Istri Tuan Vampir

Istri Tuan Vampir
68


__ADS_3

Lucas di papah dua orang prajurit setelah Stefanus selesai memakaikan salah satu jubah kebesaran miliknya. Seharusnya ini menjadi momen membahagiakan walaupun keadaan Lucas jauh dari kata bahagia.


Tubuhnya begitu kurus dengan wajah pucat dan bibir memutih. Jika bukan karena jubah tersebut, mungkin para rakyat merasa iba melihat keadaan Lucas sekarang.


Aku tidak menyangka hari ini benar-benar terjadi. Batin Lucas menangis. Ingin rasanya dia melawan namun keadaan membuatnya terpojok.


Lucas di dudukan pada kursi kokoh yang tepat berada di samping singgasana Stefanus.


Elena tersungging melihat jubah yang di kenakan Lucas bisa menutupi belenggu pada lehernya dengan sempurna.


Sesuai rencana. Pernikahan di gelar pada halaman kerajaan agar bisa di saksikan langsung oleh seluruh rakyat.


"Sebentar lagi para tamu datang. Ayah harap kau bisa memasang sedikit senyuman agar mereka tidak melihatmu buruk." Lucas tidak bergeming dan hanya melihat ke depan dengan tatapan kosong." Kau mendengar perkataan Ayah Lucas?" Imbuh Stefanus meminta jawaban.


"Banyak sekali aturannya. Aku sudah memenuhi keinginan mu. Apa itu belum cukup hingga kau menyuruhku berpura-pura bahagia? Sudah ku katakan! Jangan sebut dirimu Ayah. Aku bukan anakmu. Aku melakukan ini hanya agar kau tidak menyentuh dia. Camkan itu Stefanus!" Elena melirik malas mendengar perdebatan yang sejak kemarin terjadi.


"Tidak ada seorang makhluk pun yang bisa memutus hubungan antara Ayah dan anaknya."


"Ya. Kau satu-satunya makhluk itu." Stefanus kehilangan kata-kata hingga dengusan kesal terdengar berhembus." Aku memang menikahi putri wanita itu. Tapi selamanya aku tidak akan menyentuhnya apalagi mencintainya." Patresia yang kala itu datang, tidak merasa tersinggung dengan kata-kata Lucas.


Sejujurnya, dia merasa ragu melakukan pernikahan sebab rasanya dia mulai menyukai Pedro.


"Aku ingin bicara empat mata dengan mu Lucas." Sahut Patresia sudah berdiri di samping kursi yang Lucas duduki.


"Sebaiknya kita pergi dulu Baginda. Biarkan mereka berbincang agar pernikahan nanti berjalan dengan baik." Cepat-cepat Stefanus berdiri lalu pergi dengan wajah kesal." Rajuk dia." Elena menepuk pundak Patresia lembut kemudian mengikuti langkah Stefanus.


"Karena ide mu. Aku jadi terjebak seperti ini." Patresia menddesah lembut karena merasa menyesal.


"Maaf. Aku tidak bermaksud begitu. Aku tidak tahu jika berakhir seperti ini."


"Tidak. Ide darimu adalah salah satu dari rencana ini."


"Aku sedang mencari Pedro agar pernikahan ini tidak terjadi. Tapi aku tidak menemukan jejaknya." Seharian ini Patresia mengendap-endap keluar dan berusaha mencari Pedro.


"Semua sudah terlanjur." Patresia membaca keputusasaan dari mimik wajah Lucas.


"Ku fikir kamu kuat Lucas. Aku fikir kamu akan tetap berjuang meski itu hanya sebuah harapan. Belenggu itu memang sudah menyerap kekuatanmu tapi apa belenggu itu juga bisa mengikis rasa cintamu padanya."


"Aku melakukan ini karena tidak ingin mereka menyentuhnya."


"Ibuku tidak akan berhenti. Bukan hanya nyawa wanita itu yang terancam tapi seluruh manusia yang ada di dunia ini."


"Apa yang bisa ku lakukan. Kau tahu keadaanku seperti apa." Patresia menoleh seraya tersenyum.


"Berharap dan berdoa. Aku berharap Pedro segera muncul agar pernikahan ini tidak terjadi. Lalu harapanmu?" Lucas yang tidak bersemangat, malah terdiam mendengar omong kosong yang Patresia lontarkan.


"Aku hanya ingin dia baik-baik saja." Patresia mengangguk.

__ADS_1


"Apa dia akan baik tanpamu?" Lucas menelan salivanya kasar. Dia baru menyadari sifat ketergantungan yang kerapkali Noa tunjukkan dulu. Apalagi kehidupan Noa di masa lalu yang begitu buruk membuatnya kembali membayangkan bagaimana hidup Noa tanpanya.


"Tidak." Jawabnya lemah.


"Bukankah ini keputusan yang salah? Tidak akan ada bedanya kau memilih jalan ini. Dia akan tetap menderita tanpamu apalagi jika dia begitu mencintai mu." Lucas memasang wajah tegang dengan wajah pucatnya.


"Apa bisa hanya berharap?"


"Tuhan kita sama. Aku yakin Pedro sudah menjadi jodohku sehingga akan ada sesuatu yang terjadi malam ini. Kau juga harus berharap pernikahan ini bisa terhenti." Lucas menuruti apa perkataan Patresia sebab tidak ada yang bisa di lakukan selain berharap dengan sungguh-sungguh.


Ini kali pertama aku berdoa. Aku mohon.. Jangan nodai pernikahan kami Tuhan. Aku tidak ingin kehilangan dia. Aku percaya akan kekuasaan mu mengalahkan segalanya. Tolong aku.. Aku mohon, tolong aku..


Doa yang di panjatkan dengan sepenuh hati, membuat cuaca hari itu tiba-tiba mendung di iringi dengan gerimis yang mulai turun.


Pak Imran selaku orang yang menikahkan Lucas dan Noa. Ikut mendengarkan teriakan hati Lucas yang tengah butuh pertolongan.


Dia menatap langit hari yang mulai gelap meski hari menginjak pukul setengah lima. Pak Imran kembali masuk masjid dan duduk. Tangannya merogoh tasbih yang ada di saku dan mulai berdzikir seraya memanjatkan doa.


Keberuntungan untuk Lucas karena ternyata Pak Imran bukan manusia biasa. Dia memiliki kelebihan ilmu kebatinan sehingga kini Pak Imran ikut membantunya dalam doa.


Makhluk itu butuh pertolongan ya Allah. Hamba tahu dia bukan manusia namun setidaknya dia sudah menjadi umatmu. Hamba merasakan kebaikan hatinya. Keseriusannya dalam menghalalkan salah satu anak Hawa. Tunjukkan kekuasaan mu Ya Allah. Lindungi pernikahan mereka karena hamba ikut tidak rela jika mereka terpisah..


Sementara Pak Imran khusyuk berdoa. Noa baru saja terjaga dengan nafas tersengal. Dia bergegas duduk dan tercengang ketika melihat sosoknya sendiri pada pantulan cermin.


Wajahnya berubah menjadi lebih tegas. Kecantikannya pun kian bertambah namun mimik wajahnya melambangkan seorang wanita yang pemberani.


Aku seperti orang lain. Noa beranjak dari tempatnya sekarang. Menatap lekat ke arah kaca dan memperhatikan detail wajahnya. Benar-benar luar biasa. Bagaimana dia melakukannya. Kedua tangannya menyentuh gaun yang sudah di pakainya. Gaunnya juga bagus sekali..


Percuma saja. Tidak ada gunanya make up ini. Aku tetap saja merasa takut untuk pergi ke tempat itu..


Tok.. Tok.. Tok..


Noa menoleh lalu berjalan ke arah pintu. Alex berdiri di balik pintu tersebut dan merasa tercengang juga terkesima melihat wanita yang tengah berdiri di hadapannya.


Cantik sekali...


Alex berdiam sesaat untuk mengendalikan rasa ketertarikannya. Dia sungguh sudah jatuh cinta pada wanita yang merupakan Istri keponakannya sendiri.


"Tidak perlu takut Noa. Aku akan membantumu." Jawab Alex perihal isi hatinya.


"Saya tidak seberani itu Paman."


"Aku akan melindungi mu dan membawamu pergi jika terjadi sesuatu di sana."


"Tidak Paman." Noa tersenyum getir." Akan lebih baik jika Paman biarkan saja saya musnah di sana. Saya sudah pasrah Paman. Saya hanya ingin tahu, apa Tuan Lucas melakukan pernikahan dengan hati atau tidak." Alex menghela nafas panjang. Dia menyanyangkan sikap putus asa yang di tunjukkan Noa sekarang.


"Daripada kau menyia-nyiakan hidupmu. Hidup bersamaku saja. Nyawa begitu berharga Noa. Jangan kau sia-siakan seperti sekarang. Demi janin yang ada di perut mu." Noa mendongak cepat, menatap Alex penuh tanya.

__ADS_1


"Janin?" Tanya Noa terbata.


"Hm janin. Jika nanti kita tidak berhasil. Aku dengan senang hati akan merawat anak itu." Noa menunduk, tangannya menempel pada perut yang mulai membuncit meski tidak di sadari olehnya.


"Saya hamil? Kenapa saya tidak tahu. Bagaimana mungkin Paman bisa tahu?"


"Perias tadi ahli nujum yang terkenal di bangsa kami. Dia membicarakan hal itu tadi."


"Apa Paman yakin? Sebab saya tidak merasakan apapun." Ucap Noa belum merasa yakin.


"Ahli nujum itu tidak pernah salah menebak."


"Ini hanya tebakan Paman. Jika saya memang hamil. Bukankah saya tidak baik-baik saja sekarang. Tuan Lucas pernah bercerita soal itu dulu."


"Hm itu benar. Kamu tidak akan bisa bangun jika tidak menerima asupan darah dari Suamimu. Janin itu akan menyerap darahmu setiap harinya."


"Saya hanya manusia biasa Paman. Saya tidak merasakan apapun dan itu berarti saya tidak hamil sekarang." Alex merasa bimbang meski dia mempercayai ucapan perias tersebut namun apa yang di katakan Noa juga benar.


Noa berjalan melewati Alex begitu saja kemudian duduk di sofa yang terletak tidak jauh dari sana.


"Kita berangkat setelah ini." Alex sengaja mengganti topik pembicaraan karena wajah tidak baik-baik saja yang Noa perlihatkan sekarang.


"Apa tidak perlu persiapan." Alex duduk lemah di sampingnya.


"Aku berjanji akan menjagamu. Tetaplah hidup, paling tidak sampai kebenaran soal kehamilanmu itu jelas." Noa tidak bergeming menatap lurus ke depan." Jika kau tidak ingin merawatnya, biar aku yang merawatnya." Imbuhnya menjelaskan.


"Mana mungkin saya tidak mau merawat darah daging saya sendiri. Saya hanya merasa tidak yakin karena saya tidak merasakan apapun."


"Tunggulah satu bulan lagi. Kalau memang tidak ada perubahan pada tubuhmu, aku akan membiarkanmu pergi. Tapi jika kamu benar-benar hamil. Jangan bersikap bodoh. Aku begitu menginginkan seorang anak jadi jangan kau sia-siakan. Aku akan merawat mu dan merawatnya sebagai seorang Paman bukan seseorang yang menyukaimu." Noa menoleh dan membaca wajah serius Alex.


"Hm Paman. Terimakasih. Akan saya lakukan permintaan Paman sebagai ucapan terimakasih atas apa yang Paman lakukan untuk saya." Alex tersenyum mengangguk. Itu membuatnya begitu senang. Dia sangat mendambakan seorang anak dan tidak memperdulikan dengan status Noa yang masih menyandang status Istri syah dari Lucas.


"Terimakasih. Pakai ini." Alex menyodorkan sebuah kalung dari biji-bijian ke arah Noa." Itu menyamarkan aroma tubuhmu." Noa mengulurkan tangannya dan mengambil kalung itu perlahan." Itu hanya bertahan sementara. Jika warnanya sudah berubah putih. Kau harus mengganti nya." Alex memberikan beberapa kalung yang serupa.


"Terimakasih Paman."


"Ini seharusnya menjadi tugasku. Lucas adalah keponakanku jadi aku harus melindunginya." Alex memasukkan kalung pada kantung kecil lalu mengikatnya pada gaun Noa." Ku letakkan di sini agar kau mudah mengambilnya." Noa mengangguk pelan lalu mulai memakai kalung pemberian Alex.


"Apa seperti ini?" Tanya Noa lirih.


"Hm kalung itu akan bereaksi ketika kita sudah berada di area kerajaan. Waktu di sana sedikit berbeda. Satu hari di dunia mu, setara dengan dua hari di sana. Itu kenapa kamu harus memiliki stamina lebih agar bisa bertahan lebih lama."


"Apa aku harus membeli vitamin?" Alex tersenyum simpul.


"Itu tidak akan berguna Noa." Aku ingin membuktikan kebenaran tentang kekuatan yang ada pada tubuh Noa. Aku merasa dia wanita yang spesial jika kehamilan itu benar adanya..


"Lalu bagaimana Paman?"

__ADS_1


"Dengan kalung itu saja. Aku membuatnya cukup untuk satu jam ke depan." Noa mengangguk seraya menatap ke arah jendela. Terlihat jelas jika hari mulai gelap dan itu berarti dia harus segera mempersiapkan mental.


🌹🌹🌹


__ADS_2