Istri Tuan Vampir

Istri Tuan Vampir
70


__ADS_3


Para tamu menggeram, menatap lekat ke arah Noa yang ternyata seorang manusia. Sementara Noa sendiri tidak perduli dengan keadaan sekitar karena rasa khawatirnya pada keadaan Lucas.


"Bagaimana ini Baginda!!!" Teriak para tamu undangan tentu saja merasa geram.


"Bukankah seharusnya Baginda hukum Lucas dan mengusirnya dari kerajaan!!" Sahut lainnya menuntut keadilan.


Alex tersungging, melihat kericuhan yang terjadi di hadapannya. Menurut Alex, akan lebih baik jika Lucas di usir sepertinya daripada harus di nikahkan dengan wanita yang tidak di cintai.


"Diam dulu kalian!!" Sahut Elena mengedarkan pandangannya ke arah sekitar. Dia tahu jika Stefanus tidak pandai berkilah sehingga dia yang akan menjawab semuanya.


Ini tidak adil.. Gumamnya terdengar bergemuruh.


"Tuan Lucas hanya melakukan sedikit kesalahan. Dia tidak harus di hukum karena sudah sadar akan kesalahannya." Lucas menarik nafas panjang, kondisinya semakin melemah sehingga dia mulai kesulitan untuk bernafas.


"Tidak. Aku masih sangat mencintai nya." Jawab Lucas lemah. Stefanus menghampiri Lucas untuk berbicara.


"Kau mau di cincang habis oleh mereka." Lucas tersenyum dengan manik yang masih saling menatap ke arah Noa.


"Aku lebih baik musnah daripada aku harus melakukan pernikahan ini." Noa cukup senang mendengar pengakuan Lucas. Namun itu tidak menyurutkan niatnya untuk melakukan sesuatu yang di anggapnya benar.


Tanggung jawab mu begitu besar Tuan. Aku cukup senang mengenalmu dalam waktu yang begitu singkat..


Suara hati Noa sontak membuat Alex menoleh. Lucas yang sudah tidak lagi memiliki kemampuan, tentu tidak mampu mendengar keputusasaan yang di ucapkan Noa di dalam hati.


Baru saja Alex akan berprotes, Noa sudah lebih dulu angkat bicara dengan memasang wajah penuh kekecewaan.


"Seharusnya aku tahu sejak awal jika janjimu dulu hanya sekedar ucapan yang bisa mudah berganti." Alex melebarkan matanya, menatap mimik wajah Noa yang mulai berubah.


"Maafkan aku Baby. Aku terpaksa." Noa menahan rasa yang bergemuruh, dia ingin menipu Lucas dengan kekecewaannya agar Lucas bisa terlepas dari hukuman yang bisa menghilangkan nyawanya.


"Jika aku tidak hadir. Bukankah kau akan menikah dengan wanita itu!!" Menunjuk ke arah Patresia." Kau berkhianat Tuan!! Kau berkata akan kembali tapi nyatanya kau menodai pernikahan kita!!" Kedua manik Lucas mulai berkaca-kaca. Dia merasa jika Noa benar-benar kecewa padanya.


"Jaga sopan santun mu makhluk lemah!!" Sahut Stefanus tidak terima dengan nada bicara Noa yang meninggi.


"Saya hanya berbicara fakta. Saya menunggu nya kembali tapi dia malah berkhianat." Sungguh di luar dugaan jika Noa mampu berkata sekasar itu.


"Bukankah kau yang berkhianat?!! Kau bahkan memasukkan lelaki lain saat Lucas tidak ada di rumah." Noa mengangguk seraya tersenyum. Hatinya sudah merasa begitu lelah dengan hantaman yang terus saja memukul perasaannya.


"Saya kesepian."

__ADS_1


Tidak. Tidak mungkin begitu.. Batin Lucas tidak sanggup menerima alasan yang di lontarkan Noa sekarang. Namun mimik wajah Noa begitu menyakinkan seolah wanita yang sangat di cintanya tengah mengucapkan sebuah fakta.


"Kau dengar Lucas! Dia mengakui ketidaksetiaannya!!"


"Itu tidak benar." Sahut Alex tidak mengalihkan pandangannya ke arah Noa." Itu semua karena jebakan yang di buat oleh mereka." Menunjuk ke Elena dan Stefanus.


"Awalnya memang sebuah jebakan Paman. Tapi rasanya.. Aku memang kesepian dan menginginkan kehadiran Bastian di sana." Lucas menelan salivanya kasar, menatap Noa tidak percaya, sementara Elena tersungging menang karena Noa memudahkan keinginan agar berjalan lancar.


"Kau dengar itu Lucas." Para tamu terdiam. Mereka masih merasa bingung dengan protesan yang akan di lontarkan mengingat Lucas adalah satu-satunya putra mahkota.


"Aku tidak mendengar nya." Jawab Lucas cepat. Dia tidak perduli dengan ketidaksetiaan yang sedang Noa bicarakan." Dia tetap Istriku, apapun yang terjadi." Imbuhnya tersenyum getir.


Noa memalingkan wajahnya, hatinya tersayat melihat senyuman pahit yang Lucas perlihatkan.


"Lucas harus di usir dari kerajaan!!" Teriak para tamu riuh.


Mata Alex memincing, menatap ke arah kalung milik Noa yang sudah pudar.


"Ganti kalungmu." Pinta Alex menyadarkan Noa akan sesuatu. Dia memegang ujung kalung yang akan kembali berubah putih." Kau dengar aku Noa." Imbuh Alex tidak sabar. Tangannya hendak meraih kantung yang di kaitkan pada gaun. Namun Noa menarik kantung tersebut dan membuangnya sembarangan.


Ini semua harus di akhiri..


"Apa yang kau lakukan!!" Pekik Alex melebarkan matanya dan melihat kalung buatannya sudah jatuh berhamburan.


"Kau lupa rencana awal kita?" Alex mencoba menyadarkan Noa untuk berjuang hingga akhir.


"Saya inti dari masalah ini Paman. Memang seharusnya pernikahan ini tidak pernah terjadi." Noa kembali menoleh ke arah Lucas untuk mengucapkan salam perpisahan lewat bahasa tubuhnya.


"Kita harus pergi. Sangat berbahaya jika kalung itu sudah memutih."


Para tamu yang rata-rata rakyat biasa, tentu memiliki insting berburu yang sulit terkendali. Apalagi area kerajaan di kelilingi dengan para prajurit yang lebih liar dari binatang buas yang pasti akan terpancing dan tidak tahan dengan aroma darah.


"Tidak!!" Noa menampis kasar tangan Alex. Maniknya kembali menatap lekat ke Lucas yang terlihat semakin melemah. Suara riuh yang terdengar mengelilinginya, membuat Noa ingin segera menuntaskan semuanya dan berharap Lucas bisa mendapatkan hidup baik setelah ini." Saya melakukan ini karena saya sangat membencinya!!" Imbuh Noa berteriak. Tangan kanan terangkat dan menarik anting yang berbentuk runcing lalu menyayat pergelangannya.


Alex melebarkan matanya, begitupun Lucas. Tubuhnya berusaha meronta dan ingin terlepas dari belenggu namun dia tidak mampu melakukannya.


Bagus sekali hahaha...


Apa yang di lakukan manusia itu..


"Tolong bawa dia pergi." Ucap Lucas lirih menatap ke arah Alex.

__ADS_1


Baru saja Alex berniat memaksa Noa pergi, Stefanus dengan tega menghempaskan tubuh Alex hingga terpental jauh.


"Mana janjimu Stefanus." Tatap Lucas tajam ke arah Stefanus. Tenaganya tidak lagi mampu berbicara keras.


Maafkan Ayah. Satu manusia harus di korbankan agar kau bisa melanjutkan hidup.


"Dia sudah mengambil jalan yang benar." Jawab Stefanus menatap fokus ke arah Noa yang mulai memicu kericuhan karena tetesan darahnya.


"Aku berjanji akan menikah. Aku berjanji tidak akan menemuinya. Tapi tolong bawa dia pergi." Pinta Lucas terisak.


Stefanus tidak bergeming dan berpura-pura tidak menatap ke arah Lucas. Sementara Noa sendiri semakin merasa terbebani saat melihat tubuh Alex terkapar tidak berdaya. Dia merasa menjadi sumber masalah sehingga mengukuhkan niatnya untuk menjadi santapan lezat vampir di sekitarnya.


Kenapa mereka tidak mendekat..


Noa masih bingung dengan para vampir yang hanya mendesis dan menggeram namun tidak berani mendekatinya.


"Semuanya atas kehendakku." Noa mengalihkan pandangannya ke arah Stefanus." Ucapkan salam perpisahan padanya. Aku dengan baik memberikan kesempatan itu." Noa mengedarkan pandangannya dan baru menyadari jika vampir di sekitarnya menunggu titah dari Stefanus termasuk Elena juga Patresia.


"Tidak ada." Jawab Noa mencoba menyembunyikan ketakutannya." Saya yang bersalah jadi saya hanya minta jangan menghukumnya." Imbuhnya sudah sangat pasrah walaupun tidak dapat di pungkiri jika Noa sangat ketakutan mendengar bunyi geraman yang ada di sekitarnya.


"Tidak Baby.. Tidak.." Noa menahan rasa panas pada matanya akibat air mata yang tertahan. Kepalanya di tundukkan, menatap ke pergelangan tangannya yang penuh dengan darah.


"Kau memang bersalah! Kau tidak pantas mendapatkan penghormatan karena menikah dengan bangsa kami!!" Stefanus ingin semuanya segera selesai sehingga mau tidak mau dia harus mengucapkannya kalimat hinaan.


"Maafkan saya. Tolong percepatan semuanya." Isakan tangisan Lucas semakin terdengar keras. Tubuhnya di goyang-goyangkan ingin terlepas agar dia bisa membawa Noa pergi.


Noa yang tidak tahan melihat itu, ingin segera Stefanus mengucapkan titahnya agar dia bisa pergi dengan cepat.


"Bukankah aku sudah memintamu menunggu. Jika kau terbunuh, aku juga akan terbunuh. Jangan menyerah, aku mohon jadilah berani dan pergi dari sini." Pinta Lucas membuat Noa kembali mengingat pertemuan pertamanya dengan Lucas hingga hidupnya berubah menjadi lebih mudah.


Aku tidak bisa. Aku takut sekali.. Kedua tangan Noa menggenggam erat dengan air mata yang mulai menetes. Tolong.. Lakukan.. Jangan biarkan dia melihatku menangis..


Stefanus menghela nafas panjang, sebelum melontarkan titah agar bangsanya bisa menghisap habis darah Noa.


"Dia adalah makanan pembuka untuk pesta malam ini!!" Teriak Stefanus seolah tidak memikirkan bagaimana perasaan Lucas.


Elena melesat cepat, di ikuti oleh Patresia bersama dengan para tamu undangan lainnya. Taring mereka mencuat keluar menatap nanar ke arah Elena yang berusaha menikmati darah Noa sendirian.


"Aku tidak akan hidup setelah ini. Kita akan musnah bersama sesuai janji kita." Hanya itu yang bisa Lucas lontarkan. Tubuhnya melemah seperti sebuah kulit yang tidak bertulang.


Stefanus menatapnya penuh rasa iba, walaupun dia masih menyalahkan atas pilihan Lucas. Dia mengalihkan pandangannya ke arah tubuh Noa yang masih menjadi rebutan.

__ADS_1


Kau akan sadar.. Jika keputusan Ayah adalah terbaik..


🌹🌹🌹


__ADS_2