
Senyum Noa mengembang, melihat bungkusan makanan berlogo sama seperti restoran yang di inginkan. Segera saja dia meraih bungkusan tersebut dan membukanya.
"Masih sangat panas." Gumam Noa." Bik tolong ambilkan pisau dan garpu." Pinta Noa setengah berteriak.
"Iya Non."
"Terimakasih ya sayang. Berarti restoran nya belum tutup."
"Sudah akan tutup. Untung aku datang dengan cepat." Jawab Lucas ikut merasa bahagia.
"Ini Non. Sekalian Bibik bawakan piring."
"Terimakasih Bik." Bik Minah hanya tersenyum dan mengangguk lalu pergi.
Noa memotong daging steak lalu melahapnya. Kepalanya mengangguk seraya bergumam karena steak dan sausnya terasa menggoyang lidah.
"Enak?" Tanya Lucas fokus pada bibir Noa yang tengah mengunyah.
"Hm sausnya enak sekali."
"Syukurlah jika kamu suka." Tiba-tiba Lucas menoleh cepat ke arah jendela. Hidung mancungnya bergerak-gerak karena mengedus kedatangan Alex. Apa aku tidak salah? Darimana dia tahu?
"Ada apa sayang?" Tanya Noa membaca raut wajah gelisah Lucas.
"Tunggu di sini Baby." Pinta Lucas yang sudah berjalan cepat menuju samping jendela. Dia melihat jelas jika Alex tengah berdiri di seberang jalan bahu rumahnya.
Noa berhenti menguyah. Tidak berani bergerak dan hanya menatap Lucas dengan wajah tegang. Dia tahu pasti ada yang salah di luar sana karena raut wajah Lucas terlihat serius.
Lucas menoleh lalu memberikan isyarat pada Noa jika dia akan keluar sebentar. Noa mengangguk dengan mata membulat dan seketika Lucas sudah menghilang dari tempatnya berdiri.
Ya Tuhan. Lindungi pernikahan kami..
Alex tersenyum tipis, memandang keponakannya yang kini memiliki tubuh lebih tinggi darinya. Bukan hanya dari segi tubuh. Kekuatannya pun jauh lebih besar darinya.
"Kau mau menyerahkan nyawamu?" Perumahan elit tersebut terlihat lenggang karena memang belum banyak penghuni di sana. Sementara Bima sendiri sengaja dibuat tidur oleh Lucas agar perdebatannya dengan Alex tidak di ketahui.
"Aku hanya ingin memberikan sebuah penawaran lagi."
"Aku tidak butuh penawaran. Cepat pergi dari sini." Elena muncul dan berdiri tepat di samping Alex tanpa Pedro juga prajurit kerajaan." Oh kalian bersekongkol? Apa Ayah tahu ini?" Imbuh Lucas sama sekali tidak merasa takut.
"Jangan berburuk sangka Lucas. Aku hanya meminta bantuan pada Alex untuk menemukan mu. Itu saja."
"Bagaimana aku percaya jika kalian makhluk yang buruk." Elena mendengus, membenarkan itu tapi tidak ingin mengakuinya.
"Pulanglah. Ayah mu membuat penawaran untukmu agar hubungan kalian bisa di restui. Aku sebagai Mama meski tidak kau anggap, berusaha merajuknya hanya untukmu."
"Kembali. Aku tidak butuh." Lucas akan beranjak masuk namun Elena menghadang langkahnya.
"Kau tahu jika pelarian mu ini akan sia-sia. Cepat atau lambat, Ayahmu akan menangkap mu dan juga Istrimu. Aku benar-benar ingin memberikan jalan yang mudah agar hubunganmu di restui."
"Omong kosong!!!" Teriak Lucas lantang. Dia tahu sifat Ibu tirinya sehingga tidak mudah baginya untuk percaya." Kau suruh aku pulang agar kau bisa mengambil milikku bukan!!" Imbuhnya geram.
__ADS_1
"Bagaimana bisa mengambil jika kau masih melingkarkan pelindung itu." Sahut Alex yang juga tidak bisa menembus pelindung yang di bangun Lucas mengelilingi rumahnya.
"Hm Pamanmu benar. Aku bahkan tidak bisa menjangkaunya." Elena menyentuh sinar putih yang ada di hadapannya dengan jari telunjuknya dan seketika jari telunjuknya terbakar." Achhh sakit." Eluhnya mengibaskan tangannya.
Lucas terdiam ingin percaya tapi itu terasa sulit. Itu terjadi karena selama ratusan tahun bersama. Sifat buruk Elena sudah sering di perlihatkan. Lucas kerapkali berprotes pada sang Ayah namun Ayahnya sudah telanjur menikah dengan wanita bekas dari Kakak kandungnya, William.
"Jika aku berniat memburu mu. Bukankah seharusnya aku membawa prajurit?" Rajuk Elena meyakinkan." Aku datang ke sini bersama Alex karena ingin menjemputmu." Hati Lucas yang masih bimbang tidak juga berani mengambil keputusan meski dia cukup tertarik dengan penawaran itu.
Mereka benar. Pelindung ini cukup kuat untuk menjaganya.
"Tugasku sudah selesai. Aku pergi dulu." Sahut Alex berpamitan seolah dia benar-benar tidak ada niat buruk.
"Terimakasih." Jawab Elena menoleh ke Alex yang sudah menghilang di gelapnya malam." Ayo pulang. Aku takut Ayahmu berubah fikiran." Dasar anak pembangkang! Kenapa dia masih saja tidak ingin ku ajak pergi? Bagaimana lagi aku harus merajuknya. Jika aku yang menjelaskan. Dia akan tahu jika itu ide dariku!!
Elena memasang senyum merekah. Menekan emosinya agar Lucas mau ikut bersamanya sambil memikirkan cara lain yang lebih ampuh.
"Apa dia ada di dalam?" Lucas membalas tajam tatapan Elena." Aku ingin bertemu dengannya. Aku ingin tahu bagaimana cantiknya wanita itu hingga sanggup membuatmu jatuh cinta." Imbuhnya berusaha tidak mengubah ekspresi wajahnya agar Lucas percaya.
"Apa rencanamu Elle." Tatap Lucas penuh curiga.
"Aku tidak punya rencana. Aku hanya menyampaikan titah Ayahmu dan ingin melihat calon menantuku." Lucas masih tidak bergeming dan hanya menatap Elena seolah ingin membaca raut wajah Elena yang memang sedang berusaha menipunya." Tunjukkan dia di balik pagar pelindung agar aku tidak bisa berbuat apapun. Aku hanya ingin berkenalan dengannya Lucas." Lucas menddesah, raut wajah Elena sangat menipunya hingga sanggup melunturkan kecurigaannya.
"Sebentar." Lucas menghilang dari hadapan Elena dan seketika membuat senyum Elena semakin menggembang.
Hahahaha.. Akhirnya dia mau juga. Aku pastikan setelah ini dia akan ikut bersamaku dan penjebakan pun di mulai hahahaha..
Sementara di dalam. Lucas berdiri di samping Noa yang bahkan tidak menyentuh makanannya sejak tadi. Raut wajah tegangnya tergambar jelas sehingga membuat Lucas memutuskan untuk menenangkannya.
"Siapa yang datang."
"Mama tiri ku." Noa mendongak, menatap Lucas yang memperlihatkan sebuah senyuman.
"Sudah pergi?" Lucas menunduk dan mengecup bibir Noa sebentar.
"Dia ingin bertemu denganmu."
"U untuk apa sayang." Tanya Noa terbata.
"Berkenalan saja." Noa menelan salivanya kasar seraya merenggangkan kedua tangannya." Takut?" Imbuhnya bertanya.
"Kenapa tiba-tiba saja?"
"Mungkin ini jalan untuk restu kita."
"Benarkah sayang?" Tentu saja hal itu membuat Noa sangat bersemangat. Dia berfikir jika halangan besar yang harus di lalui akan terasa sedikit ringan.
"Hm.. Semoga saja. Tempat ini sudah ku lindungi. Kamu hanya berdiri di balik pelindung jadi dia tidak akan bisa menyakitimu." Noa masih takut tapi tidak dapat di pungkiri jika dia juga ingin segera mendapatkan restu tersebut.
"Baik sayang ayo." Dengan ragu, Noa berdiri. Kedua jemarinya memegang tangan Lucas erat dengan raut wajah menegang.
"Percaya pada Lucas mu. Tidak akan terjadi sesuatu." Noa mengangguk dan tersenyum aneh.
__ADS_1
"Hm ayo." Jawab Noa mengukuhkan niatnya.
Lucas tersenyum, lalu menggiring Noa berjalan menuju pintu utama. Elena yang berusaha sabar menunggu, cukup terkesima dengan pesona Noa yang kini mulai berjalan mendekat ke arahnya.
Cantik sekali. Aku sangat mengakui jika wanita itu sangatlah cantik bahkan melebihi Ana.
Elena memasang senyuman semanis mungkin, menyambut kedatangan Noa.
"Dia Noa. Istriku."
"Astaga cantik sekali." Patresia bahkan tidak ada apa-apanya. Bagaimana mungkin ada manusia sesempurna dia. Mungkin jika aku menghisap darahnya, kecantikannya akan bisa ku miliki. " Aku Elena. Mama tiri Lucas." Jawab Elena ramah.
"Senang bisa bertemu denganmu Mama." Elena tersenyum aneh. Suara Noa bahkan terdengar begitu indah membelai telinganya yang kotor.
Lengkap sekali. Suaranya sesuai dengan parasnya. Tapi tetap saja dia manusia lemah.
"Sudah cukup. Pergilah." Sahut Lucas tidak ingin memperlihatkan Noa berlama-lama.
"Kamu tidak ikut?"
"Aku akan menyusul." Jawab Lucas lemah.
Tuan Lucas akan pergi?
"Baik. Mama tunggu kedatangan mu. Senang bisa bertemu Noa. Sampai jumpa kembali." Belum sempat Noa membalas, Elena sudah pergi dari hadapan mereka.
"Aku hanya pergi sebentar." Jawab Lucas atas suara hati Noa.
"Kamu akan kembali kan?"
"Tentu saja Baby."
Aku merasa ganjil dengan semuanya..
"Aku juga Baby. Tapi ini demi kebaikan hubungan kita. Ayah akan memberi kita penawaran." Senyum Noa mengembang seraya mendongak menatap Lucas.
"Semoga saja jalannya lebih mudah sayang."
"Iya. Tapi ingat. Saat aku pergi. Jangan keluar dari rumah. Kamu harus tetap di dalam apapun yang terjadi." Noa mengangguk-angguk seraya tersenyum.
"Pergi sekarang?"
"Ku temani tidur dulu." Lucas mengangkat tubuh Noa dan membawanya ke dalam rumah.
"Steak ku belum habis."
"Habiskan dulu lalu tidur." Lucas menurunkan Noa di tempatnya semula.
"Sebentar sayang." Noa bergegas duduk untuk memakan sisa steak. Ada rasa curiga terbesit meski Noa tidak mengutarakan isi hatinya. Dia merasa jika kesempatan tidak datang dua kali sehingga Noa mencoba menghilangkan kekhawatirannya hanya demi mendapatkan restu dari Stefanus.
🌹🌹🌹
__ADS_1