Istri Tuan Vampir

Istri Tuan Vampir
54


__ADS_3

Ana menatap geram ke Elena yang tengah berdiri di samping ruangan. Ibu mana yang bisa menerima jika ada seseorang yang berusaha menyakiti anaknya.


Dengan menahan rasa sakit, Ana menyelipkan tangannya lalu menarik keras gaun Elena hingga membuat Elena membentur jeruji besi.


"Ach!!!!" Pekik Elena menghempaskan tubuh Ana.


"Ahhhhh!!!" Tubuh Ana terkulai dengan tangan melepuh karena jeruji tersebut adalah pelindung untuk ruangannya.


"Berani sekali kau Ana!!!" Teriak Elena geram.


"Jangan sentuh anakku Elle!! Lepaskan dia!!! Cukup aku saja yang kau siksa!!" Pinta Ana berteriak. Elena merasa geram dan langsung mencekik leher Ana tanpa menyentuhnya.


Tubuh Ana terangkat dengan kedua tangan memegang erat lehernya sendiri. Kedua maniknya melebar, menatap lekat ke Elena dengan tubuh mulai menggelepar.


"Bu bunuh saja aku. In ini lebih baik daripada aku harus melihat anakku tersiksa." Seketika tubuh Ana terlepas dan terkulai di lantai.


"Aku tidak akan membiarkanmu mati. Kau harus melihat anakmu tersiksa sampai nanti aku bisa menguasainya dan mendapatkan keinginan ku." Elena terkekeh nyaring seraya meninggalkan tempat.


"Ya Tuhan tolong sadarkan Stefanus jika wanita itu berniat buruk." Ana terisak tanpa bulir air mata seraya mendesis menahan perih pada tangannya. Aku mohon Tuhan.. Sekali saja... Tolong dengarkan doaku..


Sementara di kamar, Lucas terduduk lemah memandangi ke arah luar jendela yang sudah terpasang sebuah trali besi. Sejak tadi perasaannya hanya tertuju pada Noa yang mungkin tengah menunggu kedatangannya.


"Semakin kamu melawan. Semakin lama hukuman itu di berlakukan." Sontak Lucas menoleh menatap ke Stefanus yang sudah berdiri tidak jauh dari sana.


"Lakukan. Musnahkan aku jika perlu." Tantang Lucas yang masih berpendirian teguh meski kekuatannya sudah menghilang." Asal jangan menyentuhnya. Biarkan dia hidup karena dia tidak bersalah. Aku yang bersalah karena sudah memintanya menjadi Istriku."


Stefanus menddesah lembut. Mendengar kekukuhan hati anaknya sendiri padahal keadaan Lucas sekarang lebih lemah daripada manusia.


"Aku memang sudah tidak perduli padanya."


"Hm.." Lucas mengangguk-angguk lalu berpaling. Rindu pada Noa mulai menjalar padahal baru beberapa jam lalu mereka berpisah. Jika aku tahu rindu itu seberat ini. Aku tidak akan menerima penawaran itu.


"Kau hanya butuh waktu untuk melupakannya Lucas. Setelah kau melupakannya, kau akan sadar jika cintamu pada manusia itu hanya sesaat." Lucas kembali menatap Stefanus dengan tajam.


"Aku tidak akan bisa melupakannya. Dia Istriku dan selamanya akan menjadi Istriku meski kau memusnahkan ku sekalipun!!"


"Untuk sekarang. Ayah yakin kau akan melupakannya nanti."


"Jangan kau sebut dirimu Ayah jika kau masih meninggikan egois mu. Aku bukan anak mu!!! Silahkan turuti perintah wanita itu agar hidupmu bisa hancur nantinya."


Plaaaaaakkkkkk!!!!


Stefanus melayangkan tamparan hingga membuat sudut bibir Lucas berdarah.


"Musnahkan aku Stefanus!! Itu lebih baik daripada kau suruh aku melupakan Istriku sendiri!!!" Pendirian teguh dari Lucas tentu menyulut emosi Stefanus yang tidak ingin anaknya mengenal cinta manusia.


"Terus saja begitu! Kau akan terkurung di sini selamanya!!" Teriak Stefanus berjalan keluar kamar.


Lucas tersenyum kecut. Kembali menatap keluar jendela dengan harapan akan ada keajaiban yang bisa membantunya.


Maafkan aku Baby... Aku menemukan jalan buntu di sini..


๐ŸŒน๐ŸŒน๐ŸŒน

__ADS_1


Sejak kepergian Lucas. Noa masih terjaga hingga sekarang. Dia tentu menunggu kedatangannya meski perasaannya berkata jika Lucas tidak akan kembali.


Hatinya di liputi kekhawatiran dan kekalutan yang bercampur aduk menjadi satu. Dia merasa menyesal sudah menolak sentuhan Lucas yang mungkin tidak bisa di dapatkannya lagi.


Apa kamu sudah benar-benar pergi?


Air mata kembali lolos, di iringi dengan isakan tangis hingga kedua mata Noa terlihat membengkak.


"Apa dia sengaja pergi untuk menjauhiku atau memang dia tertangkap oleh prajurit kerajaan." Tangan kanan Noa mengusap air mata yang tidak juga berhenti keluar." Aku tahu Tuan Lucas begitu kuat. Tidak mungkin dia tertangkap begitu mudah. Aku yakin dia sudah merencanakan ini untuk meninggalkan aku." Perasaan sensitif Noa membuat fikirannya tidak berarah. Selayaknya Ibu hamil lainnya, hati Noa menjadi setipis kapas karena janin spesial yang mulai mengendalikan perasaannya." Tidak. Tuan Lucas tidak mungkin begitu. Dia mencintaiku! Dia pasti punya alasan kuat untuk ini." Noa mencoba menerka tentang apa yang terjadi namun itu semua sulit karena perasaan aneh yang bergejolak di hatinya.


Mata Noa menyipit, menatap ke jam dinding yang menunjukkan pukul empat pagi. Dia sudah terlalu lelah untuk menunggu hingga tanpa sadar Noa terlelap dan kembali pada mimpi yang sama.


Tempat ini lagi...


Pandangan Noa teralihkan, saat dia melihat wanita yang mirip parasnya tengah mengendong anak perempuan dengan mahkota berbentuk aneh.


Mahkota sisi kanan berwarna putih dengan mata permata berwarna hijau dan sisi lainnya berwarna hitam dengan mata permata berwarna merah.


"Apa itu anak anda Nyai." Tanya Noa lirih.


"Ini wadah baru ku."


"Wadah baru?" Tanya Noa terbata. Dia baru menyadari jika anak perempuan yang tengah di gendong wanita itu memiliki wajah mirip dengannya.


"Nyai seneng dengan wadah baru ini Nduk." Noa tersenyum aneh, menatap anak perempuan yang juga tengah menatapnya.


"Mama." Sontak Noa membulatkan matanya ketika mendengar anak perempuan itu memanggilnya Mama.


"Owalah Nduk. Dia ini anakmu loh."


"Anak?"


"Iya." Anak perempuan itu tersenyum dan tiba-tiba menjadi asap berwarna putih lalu masuk ke dalam perut Noa.


"Ach!!!" Pekik Noa berjalan mundur seraya memandangi perutnya sendiri.


"Dia wadah spesial ku Nduk." Wanita itu sudah berada di samping Noa dan mengusap perutnya yang masih terlihat rata.


"Apa aku hamil Nyai."


"Bagaimana kamu ini. Hamil kok tidak tahu. Tentu saja kamu hamil. Wadah ku akan lahir 90 hari lagi. Dia akan berdiri di tiga alam yang berbeda. Alam milikku, milikmu dan milik Suamimu." Wanita itu terkekeh nyaring seolah merasa sangat bahagia.


Tok .. Tok... Tok...


Tiba-tiba saja Noa terjaga saat terdengar ketukan pintu. Dia kembali lupa akan mimpinya dan duduk dengan santainya.


Tok.. Tok.. Tok..


"Non.."


Noa menoleh dan masih tidak melihat Lucas di sampingnya. Ada dessahan lembut meski dia harus bisa menerima semua sesuai dengan janjinya.


Aku akan menunggumu kembali sayang...

__ADS_1


Noa beranjak berdiri lalu berjalan menuju pintu dan membukanya.


"Astaga Non." Gumam Bik Minah melihat sembab di mata Noa." Matanya kenapa Non." Noa tersenyum seraya mengusap matanya yang sakit.


"Tidak apa Bik. Em ada apa Bik?"


"Ada Tuan Bastian di bawah. Katanya ingin bertemu Tuan Lucas."


"Oh begitu. Suruh Tuan Bastian menunggu ya. Saya ganti baju dulu."


"Baik Non." Bik Minah pergi. Noa menutup pintunya pelan lalu berjalan ke arah meja rias untuk melihat keadaan wajahnya yang terlihat berantakan.


"Sesuai janji. Aku akan menunggumu sayang." Gumamnya seraya melanjutkan langkahnya ke arah kamar mandi untuk mencuci muka.


Setelah selesai, Noa mengganti baju tidurnya dengan gaun yang sopan untuk menemui Bastian, satu-satunya lelaki yang boleh bertemu dengannya.


"Maaf menunggu lama Tuan." Sapa Noa menatap ke Bastian yang memasang wajah gugup.


"Tidak apa Nona."


"Em Tuan Lucas sedang tidak ada, Tuan bisa kembali lain hari. Tapi jika ada yang perlu Tuan sampaikan, nanti saya sampaikan." Jawab Noa lirih. Dia pribadi tidak tahu kapan Lucas kembali.


"Saya ke sini hanya untuk memberitahu pengalihan hak usaha yang sepenuhnya berada di tangan Nona." Noa melongok mendengar itu. Bastian yang sudah memikirkan ini sejak semalam, sengaja mengalihkan semua aset miliknya pada Noa dengan syarat-syarat yang sudah tertulis di lembar perjanjian.


"Kenapa saya?"


"Em seharusnya Tuan Lucas. Tapi.. Karena Tuan Lucas tidak ada di tempat. Jadi tidak ada bedanya jika saya mengalihkan semuanya untuk Nona. Silahkan di baca isi perjanjiannya." Bastian menyodorkan secarik kertas dan sengaja menyentuh jemari Noa untuk melancarkan aksinya.


Noa yang tidak tahu menahu akan rencana Alex, tidak merasa curiga dengan sentuhan yang terjadi tadi. Dia menganggap Bastian tidak sengaja melakukan itu.


Cantik sekali. Aku sungguh mengakui jika Nona Noa cantik sekali. Tapi tetap saja. Dia milik Tuan Lucas. Orang yang sudah menolong ku.


"Hanya memberikan biaya pengobatan untuk Ibu?" Bastian mengangguk dengan tatapan nakalnya. Parasnya yang tampan seharusnya membuat Noa cepat tergoda walaupun rasanya itu tidak berpengaruh.


"Iya Nona. Saya punya seorang Ibu yang kini di rawat di rumah sakit. Beliau sedang koma dan membutuhkan banyak biaya untuk pengobatan."


"Bukankah seharusnya anda berikan pada Tuan Lucas saja." Bastian merasa nyawanya sudah terancam sehingga dia ingin mengalihkan perusahaannya.


"Tidak akan ada bedanya."


"Saya tidak tahu menahu soal perusahaan Tuan."


"Sudahlah. Nona tinggal tanda tangan saja." Noa tersenyum tipis lalu mengambil bulpen dari tangan Bastian. Dia membubuhkan tanda tangan dan mengembalikan secarik kertas tersebut." Tuan Lucas beruntung sekali." Imbuhnya mulai merayu.


"Beruntung?"


"Hm.. Memiliki Istri sesempurna Nona."


"Saya tidak sempurna Tuan."


"Sangat sempurna." Sahut Bastian cepat." Buktinya saya langsung tertarik padahal sebelumnya saya hanya mencintai Ibu saya." Noa menegakkan kepalanya seraya tersenyum aneh. Menatap fokus ke Bastian yang mulai menjelajahi tubuhnya dengan mata nakalnya.


๐ŸŒน๐ŸŒน๐ŸŒน

__ADS_1


__ADS_2