
Noa memutuskan duduk setelah kepergian Lucas. Ada rasa khawatir terbesit namun dia tidak bisa berbuat apapun kecuali menunggu.
Kenapa Tuan Lucas membawa Paman pergi? Apa mereka akan membicarakan sesuatu? Kenapa tidak di sini saja.
Tanpa Noa sadari, beberapa pasang mata melihat ke arahnya. Mereka berfikir jika Noa datang sendiri sehingga terbesit niat pemuda-pemuda itu untuk menggoda Noa.
"Menunggu teman Kak." Sapa salah satu dari mereka.
"Tidak. Aku menunggu Suami ku." Lima pemuda itu malah tersenyum lalu duduk di sisi kanan dan kiri tempat duduk panjang yang Noa.
Hal itu tentu membuat Noa merasa tidak nyaman meski dia adalah mantan wanita penghibur.
"Itu alasan yang paling menarik Kak. Banyak wanita yang menggunakan alasan itu tapi aku tidak percaya jika Kakak sudah menikah." Salah satu dari mereka mengingat wajah Noa yang terlihat familiar.
"Aku sungguh-sungguh." Noa akan berdiri tapi salah satu dari mereka berdiri di hadapannya." Kalian sedang apa? Bukankah sebaiknya kalian pergi. Aku takut Suamiku datang." Keempat pemuda itu terkekeh sementara satu lainnya tersenyum saat mengingat siapa Noa.
"Aku ingat. Aku sering memergoki wanita ini di hotel bersama Ayahku!!" Tunjuknya kasar ke arah Noa.
"Maksudmu? Dia Istri simpanan Ayahmu?"
"Ya! Dia pelakor itu. Dia sudah menghancurkan keluargaku karena Ayah menceraikan Mama setelah mengenalnya." Noa melebarkan matanya seraya menelan salivanya kasar. Dia tidak pernah berada di posisi sekarang karena dulunya penjagaan para anak buah Mommy Vivian yang ketat.
"Aku bukan pelakor." Protes nya tidak menyukai sebutan itu.
"Lalu apa sialan!! Dasar!!! Kau cantik tapi bodoh! Ada perkerjaan lain kenapa harus merusak rumah tangga orang lain!!" Noa menggelengkan kepalanya dengan wajah memelas.
"Aku memang wanita tidak benar tapi aku bukan pelakor. Aku hanya melakukan semuanya sesuai dengan perintah Bos pemilik tempatku berkerja."
"Apa lelaki yang kamu sebut sebagai Suami adalah Ayahku!!!" Tanyanya lantang dan kasar.
Noa tidak bergeming, dia tertunduk seraya melirik sekitar yang kebetulan sepi. Ingin sekali dia meminta tolong seseorang untuk menyingkirkan para pemuda yang menganggunya.
"Hei kau dengar. Dia wanita tidak benar. Berapa tarif mu Nona." Kekeh lainnya penuh ejekan.
"Aku sudah berhenti. Aku sudah menikah."
"Dengan Ayahku!!!"
Plaaaaaakkkkkk!!!
Satu tamparan melayang pada pipi mulus Noa. Pemuda itu tersulut emosi karena keluarganya menjadi hancur dan menganggap Noa adalah penyebabnya.
"Kenapa kau menamparku!!" Noa berdiri dan menatap tajam pemuda berparas tampan dengan wajah blasteran itu.
"Kau menikah dengan Ayah ku jadi kau patut mendapatkan itu bahkan lebih buruk!"
"Ayahmu! Kau salah! Aku tidak menikah dengan manusia." Kelimanya malah terkekeh nyaring." Maksudku. Aku tidak menikah dengan manusia yang sudah beristri." Imbuhnya menjelaskan.
"Tinggalkan Ayahku dan menikah denganku." Keempat teman pemuda itu malah terbahak-bahak penuh ledekan.
"Kau gila."
"Aku akan merebut mu dari Ayahku untuk balas dendam." Noa berdiri namun pemuda itu menekan kasar pundak Noa.
"Aku tidak menikah dengan Ayahmu."
"Aku lebih tampan dari Ayah jadi kau tidak akan menyesal." Noa mengerutkan keningnya. Pemuda di hadapannya memang tampan tapi baginya itu tidaklah penting.
"Biarkan aku pergi! Kau gila." Noa berdiri dan tanpa aba-aba si pemuda langsung merangkulnya seraya mengacungkan pisau lipat ke arah perut Noa.
"Ikut aku." Ancamnya dengan wajah serius.
"Aku tidak pernah menikah dengan Ayah mu. Aku bahkan tidak tahu wajah Ayahmu."
"Ikut aku!" Noa mengedarkan pandangannya yang tidak seberapa ramai." Jangan macam-macam. Kalau kau berani berteriak aku akan menusuk mu. Hidupku sudah hancur karena ulahmu jadi aku tidak perduli jika harus masuk penjara." Imbuhnya kembali mengancam.
__ADS_1
Tuan Lucas lama sekali..
"Aku benar-benar tidak tahu. Kau akan membawaku ke mana?"
"Menyekap mu!" Noa menelan salivanya kasar seraya melirik ke dua pemuda lain yang menatapnya nakal. Sudah bisa di pastikan bagaimana niat mereka apalagi mengingat Noa sudah mengaku sebagai wanita tidak benar." Kau mau apa!!" Ujung pisau di dekatkan ketika Noa mengangkat tangan kanannya.
"Menyeka keringat." Jawab Noa menurunkan tangannya lagi daripada ujung pisau melubangi perutnya." Apa boleh?" Tanyanya lagi.
"Hm lakukan." Noa menunduk dan kembali mengangkat tangannya lalu mencium cincin pemberian Lucas untuk memanggilnya." Sayang kamu di mana." Ucapnya lirih.
"Kau bilang apa!!! Kenapa berbisik."
"Ti tidak." Noa kembali menurunkan tangannya dan menatap sekitar. Apa akan berhasil?
Masih saja Noa meragukan cara kerja cincin tersebut padahal Lucas sudah melesat menuju ke arahnya.
"Apa ini!!" Dengan cepat Lucas merebut pisau juga tubuh Noa hingga ketiga pemuda itu melongok.
"Ke kenapa..." Wajah mereka semakin aneh saat melihat pisau lipat miliknya melebur di tangan lucas.
"Kenapa kalian menganggu Istriku." Kelimanya saling melihat lalu menatap ke Lucas.
"Itu Ayahmu?" Tanyanya terbata. Pertunjukan pisau yang Lucas sunguhkan cukup membuat tubuh kelimanya bergetar.
"Bu bukan."
"Kau bagaimana sih? Katanya dia menikah dengan Ayahmu?"
"Ku fikir begitu. Aku sering melihatnya bersama Ayahku." Rasa kesal Lucas kian bertambah saat kelima pemuda itu membahas masa lalu Noa.
Lucas kembali berjalan cepat menuju pemuda itu dengan sorot mata tajam.
"Kau sudah bosan hidup sampai berani menyebut masa lalu Istriku. Tubuhmu ingin ku leburkan seperti pisau tadi." Noa tidak bergeming karena dia cukup takut dengan ancaman pemuda itu. Selama Lucas belum bertindak di luar batas, Noa berniat membiarkannya.
"Pergi dari sini atau pengampunan untuk kalian habis."
"I iya Kak. Ayo pergi." Dengan wajah ketakutan kelimanya memilih turun lagi dan mengurungkan niat untuk pergi ke air terjun.
"Apa kamu baik-baik saja." Tanya Lucas memastikan. Dia memandangi tubuh Noa dari atas sampai bawah.
"Aku baik sayang. Pipiku sedikit nyeri. Mereka menamparku."
"Yang mana." Noa meraih jemari Lucas dan menggiringnya menyentuh pipi kanannya.
"Aku takut sekali. Mereka membawa pisau itu dan mengacungkannya padaku." Eluh Noa merasakan sensasi hangat sentuhan Lucas.
Lelah sekali. Ku rasa Istriku tidak boleh berkeliaran sendirian. Tentu saja. Istriku sangatlah cantik. Ini mengundang mata lelaki dan aku tidak suka itu.
"Sayang?" Noa memeluk tubuh Lucas sehingga Lucas tersadar dari lamunannya.
"Apa Baby." Lucas menghela nafas panjang lalu mendekap tubuh Noa.
"Kamu tidak mendengarkan perkataan ku?" Protesnya ketus.
"Iya maaf. Apa yang kamu katakan Baby."
"Aku takut."
"Sudah ada aku."
"Lama sekali tadi."
"Hm maaf." Noa menegakkan kepalanya lalu mendongak ke raut wajah Lucas.
"Apa yang terjadi?"
__ADS_1
Tidak pantas sekali jika aku bilang Alexander menyukainya. Rasanya aku ingin membunuh semua lelaki yang mengangumi nya.
Rasa manusiawi Lucas mulai muncul. Dia yang baru merasakan jatuh cinta tentu saja merasa tidak suka dengan pujian yang di lontarkan lelaki lain atas kecantikan Noa.
"Paman yang memberitahu alamat apartemen itu. Aku marah dan sedikit berdebat dengannya." Jika kamu tidak memanggil, mungkin Alex sudah musnah.
"Balas dendam?"
"Tentu saja Baby. Aku tidak ingin berurusan dengannya lagi." Noa mengangguk setuju.
"Itu lebih baik sayang."
"Jangan menemuinya diam-diam meskipun kamu tidak sengaja bertemu sekalipun."
"Mana mungkin."
"Aku hanya butuh jawabanmu dan janjimu. Katakan, aku menunggu."
"Iya aku berjanji." Lucas kembali mendekap tubuh Noa erat." Masih takut." Tanya Lucas lirih. Dia tidak perduli dengan satu dua tiga orang yang berlalu lalang.
"Sudah tidak. Ada kamu sayang." Noa memejamkan mata dan membenamkan kepalanya pada dada bidang Lucas seraya menghirupnya kuat-kuat." Masa lalu buruk itu akan terus menghantuiku." Imbuhnya menyadari jika profesinya sebagai wanita malam tidak akan hilang begitu saja.
"Aku tidak perduli. Kamu Istriku sekarang. Aku akan mengatasi hal seperti tadi jika nantinya terulang."
"Jangan lagi." Sahut Noa masih nyaman pada posisinya.
"Ingin pulang atau lanjut?" Tanya Lucas berharap Noa memilih untuk pulang. Dia baru sadar jika wanita yang ada di dekapannya memiliki daya tarik kuat. Itu kenapa aku langsung jatuh cinta. Paras cantik dan suaranya yang mendayu-dayu membuat candu pada fikiranku.
"Lanjut sayang." Noa mengangkat kepalanya sehingga Lucas merenggangkan dekapannya.
"Lakukan dengan cepat agar kita bisa pulang."
"Iya sayang ayo." Sangat terpaksa Lucas menurut saja. Walaupun suara hati dari beberapa lelaki yang berpapasan membuat emosinya terkuras.
๐น๐น๐น
Tubuh Lono terlihat kurus setelah penyekapan yang terjadi padanya beberapa hari. Pagi ini Prapto membebaskannya karena merasa penasaran dengan kejadian semalam saat mobil Noa tiba-tiba kosong.
"Apa makhluk yang kau sebut Vampir itu berparas tampan?" Tanya Prapto menatap wajah pucat Lono yang tengah tersenyum.
"Anda sudah bertemu dengannya Pak. Sebaiknya lepaskan Noa saja daripada harus jatuh korban lagi." Lono berharap Prapto tidak terlalu serakah seperti Vivian yang tidak mempedulikan keselamatan anak buahnya.
"Aku tidak percaya dengan makhluk seperti itu. Berapa tarif Noa dalam satu jam?"
"Untuk apa Pak."
"Jawab atau kau ku bunuh!!" Ancam Prapto dengan mata membulat.
"80 juta belum termasuk bonus Pak."
"Wah wah. Itu kenapa Vivian sangat menyanjungnya. Aku bisa kaya cepat jika seperti itu." Lono menghembuskan nafas berat. Lelaki di hadapannya ternyata sama kejinya dengan Vivian.
"Jika kaya. Tapi kalau Bapak mati di tangannya bagaimana?"
"Itu tidak akan terjadi. Aku akan membuat penangkal Vampir dengan bawang putih juga salip. Aku akan menghanguskan Vampir itu lalu Noa kembali ku miliki." Prapto tertawa lebar dan mulai membayangkan hidup bermandikan uang.
"Bapak yakin bisa?"
"Tentu saja. Aku ini Prapto bukan Vivian yang bodoh itu. Hari ini kau ku bebaskan karena terbukti tidak menyekap Noa. Cepat mandi lalu belikan aku bawang putih juga salip untuk melumpuhkan makhluk itu." Lono bergegas berdiri dan memilih pasrah.
"Baik Pak. Permisi."
"Hm." Hahahaha.. Meski demit sekalipun yang menghadang. Kalau demi uang. Aku berani saja.
๐น๐น๐น
__ADS_1