
Lono tidak bisa mengambil uang dengan nominal besar karena kebijakan dari aturan ATM. Dia mengambil uang secukupnya lalu membagikannya dengan adil pada 29 temannya.
Bram memasang raut wajah tidak suka. Dia menginginkan uang itu di bagi berdua namun Lono tentu tidak akan mengsetujuinya.
"Seharusnya tidak perlu memberitahu mereka." Ucap Bram setengah berbisik. Lono menoleh seraya mengerutkan keningnya.
"Bukankah aku bilang tidak setuju." Lono dan Bram sudah membicarakan perihal uang tersebut di perjalanan. Walaupun Bram tidak setuju.
"Aku juga sudah bilang untuk memberikan jatah mu saja agar jatahku utuh." Gerutunya terus menerus.
"Kenapa kau jadi serakah Bram? Kita harus bisa berbagi satu sama lain."
"Kita yang menemukan dia."
"Mereka semua butuh uang sama sepertimu. Kau tahu jika mereka juga butuh uang untuk menghidupi keluarganya. Aku tidak mau tahu Bram. Kita ambil uang itu besok lalu membaginya sejumlah gaji bulan ini." Lono berjalan pergi, meninggalkan Bram yang masih tidak terima.
"Brengsek! Sok jadi pemimpin!!" Bram pergi menuju ke tempat istirahat yang ada di belakang. Tiba-tiba saja langkahnya terhenti ketika dia tidak sengaja mendengar obrolan antara Prapto dan kaki tangannya.
"Mungkin jika Bapak memberikan hadiah, mereka bisa bersemangat." Ujarnya menyampaikan ide.
"Hadiah apa?"
"Uang. Bukankah Noa sangat berharga." Bram tersenyum licik. Ada niat busuk terbesit karena kekesalannya dengan Lono.
Persetan dengan Lono! Aku akan memberitahu lokasi rumah Noa pada mereka hahahaha..
"Berapa uang yang bisa di berikan jika saya menemukan lokasi rumah Noa sekarang." Sahut Bram sudah berdiri di ambang pintu.
"10 juta." Jawab Prapto membuat Bram terkekeh.
"Itu terlalu kecil Pak."
"Lalu berapa." Ucap Prapto meninggikan suaranya.
"150 juta." Sahut kaki tangan Prapto cepat.
"Itu terlalu banyak." Tentu saja Prapto tidak terima mengingat sifatnya yang tamak.
__ADS_1
"Itu tidak seberapa Pak. Bapak bisa mendapatkan nominal yang lebih dari itu."
"Hm. Bapak bisa menaikan tarif Noa jika sudah tertangkap." Bibir Prapto tersungging. Dia setuju dengan nominal yang akan di berikan asal Noa berada di tangannya.
Aku akan menaikan tarifnya menjadi 100 juta untuk satu jam. Haha..
"Baik aku setuju."
"Siapkan uangnya sekarang. Saya akan mengantarkan Bapak ke tempat tinggal Noa sekarang." Prapto menoleh dengan mata melebar.
"Kau jangan main-main!!"
"Saya tidak main-main. Siapkan uangnya lalu kita pergi ke lokasi." Prapto tersenyum merekah. Dia bergegas menyuruh kaki tangannya menyiapkan uang dan segera berangkat ke lokasi.
๐น๐น๐น
Lucas terdiam sesaat ketika mendengar penjelasan soal Pedro yang tiba-tiba saja menghilang. Ada rasa curiga terbesit seolah Lucas bisa menebak jika apa yang menimpa dirinya ada sangkut-pautnya dengan Elena. Wanita berambisi yang selalu menginginkan kedudukan tertinggi di kerajaan.
Inilah Tujuannya.. Dia masih menginginkan ku menikah dengan anaknya..
"Jika itu syaratnya. Aku tidak mau melakukannya. Aku lebih baik sendiri daripada harus menikah dengan orang yang tidak kucintai." Jawab Lucas mengurungkan niat nya untuk berpura-pura menyerah.
"Apa perlu Ayah mengumpulkan gadis para bangsawan untuk kamu pilih?" Elena mendengus seraya menatap malas ke Stefanus. Dia tidak setuju dengan ide itu sebab menginginkan Patresia bisa menikah dengan Lucas.
"Tidak. Aku tidak ingin mengenal siapapun." Lucas kembali memperlihatkan wajah datar. Dia mengukuhkan niatnya untuk tetap pada pendiriannya.
"Kenapa kau keras kepala Lucas!!" Teriak Stefanus geram.
"Sama sepertimu bukan!" Lucas tersenyum kecut di balik wajah pucatnya. Bukan hanya belenggu itu yang menyiksa tapi rasa rindu pada Noa terasa mencabik-cabik hatinya.
Dia memang tengah berada di kerajaan tapi hatinya tertinggal pada Noa yang juga tengah memikirkannya. Hal itu membuat keadaan Lucas kian memburuk. Daya tahannya terserap habis hingga tubuhnya terlihat kurus walaupun hanya beberapa hari belenggu itu terpasang.
Elena mengiring Stefanus keluar kamar. Dia ingin membicarakan rencana lanjutan yang di anggap sebagai akhir dari semuanya.
"Aku tidak setuju Elle. Walaupun Lucas bersalah tapi aku tidak berhak menghakimi nyawa manusia." Jawab Stefanus tegas. Dia tidak sampai hati jika harus mengancam Lucas akan menghabisi nyawa Noa jika dia tidak menuruti keinginannya untuk menikah dengan Patresia.
"Hanya satu manusia Baginda." Rajuk Elena meyakinkan.
__ADS_1
Tapi dia Istri anakku. Aku tidak bisa membunuhnya..
"Jika Baginda tidak setuju. Akan lebih baik Baginda membebaskan Lucas saja. Tidak ada gunanya belenggu itu terpasang karena rasanya Lucas tidak bisa di kendalikan. Tapi, Baginda juga harus rela kehilangan tahta jika mungkin rakyat menuntut Baginda untuk lengser. Mereka tidak akan mau di pimpin oleh seorang raja yang tidak tegas dalam bertindak. Memimpin anaknya saja tidak bisa, apalagi memimpin rakyat yang berjumlah ribuan itu." Elena tersenyum mengejek sementara Stefanus sendiri kembali merasa terpojok.
"Apa yang sebenarnya kau rencanakan Elle! Kenapa kau selalu saja melontarkan ancaman itu."
"Aku hanya memikirkan kemakmuran bangsa kita bukan memikirkan nasip manusia lemah itu!!" Elena masih tidak berhenti dan terus melancarkan tipu dayanya.
"Lakukan!!" Jawab Stefanus cepat. Dia tidak kuasa menolak karena tidak ingin kehilangan tahta kerajaan yang sudah di berikan turun temurun. Stefanus tidak ingin mengecewakan para leluhur pendahulunya.
Hahahaha... Demi rakyat!!! Mulutku terasa gatal mengucapkan itu!! Aku melakukan ini semua untuk diriku sendiri. Jika Lucas menjadi milik Patresia. Dia akan mudah ku kendalikan sebab Patresia akan membuat Lucas jatuh cinta..
Elena tersenyum lalu berjalan keluar dari kamar dan masuk ke kamar milik Patresia.
"Akhirnya berhasil." Teriak Elena kegirangan. Patresia memutar tubuhnya dan meletakkan sisir yang ada di tangannya.
"Apa yang berhasil?" Tanya Patresia ingin tahu.
"Mama akan menyiapkan prajurit untuk memburu wanita itu." Patresia berdiri lalu berjalan menghampiri Elena." Wanita itu akan di jadikan ancaman agar Lucas mau menuruti perintah Mama untuk menikah dengan mu." Patresia menddesah lembut. Dia merasa iba melihat keadaan Lucas sehingga ada niat untuk tidak melakukan pernikahan paksa itu.
"Aku sudah lelah Ma. Mungkin benar jika jodoh tidak bisa di paksa. Jangan hasut Baginda lagi. Biarkan Lucas memilih jalannya sendiri."
"Kau bicara apa!!!" Elena menoleh cepat dan menatap tajam Patresia.
"Aku tidak ingin menikah dengan lelaki yang tidak mencintai ku. Sekarang, tolong katakan. Di mana Mama mengurung Pedro." Elena mendengus. Dia berjalan ke arah jendela dengan wajah geram.
Untung saja aku belum memberitahu Patresia jika aku yang sudah menyekap Pedro..
"Mama tidak tahu."
"Jangan berbohong Ma. Aku tahu Mama yang mengurung Pedro."
"Jika Pedro ku kurung. Bukankah kau bisa mengedus nya. Kau jangan memfitnah Mama!" Patresia yang tidak tahu menahu soal penyekapan yang di lakukan Elena pada Ana. Membuatnya percaya dengan jawaban yang di lontarkan Elena.
"Lalu kemana dia?"
"Mungkin ini takdir. Pedro menghilang dan otomatis kau harus menuruti apa kata Mama. Jika wanita itu sudah tertangkap. Kau harus mau menikah dengan Lucas!!" Elena pergi begitu saja dengan raut wajah kesal. Sementara Patresia sendiri merasa menyesal sudah menyia-nyiakan Pedro selama ini. Tidak dapat di pungkiri jika ternyata Patresia mulai merindukan perhatian yang Pedro berikan untuknya.
__ADS_1
"Walaupun aku tidak pernah menganggapnya ada. Tapi dia tetap saja menyukaiku padahal aku selalu menghabisi waktu untuk memikirkan Lucas." Tarikan nafas terdengar berhembus." Apa dia sudah lelah memberikan perhatian hingga membuatnya pergi seperti ini. Aku benar-benar menyesal. Aku harap kau kembali ke sini agar aku bisa melakukan kewajiban ku sebagai Istri." Imbuhnya penuh harap. Menatap lekat ke arah perpohonan besar yang mengelilingi kerajaan.
๐น๐น๐น