupannya sendiri." Elena terkekeh nyaring seraya menatap rendah ke arah Ana.


"Sekarang dia anakku."


"Putraku tidak pantas menjadi anak mu. Hanya aku Ibu nya."


"Kau sudah di anggap mati jadi jangan berharap terlalu tinggi agar kematian mu nanti tidak seberapa sakit." Elena beranjak pergi meninggalkan Ana dengan kekhawatiran yang selalu bertambah setiap harinya.


Kasihan sekali anakku..


๐ŸŒน๐ŸŒน๐ŸŒน๐ŸŒน

__ADS_1


__ADS_2