Istri Tuan Vampir

Istri Tuan Vampir
75


__ADS_3

Stefanus yang kebetulan lewat, langsung menghampiri kamar Patresia saat melihat kebersamaan antara anak dan Istrinya. Dia terdiam di ambang pintu, memperhatikan lekat momen tersebut dengan tangis haru.


Aku tidak bisa membencimu Ana. Aku masih sangat mencintaimu..


Apalagi setelah mendengar tebakan yang di lontarkan Ana, membuat Stefanus merasa turut bahagia hingga sebuah kalimat meluncur begitu saja.


"Aku juga merestui hubungan kalian." Semua yang ada di ruangan sontak menoleh.


"Aku tidak lagi memikirkan restu mu. Aku akan pergi setelah ini." Jawab Lucas masih merasa kesal dengan sikap Stefanus.


"Ibu ikut denganmu Lucas." Stefanus menddesah lembut lalu melangkah masuk.


"Tidak ada orang yang boleh keluar dari kerajaan sebelum kesalahpahaman ini terungkap."


"Kau lebih memilih wanita busuk itu daripada kami. Hiduplah bersamanya. Bukankah itu keinginanmu." Stefanus mulai menyadari tentang ketidaktegasannya dalam memimpin. Keluarganya hampir menjadi berantakan hanya karena mahkluk bernama Elena.


Patresia yang mendengar itu, merasa tidak enak atas sifat buruk Elena. Dia bahkan merasa menyesal sudah beberapa kali menuruti rencana busuk Elena agar dia bisa menguasai kerajaan.


"Perkataannya terasa menyakinkan. Ayah minta maaf Lucas. Ayah mohon jangan pergi dari sini sebelum semuanya jelas." Lucas berjalan menghampiri Stefanus dan berdiri tepat di hadapannya.


"Dia yang sudah mengurung Ibu. Dia juga sudah memfitnah Ibu berselingkuh. Wanita itu berdusta! Ibuku tidak pernah membenciku! Ibu melakukan itu hanya untuk keselamatan ku akibat ancamannya." Stefanus melebarkan matanya. Dia merasa terkejut begitupun Patresia yang baru mengetahui fakta ini dari Lucas.


"Apa benar begitu Ana?" Tanya Stefanus memastikan.


"Itulah yang terjadi. Sangat mustahil jika aku membenci anakku hanya karena dia Vampir."


Aku tidak menyangka Mama berbuat itu..


"Aku akan memusnahkannya!" Ucap Stefanus geram. Tiba-tiba saja Patresia duduk bersimpuh di hadapan Stefanus.


"Maafkan Mama saya Baginda. Saya tahu jika dia bersalah. Tolong jangan memusnahkannya. Baginda boleh mengurungnya. Tapi saya mohon jangan memusnahkan dia." Rajuk Patresia terisak.


"Kesalahan Elena sangat fatal." Noa menatap iba ke arah Patresia.


"Saya mohon Baginda." Stefanus beralih menatap Ana yang belum mau melihat ke arahnya.


"Istriku yang berhak, bukan aku." Ana berpaling, dia merasa muak mendengar itu sebab nyatanya Stefanus menikah lagi dengan Elena.


"Aku bukan lagi Istri mu Tuan." Jawab Ana lirih." Kita bahkan sudah tidak bertemu selama ratusan tahun. Aku bukan lagi Istri mu!" Stefanus membuang nafas kasar. Ingin sekali dia menyentuh Ana namun pemandangan di hadapannya menyuruhnya untuk menahan perasaan rindu yang selama ini menyiksa.


"Aku baru tahu kebenarannya. Kamu berkata menyukai lelaki itu."


"Lalu kau memutuskan untuk menikah lagi?! Lucas. Tolong antar Ibu ke kamar. Ibu ingin beristirahat." Ana memegang erat lengan Lucas.

__ADS_1


"Tunggu di sini Baby." Lucas mengiring Ana keluar kamar meninggalkan Noa yang sejak tadi tidak ikut bicara.


"Bukankah Mama mu keterlaluan?" Patresia berdiri tertunduk.


"Maafkan Mama saya Baginda." Stefanus malah beralih menatap Noa.


"Tolong rajuk Lucas untuk tetap tinggal sebelum semuanya selesai." Pinta Stefanus dengan wajah memohon.


"Saya akan melakukannya Baginda."


"Panggil aku Ayah." Noa mengangguk seraya tersenyum. Dia menundukkan kepalanya untuk menjaga kesopanan pada Stefanus." Aku akan memanggil ahli nujum untuk memeriksa kehamilanmu. Jika kamu benar-benar hamil, akan ku rayakan pesta besar." Imbuhnya sudah mengakui keistimewaan yang ada pada diri Noa.


"Terimakasih Ayah."


"Hm. Aku harap kehadiranmu bisa mempersatukan kami lagi. Aku sangat berharap padamu." Stefanus mengusap puncak kepala Noa sejenak lalu berjalan pergi keluar kamar.


"Beruntungnya kamu." Sahut Patresia mengusap sisa air mata yang sempat jatuh.


"Kamu harus sabar." Noa memeluk tubuh Patresia untuk menguatkan hatinya." Aku sudah tidak memiliki Ibu sejak kecil." Imbuh Noa menghibur.


"Berarti hanya ada Ayah?"


"Sejak Ibu meninggal dunia. Aku juga kehilangan sosok Ayah karena Ibu tiri yang jahat. Hidupku lebih pahit dari mu Patresia." Noa melepaskan pelukannya sehingga keduanya berdiri saling berhadapan." Kamu lebih beruntung karena ada Ayah Stefanus yang merawat mu dengan baik. Sementara aku.." Noa tersenyum getir saat ingatan tentang rumah pellacuran kembali melintas.


"Bukankah aku melarang mu untuk membicarakan tentang masa lalu Baby." Noa dan Patresia menoleh bersama. Lucas berjalan cepat dan bergegas meraih pergelangan tangan Noa saat dia akan menghindar." Aku ingin bicara empat mata dengan mu. Walaupun kamu sedang merasa muak denganku. Mari kita bicara. Aku sangat merindukanmu Baby." Noa berpaling seraya menutup mulut dan hidungnya dengan tangan kirinya.


"Ikut ke kamarku." Seperti biasa, Lucas membawa Noa pergi dengan cepat masuk ke dalam kamar miliknya.


"Manisnya." Gumam Patresia tersenyum." Aku harus menemui Pedro." Patresia bergegas pergi untuk menemui Pedro yang ternyata sudah menunggunya di aula kerajaan.


Langsung saja Patresia menghampirinya lalu memeluk tubuh Pedro erat. Dia merasa beruntung karena ternyata Suami nya baik-baik saja.


"Maafkan Mama ku." Ucap Patresia lirih.


"Sudah ku maafkan tapi aku tidak bisa lagi menuruti perintahnya." Pedro membalas pelukan Patresia erat.


"Kamu tidak perlu melakukan itu. Mama memang keterlaluan. Aku juga minta maaf padamu atas sikapku selama ini. Aku baru sadar jika aku sangat mencintai mu."


"Apa kamu serius sayang?" Pedro membelai lembut rambut panjang Patresia dengan perasaan damai.


"Aku serius."


"Aku harap setelah ini kamu tidak lagi memikirkan Tuan Lucas. Itu sangat menyakitiku. Aku tahu jika aku tidak sempurna seperti Tuan Lucas. Tapi aku sangat mencintaimu Patresia." Selama menikah, Pedro berusaha menahan rasa kesalnya. Dia percaya jika suatu hari nanti Patresia bisa membalas perasaannya.

__ADS_1


"Mana mungkin aku memikirkan Suami dari sahabat ku juga Adik ipar ku." Patresia mengangkat kepalanya dari pundak Pedro lalu saling menatap.


"Istri Tuan Lucas?"


"Hm namanya Noa. Dia baik sekali. Aku berkenalan sebentar dengannya."


"Tuan Lucas tidak mungkin asal memilih."


"Kamu benar sayang. Em ini malam pertama kita. Aku ingin melewati malam ini di dalam kamar kita."


Pernikahan yang di lakukan setengah hati, membuat Patresia tidak mengizinkan Pedro menyentuhnya. Sehingga keduanya memang belum pernah merasakan sebuah malam pertama dengan percintaan panjang.


"Apa kamar kita tidak ikut runtuh?" Pedro begitu bahagia mendengar itu.


"Naga itu menembak sasaran yang tepat. Dia hanya menghancurkan kamar Mama." Segera saja Pedro mengangkat tubuh Patresia lalu membawanya ke dalam kamar.


Sementara Noa dan Lucas tengah duduk saling berjauhan tanpa mengucapkan sepatah kata pun. Keduanya terlihat saling memandang dengan wajah memerah.


"Apa yang kamu lakukan selama aku pergi?" Lucas mengawali pembicaraan. Sebenarnya dia sangat ingin menyentuh Noa namun keinginan itu harus di tahan sebentar hingga ahli nujum itu datang.


"Tidak ada. Aku hanya mencoba menemukan cara untuk menolong mu." Lucas mengangguk tanpa mengalihkan pandangannya.


"Aku berterimakasih untuk pertolongan tadi. Jika tanpa wujud mu yang lain, mungkin ceritanya akan berbeda."


"Berbeda?" Noa bertanya dengan suara ketus." Kamu akan menikah dan melupakan aku?" Imbuhnya dengan dengusan.


"Aku tidak sanggup melawan Baby. Ayah mengancam akan membunuhmu jika aku tidak menikah."


"Janjimu tidak sesuai. Katamu jika aku terbunuh kau akan terbunuh. Kenapa nyatanya seperti itu." Lucas menghembuskan nafas berat dan akan beranjak menghampiri Noa." Tetap di situ! Aku tidak ingin kita berdekatan dulu." Cegah Noa seraya menunjuk sehingga Lucas kembali duduk.


"Aku benar-benar tidak tahu harus berbuat apa."


Apa kehamilan ini membuat perasaanku menjadi aneh. Saat aku jauh darinya, kenapa aku merasa rindu tapi sekarang.. Noa melirik malas ke arah Lucas.


"Kamu muak padaku Baby?" Lucas malah terkekeh kecil. Kejadian berat yang di lalui beberapa hari sudah musnah dan tergantikan dengan berita bahagia soal kehamilan Noa.


"Aku minta maaf. Aku memang muak melihat mu."


"Dia mulai mengendalikan mu. Aku tidak masalah Baby. Terimakasih sudah mengandung anak ku."


"Hm sudah tugasku sayang." Noa berusaha berbicara selembut mungkin walaupun rasanya dia ingin terus marah-marah.


"Siapa yang nendadanimu? Kenapa kamu bersama Paman Alex tadi."

__ADS_1


"Paman Alex." Noa berdiri dengan raut wajah terkejut karena melupakan Alex." Aku ingin tahu keadaannya. Di mana kamarnya." Lucas memasang wajah tidak suka. Dia masih saja merasa cemburu saat melihat Noa berdekatan dengan lelaki lain tidak terkecuali Pamannya.


🌹🌹🌹


__ADS_2