Istri Tuan Vampir

Istri Tuan Vampir
40


__ADS_3

Lucas memandangi ponselnya yang terdapat nama Alex tertera di sana. Entah kenapa dia tidak langsung menerima panggilan itu. Lucas merasa yakin jika pelindung yang di buat pada apartemen itu cukup kuat. Sehingga aroma tubuh Noa tidak akan mengudang Vampir lain. Hal itu memicu kecurigaan Lucas pada Alex yang mungkin sudah memberitahu lokasi apartemennya pada Elena.


Hanya Bastian dan Paman Alex yang tahu tempat tinggal ku. Apa dia yang memberitahu Elena soal lokasinya?


Noa yang baru saja kembali dari dapur langsung meraih ponsel dan berniat menerima panggilan itu tapi tangan Lucas mencegahnya.


"Jangan di terima." Ucapnya mendongak.


"Ini Paman Alex." Lucas mengambil ponsel dari tangan Noa lalu memblokir nomer milik Alex." Kenapa sayang?" Tanya Noa duduk di samping Lucas.


"Mungkin Paman yang sudah memberitahu lokasi apartemen ku."


"Kamu yakin?"


"Hm Baby. Aku tidak pernah bersosialisasi dengan manusia manapun. Apartemen itu ku beli untuk tempat tinggal saat aku ingin ada di sini. Hanya Bastian dan Paman Alex yang tahu alamatnya." Noa meletakkan ponselnya. Dia membenarkan tebakan Lucas meski kesan pertama saat bertemu Alex terlihat lelaki yang dewasa dan bijaksana.


"Paman terlihat tidak jahat."


"Memang tidak jahat, tapi itu dulu. Mungkin sekarang dia masih menyimpan dendam pada Ayah ku yang sudah membunuh Istrinya dengan keji. Aku tidak tahu apa Paman Alex masih sebijak dulu atau tidak."


"Jika bimbang. Akan lebih baik kita hindari sayang."


"Iya Baby. Bagaimana? Apa kamu sudah menyuruh Bik Minah memasak." Noa mengangguk seraya tersenyum.


"Sudah. Em sekarang aku mandi dulu lalu makan."


Ini kesempatan untuk memeriksa ke atas..


"Lakukan Baby."


"Kamu tidak ikut?"


"Aku menjagamu di sini." Jawab Lucas beralasan. Dia mendekat dan melummat bibir Noa sejenak.


"Mereka belum kembali ke kerajaan?" Tanya Noa lirih.


"Aku masih mendengar geraman mereka." Noa mencoba menutupi kekhawatirannya meski rasanya dia cukup takut dengan kawanan Vampir yang masih berusaha mencarinya.


"Baik. Aku mandi dulu." Sebelum berdiri, Noa mengecup pipi Lucas kemudian berjalan masuk kamar mandi.


Setelah memastikan pintu kamar mandi tertutup. Lucas berubah menjadi asap dan sudah berpindah tempat ke sebuah pohon besar yang terletak tidak jauh dari rumahnya.


Dalam pengelihatan Lucas, terlihat sekitar 10 prajurit kerajaan tengah berkeliling membentuk gumpalan awan hitam selayaknya mendung.


Sebaiknya aku berbicara dengan mereka secara baik-baik. Bukankah Elena menginginkan kedudukan itu. Jika aku kabur dari kerajaan, Pedro bisa menggantikan posisiku.


Lucas tidak mampu berfikir jernih. Sehingga dia mengambil keputusan tanpa memikirkan dampaknya.


Lucas kembali menghilang. Dia sengaja menampakan diri di tempat sepi dan jauh dari pemukiman.


Tidak perlu waktu lama. Elena, Pedro dan kawanannya turun untuk menemui Lucas yang kini tengah berdiri di tengah padang rumput.

__ADS_1


"Mencariku?" Tanya Lucas tersenyum tipis. Elena mengedarkan pandangannya untuk mencari Istri Lucas yang mungkin tengah bersembunyi di sekitar sana.


"Di mana Istrimu!"


"Bukankah sebaiknya Mama kembali saja. Ambil tahta kerajaan itu. Aku tidak berminat." Ucap Lucas tegas. Dia ingin bernegosiasi hanya demi keselamatan Noa.


"Mana mungkin Ayahmu mau melakukan itu. Sebaiknya kau kembali dan lupakan soal cintamu pada manusia lemah seperti mereka." Jawab Elena lantang.


"Maaf. Aku tidak seperti dirimu yang mudah berpindah hati setelah kematian William. Aku tidak akan melupakan cintanya sekalipun kalian sudah memusnahkannya." Elena terkekeh nyaring seraya menatap geram ke arah Lucas.


"Kau tidak takut pada hukuman bangsa kita?"


"Tidak. Akan lebih baik jika aku musnah daripada aku harus meninggalkan dia." Jawab Lucas cepat.


"Tunjukkan padaku di mana wanita itu."


"Bodoh sekali jika aku melakukannya. Kalian kembali dan katakan pada Ayah untuk membebaskan aku. Bukankah dia sudah tidak menganggap aku anak?"


"Sebaiknya Tuan mengatakannya sendiri. Mari ikut kami Tuan." Rajuk Pedro berharap Lucas bisa di Rajuk untuk tidak terlalu melawan.


"Aku tidak akan datang ke sana karena aku bukan lagi putra mahkota."


"Maka dari itu katakan sendiri pada Ayahmu yang berotak batu itu." Sahut Elena tidak sabar. Selama ini dia mencoba menahan diri untuk tidak mengumpat dengan tingkah laku Lucas yang cenderung melawan sejak kecil.


"Itu bukan urusanku. Kalian sebaiknya pergi. Ini bukan tempat kalian."


Elena memberikan isyarat pada Pedro untuk menyerang Lucas secara tiba-tiba agar dapat membawanya paksa.


"Bawa dia." Teriak Pedro menunjuk ke arah Lucas.


Mereka tahu, tidak akan mudah untuk bisa menangkap Lucas yang memiliki ketangkasan setara dengan Stefanus. Dia bahkan lebih lincah karena selama ini telah menghabiskan waktunya untuk belajar ketangkasan dari bangsanya, juga dari kehidupan manusia.


Taring dan kuku runcing Lucas mencuat keluar. Membabat habis tubuh para prajurit kerajaan dengan gerakan cepat.


Tenaga dalam yang Lucas keluarkan menimbulkan percikan api dan dentuman besar. Orang-orang yang tengah berada tidak jauh dari sana. Memilih masuk rumah dan menutup pintu mereka rapat. Mereka mengira jika suara itu berasal dari badai petir. Padahal suasana yang terjadi sekarang akibat pertarungan sengit antara bangsa Vampir.


Teriakan dan rintihan para prajurit kerajaan terdengar seperti lolongan serigala, menambah kengerian suasana malam itu.


"Suara apa ya." Ucap salah satu dari warga seraya melihat langit berwarna semu merah dengan kilatan cahaya yang di fikirnya sebagai petir.


"Sebaiknya bawa anak-anak masuk Pak. Suasananya tidak enak sekali." Jawab tetangga samping rumah yang turut mendongak menatap langit.


"Iya. Ayo anak-anak masuk semua."


Lucas berdiri tegak di antara jasad para prajurit kerajaan yang sudah tidak berbentuk. Tubuh mereka tidak ayal seperti mayat kering yang sudah terpapar sinar matahari berhari-hari.


Sorot mata Lucas menatap tajam Elena yang tidak juga pergi dari hadapannya. Sehingga dengan terpaksa tubuh Lucas terbang lalu mencengkram erat leher Elena.


"Pergi atau ku habisi nyawamu di sini." Pinta Lucas memperlihatkan taring tajamnya.


"A aku Ibu mu.."

__ADS_1


"Kau bukan Ibuku!!"


Blaaaaammm!!!!


Duaaaak!!!


Tubuh Elena terdorong mundur lalu di tangkap sempurna oleh Pedro.


"Aku memanggilmu Mama karena aku menghormatimu sebagai Istri Ayahku!"


"Meski begitu aku harap Tuan lebih menghormati Permaisuri." Sahut Pedro tidak terima.


"Kau akan tahu makhluk curang ini seperti apa!" Tunjuk Lucas ke arah Elena." Kau hanya di manfaatkan dan kau langsung mau. Bodoh! Kau memang sangat bodoh! Bilang pada Ayah. Meskipun dia mengerahkan seluruh prajurit kerajaan. Aku tidak akan mau pulang sebelum dia bisa menerima Istriku." Lucas tersenyum kecut lalu menghilang tanpa jejak bahkan Elena tidak dapat mengikutinya.


"Kejar dia!!!" Pinta Elena berteriak nyaring.


"Kekuatanku tidak cukup tinggi Ibu."


"Bodoh!!!"


Plaaaaaakkkkkk!!!


Elena melayangkan tamparan pada wajah Pedro hingga membuatnya terdorong membentur pohon.


"Bereskan mayatnya! Aku akan melaporkan ini pada Stefanus." Elena menghilang sementara Pedro berjalan menghampiri mayat para prajurit yang bergelimpangan.


Sampai kapan Ibu memperlakukan ku seperti itu. Padahal aku berusaha untuk menuruti keinginan nya. Apa benar kata Tuan Lucas jika Ibu permaisuri hanya ingin memanfaatkan ku?


Seperti membawa jirigen kosong. Pedro menjinjing sepuluh mayat untuk di musnahkan. Bersamaan dengan berakhirnya pertarungan. Langit kembali cerah dengan suasana malam seperti sebelumnya.


Cklek


Noa keluar kamar mandi dan mendapati Lucas duduk santai seraya membaca buku. Tubuh Lucas yang tidak tergores, membuat Noa mengira jika sejak tadi Lucas hanya berdiam di sana.


"Apa kamu tidak ingin mandi dulu sayang?" Tawar Noa seraya mengeringkan rambut.


"Aku akan mandi setelah menemani kamu makan."


"Mandi dulu saja. Ini masih lama." Lucas berdiri dan menghampiri Noa lalu mengecup pipi kanannya.


"Biarkan tirainya tertutup. Aku akan mandi dengan cepat."


"Iya sayang." Dengan gerakan tidak wajar. Lucas sudah menghilang dari samping Noa dan sudah masuk ke dalam kamar mandi." Kenapa Pak Prapto ada di sini? Apa dia sudah berhenti menjadi lintah darat?" Noa yang tidak tahu tentang kematian Vivian. Tentu saja merasa bertanya-tanya setelah pertemuannya dengan Prapto tadi.


"Untuk apa memikirkan itu." Noa menoleh cepat dengan bibir setengah terbuka. Tangannya mengusap dadanya lembut karena merasa terkejut dengan kehadiran Lucas yang sudah berada di sampingnya lagi.


"Astaga sayang. Lupa untuk muncul tiba-tiba." Eluh Noa melirik malas.


"Iya maaf Baby. Aku sudah terbiasa jadi seperti itu. Jangan memikirkan hal tidak penting itu. Aku bisa menghanguskan tempat itu dalam sekali kedip jika kamu mau." Noa kembali menatap Lucas.


"Jangan sayang. Meski tempat itu terkutuk. Tapi banyak orang yang mengantungkan hidupnya di sana." Banyak dari teman Noa sangat menikmati perkerjaannya sebagai wanita penghibur meskipun dirinya tidak.

__ADS_1


"Hm cepat dapatkan makan malam mu agar aku juga bisa segera mendapatkan jatahku." Bisik Lucas tepat di samping daun telinga Noa.


🌹🌹🌹🌹


__ADS_2