
Hanya terdapat lima makam di area berpagar tinggi tersebut. Tidak ada yang aneh. Karena makan itu terlihat selayaknya makam pada umumnya. Yang hanya memiliki nisan pada setiap sisinya tanpa bangunan di atasnya.
Namun yang di rasakan Lucas sungguh lain. Aroma wangi semakin terendus tajam menyeruak. Baginya tempat itu terasa sedikit panas dan pengap padahal di sekitar terdapat banyak pohon besar.
"Aku datang Mama." Ucap Noa dengan tangan masih memegang erat jemari Lucas.
Lucas mendongak dan menyadari sesuatu yang terlihat semakin aneh. Dari bawah tempatnya duduk. Dia bisa melihat sebuah cahaya putih mengelilingi tempat itu.
Apa keluarga Noa memiliki keistimewaan? Aku melihat pelindung yang melingkar di sana.
"Sayang." Panggil Noa mengaburkan lamunan Lucas.
"Ya Baby."
"Kenapa tidak ikut bicara?" Tanya Noa merasa tidak di hiraukan sebab Lucas tengah sibuk dengan rasa penasarannya sendiri.
"Maaf Baby. Aku hanya merasa ada yang aneh dari tempat ini."
"Ini makam sayang. Jadi memang terasa aneh." Lucas tersenyum seraya sesekali menyeka keringatnya padahal sebelumnya dia tidak pernah berkeringat.
"Hm mungkin hanya perasaanku saja. Em makam siapa saja ini." Lucas mencoba menahan rasa tidak nyaman untuk menghormati Noa.
"Yang nomer dua makam Nenek ku. Yang ke tiga Nenek buyut ku. Tapi untuk yang ke empat dan ke lima, aku tidak mengerti mereka siapa. Mungkin Nenek nya Nenekku hehe. Aku bingung menyebut mereka apa." Lucas mengangguk-angguk seraya ikut tersenyum meski dia masih bertanya-tanya tentang keanehan yang terjadi di sana.
Setelah membicarakan keluh kesahnya dan memanjatkan doa. Keduanya berdiri untuk bersiap pergi. Lucas terlihat sedikit kesulitan bernafas karena rasa pengap kian mencekik leher. Sehingga dia lebih banyak diam sampai saat keduanya benar-benar keluar dari wilayah berpagar tinggi itu.
Suasana kembali normal dengan bunyi kicauan burung yang terdengar lagi. Lucas kembali menoleh ke tempat pemakaman khusus itu dan tidak menemukan jawaban apapun dari keanehan yang di rasakan.
"Bagaimana silsilah keluarga mu Baby? Apa mereka orang yang berilmu?" Tanya Lucas memberanikan diri untuk bertanya.
"Tidak sayang. Keluargaku orang biasa saja."
"Kenapa makam mereka berbeda. Em maksudku di sendirikan dari makam yang lain."
"Itu hanya sebuah permintaan dari keluargaku yang terdahulu. Sebelum meninggal, Mama juga berpesan seperti itu. Esok jasadku harus di kebumikan di samping makamnya." Lucas tersenyum penuh tanya. Dia masih tidak mendapatkan jawaban apapun. Lucas menganggap jika mungkin keluarga Noa adalah segelintir manusia yang memiliki keistimewaan dari manusia lain.
Tapi dia sangat lemah. Kenapa tempat itu di lindungi seolah sedang melindungi jasad yang ada di sana. Ah mungkin itu hanya kekuatan nenek moyang dari manusia tertentu.
"Kenapa sih sayang." Protes Noa terpaksa berhenti seraya menatap kesal ke Lucas.
"Kenapa apa?"
"Kamu tidak menjawab pertanyaanku." Sejak tadi Lucas tidak merespon padahal Noa tengah berbicara panjang lebar.
"Oh Baby. Aku minta maaf. Aku sedikit tidak fokus."
__ADS_1
"Kata kamu sudah sering ke sini tapi kenapa kamu terlihat kebingungan sayang?"
"Bukan sering ke sini tapi bangsaku suka dengan tempat tenang seperti ini." Sudahlah.. Sebaiknya ku lupakan saja.
"Aku ingin menemui penjaga pemakaman dulu untuk memberikan uang lelah sayang."
"Di mana letaknya?"
"Di pintu masuk sebelah sana." Keduanya kembali menyusuri jalan setapak dan tiba di sebuah bangunan kecil." Permisi. Bapak." Ucap Noa setengah berteriak.
Beberapa saat kemudian, keluarlah seorang lelaki separuh baya. Dia menatap lekat ke Noa dan mencoba mengingat siapa Noa.
"Saya Noa Pak. Anak dari pemakaman khusus itu." Ucap Noa tersenyum hangat.
"Astaghfirullah. Bapak lupa Non. Mari silahkan duduk." Noa dan Lucas mengikuti langkah penjaga pemakaman yang di ketahui bernama Karim. Dia meletakkan dua buah minuman gelas dan cemilan untuk menjamu Noa." Non lama tidak ke sini. Jadi Bapak lupa. Silahkan, seadanya." Kuburan yang di kebumikan secara turun temurun. Membuat Pak Karim mengenal baik keluarga Noa karena kunjungan yang terus tersambung.
"Saya tidak ada waktu karena sibuk berkerja Pak." Ujar Noa beralasan." Sebenarnya saya hanya ingin memberikan ini." Noa mengambil dompetnya lalu menyodorkan beberapa lembar uang. Namun, fokus Pak Salim teralihkan ketika merasakan aura panas dari Lucas. Seolah tahu, Pak Salim lebih memilih menutup mulut juga suara hatinya.
"Bapak sudah dapat gaji Non."
"Anggap saja ini tambahan Pak. Ini juga atas permintaan Almarhum Mama soalnya pemakaman keluargaku cukup lebar." Pak Karim tersenyum seraya mengangguk-angguk.
"Ya sudah Bapak terima ya Non. Terimakasih banyak. Em terus ini siapa Non." Pak Karim menunjuk Lucas dengan ibu jarinya.
"Saya Lucas." Pak Karim menyambut uluran tangannya.
"Pak Karim. Sudah berapa lama menikah?" Tanya Pak Karim melepaskan jabatan tangannya.
"Baru saja kok Pak. Em kalau begitu saya permisi ya Pak."
"Kok buru-buru. Makanannya saja belum di cicipi."
"Terimakasih Pak." Noa berdiri di ikuti oleh Lucas." Saya permisi dulu."
"Hati-hati Non."
"Iya Pak. Mari." Noa mengangguk sejenak kemudian melangkah pergi mencari tempat yang aman untuk menghilang.
Jodoh sudah memilih jalannya sendiri dan tidak pernah salah. Batin Pak Karim sembari kembali masuk.
๐น๐น๐น
Prapto memandangi wajah satu persatu wanita yang berjajar di hadapannya. Dia sedang mencari Noa yang mungkin sudah berubah menjadi wanita yang lebih cantik dari sebelumnya.
Tubuhnya memutar menghadap ke arah Lono dan dua orang anak buahnya yang lain saat tidak menemukan sosok yang di cari.
__ADS_1
"Di mana Noa? Apa aku tidak mengenalinya atau memang dia tidak ada di sini." Lono dan dua temannya saling menatap kemudian mengangguk.
"Noa sudah kabur Pak."
"Kabur?" Lono mengangguk." Kata Vivian, dia paling populer di sini. Vivian selalu saja berkata ingin mencari gadis seperti Noa. Terus kenapa dia membiarkannya kabur?" Tentu saja Prapto mempertanyakannya sebab dia sering mendengar pujian untuk Noa dari Mommy Vivian.
"Akan lebih baik tidak membahasnya Pak." Jawab Lono. Satu-satunya saksi hidup yang pernah melihat wujud Lucas.
"Kenapa? Hah!"
"Saya merasa jika Mommy Vivian di lenyap kan oleh Suami Noa yang bukan manusia."
"Maksudmu, Noa menikah dengan bangsa jin dan semacamnya?" Tanya Prapto penuh hinaan.
"Bukan Pak. Sejenis Vampir tapi saya juga tidak yakin itu apa." Prapto terkekeh nyaring. Dia menganggap jika perkataan itu hanyalah omong kosong yang sengaja di karang Lono.
"Kau bercanda atau sedang membuat lelucon!!"
"Saya melihatnya sendiri Pak. Dia bertaring dan memiliki lidah panjang bercabang. Jadi sebaiknya Bapak tidak lagi membahas masalah Noa daripada harus jatuh korban lagi." Kekehan Prapto kian nyaring. Lono berusaha memakluminya karena cerita darinya memang terdengar tidak masuk akal.
"Kalian percaya?" Tunjuk Prapto pada kedua teman Lono.
"Percaya tidak percaya Pak tapi Lono tidak pernah berbohong. Sebaiknya Bapak tidak perlu mencari keberadaan Noa. Semua orang yang di utus selalu kembali dengan nama saja."
"Kau sembunyikan di mana Noa!!!" Bentak Prapto dengan bola mata membulat. Dia berfikir jika Lono yang menyembunyikannya dan mencoba mengelabuhi orang-orang dengan omong kosongnya.
"Saya tidak tahu Pak."
"Kau bisa menipu Vivian! Tapi tidak denganku!! Di mana kau sembunyikan dia!!"
"Ini fakta. Saya tidak menipu." Jawab Lono mengelak.
"Lono tidak mungkin berbohong Pak." Sahut lainnya membela.
"Sekarang ku tanya!! Apa kau pernah bertemu dengan makhluk itu dan melihatnya dengan mata kepala sendiri." Kedua teman Lono menggeleng pelan." Seret dia ke gudang belakang sampai dia mengaku di mana lokasi Noa sekarang." Pinta Prapto lantang.
"Saya tidak tahu apa-apa Pak." Jawab Lono panik.
"Seret dia!!!" Menunjuk kasar ke arah Lono.
"Tapi dia tidak..."
"Kau ingin bernasip sama seperti nya jika terus membelanya!!" Kedua teman Lono bungkam. Mereka terpaksa menyeret Lono ke gudang belakang sesuai dengan perintah Prapto. Hahahaha.. Ternyata menjadi Vivian itu enak. Aku jadi punya banyak anak buah.
๐น๐น๐น
__ADS_1