Istri Tuan Vampir

Istri Tuan Vampir
55


__ADS_3

"Maksudnya bagaimana Tuan?" Pujian dari Bastian tentu membuat Noa merasa ganjil. Meski jarang bertatap muka, Noa tahu jika Bastian lelaki yang sangat sopan.


"Nona cantik sekali. Saya tertarik pada Nona sejak awal bertemu." Rayuan itu terdengar kaku sehingga senyuman Noa semakin terasa aneh.


"Anda sadar dengan apa yang anda katakan?"


"Sangat sadar Nona. Apalagi sekarang tidak ada Tuan Lucas di tempat." Kening Noa berkerut, seraya menatapnya penuh tanya.


"Sebaiknya anda pergi." Usir Noa terang-terangan.


"Hm baik. Saya akan sering mampir ke sini." Jawab Bastian sambil membereskan map lalu memasukkannya ke dalam tas.


"Untuk apa?"


"Meminta tanda tangan. Sekarang perusahaan itu di bawah kendali anda Nona." Noa menyesal sudah membubuhkan tanda tangannya.


"Kenapa anda berubah Tuan."


"Berubah apa?" Bastian berpura-pura tidak tahu.


"Saya fikir anda orang yang sopan."


"Kesopanan akan runtuh jika di hadapkan dengan makhluk seindah anda Nona. Saya tahu Tuan Lucas bukan manusia." Tentu saja Noa terkejut mendengarnya. Dia masih ingat jika hanya dia satu-satunya orang yang tahu wujud asli dari Lucas.


"Darimana anda tahu?"


"Tidak penting darimana. Tapi saya rasa itu keputusan salah. Menikah dengan makhluk seperti Tuan Lucas akan membawa petaka seperti yang terjadi sekarang."


"Sejauh apa kamu tahu hal itu Tuan?"


"Saya hanya menerka-nerka saja Nona. Sangat banyak manusia tampan juga kaya yang bisa Nona dapatkan. Untuk apa berhubungan dengan Tuan Lucas. Kita memiliki alam berbeda dan saya pastikan jika hubungan kalian tidak berakhir baik." Noa berdiri dan memasang wajah geram. Dia sangat tidak suka mendengar celotehan Bastian yang terdengar keterlaluan.


"Silahkan pergi." Tuturnya menunjuk ke arah pintu.


Bastian tersenyum lalu berdiri. Kembali menjelajahi tubuh Noa dengan manik nakalnya.


"Tuan Lucas tidak akan kembali. Hubungi kontak saya jika Nona berubah fikiran. Saya akan menemani hari-hari sepi Nona. Permisi." Noa membuang muka, enggan melihat ke Bastian meski itu hanya sedikit.


"Apa yang terjadi." Eluh Noa berjalan menaiki anak tangga untuk kembali ke kamarnya tanpa memperdulikan Bastian yang masih berdiri terpaku menatapnya.


"Aku berdosa Tuhan." Bastian membuang nafas kasar, wajahnya berubah sayu karena apa yang di katakan tadi hanyalah keterpaksaan di bawah tekanan Alex yang menunggunya di luar. Dia berfikir jika Alex dapat mendengarkan obrolannya tadi. Sehingga dengan terpaksa Bastian mengatakan ucapan tidak sopan pada wanita yang seharusnya di hormati.


Bastian berjalan lemah masuk ke mobil mewah yang sejak tadi terparkir di bahu jalan. Di dalamnya sudah ada Alex yang tengah duduk tepat di sampingnya.

__ADS_1


"Bagaimana?" Tanya Alex ingin tahu obrolan apa yang terjadi di dalam. Bastian menoleh. Dia menebak jika Alex tidak dapat mendengarkan obrolannya.


"Tentu saja dia menolak Tuan." Jawabnya kembali fokus ke depan.


"Kamu harus lebih perhatian lagi untuk bisa merebut hatinya." Bastian tertunduk tidak bergeming." Ini baru awal, jadi mungkin dia belum merasakan kesepian dan masih menganggap Lucas akan kembali." Imbuhnya menjelaskan.


"Jujur saja Tuan. Saya tidak pernah merayu wanita jadi mungkin ucapan saya tadi terdengar kaku." Bastian sengaja bersikap brengsek, agar Noa tidak tergoda olehnya. Dia masih tidak bisa berbuat jahat pada Lucas sehingga dia memutuskan untuk mengalihkan kendali perusahaan pada Noa.


Bastian takut jika Alex bisa mengendus kecurangannya. Namun dari kejadian ini, dia semakin yakin jika Alex tidak dapat mendengarkan obrolannya bersama Noa di dalam.


"Nanti ku ajarkan."


"Hm.. Saya harus ke perusahaan Tuan. Perkerjaan saya sangat banyak jadi mungkin nanti sore saya baru bisa menemui Tuan."


"Tidak apa." Alex mulai menyetir seraya tersenyum tipis." Belikan dia makanan sepulang kamu dari kantor. Aku yakin dia akan terkesima dengan perhatian yang kamu berikan." Alex sangat berharap Bastian dengan cepat bisa merayu Noa. Agar nantinya dia bisa mengambil beberapa foto kebersamaan mereka untuk di berikan pada Elena.


"Baik Tuan." Mobil Alex berhenti tepat di depan perusahaan.


"Di sini kan?" Tanyanya memastikan.


"Iya Tuan. Saya pergi dulu."


"Hm.."


Bastian turun dan bergegas masuk. Dia sempat menoleh untuk melihat mobil Alex yang tenyata langsung melaju. Tangannya meraih bulpen yang terselip di saku dan meraih kertas untuk menumpahkannya isi hatinya di dalam sana. Cara itu cukup ampuh, karena Alex tidak bisa mengetahui apa yang sedang Bastian rencanakan.


๐ŸŒน๐ŸŒน๐ŸŒน


"Bibik." Sontak Noa menoleh. Dia berfikir jika Bik Minah adalah Lucas yang sudah kembali.


"Nah kok terkejut. Memangnya Non fikir Bibik siapa? Tuan?" Noa kembali fokus pada sarapannya lalu mengaduknya.


"Hm.."


"Memangnya Tuan kemana Non."


"Keluar kota Bik. Mungkin lama." Hati Noa bergemuruh saat menyadari jika mungkin Lucas tidak pernah kembali.


"Owalah. Itu kenapa Bibik dari kemarin tidak melihat. Biasanya Tuan suka berkeliling rumah."


"Iya Bik." Noa berdiri padahal makanannya belum tersentuh.


"Loh kok berdiri."

__ADS_1


"Saya tidak berselera Bik." Noa berjalan ke arah kulkas lalu membukanya. Matanya langsung tertuju pada Ayam segar yang baru saja Bik Minah beli pagi ini.


Tidak terasa, salivanya di telan kasar. Maniknya fokus menatap Ayam mentah yang masih berbalut darah beku.


"Cari apa Non."


"Eh.." Noa menutup pintu kulkas dan tersenyum aneh." Cemilan Bik." Imbuhnya membayangkan bagaimana lezat nya ayam mentah tersebut.


"Banyak kok Non di kulkas."


"Iya Bik. Emmm... Tolong belikan stok daging dan ayam ya." Tuturnya tidak terkendali. Janin di perutnya benar-benar mengendalikan selera makannya.


"Ada kok Non di kulkas. Bibik tadi baru beli di peternakan cuma belum Bibik cuci."


"Itu lebih baik Bik. Tidak perlu di cuci dan letakkan di kulkas langsung." Bik Minah mengerutkan keningnya, menatap Noa dengan raut wajah bingung.


"Takut kulkasnya aromanya tidak sedap Non."


"Tidak apa Bik. Cepat beli. Kalau tidak ada uang, biar saya berikan."


"Ada Non. Bibik taruh ini dulu ya." Noa mengangguk dengan senyuman ganjil. Saat Bik Minah sudah masuk ke dalam dapur. Noa membuka kulkas dan secepat kilat mengambil ayam mentah. Cepat-cepat dia menaiki anak tangga lalu masuk ke dalam kamar.


"Segar sekali aromanya." Mata Noa terpejam. Mengedus aroma ayam segar dengan hidung mancungnya.


Noa duduk dan membuka bungkusan ayam lalu melahapnya. Bibirnya tersungging, seolah menikmati gigitan demi gigitan daging mentah yang ada di tangannya.


"Makanan terbaik. Aku ingin memakannya lagi dan lagi." Gumamnya dengan wajah penuh noda darah.


๐ŸŒน๐ŸŒน๐ŸŒน


Stefanus menddesah dengan wajah gelisah. Menyadari jika perbuatannya sekarang belum bisa merubah pola fikir Lucas. Keinginan untuk bisa menyadarkan Lucas terasa menggebu-gebu dan membuatnya tidak dapat berfikir jernih. Sehingga dia tidak ingin mengerti jika waktunya masih terlalu singkat.


"Dia masih teguh pada pendiriannya." Gumamnya seraya sesekali menddesah lembut.


"Masih terlalu dini Baginda. Tunggu beberapa hari lagi untuk melihat perubahannya." Jawab Elena tersenyum tipis sebab Alex sudah memberikan kabar jika penjebakan mulai di lakukan.


"Bagaimana dengan penjebakan nya?"


"Sudah berjalan. Jika suruhan ku sudah berhasil mendapatkan foto wanita itu berselingkuh. Aku yakin Lucas segera membencinya." Stefanus mengangguk-angguk meski terbesit rasa tidak yakin di dalam hati. Dia tidak tahu jika orang suruhan Elena adalah Alex.


"Aku berharap Lucas bisa langsung membencinya. Dia harus sadar jika kesetiaan manusia setipis kapas."


"Setelah Lucas membencinya. Aku harap Baginda cepat menikahkan Lucas agar dia tidak kembali mengenal manusia lainnya."

__ADS_1


"Hm tentu saja." Semoga ini bisa berjalan sesuai keinginan..


๐ŸŒน๐ŸŒน๐ŸŒน


__ADS_2