Istri Tuan Vampir

Istri Tuan Vampir
76


__ADS_3

Alex masih tidak sadarkan diri dengan luka lebam pada dadanya. Serangan yang di berikan Stefanus bukan main-main hingga harus memperlambat fungsi jantungnya.


Noa menatap iba ke arah Alex yang tubuhnya mulai membiru. Jika Alex manusia biasa, tidak mungkin dia bisa bertahan dengan luka dalam yang begitu serius.


Saat tangan Noa akan menyentuh Alex, dengan cepat Lucas mencegah nya.


"Sudah ku katakan jangan bersentuhan dengan lelaki lain." Ujar Lucas menggenggam erat jemari Noa.


"Paman terlihat tidak baik."


"Biarkan saja." Noa melepaskan genggaman tangan Lucas dan menggeser tubuhnya menjauh.


"Dia menolongku sayang."


"Dia menyukaimu. Biarkan saja dia musnah dengan perlahan." Noa menoleh seraya menatap tajam Lucas.


"Aku tahu. Tapi dia sudah menolongku banyak ketika kau tidak ada di sana." Lucas mendengus. Dia merasa muak hanya dengan membayangkannya saja." Aku tertangkap oleh Pak Prapto. Aku hampir di nodai tapi dia menolongku. Paman Alex menolongku!!" Lucas menghembuskan nafas berat kemudian duduk di tepian ranjang.


"Ini hanya untuk balas budi." Gumam Lucas mulai mengeluarkan sinar putih dari tangannya. Dia menyentuh bagian tubuh Alex yang terlihat memar.


"Aku hanya mencintaimu." Ucap Noa tersipu.


"Aku juga sangat mencintaimu. Sudah selesai." Ucap Lucas seraya berdiri. Keduanya memandangi Alex yang mulai menyipitkan matanya.


"Apa Paman baik-baik saja?" Tutur Noa memastikan.


"Dia tidak pantas di sebut Paman!" Alex duduk di tepian ranjang. Kedua kakinya di turunkan seraya menatap ke arah Lucas dan Noa secara bergantian.


"Terimakasih untuk penyembuhannya. Aku tidak menyangka jika kamu sekarang sehebat itu." Alex mengedarkan pandangannya, menatap sekeliling kamar miliknya yang tidak berubah.


"Itu ku lakukan untuk membayar imbalan karena sudah menjaga Istri ku." Alex menghela nafas panjang. Hatinya masih saja terasa sakit saat dia sadar jika Noa tidak bisa di miliki.


"Sudah seharusnya aku menjaga Istri keponakanku." Sebisa mungkin Alex mencoba menutupi perasaan cemburunya.


"Apa kau sedang berakting Alex?!" Noa menatap Lucas dengan raut wajah tidak suka.


"Jika berakting, tidak mungkin aku ada di sini sayang."


Dia membelaku. Paling tidak, aku berhasil merebut simpatik nya..


"Bisakah kamu berbicara dengan sedikit sopan? Dia Pamanmu yang seharusnya kamu hormati."


"Aku sakit hati melihatmu membelanya seperti itu." Lucas meraih pergelangan tangan Noa cepat." Sebaiknya kamu beristirahat." Imbuhnya langsung membawa Noa keluar dari kamar Alex.

__ADS_1


Aku masih saja tidak rela. Alex beranjak lalu mulai melangkahkan kakinya mengelilingi setiap sudut kamar.


Semua barang miliknya masih tertata rapi bahkan terawat. Namun saat dia menyadari hukuman Stefanus, Alex berniat akan pergi.


Ini bukan lagi tempatku..


Alex melangkahkan kakinya keluar kamar. Dia menyusuri sedikit lorong yang menjadi pemisah antara kamar yang satu dengan yang lain. Tepat saat dia tiba di aula, suara Stefanus menyapanya.


"Terimakasih sudah membawa wanita itu." Ucap Stefanus lirih. Hatinya merasa kalut setelah apa yang terjadi hari ini.


"Aku hanya ingin menolongnya, tidak lebih."


"Berarti kau mengenalnya?" Stefanus berjalan menghampiri Alex.


"Hanya beberapa kali bertemu." Dan aku langsung jatuh cinta.


"Hm begitu. Kau mau ke mana?"


"Ini bukan tempatku." Alex masih tidak mau melihat ke arah Stefanus. Itu menandakan jika hatinya masih terluka padahal insiden sudah terjadi beberapa ratus tahun yang lalu.


"Tinggallah sebentar. Esok ahli nujum baru akan datang. Jika memang Istri Lucas hamil. Aku akan membuat pesta."


"Dia memang sedang hamil. Dorothy sudah mengatakannya padaku." Senyum Stefanus membingkai. Dia memang sudah ingin mengendong seorang bayi yang lucu.


"Aku memanggil Dorothy sebelum datang ke sini."


"Astaga. Aku akan memiliki cucu."


"Hm ya." Ayolah Alex. Kau harus bahagia mendengar ini..


"Aku akan mempersiapkan pesta besar setelah sidang. Aku harap kau juga hadir pada sidang itu." Alex menoleh dan menatap tajam Stefanus.


"Untuk apa? Aku tidak ingin terlibat lagi. Aku ingin kembali ke rumahku sendiri."


"Hukumanmu akan ku cabut." Alex mengangkat kedua tangannya lalu mencengkram erat jubah kebesaran Stefanus.


"Tidak berguna!! Dia tidak akan bisa hidup walaupun hukuman ku sudah kau cabut!!" Teriak Alex geram. Matanya merah menyala dengan seringai taring runcingnya.


"Dia juga meninggal saat sudah berumur lanjut." Alex semakin geram mendengar ucapan Stefanus yang seolah menganggap semuanya dengan gampang.


"Ucapan mu seperti seseorang yang tidak pernah jatuh cinta!!" Alex melepaskan cengkeramannya dengan kasar." Satu detik bersamanya terasa sangat berharga!! Bagaimana mungkin kau sanggup mengucapkan itu dengan begitu mudah!! Kau lihat aku!! Sampai saat ini aku tidak juga menemukan penggantinya!! Kau sadar itu berarti kenapa!!" Stefanus menghela nafas panjang dan membuangnya kasar. Dia kembali salah berucap hingga menyulut emosi Alex.


"Aku minta maaf. Aku tidak bermaksud..."

__ADS_1


"Aku pergi!!" Stefanus menghadang langkah Alex untuk pergi.


"Aku mohon Alex. Kau tahu apa alasan ku melakukan itu."


"Itu masalah pribadimu! Kenapa kau harus melibatkan semuanya!!"


"Aku egois. Aku minta maaf dan sekarang aku sadar jika Ana tidak berkhianat padaku. Dia terpaksa melakukan itu karena Elena mengancamnya." Penjelasan dari Stefanus sontak membuat Alex terkejut.


"Ana Maria? Siapa yang memberitahu informasi soal itu?" Alex yang tidak sadarkan diri karena luka dalamnya. Membuatnya tidak tahu menahu tentang kebenaran besar yang terungkap tadi.


"Ana Maria yang mengucapkannya sendiri."


"Ana Maria? Kau bercanda?"


"Tidak Alex. Elena mengurungnya di jeruji khusus sehingga membuatnya tidak menua. Kau tahu apa yang membuat itu terdengar semakin memuakkan."


"Apa?" Tanya Alex lirih.


"Elena yang sudah membunuh Kak William." Alex melebarkan matanya dengan bibir setengah terbuka." Itu kenapa kau harus hadir pada sidang besok. Kita harus menghukum pembunuh Kakak kita." Imbuh Stefanus berharap Alex mau tinggal.


"Wanita itu benar-benar busuk!! Di mana dia!!" Tentu saja Alex tersulut emosi. Dia sangat menyanyangi William karena sifat penyabar nya.


"Penjara bawah tanah." Tanpa menunggu persetujuan, Alex melesat menuju penjara bawah tanah di ikuti oleh Stefanus.


"Anda tidak boleh masuk Tuan." Para penjaga tidak mengizinkan Alex dan masih mematuhi peraturan awal yang di buat Stefanus.


"Biarkan dia masuk." Kedua penjaga penjara membukakan pintu. Alex masuk dan berjalan perlahan untuk melihat satu persatu tawanan di sana.


"Dasar wanita busuk!!!" Teriak Alex saat menemukan di mana Elena di kurung. Stefanus hanya berdiri terpaku menatap keduanya.


"Kau juga busuk! Jangan menjadi sok suci di hadapanku!!"


"Apa kau membunuh Kak William!! Katakan Elle!!" Elena terkekeh kecil tanpa menatap ke Alex.


"Aku mencintai nya tapi dia terlalu payah dalam bersikap hingga dia tidak bisa terpilih menjadi raja."


"Lalu kau mengurung Ana Maria?" Elena mengangguk dan tersenyum tipis.


"Seharusnya aku membunuhnya saja agar semuanya tidak terungkap seperti sekarang."


"Aku tidak menyangka jika ada makhluk keji seperti dirimu!!" Elena terkekeh nyaring lalu berjalan ke arah Alex dengan pembatas jeruji khusus.


"Bagaimana denganmu Alex. Kau juga tidak kalah keji karena sudah menyukai wanita yang merupakan Istri keponakan mu sendiri." Alex melebarkan matanya begitupun Stefanus yang terkejut mendengar kenyataan itu.

__ADS_1


🌹🌹🌹


__ADS_2