
Meski gerimis turun, tidak menyurutkan para tamu undangan untuk datang ke pernikahan Lucas. Mereka ingin menyaksikan kembali acara sakral tersebut.
Elena dengan cepat menyebarkan berita tentang kepergian Pedro sehingga para tamu undangan tidak lagi membicarakan perihal pernikahan kedua Patresia.
Walau begitu, ada beberapa bangsawan yang mempertanyakan keganjilan itu. Mereka bahkan sempat menuduh Stefanus mempermainkan kesakralan pernikahan meski mereka hanya mampu berbicara di belakang saja.
Mereka terlalu menganggap itu tidak penting, mengingat hati kukuh Lucas yang sulit tertarik pada wanita. Dulunya mereka sempat pernah berharap, jika suatu saat Lucas bisa menyukai anak perempuan di keluarga mereka. Namun harapan itu pupus begitu saja saat mereka menyadari jika prinsip Lucas sulit goyah.
Lucas sendiri tengah duduk lemah saling berhadapan dengan Patresia. Waktu pernikahan yang semakin dekat memupuskan harapan keduanya.
"Tidak ada yang terjadi kan." Ucap Lucas lemah.
"Langit ikut menangis, menyaksikan pernikahan kita. Itu pertanda buruk Lucas. Kamu harus tetap yakin." Walaupun aku sendiri tidak yakin. Kamu di mana Pedro. Apa Mama sudah memusnahkan mu?
"Aku merasa kau juga putus asa." Patresia tertunduk lesu. Dia membenarkan tebakan Lucas karena kini dia juga merasa tidak yakin dengan harapannya sendiri.
"Entahlah Lucas." Stefanus berjalan beriringan bersama Elena. Keduanya duduk di singgasana untuk bersiap memberikan sambutan dan beberapa pengumuman sebelum ritual pernikahan di laksanakan.
Raut wajah Lucas semakin tidak baik, begitupun Patresia yang mulai memasang mimik wajah gelisah. Tidak lama lagi keduanya akan di syah kan menjadi Suami Istri sementara Tuhan belum menunjukkan tanda-tanda pertolongan.
Stefanus yang tengah membicarakan perihal pengalihan kekuasaan. Tidak sama sekali di dengar oleh Lucas yang fikirannya tengah tertuju pada Noa.
Beberapa kali Stefanus melontarkan pertanyaan pada Lucas akan kesiapannya menjadi raja. Tapi Lucas tidak merespon bahkan tidak mendengar panggilan yang di lontarkan Stefanus.
"Lucas. Baginda memanggil mu." Ujar Patresia setelah menepuk pundaknya lembut. Lucas menatap lemah ke arah Stefanus.
"Apa kau siap menjadi raja setelah menikah nanti? Ayah rasa inilah saat yang tepat." Tanya Stefanus dengan harapan Lucas mampu menjawabnya sesuai keinginannya.
"Aku tidak siap. Serahkan kekuasaan itu pada permaisuri kebanggaan mu." Stefanus tersenyum aneh karena ternyata Lucas kembali mempermalukannya.
"Bukankah Ayah sudah membicarakan ini tadi." Lucas berpaling dengan wajah datar.
"Seharusnya kau tambahkan ini pada ancaman yang kemarin kau lontarkan padaku."
Ggggggggrrrrrrrrrrrrr...
Para tamu undangan mulai berbisik dengan perdebatan yang terjadi di hadapannya. Elena berdiri dan menghampiri Lucas untuk merajuk.
"Jadilah anak baik satu hari saja Lucas." Pinta Elena pelan.
"Kalian tahu jawabannya apa bukan. Jangan banyak bicara. Aku tidak ingin kekuasaan. Nikahkan kami dan semuanya akan selesai." Elena mendengus seraya kembali ke tempatnya semula. Dia membisikkan sesuatu hingga membuat Stefanus kembali melontarkan titahnya.
"Pernikahan akan kita mulai." Patresia menatap ke Lucas yang tengah tertunduk lemah. Dulu pernikahan ini adalah keinginan terbesarnya, namun sekarang dia sadar jika melihat kesakitan orang yang kita sayangi lebih buruk dari segalanya.
__ADS_1
Seseorang datang dengan membawa nampan dan dua buah gelas khusus yang terbuat dari perak. Nampan itu di letakkan pada meja yang ada di hadapan Lucas dan Patresia.
"Silahkan isi gelas itu dengan darah kalian masing-masing." Pinta Stefanus di sambut riuh oleh para tamu undangan.
Sementara Noa dan Alex terlihat baru saja tiba di perbatasan kerajaan. Keduanya di hadang dengan makhluk mengerikan yang pernah Noa temui dulu saat pertama kali berjumpa dengan Lucas.
"Alexander.. Kau tidak boleh masuk." Tuturnya seraya menggeram. Sesekali hidung nya mengedus-ngedus aroma tubuh Noa yang terkadang masih samar tercium.
"Aku membawa ini." Alex menyerahkan undangan pada kedua penjaga tersebut.
"Darimana kau dapat undangan ini." Mereka masih patuh pada peraturan awal yang menyebut jika Alex tidak boleh berada di area kerajaan.
"Aku di undang Elena. Permaisuri Stefanus." Keduanya saling melihat lalu meraba undangan. Mereka tengah memastikan keaslian undangan tersebut agar tidak salah mengambil melangkah.
"Hm silahkan masuk." Setelah memastikan undangan tersebut asli, keduanya di perbolehkan masuk.
Alex kembali meraih pergelangan tangan Noa dan mengiringinya masuk menembus cahaya merah yang mengelilingi kerajaan.
Noa cukup tercengang melihat keadaan di tempat itu hingga dia melupakan akan ketakutannya pada ketinggian. Hawa dingin terasa menusuk dengan perpohonan besar yang menjulang tinggi. Dia mengedarkan pandangannya ke sekitar. Terdapat banyak makhluk sejenis pada setiap sudut.
"Apa belum sampai?" Tanya Noa berpegangan erat pada lengan Alex yang tengah berpindah dengan cepat. Noa masih tidak menyadari keanehan yang terjadi pada dirinya yang seharusnya mengalami mual hebat karena gerakan Alex.
"Di sini kotanya." Alex bertengger pada pohon. Dia sengaja berhenti untuk memperlihatkan Noa keadaan yang terjadi di kerajaannya.
"Seperti rumah pada umumnya." Gumam Noa cukup terkesima melihat sebuah kota berada di tengah hutan larangan.
"Apa itu kerajaannya." Tunjuk Noa ke salah satu arah.
"Sebaiknya kita cepat." Noa mengangguk dengan ragu walaupun dia tidak akan bisa lagi melangkah mundur.
Dalam sekejap, keduanya sudah berpindah pada pohon besar yang berada tepat di depan ritual pernikahan di lakukan.
Alex menghela nafas panjang, melihat keadaan buruk Lucas begitupun Noa yang tentu saja ikut merasa sakit hingga tanpa sadar air mata lolos begitu saja.
"Apa yang mereka lakukan hingga mereka menjadikan Tuanku seperti itu." Gumam Noa lirih.
"Itu belenggu khusus yang di miliki seorang raja. Lucas tidak akan mampu melawan karena belenggu itu bisa menghilangkan kekuatannya juga mengikis daya tahan tubuhnya."
"Bukankah dia anak kandungnya. Kenapa tega sekali." Alex menddesah karena mengingat bagaimana kejamnya Stefanus padanya dulu.
"Hatinya pernah di patahkan oleh bangsamu."
"Tidak seharusnya dia melakukan itu."
__ADS_1
"Keegoisannya membutakan mata hatinya. Sudah siap untuk turun? Kau akan menjadi sorotan setelah ini." Noa menghela nafas panjang. Menatap lekat ke arah Lucas yang tengah duduk dan bersiap menyayat pergelangan tangannya.
Sesuai rencana, Alex akan menciptakan sedikit kericuhan dengan kehadirannya membawa Istri syah dari Lucas. Dia ingin membongkar kebusukan Stefanus yang selama ini di tutupi.
Resiko besar siap Alex ambil sebab bisa saja Stefanus memerintahkan bala prajuritnya untuk menyerang. Namun demi menebus kesalahannya, Alex menelan bulat ketakutannya dengan sedikit keyakinan.
"Aku penjahat paling terkenal di sini." Canda Alex berharap Noa bisa tersenyum meski hanya sedikit.
"Saya siap Paman."
"Ganti kalungmu dulu." Noa memegang ujung kalung yang mulai memutih. Dia mengambil satu kalung baru lalu kembali memakainya.
"Tukar gelas kalian dan minumlah darah masing-masing sampai tidak tersisa." Pinta Stefanus bertepatan dengan turunnya Alex dan Noa yang berdiri tidak jauh dari altar ritual pernikahan.
Bau Noa yang sudah tersamarkan membuat Lucas hampir saja meminum darah Patresia jika bukan karena teriakan dari Alex.
"Ritualnya terlalu cepat. Aku bahkan baru saja datang." Perkataan itu sontak membuat semua manik tertuju pada Alex dan Noa.
"Ba.. Baby.." Gumam Lucas menatap sayu ke arah wajah yang sudah lama di rindukannya. Gelas perak yang ada di tangannya seketika jatuh.
Kluntang...
Patresia menatap Noa dari atas sampai bawah dan mengakui jika wanita yang merupakan Istri Lucas terlihat begitu cantik dengan riasan dan gaun yang sesuai di bangsanya.
Selera yang bagus Lucas. Dia terlihat lebih cantik dari fotonya..
"Bagaimana mungkin dia bisa hadir!!" Tanya Stefanus berbisik dengan wajah geram. Elena mendengus dan menatap tajam ke arah Alex.
"Aku hanya ingin wanita itu menyaksikan pernikahan Lucas."
"Tapi mereka membuat onar." Stefanus yang baru pertama kali melihat Noa merasakan daya tarik yang tidak biasa. Namun keegoisan membuatnya tidak memperdulikan hal itu.
"Aku akan berbicara pada Alex." Elena berpindah tempat untuk bernegosiasi dengan Alex." Kenapa kau malah turun. Bukankah aku sudah katakan untuk melihat dari jauh saja?" Pinta Elena berbisik.
"Selayaknya pernikahan manusia lainnya. Bukankah seharusnya Tuan Lucas menceraikan Istrinya dulu." Jawab Alex lantang sementara tatapan manik Noa tidak terlepas dari Lucas begitupun sebaliknya. Sejak tadi Lucas tidak mengalihkan pandangannya ke arah Noa yang terlihat begitu cantik dengan gaun hitam yang di pakai.
"Apa maksudnya." Tanya salah satu bangsawan yang tengah duduk di sana.
"Tutup mulut mu Alex!!"
"Aku hanya sedang meluruskan masalah. Bukan begitu Stefanus."
"Kami butuh penjelasan raja! Apa maksud dari Alexander? Kenapa dia berkata begitu." Stefanus melebarkan matanya menatap kesal ke arah Alex. Dia masih saja membenci wajah itu hingga sekarang apalagi kini Alex membuat onar di pernikahan yang seharusnya berjalan baik.
__ADS_1
"Dia Istriku. Dia seorang manusia." Sahut Lucas dengan sisa tenaganya. Semua tamu terkejut mendengar pernyataan tersebut. Kini manik mereka tertuju fokus pada Noa yang masih tidak berkedip melihat Lucas.
🌹🌹🌹