Istri Tuan Vampir

Istri Tuan Vampir
25


__ADS_3

Meskipun Lucas mencoba mengikis rasa takutnya. Jika melihat banyaknya pasang mata merah yang mengintai. Membuat Noa membayangkan hal buruk yang di alaminya kemarin.


Cara berburu mereka tidak ayal seperti seekor kawanan hewan yang kelaparan. Mengeram, meraung-raung seolah siap menerkam dirinya yang kala itu tidak mampu melawan.


"Aku pernah berada di sekeliling mereka Tuan."


"Mereka tidak ada apa-apanya Baby. Banyak dari pengawal dan prajurit kerajaan yang memiliki wajah lebih buruk dari itu. Mereka seperti hewan buas yang tidak mampu mengendalikan rasa laparnya ketika melihat darah." Noa mengeratkan pegangan tangannya. Wajahnya menunduk untuk menghindari beberapa pasang mata merah yang masih mengintai.


"Seperti makhluk yang ada di hutan itu?" Lucas mengangguk seraya tersenyum.


Sebagian prajurit kerajaan memiliki wajah begitu buruk. Mereka sengaja di latih liar dan hanya tunduk pada beberapa orang saja. Insting berburunya sangat kental. Mereka bahkan tidak segan-segan membuat korbannya tercabik tidak berbentuk.


Prajurit yang seperti itu. Di tempatkan pada perbatasan kerajaan. Mereka bertugas membinasakan para manusia yang tersasar atau sengaja mendekati wilayah.


"Hm iya Baby. Vampir yang ada di kota seperti ini bisa lebih mengendalikan hasrat berburunya tapi tidak untuk manusia yang darahnya sudah tercampur seperti kamu."


Sepertinya aku harus lebih berani lagi..


"Hm iya. Menjadi Istri ku harus lebih berani."


"Tapi aku bukan wanita yang pemberani Tuan." Noa menegakkan posisi duduknya saat mobil Lucas sudah memasuki area apartemen.


"Aku yakin kamu bisa lebih berani." Noa menoleh seraya mengerutkan keningnya. Dia menyadari jika sejak dulu hingga sekarang dia tidak bisa melawan ketika sedang di tindas.


"Aku tidak yakin Tuan. Sejak dulu aku tidak pernah berubah."


"Buktinya kamu berani kabur dan masuk di hutan larangan yang terkenal angker." Lucas melepaskan sabuk pengamannya lalu beralih pada sabuk milik Noa.


"Aku tidak tahu itu hutan larangan. Aku hanya tahu tempat itu begitu sepi sehingga aku bisa bersembunyi di sana." Sudah lebih dari satu tahun aku merencanakan untuk kabur tapi baru kali itu aku lakukan. Itu karena aku terlalu takut tertangkap.


"Yang terpenting lakukan keinginan yang ada di hatimu dulu. Berhasil atau tidak. Itu urusan belakang." Lucas membukakan pintu untuk Noa dengan belanjaan yang ada di tangan kirinya.


"Aku akan kabur jika itu bisa ku lakukan. Agar Ibu sambung ku tidak perlu menjualku."


"Karena keberanian mu. Kita bisa bersama sekarang. Itu bukti jika kamu harus lebih berani untuk mengambil keputusan agar kehidupan mendatang menjadi lebih baik Baby." Noa masih memperlihatkan senyuman aneh. Menatap paras Lucas dari samping.


Lelaki itu begitu tampan dengan aura yang terlihat berbeda. Meski bukan manusia, tapi kehidupan layak kini Noa dapatkan. Hal itu memotivasi fikiran Noa untuk bisa mempertahankan hubungan yang di anggap terlarang bagi bangsa Vampir.


"Berani untuk hubungan kita Tuan." Tanya Noa bersamaan dengan tertutupnya pintu lift.

__ADS_1


"Tebakan mu benar sekali Baby. Aku hanya berharap bisa tetap terjaga dan tidak lengah. Tapi aku minta padamu untuk lebih kuat lagi demi hubungan kita." Noa menarik nafas panjang seraya mengangguk-angguk. Menatap lagi sosok di sampingnya yang sudah mencuri hatinya hingga dia menumpukan sebuah harapan besar padanya.


"Aku tidak yakin akan bisa Tuan."


"Kamu bisa. Karena kamu Istriku." Pintu lift terbuka. Keduanya melangkah keluar lalu masuk ke apartemen yang terletak tidak jauh dari sana.


Noa tidak menjawab ucapan Lucas. Dia merasa tidak memiliki keberanian sebesar itu. Selama ini hidupnya berjalan datar. Dia melakukan sesuatu yang ada di depan tanpa berani untuk berbelok sedikitpun.


Tanpa mengganti baju. Noa mengambil satu persatu belanjaan dan menatanya di dalam kulkas. Lucas memperhatikannya seraya duduk. Dia tahu kegelisahan yang di perlihatkan Noa.


Dia sangat lemah.. Itu kenapa dia berada di tempat buruk itu bertahun-tahun lamanya. Lucas menjadi tidak tega melihat wajah gelisah yang di perlihatkan Noa sekarang. Aku hanya ingin kamu lebih berani menghindar agar kamu tidak di tangkap dengan begitu mudah.


Secepat kilat, Lucas berdiri menghampiri Noa yang kala itu tengah menutup pintu kulkas.


Tap!!!!


"Ahhh Tuan!!!" Pekiknya mengusap lembut dadanya.


"Maaf Baby."


"Tidak apa Tuan. Aku hanya terkejut." Noa menuang air putih dan meneguknya sedikit.


"Tidak Tuan. Aku hanya tidak tahu apa bisa melakukan itu." Kedua tangan Noa memegang gelas erat.


"Ya sudah tidak perlu di fikirkan. Aku berjanji akan melindungimu." Lucas merangkul kedua pundaknya erat. Noa meletakkan gelas dan membalasnya dengan melingkarkan kedua tangannya pada perut Lucas.


"Aku juga berjanji akan lebih berani Tuan. Aku ingin memiliki keluarga kecil bersamamu." Lingkaran kedua tangan Noa kian erat dengan kepala di sandarkan pada dada bidang Lucas.


"Ouch manis sekali. Aku mencintaimu." Lucas menenggelamkan kepala Noa dan mengecup puncak kepalanya.


"Aku juga mencintaimu Tuan." Kamu tujuan terakhir hidupku.


"Kamu juga tujuan terakhir untukku." Noa tersenyum. Lagi lagi dia lupa jika Lucas bisa membaca fikirannya.


"Aku mengantuk lagi Tuan."


"Ku temani tidur." Lucas mengangkat tubuh Noa dan secepat kilat membawanya di depan sofa.


"Sambil menonton televisi Tuan."

__ADS_1


"Asal jangan sambil bercinta Baby. Jatah untuk hari ini sudah di lakukan lebih awal." Noa tersenyum begitupun Lucas. Keduanya saling mellumat sejenak sebelum akhirnya Lucas menurunkan kaki Noa.


"Iya Tuan. Satu hari sekali." Noa duduk di ikuti oleh Lucas. Segera saja dia berbaring dan menumpukan kepalanya pada paha Lucas." Apa Tuan akan pergi?" Tanya Noa lirih.


"Tidak. Aku tidak akan kemanapun dan hanya menemani mu." Lucas menunduk dengan jemari tangan yang tengah bermain di anak rambut Noa.


"Jika Tuan pergi tidak apa. Aku berjanji tetap di ruangan dan menunggu Tuan kembali." Jawab Noa mulai bergumam. Kantuk langsung menyerang. Sentuhan hangat Lucas membuatnya begitu nyaman hingga harus menguap beberapa kali.


"Besok malam saja Baby. Sekarang tidurlah. Akan ku temani."


"Hmm." Noa meraih jemari kanan Lucas dan menggenggamnya dengan kedua tangannya. Dia menciuminya sebentar lalu mengalungkannya pada lehernya agar rasa nyamannya lengkap. Nyaman sekali. Seperti tangan Mama.


Kamu lebih beruntung. Aku bahkan tidak tahu bagaimana rupa Mama ku.


๐ŸŒน๐ŸŒน๐ŸŒน


Setelah percintaan panasnya. Stefanus merapikan bajunya dan dengan lembut Elena membantunya memakaikan jubah kebesarannya.


"Lucas belum pulang Baginda?" Tanya Elena duduk di tepian ranjang seraya memperhatikan Stefanus yang masih berbenah diri.


"Dia sudah besar. Asal bisa menjaga diri." Jawab Stefanus menutupi kegalauan hatinya.


"Bagaimana jika kita carikan jodoh untuk Lucas agar dia bisa betah berada di kerajaan." Stefanus menarik nafas dalam-dalam. Dia sudah pernah melakukan itu tapi belum juga bisa menemukan bagaimana selera wanita idaman Lucas.


"Bukankah kita sudah pernah melakukannya?"


"Usaha tidak akan membuahkan hasil."


Elena berencana mengambil sembarangan gadis Vampir untuk di jodohkan dengan Lucas. Keinginan untuk bisa merubah peraturan begitu menggebu-gebu sehingga dia ingin segera bisa mewujudkan semuanya. Entah dengan cara Lucas mencintai manusia atau membuat Lucas jatuh hati pada gadis Vampir yang bisa dia kendalikan.


Cara itu tidak penting. Elena hanya ingin segera mewujudkan tujuannya untuk menguasai dunia dengan bangsanya. Dia ingin semua manusia yang ada di muka bumi bisa di kendalikan. Elena juga berniat untuk menjadikan manusia selayaknya ternak agar dia bisa menikmati darah manusia setiap pagi.


"Terserah padamu. Asal Lucas mau." Jawab Stefanus berlalu pergi.


Elena tersenyum tipis seraya memperhatikan pintu kamarnya yang tertutup.


Semoga dengan cara ini. Lucas segera bisa ku kendalikan.


๐ŸŒน๐ŸŒน๐ŸŒน

__ADS_1


__ADS_2